Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Lukisan Hari Ibu
Beberapa minggu telah berlalu dengan lambat sejak Clara dan Maya meninggalkan kota lama mereka. Pelarian malam buta itu perlahan-lahan menjadi bagian dari masa lalu.
Bagi Maya, rutinitas di kota baru ini perlahan mulai terasa wajar. Rumah kecil berlantai papan yang selalu berderit, atap bocor di sudut dapur, dan tugas-tugas harian yang tiada habisnya mulai menjadi zona nyamannya yang baru. Anak itu berhasil menyesuaikan diri, mengubur rindu dan keluhannya dalam-dalam.
Namun bagi Clara... rumah petak itu tidak pernah benar-benar berubah menjadi sebuah rumah.
Setiap malam, ketika Maya telah tertidur pulas akibat kelelahan bekerja seharian, Clara sering duduk sendirian di ruang depan yang remang-remang. Tidak ada televisi yang menyala. Tidak ada suara radio. Tidak ada siapa-siapa yang bisa diajaknya bicara. Hanya detak jarum jam dinding tua yang menjadi temannya.
Dan justru dalam kesunyian mutlak itulah, penjara pikirannya mulai bekerja dengan sangat menyiksa. Pikirannya selalu, dan tanpa pernah gagal, kembali terbang ke masa lalu.
Malam itu pun terjadi hal yang sama. Clara baru saja meniup mati lampu minyak tanah di atas meja ketika dadanya tiba-tiba terasa sesak seolah dihimpit batu besar.
Jantungnya berdebar jauh lebih cepat dari biasanya, menabrak tulang rusuknya dengan liar. Telapak tangannya mendadak berkeringat dingin, dan napasnya menjadi pendek-pendek seperti orang yang sedang tenggelam. Clara tersentak panik, segera berjalan gontai dan duduk lemas di tepi tempat tidurnya.
Ia mencengkeram kain seprai dengan kuat, mencoba menarik napas dalam-dalam.
Tarik napas... buang. Sekali... dua kali...
Namun, semakin kuat ia mencoba menenangkan dirinya, semakin jelas pula halusinasi kenangan itu muncul menyerang indranya. Ia tidak bisa melawannya.
Di dalam kepalanya, memori itu terputar kembali dengan warna yang sangat terang. Halaman sekolah dasar tempat ia dulu bekerja. Anak-anak berseragam merah putih yang berlarian riang di lapangan rumput. Suara derap langkah kaki-kaki kecil yang menggunakan sepatu hitam mengkilap. Dan di antara semua anak itu, ada satu anak perempuan yang selalu berlari mencarinya dengan wajah yang dipenuhi kegembiraan paling tulus.
Elena.
Clara memejamkan matanya rapat-rapat, menggigit bibirnya hingga memutih. Bayangan itu menolak pergi. Ia masih bisa membayangkannya dengan sangat mendetail; bagaimana Elena berlari mengejar teman-temannya, sesekali berhenti untuk merapikan roknya, kemudian berlari lagi, dan setiap kali mata anak itu menangkap sosok Clara di kejauhan, Elena selalu tersenyum lebar dan datang menghampirinya dengan rentangan tangan.
“Tante!”
Suara lengkingan kecil yang ceria itu terdengar bergema menyayat hati di dalam tempurung kepala Clara. Begitu nyata, begitu jernih, seolah Elena sedang berdiri di hadapannya saat ini juga.
Clara membuka matanya dengan napas memburu. Ia tidak menyadari bahwa air matanya sudah mengalir deras membasahi pipinya yang kian menirus.
“Tante...” rintih Clara dengan suara yang sangat menyedihkan. Ia mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya, menyembunyikan kehancurannya di balik gelapnya malam.
Sudah beberapa minggu berlalu sejak mereka kabur dari kota itu. Namun suara panggilan Elena tidak pernah hilang sedetik pun dari ingatannya. Dulu, meskipun ia harus berpura-pura menjadi sekadar 'Tante' atau penjaga sekolah biasa, ia bisa melihat Elena hampir setiap hari. Ia bisa memastikan anak itu tumbuh sehat.
Sekarang, jangankan melihat wajahnya, bahkan untuk sekadar tahu kabar anak kandungnya itu ia tidak berani.
Ketakutan menguasai setiap jengkal nadinya. Ia takut untuk kembali ke kota itu. Takut jika ia muncul, keluarga Danendra akan mulai menaruh curiga pada kedekatannya dengan Elena. Takut bahwa Kakek Suryo atau penyelidik suruhan keluarga itu akan menggali masa lalu dan mendapati rahasia kelam di malam badai itu. Jika rahasia penukaran bayi itu terbongkar, ia akan membusuk di penjara, dan kehilangan Elena untuk selama-lamanya.
Tetapi hukum rindu bekerja dengan kejam; semakin jauh ia melangkah menghindar, semakin kuat rasa rindu itu menggerogoti kewarasannya.
Clara meremas kemeja di dadanya dengan tangan gemetar. “Kenapa...” suaranya bergetar hebat di sela isak tangisnya. “Kenapa aku sangat merindukanmu...?”
Ia tentu saja tahu jawaban absolut dari pertanyaannya sendiri. Karena Elena adalah anak kandungnya. Darah dagingnya yang sejati. Namun, ia tidak pernah berani mengucapkan kalimat itu keras-keras, bahkan ketika ia sedang sendirian di dalam kamar, karena mengakuinya sama dengan mengutuk seluruh jalan hidup yang telah ia pilih.
Clara mengusap air matanya dengan kasar, mencoba bangkit berdiri menuju dapur untuk mengambil segelas air. Namun tubuhnya masih gemetar hebat, kakinya lemas tak bertenaga. Butuh waktu beberapa menit hingga napasnya perlahan-lahan kembali normal dan serangan panik itu mereda.
Ia akhirnya hanya duduk diam dalam kegelapan. Di luar kamarnya, di ruang depan, Maya sedang tertidur lelap tanpa tahu apa-apa. Dan seperti yang selalu terjadi setiap malam... Maya sama sekali tidak tahu bahwa ibunya sedang hancur lebur ditelan tangisan kerinduan pada anak yang lain.
Pagi berikutnya datang membawa secercah kehangatan. Maya bangun jauh lebih awal sebelum kokok ayam pertama terdengar.
Hari itu terasa sangat berbeda di benak gadis kecil tersebut. Sejak beberapa hari yang lalu, Maya diam-diam memikirkan sesuatu yang sangat penting.
Hari Ibu.
Ketika ia masih tinggal di dekat Elena, ia sering mendengar anak-anak tetangga yang bersekolah sibuk mempersiapkan hadiah untuk ibu mereka. Namun, kondisi Maya berbeda. Ia tidak memiliki uang saku sepeser pun untuk membeli hadiah. Ia tidak punya bunga yang indah, tidak punya sekotak cokelat manis, dan tidak punya mainan cantik untuk diberikan.
Maka, setelah berpikir keras, Maya memutuskan untuk membuat sesuatu dengan kedua tangannya sendiri. Sesuatu yang ia harap bisa membuat ibunya tersenyum lagi.
Maya duduk bersila di atas lantai kayu di dekat jendela depan. Cahaya matahari pagi menyusup dari celah ventilasi, memberikan penerangan yang cukup. Di depannya, di atas lantai, terbentang selembar kertas pembungkus yang bagian belakangnya masih bersih, dan sebuah pensil kayu.
Pensil itu sudah sangat pendek, nyaris sulit dipegang karena ujung jarinya harus menjepit pangkalnya dengan kuat. Itulah satu-satunya alat tulis yang pernah ia temukan dan ia simpan baik-baik.
Maya mengambil napas panjang, berkonsentrasi penuh, lalu mulai menggambar.
Garis pertama ia tarik perlahan. Kemudian garis kedua. Beberapa kali ia mengerutkan kening karena garisnya miring, lalu menghapus bagian yang salah menggunakan ujung jarinya hingga kertas itu sedikit kotor. Setelah bersih, ia menggambarnya lagi dengan sangat hati-hati.
Maya tidak pernah belajar melukis atau menggambar dari guru seni di sekolah mana pun. Ia tidak tahu teori proporsi tubuh manusia. Ia hanya menggambar dengan kejujuran mutlak dari apa yang ada di dalam imajinasinya yang paling murni.
Ia menggambar sosok seorang perempuan dewasa berambut panjang. Di sebelahnya, berdiri sosok seorang anak kecil dengan rambut pendek. Kedua sosok itu digambar berdiri sangat berdekatan, berpegangan tangan erat seolah tak terpisahkan. Di latar belakang mereka, Maya menambahkan sebuah rumah kecil. Dan untuk menyempurnakannya, di pojok atas rumah itu, ia menggambar sebuah matahari bundar yang memancarkan sinarnya.
Maya berhenti sebentar, mengusap keringat di keningnya. Ia memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, meneliti hasil karyanya.
Lalu, sebuah senyum lebar nan bangga terlukis di wajahnya. “Sudah jadi.”
Ia melihat gambar kertas itu dengan kebanggaan yang meluap-luap. Di mata orang dewasa, itu hanyalah lukisan anak-anak yang berantakan dan tidak sempurna. Namun bagi Maya, lukisan itu adalah sebuah karya agung yang sangat berharga. Karena di dalam garis-garis gambar itu... tidak ada bentakan, tidak ada kemiskinan, tidak ada wajah ketakutan.
Di dalam lukisan itu, hanya ada dirinya dan ibunya, bahagia di rumah mereka sendiri.
Sore harinya, pintu kayu rumah petak itu berderit terbuka. Clara pulang dengan langkah kaki yang diseret, menanggung kelelahan bekerja seharian.
Maya yang sudah menunggunya dengan jantung berdebar-debar sejak tadi siang, langsung melompat berdiri dari lantai begitu pintu terbuka.
“Ibu!” panggil Maya antusias.
Clara menghela napas panjang, meletakkan tas kainnya ke atas meja tanpa semangat. “Apa?”
Maya berjalan mendekat, menyembunyikan kedua tangannya di balik punggungnya. Matanya berbinar-binar. “Ibu... pejamkan mata Ibu sebentar.”
Clara mengerutkan kening, menatap Maya dengan tatapan letih bercampur jengkel. “Untuk apa main tutup mata segala? Ibu capek, Maya. Jangan macam-macam.”
“Sebentar saja, Bu. Maya mohon...” pinta Maya dengan nada merajuk yang sulit ditolak.
Clara menghela napas kasar lagi. Namun karena terlalu lelah untuk berdebat, ia akhirnya memejamkan kedua matanya.
Melihat ibunya menurut, senyum Maya semakin lebar. “Nah, sekarang Ibu boleh buka matanya!”
Clara membuka matanya perlahan. Pandangannya langsung disuguhkan oleh selembar kertas kusam yang diulurkan dengan menggunakan kedua belah tangan mungil Maya.
“Selamat Hari Ibu, Ibu!” seru Maya riang.
Clara membeku di tempatnya. Matanya langsung terpaku, jatuh sepenuhnya pada gambar di atas kertas lusuh tersebut.
Ia melihat gambar kasar seorang ibu. Seorang anak kecil di sisinya. Sebuah rumah di latar belakang. Dan dua orang yang digambar berdiri dengan jarak yang sangat dekat, seakan saling menopang.
Maya tidak menyadari ketegangan ibunya. Dengan jari telunjuknya, gadis kecil itu menunjuk sosok perempuan tinggi di kertas itu. “Ini Ibu.”
Kemudian jarinya bergeser menunjuk sosok yang lebih kecil. “Dan ini Maya. Kita berdua.”
Clara tidak menjawab sepatah kata pun. Mulutnya terasa terkunci.
Maya mendongak, menatap wajah ibunya dengan harap-harap cemas. “Apakah... Ibu suka hadiahnya?”
Clara masih diam. Ia menatap lekat-lekat garis-garis kasar pada gambar itu. Proporsinya hancur, namun esensinya tergambar begitu jelas. Sangat jelas bahwa Maya menghabiskan waktu berjam-jam menggambarnya dengan seluruh kemampuan dan ketelitian yang anak itu miliki.
“Sejak kapan kamu bisa menggambar seperti ini?” tanya Clara akhirnya, suaranya terdengar sangat pelan dan sedikit serak.
Maya menurunkan tangannya, tersenyum malu-malu. “Maya tidak pernah belajar, Bu. Aku cuma suka saja membayangkan lalu menggambarnya.”
Clara menundukkan pandangannya dari wajah Maya, lalu melihat ke arah tangan anak itu. Ia melihat sebatang pensil kayu yang sudah teramat pendek digenggam erat oleh jari-jari kecil itu. Dan entah dari mana asalnya, sebuah pukulan godam tak kasatmata kembali menghantam dada Clara, membuat hatinya terasa luar biasa berat.
Sebuah pemikiran rasional dan berbahaya tiba-tiba menyusup ke dalam benak Clara.
Kalau Maya terus dibiarkan mengasah kemampuannya... kalau dia terus belajar hal-hal baru... pikir Clara waspada.
Ia menatap gambar di tangannya. Selama bertahun-tahun, Clara sengaja membatasi setiap ruang gerak Maya. Setiap kali anak itu memohon tentang sekolah, Clara menolaknya mentah-mentah dengan alasan biaya. Ketika Maya ketahuan mencoba mengeja tulisan, Clara menyuruhnya berhenti dan mencuci baju.
Clara takut. Sangat takut. Ia takut jika Maya dibiarkan belajar dan menjadi anak yang pintar, gadis itu perlahan-lahan akan membangun kehidupan dan pemikirannya sendiri, dan pada akhirnya akan terbang menjauh, meninggalkannya hidup membusuk sendirian dengan dendam masa lalu.
Namun sekarang... ironi itu berdiri tepat di hadapannya. Anak yang selalu ia tekan dan ia hindarkan dari segala bentuk pendidikan itu, kini berdiri menyodorkan sebuah karya tulus sebagai hadiah Hari Ibu untuknya.
Clara terdiam, berperang hebat dengan logikanya sendiri.
Kalau aku membawanya ke tempat kerjaku... ke tempat yang penuh dengan buku... dia pasti tidak akan bisa menahan diri untuk membaca. Dia pasti akan belajar dengan sendirinya menjadi jauh lebih pintar dari yang aku inginkan.
Sisi gelap nuraninya langsung berteriak menolak mentah-mentah ide tersebut. Tidak! Jangan! Biarkan saja dia bodoh!
Tetapi, seiring dengan penolakan itu, kenangan-kenangan lain berbondong-bondong datang meruntuhkan argumennya. Kenangan ketika Clara jatuh sakit dan tak bisa bangun dari tempat tidur, Maya-lah yang mengambilkannya air dan mengompres keningnya semalaman. Ketika Clara pulang dalam keadaan setengah mati kelelahan, Maya selalu menunggunya di depan pintu. Anak itu tidak pernah meminta balasan apa pun atas kesetiaannya. Bahkan saat Clara berkali-kali menolak dan membunuh harapannya untuk sekolah, Maya tidak pernah membantah dan hanya selalu menjawab dengan patuh, “Baik, Bu.”
Clara menundukkan wajahnya, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Anak ini... dia selalu ada di saat aku jatuh bangun dalam kesusahan, batin Clara bergetar pilu. Di kota asing yang kejam ini, tidak ada satu pun orang yang peduli padaku, kecuali anak ini yang selalu menemaniku tanpa syarat.
Dadanya terasa semakin berat hingga hampir meledak. Dan persis di saat hatinya mulai luluh, iblis dendam itu kembali muncul dan berbisik menyebarkan racunnya. Jangan biarkan dia belajar, Clara! Jangan biarkan anak Vera ini tumbuh melampaui Elena! Jangan beri dia masa depan yang pantas!
Clara memejamkan matanya rapat-rapat, meremas pinggiran kertas lukisan itu hingga sedikit kusut. Pertarungan batin itu menyiksanya hingga ia merasa ingin berteriak.
Namun, ketika ia membuka kembali kedua matanya, di hadapannya masih berdiri Maya. Seorang anak kecil berusia tujuh tahun yang hanya mendambakan sebuah senyum kecil untuk hadiah tulus yang ia berikan kepada ibunya.
Clara menarik napas panjang, menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu.
Sudahlah... pikir Clara akhirnya, sebuah kompromi pertama yang ia buat dengan rasa bersalahnya. Biarlah untuk kali ini saja. Aku akan berpura-pura tidak melihat jika dia nanti membaca.
Clara tidak tahu apakah keputusannya ini benar atau salah bagi kelangsungan dendamnya. Namun, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sejak malam badai itu, secuil hati nuraninya berhasil memenangkan perdebatan melawan kebenciannya.
Clara akhirnya berdehem, menatap Maya dengan wajah yang sengaja dikakukan, lalu berkata, “Daripada kamu membuang-buang waktu di rumah menggambar hal-hal yang tidak menghasilkan uang, lebih baik kamu belajar mencari uang.”
Senyum lebar Maya seketika menghilang sedikit. Ia mengira ibunya kembali marah. “Oh. Maaf, Bu.”
“Mulai besok pagi, kamu harus ikut Ibu bekerja,” lanjut Clara.
Maya langsung mengangkat wajahnya tinggi-tinggi, matanya membelalak kaget bercampur antusias. “Ikut Ibu bekerja? Boleh, Bu? Boleh ikut?”
“Iya,” jawab Clara pendek.
“Bekerja di mana, Bu?”
“Di toko buku.”
Seketika itu juga, mata Maya memancarkan binar kegembiraan yang luar biasa terang, jauh lebih terang dari matahari di dalam lukisannya. “Toko buku?!” ulangnya seakan tak percaya.
Clara mengangguk, masih mempertahankan nada galaknya. “Kamu bertugas membantu pekerjaan-pekerjaan ringan di sana. Menyapu, mengelap debu, dan jangan berani-berani mengganggu pelanggan yang datang.”
“Iya, Bu! Maya janji!” seru Maya girang, melompat kegirangan di tempatnya. “Terima kasih banyak, Ibu! Terima kasih!”
Clara terdiam, tak mampu lagi menatap binar kebahagiaan itu. Ia segera memalingkan wajahnya dan berjalan melewat Maya menuju kamarnya. “Jangan terlalu senang dulu. Besok kita harus bangun pagi-pagi sekali.”
Maya tetap tersenyum lebar di tempatnya berdiri, memeluk tubuhnya sendiri karena kegirangan. “Iya, Bu!”
Begitu Clara melangkah masuk ke dalam kamarnya dan pintu kayu tertutup rapat di belakangnya, pertahanan wanita itu akhirnya runtuh total. Ia menyandarkan punggungnya ke daun pintu, membiarkan tubuhnya merosot perlahan ke lantai dingin. Air matanya, yang sejak tadi ia tahan mati-matian, jatuh berderai membasahi pipinya.
Maafkan Ibu, Maya... tangis Clara dalam diam, meremas lukisan kertas kusam itu di dadanya. Ibu tahu selama ini kamu hanya ingin belajar. Ibu tahu kamu hanya ingin menjadi anak yang bisa membuatku bangga...
Clara memejamkan matanya, membiarkan rasa bersalah itu menggerogoti hatinya. Namun, layaknya sebuah kutukan yang tak terputus, bersamaan dengan turunnya air mata penyesalan itu, memori tentang Elena kembali menyeruak tanpa ampun. Luka batin masa lalunya berdarah kembali, dan bersamaan dengan rasa sakit itu... monster dendamnya menolak untuk sepenuhnya mati.
Clara mengusap wajahnya yang basah dengan kasar.
Hanya untuk kali ini saja, bisik Clara meyakinkan dirinya sendiri untuk meredam kecemasan batinnya. Biarlah anak ini belajar sedikit untuk menghibur dirinya.
Clara bangkit berdiri, menyeka sisa air matanya, lalu berjalan menuju meja kecil di sudut kamarnya. Ia membuka laci paling bawah meja tersebut, dan menarik keluar sebuah kotak kayu usang—tempat rahasia di mana ia menyimpan sisa-sisa napas hidupnya.
Clara membuka kotak kayu itu. Di dalamnya terbaring dengan rapi pita merah muda milik Elena, sepasang sarung tangan bayi, dan beberapa mainan masa kecil putri sejatinya. Clara menatap kenangan itu, mengambil napas panjang, lalu melipat lukisan Hari Ibu buatan Maya dengan tangan yang masih sedikit bergetar.
Dengan sangat perlahan, Clara meletakkan lukisan kertas kusam itu ke dalam kotak, menyusunnya dengan rapi tepat berdampingan dengan pita rambut milik Elena. Ia menutup kotak itu, dan menguncinya di dalam laci.
Clara sendiri tidak menyadari betapa monumentalnya keputusan kecil yang ia ambil malam itu. Ia tidak sadar bahwa dengan memasukkan lukisan itu ke dalam laci suci miliknya, ia telah secara resmi mengizinkan Maya untuk menempati ruang yang sama besarnya dengan Elena di dalam relung hatinya.
Dan yang lebih penting, Clara sama sekali tidak tahu bahwa keputusannya untuk membawa Maya bekerja esok hari akan menjadi titik tolak yang mengubah seluruh fondasi kehidupan anak itu. Karena mulai besok pagi, Maya akan melangkahkan kakinya memasuki sebuah tempat ajaib yang dipenuhi oleh ribuan jilid buku, dan di sanalah, seorang gadis kecil yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal akan mulai belajar mengeja dunia dengan caranya sendiri.
Sementara itu... ratusan kilometer dari kesederhanaan rumah petak tersebut, di bawah kemegahan lampu gantung kristal di ruang keluarga Danendra, sore hari berlangsung dengan tenang namun diwarnai kehampaan.
Elena yang kini berusia delapan tahun, sedang duduk bersila di atas karpet Persia buatan tangan, ditemani oleh Kakek Suryo yang duduk di sofa membaca koran bisnis sore harinya. Di pergelangan kaki kanannya, gelang kaki perak berbandul bintang pemberian Maya tidak pernah terlepas, selalu melingkar menemani langkahnya setiap hari.
Elena meletakkan boneka beruangnya, memandangi gelang perak itu dengan tatapan kosong.
“Kakek,” panggil Elena memecah kesunyian.
“Hm?” sahut Kakek Suryo pelan tanpa menurunkan korannya.
“Kapan Maya akan datang lagi ke sini untuk bermain bersamaku?”
Kakek Suryo menghentikan aktivitas membacanya. Ia menurunkan koran di tangannya dan memandang lurus ke arah cucu kesayangannya. Sorot mata tua itu menyiratkan kepedihan yang tertahan.
“Kenapa tiba-tiba kamu bertanya begitu, Sayang?” tanya kakeknya lembut.
“Aku rindu sekali padanya, Kek,” jawab Elena jujur, bibirnya mengerucut sedih.
Kakek Suryo tersenyum tipis, mencoba memberikan kenyamanan. “Kalian kan baru beberapa minggu tidak bertemu.”
Elena menggelengkan kepalanya dengan kuat. “Bukan begitu, Kek! Tapi dia adalah adikku. Kami berjanji untuk menjadi saudara.”
Kakek Suryo tertawa kecil mendengar kepolosan anak-anak itu. “Dia bukan adik kandungmu, Elena. Kalian hanya berteman baik.”
“Tidak, Kek,” bantah Elena bersikeras, matanya memancarkan tekad seorang anak yang setia pada janjinya. “Aku akan tetap menganggapnya sebagai adikku sampai kapan pun.”
Kakek Suryo terdiam, tidak ingin membantah lebih jauh. Ia melipat korannya dan meletakkannya di atas meja kaca. Sejujurnya, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia juga masih sangat sering memikirkan anak bernama Maya itu.
Beberapa kali setelah kepergian Clara yang mendadak, ia pernah mengirimkan orang kepercayaannya untuk mencari tahu keberadaan keluarga kecil itu. Ia ingin memenuhi janjinya menyekolahkan Maya. Namun setiap kali ia berusaha melacaknya, ia selalu teringat pada raut wajah panik ibunya Maya dan keputusannya yang nekat melarikan diri di tengah malam. Kakek Suryo akhirnya menarik mundur orang-orangnya. Ia menyimpulkan bahwa mungkin keluarga Clara sedang dikejar masalah hutang atau masa lalu, dan jika ia terlalu memaksa mencampuri urusan mereka, Clara justru akan semakin ketakutan dan membawa Maya kabur jauh lebih dalam lagi.
Kakek Suryo akhirnya memutuskan untuk menunggu dengan sabar, menghormati keputusan wanita malang itu.
“Jangan khawatir, Elena,” ucap Kakek Suryo pada akhirnya, menenangkan cucunya.
Elena menatap kakeknya. “Kenapa, Kek?”
“Suatu hari nanti, entah kapan, Kakek yakin Maya pasti akan kembali dan kalian akan bertemu lagi.”
Mata Elena membesar. “Benarkah, Kek?”
Kakek Suryo mengangguk, memberikan senyuman hangat andalannya. “Percaya saja pada Kakek.”
Elena tersenyum lebar. Ia menunduk dan memegang erat bandul bintang pada gelang perak di kakinya. “Kalau begitu... aku akan menunggunya kembali.”
Kakek Suryo mengusap kepala Elena dengan penuh kasih sayang. “Kalau begitu, jaga dan simpan baik-baik gelang perak itu sebagai pengingat janjimu.”
“Tentu saja, Kek,” angguk Elena mantap. “Aku tidak akan pernah melepasnya.”
Kakek Suryo tersenyum lega. Pria tua yang bijaksana itu tidak pernah tahu mengapa pertemuan singkat antara cucunya dan seorang anak buruh cuci bisa meninggalkan jejak yang begitu membekas.
Ia juga sama sekali tidak menyadari bahwa di kota lain yang berjarak sangat jauh, di sebuah rumah petak kumuh yang gelap, seorang anak perempuan lain sedang menyimpan gelang emas berinisial 'E' pemberian Elena di balik kaus kakinya yang usang, dengan perasaan kerinduan yang persis sama besarnya.
Dua buah gelang masa kecil.
Dua anak perempuan yang merindu.
Di dua kota yang saling tidak mengenal.
Dan sebuah ikatan darah yang sebenarnya nyata, namun tertutup rapat oleh dosa masa lalu yang belum mereka mengerti maknanya.
Sementara di rumah petak yang pengap itu, Maya perlahan-lahan mulai memejamkan mata dan tertidur pulas dalam pelukan harapan akan hari esok. Ia sedang menunggu pagi yang baru, hari pertamanya bekerja bersama ibunya.
Maya belum tahu, bahwa di antara rak-rak buku tua yang berdebu esok hari... ia tidak hanya sekadar menyapu lantai, melainkan ia akan menemukan sebuah harta karun yang selama ini sangat ia dambakan.
Pengetahuan.
Dan tanpa pernah disadari oleh Clara sendiri... langkah kecil Maya memasuki toko buku esok pagi, adalah tikungan tajam yang menjadi awal perubahan besar dalam takdir panjang hidup anak itu.