NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Alkemis Di Alam Primordial

Perjalanan Dewa Alkemis Di Alam Primordial

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*

Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.

Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.

Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.

Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...

Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Penjara Dimensi Hampa

Malam menyelimuti Kota Suci Tianyu.

Darah emas Shen Wu memang telah dibersihkan dari alun-alun, tetapi suara tulangnya yang remuk masih terngiang di benak para Ksatria Emas.

Di atas kapal perang tulang naga yang melayang di langit Tianyu, suasana jauh lebih mencekam.

Di dalam kabin utama, Tetua Agung Cang Ming berdiri dengan wajah pucat. Di hadapannya, Shen Wu terbaring di atas ranjang penyembuhan. Cahaya suci terus menyelimuti lengan kanannya, berusaha menyatukan kembali tulang yang telah hancur.

Namun semua usaha itu sia-sia.

Lengan Shen Wu telah kehilangan seluruh kekuatannya. Bahkan darah Dewa Kuno tidak mampu memulihkannya.

"Fisik yang mampu menolak segala serangan..."

Cang Ming menggenggam tongkat emasnya erat-erat.

"Manusia itu bukan sekadar keanehan. Dia adalah ancaman bagi garis keturunan Taichu. Jika Ziyue membawanya ke Ibu Kota, faksi kita akan berada dalam bahaya."

Seorang pembunuh berjubah hitam keluar dari bayangan lalu berlutut di hadapannya.

"Tetua Agung, tubuhnya terlalu kuat. Senjata maupun berbagai teknik penghancur tidak mampu melukainya. Jika kita menyerangnya secara langsung, Putri Mahkota pasti akan turun tangan."

"Aku tahu."

Cang Ming mengalihkan pandangan ke langit di luar jendela.

"Tubuh sekuat apa pun tetap membutuhkan tempat untuk berpijak. Jika kita menyingkirkannya dari ruang yang memiliki hukum dan pijakan, kekuatannya tidak akan berguna."

Ia mengeluarkan sebuah kubus abu-abu kecil dari balik jubahnya.

Aura ketiadaan yang pekat segera memenuhi kabin.

"Ini adalah Kubus Penjara Dimensi Hampa."

Cang Ming menyerahkannya kepada sang pembunuh.

"Jangan bunuh dia. Aktifkan kubus ini ketika dia sendirian, lalu seret dia ke celah antara alam dan buang ke dalam kehampaan."

Tatapan Cang Ming menjadi dingin.

"Tanpa Qi dan tanpa jalan keluar, biarkan dia terkurung sampai tubuh dan jiwanya sendiri menyerah."

"Baik, Tetua Agung."

Pembunuh itu menerima kubus tersebut lalu kembali menghilang ke dalam bayangan.

Tengah malam.

Lin Xuan berjalan menyusuri koridor kristal Istana Utama Tianyu. Angin malam mengibaskan jubah putihnya sehingga ia tampak seperti sedang menjalankan tugas patroli biasa sebagai Komandan Bintang.

Namun kesadarannya telah menyelimuti wilayah sejauh seratus li.

Setiap perubahan kecil dalam ruang tidak luput dari pengamatannya.

Langkah Lin Xuan tiba-tiba berhenti.

"Tuanku."

Suara Hun Yuan terdengar dari dalam Lautan Roh.

"Empat tikus bersembunyi di lipatan ruang. Mereka berada pada tingkat yang lumayan tinggi dan membawa artefak ruang."

"Aku tahu."

Tatapan Lin Xuan tertuju pada bayangan di balik sebuah pilar kristal.

"Mereka sadar tubuhku sulit dilukai. Karena itu, mereka ingin membuangku ke dalam kehampaan."

Hun Yuan tertawa kecil. "Haruskah kita menghancurkan mereka?"

"Tidak." Senyum tipis muncul di wajah Lin Xuan.

"Artefak mereka menggunakan Inti Logam Kosmik. Aku membutuhkan benda itu untuk menempa fondasi menuju Level 11."

Ia sengaja mengendurkan tubuh dan kembali berjalan.

"Biarkan mereka mengira aku tidak menyadarinya."

Begitu Lin Xuan melewati pilar kristal, ruang di belakangnya tiba-tiba terbelah.

Empat sosok hitam menerobos keluar.

Pemimpin mereka segera menghancurkan Kubus Penjara Dimensi Hampa tepat di bawah kaki Lin Xuan.

Swussh!

Kehampaan terbuka.

Bukan hanya angin yang tersedot ke dalamnya. Ruang di sekitarnya seolah ikut terkoyak dan ditarik menuju celah hitam tersebut.

Lin Xuan tidak melawan.

Tubuhnya lenyap ditelan kehampaan.

Keempat pembunuh segera menyusul untuk memastikan target mereka tidak memiliki kesempatan melarikan diri.

Sesaat kemudian, celah ruang itu menutup.

Penjara Dimensi Hampa

Tidak ada langit di tempat ini.

Tidak ada bumi. Tidak ada cahaya. Bahkan suara pun tidak mampu bertahan dalam kehampaan yang mutlak.

Lin Xuan melayang sendirian di tengah kegelapan tanpa batas. Keempat pembunuh Taichu mengelilinginya dari segala arah dengan senjata terhunus.

"Manusia sombong."

Suara pemimpin mereka menggema langsung di dalam Lautan Roh Lin Xuan.

"Di tempat ini, kekuatan tubuhmu tidak berarti. Kau tidak memiliki pijakan untuk menyerang ataupun menghindar. Cepat atau lambat, kau akan mati di dalam kehampaan."

Lin Xuan tetap tenang.

"Kalian benar-benar lucu." Tatapannya menyapu keempat pembunuh itu.

"Kalian melihat tubuhku sebagai senjata, tetapi tidak pernah berpikir mengapa tubuh ini ditempa sekuat ini."

Keempat pembunuh mengerutkan dahi. Lin Xuan perlahan mengangkat tangan.

"Fisikku bukan senjata terkuatku."

Pupil matanya berubah.

Sepasang pupil ganda muncul di kedua matanya. Salah satunya memancarkan cahaya emas yang suci, sementara yang lain dipenuhi kegelapan pekat.

"Fisik ini..." Senyum tipis muncul di wajah Lin Xuan. "...hanyalah sangkar."

Kabut hitam dan putih tiba-tiba keluar dari bayangannya.

Kehampaan di sekeliling mereka bergetar.

Keempat pembunuh langsung mundur dengan wajah berubah.

Dari dalam kabut, sesosok pemuda berjubah hitam-putih perlahan muncul. Pupil gandanya memancarkan tekanan yang membuat jiwa mereka bergetar.

Hun Yuan.

Roh Api Primordial..

Makhluk yang terbentuk dari delapan belas Api Surgawi dari alam bawah dan pernah menyentuh Alam Pencipta.

Hun Yuan meregangkan lehernya lalu memandang keempat pembunuh di hadapannya.

"Sudah lama aku tidak keluar." Senyumnya perlahan melebar. "Tempat ini terlalu sunyi. Untungnya masih ada daging dewa untuk mengusir kebosanan."

"Siapa Kau? !"

Salah seorang pembunuh panik dan langsung melancarkan serangan.

Ribuan pedang bayangan melesat dari segala arah.

Hun Yuan bahkan tidak bergerak.

Sesaat sebelum menyentuh tubuhnya, seluruh pedang itu terdistorsi dan tersedot ke dalam pusaran hitam di telapak tangannya.

Tidak satu pun tersisa.

Hun Yuan menyeringai.

"Seni Api Primordial—Pemakaman Ketiadaan."

Ia menjentikkan jarinya. Kehampaan di sekitar keempat pembunuh tiba-tiba melipat.

Krak!

Ruang menekan tubuh mereka dari segala arah.

Zirah, daging, tulang, bahkan jiwa mereka hancur dalam sekejap. Tidak setetes darah pun sempat mengalir karena semuanya telah ditelan kehampaan.

"T-Tunggu...!"

Jeritan mereka lenyap sebelum sempat menggema.

Empat Kaisar Hukum Suci diremukkan menjadi debu, lalu menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Semuanya selesai hanya dalam tiga tarikan napas.

Hun Yuan menguap.

"Cuman serangga." Ia kemudian menoleh kepada Lin Xuan. "Haruskah aku menghancurkan dimensi ini lalu membakar kapal perang mereka?"

"Belum."

Lin Xuan melayang menuju tempat keempat pembunuh itu menghilang.

Di tengah kehampaan, sebuah cahaya perak masih melayang.

Inti Logam Kosmik.

Lin Xuan mengulurkan tangan dan menarik benda itu ke dalam genggamannya.

"Jika kita membunuh seluruh utusan malam ini, Kaisar Taichu akan mengirim pasukan yang lebih kuat. Aku belum ingin menarik perhatian mereka."

Energi murni dari inti tersebut segera mengalir ke dalam tubuhnya.

Cahaya perak perlahan menyelimuti kulitnya.

"Biarkan Cang Ming mengira kita telah mati di sini." Senyum tipis muncul di wajah Lin Xuan. "Besok kita kembali ke istana."

Tatapannya menjadi dingin.

"Lalu kita lihat wajahnya ketika menyadari mangsanya masih hidup."

Hun Yuan tertawa.

Lin Xuan kemudian memejamkan mata.

Di dalam tubuhnya, Tungku Daging Level 10 mulai berputar. Inti Logam Kosmik perlahan melebur menjadi aliran energi murni yang menyusup ke setiap bagian tubuhnya.

Daging, tulang, darah, dan meridian mulai bergetar.

Fondasi menuju Level 11 perlahan ditempa.

Di tengah kehampaan yang sunyi, Lin Xuan duduk bersila dan membiarkan energi kosmik terus mengalir ke dalam tubuhnya.

1
Raju
jossssss
Raju
alankah terjadi perang besar dan menghancurkan kota atau awal dri sebuah aliansi ??
Raju
lin xuan sang kaisar obat jadi pegawai dadakan ....😁😁
Celestial Quill: hahahah, mungkin cape jadi kaisar terus😄
total 1 replies
Raju
hm... lin xuan... keanya serba bisa ni org... dri kultivator, pemusnah massal, pembuat drama terbaik, hingga jadi tukang bengkel pun bisa keanya ...🤣🤣🤣
Celestial Quill: hahaha😄😄
total 1 replies
Raju
poin yg q kumpulkan selama ribuan tahun Meluncur Thor....!! 😁😁
Raju
ternyata pendatang lbih ganas dri pada penunggu....🤣🤣🤣
Raju
perebutan kristal dimulai...
Raju
vote meluncur buat karyamu Thor...!!
Celestial Quill: Terimakasih, semoga karya baru dapat menghibur. Selamat membaca
total 1 replies
Green Boy
Mantap Thor
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!