NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17.

BRAK!—PRANG!

Itu suara dorongan pintu yang keras, disusul pecahan vas yang beberapa bagiannya bahkan menyapu kulit tangan Hana.

Dia yang terkejut, membuka matanya lebar saat mendapati ayahnya berdiri di sana.

“Papa?”

Hana yang belum sepenuhnya mencerna betapa genting situasinya, baru tersadar ketika sebuah tamparan mendarat di pipinya.

PLAK!

Kepala Hana sampai terlempar ke kanan akibat tamparan itu. Di tengah rasa sakit yang menjalar, matanya bertemu dengan mata Jethro yang mencoba berbicara kepadanya.

“Nona, Anda tidak apa-apa?”

DEG.

Ya, Hana baru saja sadar.

Sadar bahwa dia bisa dihabisi di sini.

Penampilannya yang hanya mengenakan kemeja polos—yang jika diingat kembali adalah kemeja milik Jethro, sementara pria itu saat ini bertelanjang dada di hadapannya—maka...

“Paaaa—AKHHHH!”

Panggilan Hana berubah menjadi raungan kesakitan ketika kulit kepalanya tertarik akibat rambutnya yang dicengkeram Conrad.

Matanya bertemu dengan mata sang ayah yang berkobar penuh kemurkaan.

“Tuan, tolong lepaskan Nona. Saya—”

“Diam kau! Ada bagian untukmu!” marah Conrad seraya menghempaskan tangan Jethro.

Lupakan soal pekerja dan majikan. Saat ini Jethro bertindak sebagai seorang pria yang telah meniduri seorang wanita dan harus bertanggung jawab. Itulah alasan dia tidak menyerah.

“Tuan, saya mohon. Anda bisa melakukan apa saja pada saya, tapi jangan—”

“AKHHH!”

Kata-kata Jethro menggantung ketika Hana kembali berteriak akibat tambahan tenaga pada cengkeraman Conrad.

Dengan satu seruan memanggil nama tangan kanannya, seorang pria berpakaian serba hitam memasuki kamar vila itu.

“Tuan...”

BUG!

Satu pukulan membungkam Jethro sekaligus Hana.

Di bawah tarikan tanpa perasaan, pria itu menyeret Jethro keluar.

“Papa...” Hana berucap lirih, melihat Jethro yang diseret pergi.

Kini tubuhnya gemetar karena ketakutan.

“Dasar anak kurang ajar! Sialan benar kau!”

Mendengar berbagai umpatan Conrad, Hana hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan tangis agar tidak pecah.

“Kau menolak berbicara dengan Alexander, untuk datang kemari dan tidur dengan seorang rendahan!? Benar-benar memalukan.”

Lagi-lagi, Hana hanya bisa memalingkan wajah ketika tamparan kembali mendarat.

Mau bagaimana lagi?

Sekarang dia takut sekali. Dia bahkan tidak bisa membayangkan apa lagi yang akan terjadi setelah ini.

Dia tidak menyangka kesenangan dan kelegaan yang dirasakannya beberapa jam lalu bisa membuatnya bermain terlalu jauh dalam hidup. Alih-alih menyalahkan Jethro, Hana justru menyalahkan dirinya sendiri.

Dia adalah seorang wanita yang lebih tua dan memiliki status lebih tinggi daripada Jethro. Artinya, dia lebih bertanggung jawab atas kesalahan mereka ini.

Dia bahkan merasa bersalah secara moral ketika mengingat bahwa dirinya dan alkohol-lah yang lebih dulu merayu Jethro.

Kini, jangankan bermimpi untuk menikah dengan Alexander, Hana bahkan tidak yakin apakah dia akan selamat.

Begitulah, tengah malam membelah jalanan kota ketika Hana akhirnya kembali dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, membuat ibunya panik begitu melihatnya sampai di rumah.

~~

“Hanaaaa, sayang, kenapa ini? Ada apa?” Josephine berlari menghampiri Hana yang masih mengenakan kemeja milik Jethro dan celana panjang kainnya.

Di pipi Hana, yang sempat tertutup rambutnya, terlihat memar biru yang cukup besar. Melihatnya, Josephine sampai setengah memekik.

“Pa, apa yang terjadi—”

“DIAM!”

Conrad menghardik Josephine yang hendak berbicara di ruang tamu.

Bagaimanapun juga, mereka adalah keluarga politikus. Meskipun ini kediaman mereka sendiri, tidak semua pekerja akan tetap setia kepada mereka.

Mencoba berbicara dengan Hana yang memilih tetap diam, Josephine akhirnya mengirim seorang pembantu untuk membantu Hana merawat lebamnya.

Sementara itu, dia sendiri dengan terburu-buru mendatangi Conrad ke ruang kerjanya.

“Pa, ada apa ini? Kenapa wajah Hana bisa lebam begitu? Kalau orang lain melihat, kalau keluarga Kim—”

DANG!

Josephine memegang dadanya dengan syok ketika sebuah asbak melayang melewatinya dan menghantam dinding.

Dengan sandal rumah yang selalu memiliki sol beberapa sentimeter lebih tinggi, kakinya hampir terpelecok karena terkejut.

Kali ini, dia melangkah lebih pelan dengan mulut yang tertutup rapat.

“Ini adalah dosamu karena melahirkan putri yang bodoh. Cih! Dari semua hal di dunia...” Conrad menaruh kedua tangannya di pinggang sambil menatap jendela, membelakangi Josephine. “Dari semua hal di dunia, kau tahu?! Putrimu itu memilih untuk tidur dengan seorang rendahan. Bodyguard-nya sendiri yang tidak berguna itu. Keparat!”

Mulut Josephine yang tadi berjanji tidak akan berbicara lagi setelah dilempari asbak, langsung terbuka penuh penolakan.

Ya, dia menolak percaya bahwa putrinya yang cantik dan berpendidikan, yang juga merupakan mantan model terkenal, bisa tidur dengan pria sembarangan. Apalagi pria sekelas pelayan.

“Tidak, tidak mungkin.” Josephine menggeleng. “Tidak mungkin dia tidur dengan pria lain ketika dia bahkan tidak pernah tidur dengan Alexander sendiri!”

“Itulah putrimu yang bodoh. Yang tidak berguna dengan segala kekurangannya. Sial!”

Josephine panik sampai jari-jarinya gemetar. Kini dia harus memeras otak, memikirkan apa yang harus mereka lakukan.

“Jadi... apa itu artinya pernikahan Hana dan Alexander akan dibatalkan?”

Conrad yang mendengar pertanyaan itu tidak bisa tidak memutar kepalanya dengan kasar dan menatap Josephine.

Dia sedikit terkekeh sebelum mengambil langkah mendekati istrinya yang menurutnya bodoh itu.

“Aku bertanya-tanya dari mana datangnya kebodohan Hana. Dan sekarang aku tahu jawabannya. Kebodohan putrimu jelas menurun darimu. Kalau tidak, bagaimana kau bisa mempertanyakan hal konyol seperti itu!? Pernikahan mereka akan tetap dilakukan.”

Josephine mengedipkan matanya beberapa kali. Memang nyatanya dia tahu dirinya tidak secerdas itu.

“Ta-tapi bagaimana bisa? Bagaimana kalau keluarga Kim tahu tentang hal ini?”

“Tidak. Mereka tidak akan tahu apa pun,” jawab Conrad lebih tenang.

Dia yang sudah menguras otaknya untuk berpikir sejak tadi memang belum mendapatkan jalan yang benar-benar aman. Namun, dia sudah bertekad untuk melindungi dirinya sendiri, dan pernikahan ini juga merupakan salah satu bagian dari upayanya melindungi dirinya sendiri.

Di ruangan berbeda, masih di bawah atap yang sama, Hana memeluk dirinya sendiri di lantai, di samping tempat tidur.

Di sampingnya ada ponsel yang baru saja meredup layarnya akibat dimatikan.

Hana yang juga memikirkan Jethro sepanjang perjalanan pulang sempat merasa senang ketika nomor ponsel pria itu memanggilnya.

Namun, alih-alih percakapan di antara mereka, Hana tidak pernah menduga panggilan itu justru digunakan untuk membuatnya mendengar jeritan kesakitan Jethro.

Pria itu berteriak kesakitan di tengah hantaman berulang yang bahkan tidak mampu Hana bayangkan.

Dan siapa lagi yang bisa melakukan hal ini kalau bukan ayahnya?

Kali ini, air mata Hana tidak terbendung lagi. Air matanya jatuh seolah tidak mau berhenti.

KLEK.

“Sayang? Kenapa kamu menyuruh pelayan itu keluar? Mama suruh dia untuk membantu mengobati luka kamu.”

Hana diam.

Dia membenamkan kepalanya lebih dalam ketika mendengar Josephine memasuki kamarnya.

“Hana, ayo berdiri, sayang. Kamu jangan seperti anak kecil begini.”

Hana masih bertahan dalam diam.

“Sudahlah, Hana. Kamu jangan khawatir. Mama sudah bicara pada Papa, dan pernikahan kamu sama Alexander akan tetap berjalan. Jadi, jangan khawatir! Soal ini tidak akan ada yang tahu.”

Mendengar itu, Hana akhirnya mengangkat kepala.

Matanya memandang nanar Josephine, yang meringankan semua hal seolah tidak terjadi apa-apa.

Memikirkan hal ini, kejengkelan perlahan merayapi hati Hana.

Dia memang menangis bukan untuk dirinya sendiri tadi, melainkan karena rasa bersalah yang begitu besar kepada Jethro.

Dia selalu tahu bahwa ayahnya akan melakukan apa saja untuk mengamankan nama baik keluarga mereka. Atau lebih tepatnya, nama baik pribadinya.

Jadi, Hana hampir tidak peduli.

Apalagi terhadap fakta bahwa hubungannya dengan Alexander terus-menerus mengalami kemerosotan sepanjang waktu.

KLEK.

Pintu kembali dibuka dengan kasar.

Kali ini, Conrad yang masuk dengan ponsel di tangannya.

“Berdiri dan bersihkan dirimu. Besok pagi-pagi pergilah untuk bertemu Alexander. Papa sudah bicara dengannya barusan.”

Mata Hana tanpa sadar menatap jam dinding yang menunjukkan pukul satu lewat.

Dia tidak bisa tidak terkekeh.

Ayahnya bahkan tidak malu menghubungi Alexander pada jam seperti ini hanya untuk membuat mereka bertemu dan berbicara.

Ya, Conrad tidak ingin dibantah mengenai hal ini.

Dengan kebetulan mereka sekeluarga sedang berada di sana dalam keadaan yang sedikit lebih tenang, dia akhirnya membuka suara.

Conrad memberitahukan keputusan finalnya bahwa dia tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi.

Pembicaraan mengenai pernikahan Alexander dan Hana harus segera dilakukan. Bahkan, kalau bisa, lebih cepat lagi.

Dia juga melarang keras Hana untuk berhubungan dengan Jethro lagi, bahkan sekadar untuk bertemu.

Dia juga melarang putrinya membicarakan hal ini kepada sahabat terdekatnya, yakni Patris—adik Alexander.

“Kita harus menyimpan kejadian tadi di antara kita saja. Kalian berdua mengerti?”

Josephine mengangguk mewakili, sebelum kembali mendapatkan peringatan.

“Awasi putrimu, Josephine! Kesalahannya adalah kesalahanmu.”

•

•

Sementara itu, di tempat lain, di kediaman keluarga Kim, Alexander dengan gelisah mengusap layar ponselnya sebelum menempelkan benda itu ke telinga.

Dia beberapa kali menghubungi Katalea. Panggilannya tersambung, tetapi tidak mendapatkan jawaban.

Dia juga berusaha menghubungi Julia dan Ines, tetapi masih tidak tersambung.

Padahal, berdasarkan perbedaan waktu, di sana seharusnya masih sekitar pukul tujuh malam.

Jangan tanya bagaimana hal ini memengaruhi Alexander.

Dia bahkan sampai uring-uringan di pinggir kolam sambil terus berusaha menghubungi Katalea.

Bayang-bayang keresahan dan kegelisahan itu tertangkap oleh mata Barack dan Jiah yang juga sama-sama tidak bisa tidur.

Mereka juga terus memikirkan apa yang hendak mereka lakukan dengan kesalahan Alexander ini.

Nama baik, seperti permata yang harus dijaga, bukan sekadar omong kosong bagi mereka.

Dalam masyarakat, keluarga mereka terkenal religius dan beradab. Mereka dikenal sebagai keluarga kaya lama yang bersahaja.

Dalam beberapa lingkaran pergaulan mereka, memang ada anak-anak muda dari generasi orang kaya yang melakukan kesalahan seperti Alexander. Namun, bedanya, mereka menghamili kekasih mereka sendiri, bukan orang asing.

Apalagi dengan status Alexander yang sedang dalam persiapan pernikahan. Bukan hal yang mudah untuk dihadapi.

Sejujurnya, mereka berdua sangat kecewa hingga Barack hampir tidak mampu berbicara lagi dengan putra kebanggaannya itu.

Namun, di satu sisi yang coba mereka sangkal, mereka juga tidak bisa menahan rasa penasaran tentang anak yang masih berada di dalam kandungan itu—calon cucu mereka, cucu pertama mereka.

Semuanya terasa begitu menekan.

Nama baik keluarga, janji kekerabatan, kepentingan bisnis, kritik sosial terhadap Alexander yang merupakan kandidat baru dalam dunia politik, hingga prinsip hidup yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan.

Nilai-nilai keagamaan itulah yang membuat mereka merasa bahwa Alexander harus dibiarkan bertanggung jawab atas perbuatannya dan membawa cucu mereka pulang.

Tapi entahlah.

Barack dan Jiah sama-sama tahu, Conrad dan Josephine tidak akan membuat itu mudah bagi mereka.

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!