NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Uji Rasa di Bawah Lampu Kota

​SUV hitam milik Marko meluncur pelan, menjaga jarak sekitar tiga mobil di belakang sepeda motor Kenan. Dari balik kemudi, rahang Marko mengetat. Matanya menatap tajam dua sejoli di depannya. Sesekali ia melihat Luna tertawa sambil merapatkan pegangannya di pinggang Kenan saat motor itu meliuk membelah kemacetan malam Minggu Jakarta.

​"Bisa-bisanya dia ketawa lepas begitu," gumam Marko tajam, meremas kuat lingkar kemudi.

​Motor Kenan akhirnya membelok ke area parkir sebuah open-space mall yang ramai di daerah Senopati. Marko memarkirkan mobilnya agak jauh di sudut remang-remang, lalu turun dengan topi bisbol hitam dan pakaian kasual gelap agar tak mencolok.

​Ia membuntut dari jauh saat Kenan dan Luna memesan kopi lalu duduk di area outdoor. Marko memilih berdiri di balik pilar besar dekat deretan restoran mewah, berpura-pura sedang melihat ponselnya.

​Namun, keberadaan pria matang bertubuh tegap dan berkarisma seperti Marko di area publik tetap saja sulit disamarkan.

​"Lho? Marko?!"

​Suara melengking yang sangat familier mendadak terdengar dari arah belakang. Marko refleks menoleh dan mengutuk dalam hati.

​Jessi. Wanita itu berdiri anggun bersama empat orang temannya yang tampak glamor.

​"Ya ampun, Marko! Kok kamu ada di sini?!" seru Jessi girang, langsung melangkah mendekat dan merangkul lengan Marko tanpa ragu. "Guys, kenalin! Ini Marko Janitra, CEO Janitra Group yang sering gue ceritain ke kalian!"

​Teman-teman Jessi langsung memandang Marko dengan tatapan kagum. "Wah, Mbak Jessi nggak bohong ya, aslinya ganteng dan gagah banget!"

​"Bisa lepasin tangan kamu, Jessi?" bisik Marko dingin, berusaha menarik tangannya pelan sambil mengawasi meja Luna dari balik bahu Jessi.

​Sementara itu, di meja outdoor, Luna yang sedang mengaduk es kopinya mendadak menghentikan gerakannya. Pandangannya tak sengaja menyapu ke arah pilar restoran.

​Matanya membulat. Di sana, Marko sedang dikerumuni wanita, dan Jessi tampak gelendotan mesra di lengannya.

​Crak.

​Sensasi panas yang membakar langsung menjalar ke seluruh dada Luna. Ngapain pria tua itu ada di sini?! Katanya di rumah, kok malah nyusul ke mall yang sama bareng Mbak Jessi?!

​"Lun? Kamu kenapa? Kok bengong?" panggil Kenan heran, melihat raut wajah Luna yang mendadak berubah drastis menjadi keruh dan kaku.

​"Gak apa-apa, Ken. Mood aku mendadak drop," sahut Luna dingin. "Kita pindah tempat sekarang yuk? Aku mual di sini."

​"Eh? Mau pindah ke mana, Lun?" tanya Kenan bingung, tapi Luna sudah keburu berdiri seraya menyambar tasnya.

​Di sudut lain, Marko panik setengah mati waktu melihat Luna mendadak berdiri dan ditarik Kenan menjauh menuju area parkir.

​"Jessi, saya ada urusan penting. Permisi," tegas Marko sambil menghentakkan tangannya lepas dari genggaman Jessi.

​"Eh, Marko! Mau ke mana?! Nanti dulu dong, kenalan sama temen-temen gue—"

​"Saya bilang permisi!" potong Marko tajam, lalu berbalik cepat mengejar ke arah keluar. Tapi terlambat. Suasana mall yang terlalu ramai dan desakan orang-orang membuat Marko benar-benar kehilangan jejak Luna dan Kenan.

​Pukul sebelas malam lewat sepuluh menit.

​Keadaan rumah megah milik Marko terasa sangat hening. Marko duduk di sofa ruang tamu dengan lampu yang dibiarkan redup. Rokok yang jarang ia sentuh kini mengepul di antara jemarinya. Pria itu terus melirik jam tangan dengan raut wajah gelap menahan gejolak emosi.

​Klek.

​Pintu depan akhirnya terbuka. Luna melangkah masuk dengan santai, melepas sepatu ketsnya di rak.

​"Dari mana saja kamu baru pulang jam segini?" suara berat Marko memecah kegelapan ruang tamu.

​Luna menghentikan langkahnya, lalu menoleh kaku. "Kan udah dibilang tadi, habis jalan sama Kenan. Lagian baru jam sebelas, Om."

​Marko berdiri, melangkah mendekati Luna dengan aura intimidasi yang sangat pekat. "Kamu tahu ini udah kemalaman, Aluna! Saya izinkan kamu pergi bukan berarti kamu bisa seenaknya lupa waktu begini sama cowok!"

​Bukannya takut, Luna malah menyunggingkan senyum sinis. Dadanya yang masih dipenuhi luapan cemburu sejak di mall tadi mendadak meledak.

​"Harusnya aku yang tanya," potong Luna tajam, memotong jarak hingga berdiri menantang di depan Marko. "Om Marko ngapain ada di Senopati malam ini? Ngapain Om ada di mall yang sama kayak aku?"

​Langkah Marko seketika terhenti. Pria itu membeku, matanya berkedip sekali. "M-maksud kamu apa?"

​"Gak usah pura-pura amnesia deh, Om!" gertak Luna dengan mata memerah. "Aku liat Om berdiri di balik pilar dekat kafe aku! Om ngikutin aku sama Kenan, kan?!"

​Marko mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tenggorokannya mendadak terasa menyempit. Pria matang yang biasanya sangat lihai bersilat kata di meja perundingan bisnis itu kini mendadak bungkam total. Rasa gengsi dan ketakutannya untuk mengaku membuatnya tak sanggup mengeluarkan satu kata pun.

​"Kenapa diam, Om?" cemooh Luna, air matanya menetes satu titik karena emosi yang bercampur aduk. "Atau... Om sengaja janjian sama Mbak Jessi di sana buat pamer ke aku kalau Om juga lagi kencan?!"

​Marko mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Bukan begitu, Aluna. Saya—"

​"Cukup, Om," sela Luna dingin. Gadis itu menghapus air matanya kasar, menatap Marko dengan sorot kekecewaan yang dalam. "Om emang nggak pernah bisa jujur. Terserah Om mau ngapain sama Mbak Jessi. Mulai besok, nggak usah sok peduli lagi sama aku."

​Tanpa menunggu balasan Marko yang masih berdiri mematung tak sanggup menjawab, Luna berbalik dan berlari cepat naik ke kamar atas, meninggalkan Marko yang tenggelam dalam rasa penyesalan yang membakar.

​Brak!

​Luna mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dengan dada yang masih kembang-kempis, ia menyambar ponselnya dan langsung mengklik panggilan telepon ke nomor Rania.

​Cuma butuh tiga detik sebelum Rania mengangkatnya dengan suara khas orang mengantuk.

​"Halo, Lun? Kenapa telepon malam-malam begini?"

​"Ran! Gue mau gila rasanya!" seru Luna meluapkan kekesalannya. "Si pria tua itu bener-bener makin edan!"

​Rania yang di seberang sana seketika terkaget dan merapikan posisi duduknya. "Kenapa lagi sih? Bukannya tadi lu kencan malam minggu sama Kenan?"

​Luna pun menceritakan seluruh kejadian malam ini tanpa ada yang dikurangi sedikit pun—mulai dari Marko yang menguntitnya ke mall, kedatangan Jessi yang bikin mood hancur, sampai adu mulut dan kebungkaman Marko di ruang tamu barusan.

​Rania mendengarkan dengan saksama. Begitu cerita Luna selesai, Rania bukannya prihatin, malah terkekeh pelan dari seberang telepon.

​"Lun, lu bego apa polos sih?" ujar Rania santai.

​"Kok lu malah ngatain gue sih, Ran?!" sungut Luna kesal.

​"Ya iyalah! Coba lu pikir pakai otak sehat lu!" tegas Rania. "Ngapain coba bos besar Janitra Group belain ngikutin lu sama Kenan sampai ke mall kalau bukan gara-gara cemburu setengah mati?! Dia tuh cemburu, Aluna!"

​"Tapi tadi waktu gue tanya, dia malah diam aja, Ran! Gak mau ngaku!"

​"Yaiyalah diam, gengsi dia kan setinggi langit! Dia tuh takut ketahuan kalau dia punya perasaan sama anak sahabatnya sendiri," jelas Rania gemas. "Lu nggak bisa cuma nunggu dia ngaku. Lu harus nguji dia!"

​Luna berkerut dahi, mengusap matanya yang basah. "Nguji gimana maksud lu?"

​Rania menyunggingkan senyum jahil di kamarnya. "Lu pancing dia, Lun. Bikin seolah-olah hubungan lu sama Kenan makin serius dan lu bakal ditembak atau mau jadian resmi malam besok. Liat gimana reaksi dia. Kalau dia makin panik dan nekat menahan lu... fix, dia emang cinta mati sama lu. Tapi kalau dia biarin aja... ya lu tau sendiri jawabannya."

​Luna terdiam di atas kasurnya. Jantungnya berdebar kencang memikirkan ide gila sahabatnya itu.

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!