Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Deru mesin mobil sedan hitam milik Alana terdengar halus, membelah jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan siang itu. Di balik kemudi, Pak Mamat melirik cemas dari kaca spion tengah. Di kursi belakang, suasana begitu menekan, pekat oleh aura permusuhan yang tak lagi bisa ditutupi.
Gema tidak membiarkan Alana pulang sendirian. Saat Alana melangkah keluar dari restoran menuju parkiran, pria itu setengah memaksa masuk ke dalam mobil Alana dan memerintahkan Pak Mamat untuk tetap mengemudikan kendaraan menuju rumah. Pak Mamat yang tahu pasti dinamika dingin majikannya, hanya bisa menurut dan menaikkan sekat kaca pembatas antara baris depan dan belakang, memberi ruang pribadi penuh bagi pasangan suami istri tersebut.
Begitu sekat kaca tertutup rapat, kabin belakang yang kedap suara berubah menjadi arena pertarungan yang menyesakkan.
Alana duduk menyandar pada pintunya, menatap lurus ke luar jendela. Tatapannya dingin, mengamati deretan pohon dan bangunan yang melaju cepat, seolah sosok Gema yang duduk hanya terpaut beberapa puluh sentimeter di sampingnya tidak lebih dari bayangan hampa.
"Alana, tatap saya kalau saya sedang bicara," suara Gema meluncur berat, memecah keheningan yang membekukan. Pria itu sudah melepas dasinya, mengendurkan kancing teratas kemejanya, mencoba menutupi rasa cemas dan panik yang mengamuk di dadanya.
Alana tidak bergeming. Dia bahkan tidak mengedipkan mata. "Saya mendengarkan, Mas. Mas tidak perlu menyuruh saya menatap Mas."
"Kamu sengaja mempermalukan saya di depan teman-temanmu?" desak Gema, rahangnya mengetat keras. Rasa bersalah yang tadi menghantamnya di kantor kini bercampur aduk dengan rasa terluka saat mendengar cara Alana memperkenalkannya di restoran. "Suaminya almarhum kakakmu? Begitu cara kamu memperkenalkan suami sahmu di depan orang lain?"
Alana perlahan memutarkan kepalanya. Tatapan matanya lurus, bening, dan sama sekali tak menyisakan ketakutan. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun pernikahan mereka, Alana menatap Gema bukan dengan pandangan mengalah atau memohon, melainkan dengan keberanian penuh dari seorang wanita yang tak lagi memiliki kerugian apa pun.
"Lalu saya harus bilang apa, Mas Gema?" tanyanya halus, nada suaranya selempar bulu namun tajam bagai sembilu. "Saya harus memperkenalkan Mas sebagai suami yang mencintai saya? Suami yang selalu ada saat saya sakit? Atau suami yang menganggap saya ada di rumah itu?"
Gema terperanjat. "Alana!"
"Bukankah itu kenyataan yang selalu Mas tanamkan di kepala saya selama enam tahun ini?" potong Alana, suaranya naik satu tingkat, memotong gertakan Gema tanpa ragu. "Sejak hari pertama saya menjejakkan kaki di rumah Mas setelah Mbak Kirana meninggal, Mas sendiri yang bilang kalau saya tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Mbak Kirana. Mas sendiri yang menegaskan bahwa pernikahan ini cuma status formalitas demi menjaga Tania!"
Gema mendadak tercekat. Kata-kata yang pernah dia ucapkan bertahun-tahun lalu kini mencambuk wajahnya sendiri dengan teramat keras.
"Saya cuma mengembalikan posisi yang Mas ciptakan sendiri," lanjut Alana, matanya mulai memerah menahan badai emosi yang selama ini terkunci rapat di dasar jiwanya. "Selama enam tahun saya menelan mentah-mentah ucapan Mas. Saya berlaku seperti bayangan, saya penurut, saya menunduk setiap kali Mas dingin, saya minta maaf atas hal-hal yang bahkan bukan kesalahan saya... Cuma agar Mas sudi melihat saya sebagai manusia!"
"Alana, saya tidak pernah..."
"Mas pernah dan Mas SELALU melakukan itu!" pangkas Alana tegas, air mata penyesalan masa lalunya menggenang di pelupuk mata, tetapi tak satu tetes pun dibiarkannya jatuh. "Setiap kali saya membuatkan makanan kesukaan Mas, Mas cuma menyentuhnya seolah itu racun. Setiap kali saya mencoba bicara, Mas selalu bilang Mas sibuk. Setiap kali keluarga Mas membandingkan saya dengan almarhumah Mbak Kirana, Mas cuma diam! Mas membiarkan saya dihakimi dan merasa kerdil di rumah Mas sendiri!"
Ledakan kata-kata itu memukul dada Gema hingga pria itu tak mampu bernapas dengan benar. Seluruh pembelaan diri yang disiapkannya menguap begitu saja.
Gema menatap Alana dengan raut syok pria itu belum pernah melihat Alana meluapkan emosi sehebat ini. Selama ini, Alana hanya akan menangis diam-diam di kamar atau meminta maaf pelan.
"Dan sekarang..." Alana mengusap napasnya yang menderu, menatap Gema dengan rasa getir yang mendalam. "Saat saya akhirnya sadar dan berhenti berharap pada Mas... saat saya pingsan dan hampir mati menahan sakit sendirian di rumah sakit tanpa merepotkan Mas sedikit pun... Mas malah datang menceramahi saya? Mas marah karena rasa bersalah Mas sendiri?"
"Saya khawatir, Alana!" bentak Gema, akhirnya pertahanan dirinya runtuh dan emosinya ikut meledak. Pria itu mencengkeram tepi jok mobil dengan erat, matanya memerah menatap istrinya. "Saya kehilang arah waktu tahu kamu pingsan dan dirawat di rumah sakit tanpa tahu apa-apa! Kamu pikir saya ini apa?! Saya suamimu! Bagaimana bisa kamu menyembunyikan pendarahan lambungmu dari saya dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa?!"
Alana tertawa. Sebuah tawa kecil yang terdengar sangat hampa dan menyayat hati.
"Khawatir?" gumam Alana, menatap Gema penuh sarkasme. "Mas Gema khawatir pada Alana... atau Mas khawatir pada bayangan rasa bersalah Mas jika terjadi sesuatu pada saya? Mas takut dipandang buruk oleh orang-orang karena membiarkan istri Mas terbaring di rumah sakit sendirian?"
"Cukup, Alana! Jangan putar balikkan kata-kata saya!" suara Gema terdengar memohon sekaligus frustrasi.
"Saya tidak memutar balikkan apa pun!" tegas Alana, tubuhnya memaju menantang tatapan Gema. "Waktu saya masuk rumah sakit dua hari lalu, Mas ke mana? Mas ada di Surabaya. Dan saat Mas pulang, hal pertama yang Mas tanyakan bukannya kondisi saya, tapi Mas malah sibuk mengkritik dan mencurigai perubahan sikap saya! Lalu di mana letak rasa khawatir itu, Mas Gema?!"
Gema membisu total. Ruang dalam mobil itu seolah kekurangan oksigen. Setiap kata yang Alana lontarkan adalah kebenaran telanjang yang selama ini coba Gema hindari. Pria itu menyandarkan punggungnya ke jok, menutupi wajahnya dengan satu tangan. Rasa malu, bersalah, dan ketakutan yang luar biasa merayapi seluruh dinding dadanya.
"Enam tahun, Mas..." suara Alana mendadak merendah, kembali menjadi bisikan pelan yang dipenuhi kelelahan yang teramat sangat. "Enam tahun saya menahan diri. Saya kunci rapat-rapat semua rasa sakit, rasa iri saya pada almarhumah kakak saya sendiri, dan rasa lapar akan kasih sayang dari suami saya sendiri. Saya bertahan di samping Mas hanya karena saya tahu Tania butuh sosok ibu, dan saya sangat menyayangi anak itu."
Alana memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela luar. Garis profil wajahnya tampak begitu kokoh, namun dipenuhi batas tegas yang tak lagi bisa diterobos.
"Tapi batas menahan diri saya sudah habis hari ini," sambung Alana dingin. "Saya tidak akan lagi mengemis perhatian Mas Gema. Saya tidak akan lagi menangis karena sikap dingin Mas. Mulai hari ini, anggap saja kita hidup dalam koridor kita masing-masing. Mas fokus pada pekerjaan dan ingatan Mas tentang Mbak Kirana, dan saya akan fokus pada hidup saya, toko kue saya, dan Tania."
"Alana, kita ini suami istri..." bisik Gema lemas, suaranya serak menahan sesak di ulu hati. Untuk pertama kalinya, Gema merasa kekuasaannya sebagai seorang suami runtuh sepenuhnya.
"Status di atas kertas tidak ada artinya kalau hatinya sudah mati rasa, Mas," pungkas Alana tanpa sedikit pun keraguan.
Mobil sedan hitam itu terus melaju menyusuri jalanan kota. Di dalam kabin belakang, keheningan kembali melingkupi mereka bukan lagi keheningan canggung seperti biasanya, melainkan keheningan dari sebuah deklarasi perang dingin yang memisahkan dua jiwa secara permanen. Gema duduk tertekan di sudutnya, menatap jemari Alana yang berada begitu dekat, namun terasa berjarak ribuan mil dari jangkauannya.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....