Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Nadia mengusap air matanya, berusaha tenang di depan Kenzo yang masih terisak pelan.
"Bi Asih, tolong bersihkan dulu kue-kue yang berserakan di lantai," minta Nadia.
"Baik, Nona. Ya Allah... kasihan sekali Den Kenzo..." Bi Asih langsung sigap membersihkan remahan dan kotak kue yang hancur di lantai.
Nadia berlutut di tepi tempat tidur, mengambil kain kasa dan air hangat, lalu menempelkannya perlahan pada lebam di pipi Kenzo.
"Sakit, Bunda... pusing," bisik Kenzo lirih.
"Iya, Sayang. Bunda pelan-pelan ya... Anak kuat, tahan sebentar." Nadia mengoleskan salep dingin ke lengan Kenzo yang memar.
"Kenzo... tatap Bunda sebentar, Nak," bisik Nadia.
"Siapa yang bikin Kenzo sakit begini? Kenapa kue dari Bunda bisa berhamburan di lantai?"
Kenzo meremas selimut erat-erat. Bibirnya gemetar. "Bang... Bang Jovan, Bunda..."
Dada Nadia mendadak sesak. "Bang Jovan? Kenapa Bang Jovan tega dorong Kenzo, Nak?"
"Tadi... Kenzo mau kasih kue dari Bunda ke Bang Jovan," adu Kenzo dengan suara patah-patah. "Tapi Bang Jovan marah. Bang Jovan bilang kue dari Bunda ada racunnya... terus kotaknya ditepis sampai jatuh. Waktu Kenzo mau ambil kuenya, Bang Jovan dorong Kenzo sampai kena sudut meja..."
"Terus Bang Jovan ke mana setelah itu?" tanya Nadia.
"Bang Jovan bentak Kenzo... bilang jangan ngadu ke Papa atau ke Bunda... terus Bang Jovan pergi naik motor," lanjut Kenzo lalu menyembunyikan wajahnya di perut Nadia, menangis sesenggukan.
"Bunda... Kenzo takut..."
Nadia merengkuh tubuh kecil itu erat-erat. "Jangan takut lagi, ada Bunda di sini. Nggak akan ada yang boleh jahatin Kenzo lagi."
Setelah memastikan Kenzo tertidur lelap karena kelelah menangis, Nadia menyelimutinya dengan hati-hati. Ia lalu melangkah keluar dari kamar Kenzo dan menuruni tangga menuju lantai bawah.
Jemarinya dengan cepat menekan nomor Arvin di ponselnya. Nadia menunggu dengan cemas, namun panggilan pertama tidak diangkat. Ia mencoba menelpon sekali lagi, tetap tidak ada jawaban dari suaminya. Nadia mendengus kesal seraya meremas ponsel di tangannya.
Saat Nadia berdiri di dekat pintu utama, terdengar deru suara mesin motor memasuki halaman rumah. Nadia mengira itu Jovan yang baru saja kembali. Ia langsung berjalan cepat menuju pintu, bersiap menuntut penjelasan.
Namun, yang melangkah masuk ke dalam rumah ternyata Damian, masih mengenakan seragam sekolah dengan tas tergendong di bahunya.
"Baru pulang, Bang?" tanya Nadia, berusaha meredam emosi di suaranya.
"Iya, Bunda. Tadi ada kegiatan ekstrakurikuler dulu di sekolah," jawab Damian seraya melepas sepatu dan menaruhnya di rak.
Nadia menatap anak sulung Arvin itu dengan raut wajah serius. "Bang Damian, punya nomor telpon Jovan?"
"Punya, Bunda. Kenapa?" Damian menatap Nadia bingung.
"Tolong telpon Jovan sekarang juga. Suruh dia pulang saat ini juga ke rumah, jangan bantah," tegas Nadia.
Damian mengerutkan keningnya, menyadari ada suasana yang tidak beres. "Ada apa memangnya, Bunda? Jovan bikin masalah lagi?"
"Dia mukul Kenzo sampai memar dan lebam di kamar," jawab Nadia dengan suara bergetar menahan amarah.
"Satu rumah ini tidak ada yang tahu kalau bukan Bunda yang nemuin Kenzo meringkuk ketakutan di lantai!"
Damian membelalakkan mata, tak percaya. "Apa?! Jovan mukul Kenzo?!"
"Bukan cuma mukul, dia dorong Kenzo sampai kena sudut meja cuma gara-gara Kenzo mau kasih kue!" tegas Nadia. "Sekarang telpon dia, Bang. Suruh pulang!"
Tanpa membuang waktu, Damian langsung mengambil ponsel di saku celananya dan menekan nomor adiknya. Wajahnya berganti tegang. Panggilan pertama dialihkan, namun di panggilan kedua akhirnya terhubung.
"Jovan! Kamu di mana sekarang?!" bentak Damian langsung tanpa basa-basi begitu telepon diangkat.
"Apaan sih, Bang? Ganggu saja! Aku lagi nongkrong sama teman-teman," sahut suara Jovan santai di balik telepon.
"Pulang kamu sekarang! Nggak usah banyak alasan!" tekan Damian dengan nada tinggi. "Kamu apain Kenzo sampai lebam begitu, Hah?!"
Hening sejenak di ujung telepon sebelum Jovan berdecak keras. "Cih! Si bocah pengadu! Cuma terdorong sedikit doang, alay banget!"
"Jovan! Kamu gila, ya?!" emosi Damian makin tersulut.
"Aku kasih waktu sepuluh menit. Kalau kamu nggak pulang sekarang juga, aku yang samperin kamu ke tempat nongkrong dan seret kamu pulang ke rumah!"
"Terserah!" cetus Jovan lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Damian menurunkan ponselnya, menatap Nadia dengan napas memburu. "Dia lagi nongkrong di kafe biasa dekat kompleks, Bunda. Biar Damian yang samperin dan bawa dia pulang."
"Tidak usah, Bang," cegah Nadia.
"Biar dia pulang sendiri. Kalau sepuluh menit dia tidak datang, Bunda sendiri yang menyusul ke kafe itu."
Damian menatap ibu tirinya, terkejut melihat keberanian dan ketegasan Nadia. Belum pernah ia melihat Nadia semarah ini.
Belum genap sepuluh menit, suara deru motor Jovan kembali terdengar memasuki halaman rumah. Tak lama kemudian, pintu depan terdorong kasar. Jovan melangkah masuk dengan raut wajah santai dan melipat kedua tangan di dada.
"Ada apa sih? Berisik banget," ucap Jovan tanpa rasa salah, tatapannya menantang ke arah Nadia dan Damian.
Nadia melangkah maju menatatap Jovan tajam. "Kamu merasa tidak punya salah sama adikmu sendiri, Jovan?"
Jovan berdecak malas. "Alay banget sih. Cuma begitu doang sampai heboh satu rumah. Lagian siapa suruh dia maksa-maksa ngasih kue dari wanita asing kayak kamu? Aku nggak butuh!"
"Jovan! Jaga mulut kamu!" bentak Damian melangkah maju hendak mencengkeram kerah baju adiknya, namun Nadia menahannya.
"Cukup, Bang Damian," lerai Nadia.
"Kamu boleh tidak suka sama Bunda, Jovan. Kamu boleh benci atau tidak menganggap Bunda di rumah ini. Tapi menyakiti adikmu sendiri yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa... Bunda tidak akan pernah tinggal diam."
Jovan tertawa hambar. "Mau ngadu ke Papa? Ngadu saja! Paling Papa cuma membela aku!"
"Bunda tidak perlu ngadu," sahut Nadia dingin. "Bunda cuma minta kamu minta maaf secara langsung ke Kenzo sekarang juga."
"Nggak akan!" tolak Jovan mentah-mentah seraya memalingkan wajah.
Saat suasana di ruang tengah makin memanas, pintu utama mendadak terbuka lebar. Arvin melangkah masuk dengan setelan jas kerja yang masih melekat, matanya menyapu ketegangan yang terjadi di antara ketiga orang di hadapannya.
"Ada keributan apa ini?!"
"Tanya sama anak kesayangan Mas ini!" tunjuk Nadia ke arah Jovan. "Jovan mendorong Kenzo sampai kepalanya kena sudut meja dan tubuhnya lebam-lebam! Cuma gara-gara Kenzo mau kasih kue yang saya bawakan dari toko!"
"Nggak, Pa! Jangan percaya sama wanita ini!" potong Jovan cepat dengan nada tinggi.
"Kenzo-nya saja yang alay dan manja! Aku cuma menepis tangan dia karena dia maksa-maksa, terus dia sendiri yang jatuh tergelincir! Aku nggak ada mendorong dia sama sekali!"
"Kamu bohong, Jovan!" bentak Damian tak tahan.
"Kamu diam, Damian!" bentak Arvin.
"Nadia, kamu baru beberapa hari di rumah ini sudah bikin kegaduhan. Kamu menuduh Jovan sesuka hati cuma karena hal sepele?"
"Jovan tidak mungkin berniat menyakiti adiknya!" tegas Arvin membela. "Kamu itu yang tidak bisa mengayomi anak-anak! Baru mengurus anak-anak sebentar saja sudah tidak becus, malah memicu permusuhan di antara mereka! Kalau kamu becus jadi ibu, kejadian seperti ini tidak akan pernah ada!"
Dada Nadia terasa sesak, dadanya terbakar oleh amarah dan rasa sakit hati yang luar biasa. "Apa kamu bilang, Mas? Saya tidak becus?!"
"Iya! Kamu tidak becus!" suara Arvin menggelegar di ruang tengah. "Kamu cuma bisa bikin suasana rumah ini makin kacau!"
"Jaga mulutmu, Mas Arvin!" bentak Nadia.
"Kamu yang orang tua kandungnya! Selama ini kamu ke mana saja, Hah?! Kamu cuma tahu kerja dan mengandalkan uang, tapi kamu buta dengan apa yang terjadi pada anak-anakmu sendiri! Kamu tidak pernah tahu rasa sakit mereka!"
"Nadia!" ancam Arvin dengan mata memerah.
"Jovan jadi pembangkang dan kasar begini karena kamu tidak pernah mendidik dia dengan benar! Kamu biarkan dia berbuat semaunya asal kamu tidak terganggu!" teriak Nadia tepat di depan wajah Arvin. "Kamu ayah yang gagal, Mas Arvin! Kamu yang sebenarnya tidak becus!"
Plak!
Suara tamparan keras bergema di seluruh ruangan. Kepala Nadia terlempar ke samping. Pipi kirinya seketika terasa panas dan menyengat.
Suasana ruang tengah mendadak hening mencekam. Damian membelalakkan mata dengan napas tertahan, sementara Jovan yang berdiri di belakang Arvin langsung bungkam dan melangkah mundur, terkejut melihat ayahnya menampar Nadia.
Nadia perlahan memegangi pipinya yang memerah. Ia mendongak, menatap Arvin lurus-lurus dengan mata berkaca-kaca.
Damian melangkah maju dengan napas memburu, berdiri tepat di antara Arvin dan Nadia. Wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
"Papa lagi nggak ngajarin kami buat kasar sama perempuan, kan?!" bentak Damian dengan suara bergetar, memandangi ayahnya dengan tatapan tak percaya.
Arvin membeku. Tangannya yang baru saja mendarat di pipi Nadia masih gemetar di udara. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu beralih menatap Damian dan Nadia bergantian. Sorot matanya yang semula penuh amarah perlahan sirna, berganti keterkejutan dan rasa bersalah yang amat sangat.
"Damian... Papa...."
"Papa selalu bilang kami harus jadi laki-laki yang bertanggung jawab dan melindungi keluarga!" potong Damian.
"Tapi apa yang Papa lakukan barusan?! Papa nampar Bunda yang cuma mau membela Kenzo!"
Jovan yang berdiri tidak jauh dari sana tertunduk dalam-dalam. Keberaniannya hilang seketika saat melihat abangnya membentak papa mereka sendiri demi membela Nadia.
Nadia menyapu sudut bibirnya yang terasa kebas dengan punggung tangan. Ia memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menguasai dirinya yang terguncang.
"Cukup, Bang Damian," ucap Nadia lirih.
Nadia lalu menatap Arvin lurus-lurus. "Terima kasih atas tamparannya, Mas Arvin. Sekarang saya paham posisi saya di rumah ini."