NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Mafia

Mengandung Benih Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
​Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
​Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
​Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Katedral tua beralsitektur gotik di jantung kota itu telah disulap menjadi perwujudan nyata dari keagungan klan The Iron Crown. Ribuan mawar Black Baccara berpadu dengan lili putih merambat di setiap pilar marmer, menguapkan aroma manis yang menutupi pekatnya sejarah berdarah klan tersebut. Cahaya dari lampu kristal raksasa memantul di atas lantai pualam yang mengkilap, menjadi saksi bisu hari di mana sang Raja Iblis akhirnya memahkotai Ratunya.

Amanda melangkah menyusuri lorong altar dengan gaun pengantin haute couture berwarna putih gading yang menjuntai panjang, berhiaskan sulaman benang perak dan berlian. Jantungnya bergemuruh, namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena getaran aneh yang perlahan ia terima sebagai takdirnya. Di ujung altar, Aldebaran Hendrick berdiri menjulang. Setelan tuxedo hitam pesanan khusus melekat sempurna di tubuh kekarnya. Mata kelam pria itu tak sedetik pun lepas dari Amanda, memancarkan kepemilikan mutlak dan gairah yang membakar.

Di barisan terdepan, Nyonya Besar dan Tuan Besar duduk dengan dada membusung bangga. Dan di antara mereka, Lily berdiri mengenakan gaun putih miniatur yang persis seperti milik Amanda, memegang keranjang bunga dengan senyum paling ceria di dunia.

Pernikahan itu berjalan megah, sakral, dan tanpa cela. Sumpah telah diucapkan, cincin telah disematkan, dan ciuman posesif Aldebaran telah mengunci Amanda sebagai nyonya besar baru klan Hendrick secara absolut.

Namun, di dunia mafia, kebahagiaan adalah ilusi yang paling mudah dihancurkan.

Pesta resepsi berlangsung meriah di ballroom Mansion Utama. Denting gelas sampanye, tawa para bos aliansi, dan alunan musik orkestra mengalun syahdu.

Amanda baru saja melepaskan pelukan dari salah satu kerabat Aldebaran ketika ia menoleh ke meja utama. Matanya menyapu deretan kursi beludru merah itu. Kosong.

"Al..." Amanda menyentuh lengan suaminya, sebersit kecemasan mulai merayap di dadanya. "Di mana Lily? Bukankah tadi dia sedang makan kue bersama Nyonya Besar?"

Aldebaran yang tengah berbincang dengan Dante segera menoleh. Keningnya berkerut. Ia menatap ibunya yang baru saja kembali dari lantai dansa bersama Tuan Besar.

"Ibu, di mana Lily?" tanya Aldebaran, suaranya memberat seketika.

Nyonya Besar tampak kebingungan. "Loh? Bukankah tadi dia bilang mau menyusulmu dan Amanda ke ruang ganti untuk mengambil mainannya? Ibu membiarkannya pergi bersama dua penjaga Unit Delta."

Darah Aldebaran seketika membeku. Insting predatornya menjeritkan bahaya. "Dante!" raungnya, menggetarkan gelas-gelas kristal di meja terdekat. "Tutup semua akses! Kunci seluruh gerbang Mansion! Jangan biarkan satu ekor lalat pun keluar dari tempat ini!"

Musik orkestra terhenti mendadak. Suasana pesta yang riang seketika berubah menjadi kepanikan yang terkontrol saat ratusan penjaga bersenjata api laras panjang menyebar memenuhi ballroom.

Amanda mencengkeram lengan Aldebaran, wajahnya sepucat kertas. "Al... Lily... anak kita, Al!"

"Kita akan menemukannya. Tetap di belakangku," desis Aldebaran, menarik pistol Sig Sauer dari balik jas tuxedo-nya.

"Tuan!" Flop berlari dari arah lorong sayap barat, napasnya memburu, wajah psikopatnya tergantikan oleh kengerian. "Dua penjaga Lily ditemukan tewas di koridor sayap barat! Leher mereka disuntik racun. Dan... dan kamera pengawas di area itu diretas dari dalam. Ada orang dalam yang membantunya."

"Cari ke seluruh penjuru sayap barat! SEKARANG!" ledak Aldebaran, suaranya bagai auman singa yang terluka. Ia menarik tangan Amanda, berlari menyusuri lorong-lorong marmer yang dingin.

Jantung Amanda serasa ingin meledak. Gaun pengantinnya yang berat ia angkat paksa, air mata mulai menggenang. Tuhan, kumohon... jangan putriku. Jangan Lily.

Mereka menerjang pintu ganda menuju rumah kaca tua yang terbengkalai di ujung sayap barat—satu-satunya area yang sedang direnovasi dan sepi dari penjagaan.

Pintu terbuka dengan bantingan keras.

Dan pemandangan di dalam rumah kaca itu sukses menghentikan detak jantung Amanda dan Aldebaran di detik yang sama.

Di tengah rimbunnya tanaman rambat yang mati, Anastasya berdiri dengan gaun merah darah yang kontras dengan kegelapan ruangan. Rambut pirangnya berantakan, dan matanya membelalak gila. Senyum sinting terukir di bibirnya yang bergetar.

Dan di kakinya, tergeletak tubuh mungil Lily.

"LILY!" jerit Amanda, suaranya pecah melengking, merobek pita suaranya sendiri. Ia hendak menerjang maju, namun Aldebaran menahannya dengan lengannya, menodongkan moncong pistol tepat ke kepala Anastasya.

"Berani kau menyentuhnya, Anastasya... aku akan mengulitimu hidup-hidup dan menggarami setiap inci dagingmu," geram Aldebaran. Suara sang Raja Iblis bergetar, memancarkan amarah apokaliptik yang belum pernah ia keluarkan seumur hidupnya.

Anastasya tertawa melengking, tawa yang penuh dengan keputusasaan dan kegilaan murni. Ia menendang sebuah jarum suntik kosong yang tergeletak di dekat kaki Lily.

"Terlambat, Al... kau terlambat!" pekik Anastasya, air mata menetes dari matanya yang liar. "Kau membuangku demi jalang murahan ini! Kau mempermalukanku di depan ibumu! Jika aku tidak bisa memilikimu... jika aku tidak bisa melahirkan pewaris The Iron Crown... maka kau dan jalang ini juga tidak akan pernah memiliki apa pun!"

Aldebaran tidak menunggu lebih lama.

DOR! DOR!

Dua peluru melesat tanpa ampun, menghancurkan kedua tempurung lutut Anastasya. Wanita gila itu menjerit histeris dan ambruk ke lantai, darahnya menggenang menodai gaun merahnya. "Bawa iblis ini ke ruang bawah tanah! Pastikan dia tetap sadar!" raung Aldebaran pada Dante yang baru saja menyusul.

Namun, fokus Amanda dan Aldebaran kini sepenuhnya tertuju pada Lily. Keduanya berhamburan, menjatuhkan diri ke lantai marmer yang dingin, mengabaikan gaun pengantin dan setelan mahal mereka.

"Lily... Sayang... Putri Bunda... bangun, Nak..." Amanda merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pangkuannya. Tangannya gemetar hebat saat menyentuh wajah putrinya.

Lily membuka matanya perlahan. Namun, mata kelam yang biasanya berbinar ceria itu kini meredup, penuh dengan kebingungan dan rasa sakit yang luar biasa. Kulitnya yang seputih pualam kini memucat pasi, dan urat-urat kebiruan mulai menonjol di lehernya.

Racun yang disuntikkan Anastasya adalah varian neurotoksin tingkat tinggi—racun ekstrem yang menyerang sistem pernapasan, mengikat hemoglobin dalam darah hingga tubuh kehilangan seluruh pasokan oksigen dalam hitungan menit.

"B-bunda..." suara Lily keluar sangat lirih, nyaris seperti hembusan angin. Dada kecilnya naik-turun dengan cepat dan putus asa, namun udara seolah menolak masuk ke paru-parunya. Tangan mungilnya meremas gaun pengantin Amanda, mencari pegangan. "Dada Lily... sakit..."

"Panggil dokter! PANGGIL DOKTER SIALAN ITU SEKARANG!" raung Aldebaran, suaranya bergetar hebat. Pria yang selama ini tak pernah takut pada apa pun—yang selalu memegang kendali atas hidup dan mati ribuan orang—kini menangis. Air mata pertama sang Raja Iblis jatuh mengenai pipi putrinya. Tangan besarnya menggenggam erat tangan mungil Lily yang mulai terasa sedingin es. "Bertahanlah, Principessa. Ayah di sini. Ayah akan menyelamatkanmu. Dokter akan segera datang!"

"A-ayah..." Lily mendongak, menatap wajah pria yang baru beberapa minggu ia panggil 'Ayah'. Bibir mungil gadis kecil itu mulai membiru. Ia meraup udara dengan buas, tapi matanya mulai kehilangan fokus. Kepanikan seorang anak yang tidak mengerti mengapa ia tidak bisa bernapas mencabik-cabik hati siapa pun yang melihatnya.

"Jangan tinggalkan Bunda, Lily! Kumohon, Tuhan, ambil nyawaku! Jangan anakku!" Amanda berteriak histeris, mendekap tubuh Lily dengan putus asa, memberikan napas buatan berkali-kali meski ia tahu itu sia-sia. Racun itu merusak dari dalam, bukan dari luar.

"Gelap, Bunda..." bisik Lily, setetes air mata jatuh dari sudut matanya yang indah. Cengkeraman tangan kecilnya pada jas Aldebaran perlahan melemah. "Lily... ngantuk..."

"Tidak! Buka matamu, Lily! BUKA MATAMU!" Aldebaran meraung, mengusap wajah putrinya dengan tangan yang gemetar hebat. "Kau janji akan berkuda bersama Kakek besok! Kau janji, Lily! Jangan tidur!"

Namun racun itu terlalu cepat. Terlalu mematikan.

Diiringi satu tarikan napas panjang yang bergetar, dada Lily terangkat untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya perlahan turun... dan tidak pernah naik lagi.

Mata kelam yang mewarisi kejayaan The Iron Crown itu menatap kosong ke arah langit-langit kaca. Tangan mungilnya yang menggenggam jas Aldebaran merosot jatuh ke lantai dengan bunyi pelan yang terdengar seperti dentuman bom di telinga kedua orang tuanya.

Keheningan yang mematikan dan absolut menelan rumah kaca itu.

"Lily...?" panggil Amanda berupa bisikan parau. Ia mengguncang pelan tubuh putrinya. "Sayang? Bangun, Nak... ini tidak lucu... Bunda mohon, bangun..."

Tidak ada jawaban. Tubuh mungil itu telah sepenuhnya kehilangan nyawanya, terbaring kaku dalam gaun putih miniaturnya, terlihat seperti boneka porselen yang rusak.

Detik itu juga, kewarasan Amanda hancur tak bersisa.

Sebuah jeritan melengking yang menyayat hati—jeritan murni dari seorang ibu yang jiwanya baru saja dicabut paksa dari raganya—menggema membelah langit malam. Amanda memeluk jasad kaku putrinya, meraung, menangis darah hingga suaranya habis, membasahi gaun pengantin putihnya dengan air mata keputusasaan yang tak berujung.

Di sebelahnya, Aldebaran Hendrick membeku. Sang Raja Kegelapan yang menguasai seluruh kota, yang memiliki ribuan pasukan dan harta tak berseri, jatuh berlutut dengan kekalahan paling absolut yang pernah dialami umat manusia.

Dunia mafianya yang kejam, kekuasaannya, kekayaannya... semuanya tidak ada harganya saat ia menyadari bahwa ia tidak bisa menyelamatkan napas terakhir putri kecilnya.

Malam pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan mereka, kini berubah menjadi malam pembantaian paling tragis, menorehkan luka permanen yang akan mengubah sejarah kelam The Iron Crown, untuk selama-lamanya.

1
kholifah Montes
happy Reading guys
Ita Putri
ah elah Thor ....masak sad ending kebangetan deh si author 😭
kholifah Montes: izin🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ita Putri
ya ampun gk kebayang berapa sadis siksaan Aldebaran buat Anastasya
Ita Putri
ya ampun Thor
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭
kholifah Montes: kak sebenarnya aku juga nggak tega tapi gimana ya🤭
total 1 replies
Ita Putri
karyamu selalu seru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!