Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17—Pasal Hilang Ingatan
Suara derak kertas terdengar kian nyaring di tengah ruangan yang sunyi senyap, diselingi helaan napas panjang yang sesekali keluar dari bibir Yueli. Gadis itu terus menelusuri setiap pasal dengan tatapan tajam, matanya bergerak turun dari satu bait ke bait berikutnya. Membaca dengan saksama, draf itu merangkum segalanya dengan tertib: menjadi istri seorang jenderal, hak atas uang bulanan yang jelas, wewenang penuh dalam memegang kendali urusan rumah tangga, hingga kewajiban untuk menerima keadaan suami dalam situasi apa pun.
"Soal pasal 'menerima keadaanmu', aku setuju-setuju saja, bahkan jika kau jatuh sakit sekalipun. Asal..." Yueli mendongak, mendapati sang jenderal tengah menatapnya lurus. "...kau tidak memiliki selir, persis seperti syarat mutlak yang kutulis di kertasku."
Pria itu mengangkat sebelah alisnya, tidak terlihat keberatan sama sekali. "Baik."
"Siapa pun itu? Tanpa terkecuali?" Yueli memastikan sekali lagi.
"Tentu."
Ketika akan mendiktekan pasal tambahan, pikiran Yueli mendadak melayang. Ia teringat bahwa jauh di lubuk hatinya, ia bukanlah Yueli yang asli, melainkan Alya—jiwa asing yang menumpang hidup di raga gadis ini. Ia menatap sang jenderal lekat-lekat dalam waktu yang cukup lama.
"Pei Gege, di bagian akhir... tolong tuliskan ini," ucap Yueli pelan namun penuh penekanan. "Jika kelak istrimu berubah, kau juga harus tetap menerimanya."
Pria itu mengernyit, alisnya menyatu dalam kebingungan. "Apa maksudmu?"
"Mungkin... tiba-tiba aku hilang ingatan, atau menjadi orang yang berbeda."
Gerakan kuas di tangan Pei Chanqing terhenti seketika. Pria itu mengangkat kepalanya, menatap wanita di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Sorot mata Yueli saat itu tampak begitu berbeda—ada kilat asing, kehampaan, sekaligus ketulusan rapuh yang belum pernah ia temukan pada diri putri sulung keluarga Shen sebelumnya.
"Apa maksudmu?" tanya Pei Chanqing, nada suaranya berubah serius. "Hilang ingatan? Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Yueli?"
Yueli—atau tepatnya Alya—tersenyum tipis, menyembunyikan badai batin yang tengah berkecamuk di kepalanya. Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa jiwa yang bernapas di dalam tubuh ini berasal dari dunia lain?
Ia mengalihkan pandangan sejenak, lalu kembali menatap manik mata sang jenderal tanpa gentar. "Tidak ada rahasia. Hanya saja... hidup di dunia penuh intrik ini membuatku memikirkan segala kemungkinan terburuk. Manusia bisa berubah, atau terserang penyakit aneh yang merenggut ingatan mereka. Jadi, tulis saja di sana sebagai jaminan tambahan agar aku tidak langsung kau usir jika suatu hari nanti aku bertingkah aneh."
Pei Chanqing terdiam cukup lama. Pria itu menimbang-nimbang setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu, mencoba mencari kebohongan di balik kalimat yang terdengar tidak biasa tersebut. Namun, yang ia tangkap justru sebuah permohonan terselubung sebagai sebuah bentuk perlindungan paling mendasar dari seseorang yang merasa terasing di dunianya sendiri.
Dengan rahang mengeras, Pei Chanqing akhirnya kembali menunduk. Kuas di tangannya menari di atas kertas beras, menorehkan kalimat tambahan dengan goresan tinta hitam yang tegas:
Pasal Tambahan: Dalam keadaan apa pun termasuk perubahan tabiat, hilangnya ingatan, atau situasi tak terduga pada diri sang istri suami berkewajiban untuk tetap melindungi, menerima, dan tidak menceraikannya.
Pei Chanqing meletakkan kuasnya, lalu mendorong kertas itu pelan ke hadapan Yueli.
"Puas?" tanya Pei Chanqing datar, meski matanya menatap Yueli dengan intensitas yang sulit diartikan. "Sekarang, tandatangani ini. Mulai malam ini, kita bukan lagi sekadar dua orang yang hanya dijodohkan, melainkan sekutu sehidup semati."
Kertas itu akhirnya ditandatangani, disahkan dengan cap basah dari sidik jari kedua belah pihak yang bersangkutan. Sebuah senyuman puas tersungging di bibir Yueli. Ia menatap lembaran berharga itu cukup lama dalam diam, sementara hatinya bersorak penuh kemenangan: Beres.
"Apakah kau sudah puas sekarang?" tanya Pei Chanqing, nada suaranya menyiratkan kelelahan sekaligus geli menghadapi cara berpikir calon istrinya yang sama sekali tidak seperti wanita bangsawan pada umumnya.
"Tentu, Pei Gege. Selama aturan mainnya jelas, aku pastikan pernikahan kita akan baik-baik saja," jawab Yueli ringan, matanya berbinar cerah.
Pei Chanqing menghela napas panjang, lantas menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu dengan pasrah. Di sisi lain, Yueli kembali melirik bagian bawah kertas tersebut, menikmati deretan pasal rahasia yang sengaja ia selipkan—terutama klausul pamungkas: Jika Pei Chanqing melanggar janji atau komitmen dalam kontrak, sang Jenderal wajib memberikan kompensasi berupa satu buah kios strategis dan uang tunai sebesar 10 tael emas.
Senyum Yueli kian mengembang lebar. Dalam benaknya, ia bahkan mulai menghitung-hitung potensi bisnis jika saja pria di hadapannya ini berani melakukan satu kesalahan kecil saja. Sebuah jaminan masa depan yang sangat manis bagi seorang jiwa modern yang terdampar di tubuh bangsawan dinasti kuno.
Sejenak, suasana di dalam kamar menjadi hening. Pei Chanqing menyipitkan mata, menatap curiga ke arah lembaran kontrak yang baru saja mereka sahkan.
"Tapi aku penasaran, kenapa kau tidak menyertakan pasal tentang kewajibanmu mengurusku jika aku jatuh sakit, Yueli?" tanya pria itu dengan nada menyelidik, alisnya terangkat sebelah. "Kau justru sibuk meminta jaminan jika kau yang berubah atau hilang ingatan, seolah-olah..."
Ssstt...
Sebelum Pei Chanqing sempat menyelesaikan kalimatnya, Yueli dengan gesit mengangkat tangan dan menempelkan jari telunjuknya tepat di atas bibir sang jenderal. Gerakan itu begitu tiba-tiba, membuat Pei Chanqing terpaku seketika, menghentikan deru napasnya.
Yueli menggelengkan kepalanya samar, manik matanya menatap lurus penuh keyakinan. "Aku tidak sakit. Sungguh, aku sangat sehat," bisiknya lembut, namun tegas.
Sentuhan jemari itu terasa begitu nyata di kulit bibir Pei Chanqing, membawa sengatan kejut kecil yang kontras dengan suasana dingin dan penuh perhitungan di antara mereka malam itu. Sang jenderal terdiam, membiarkan jemari lembut itu menahannya sesaat, sementara debar asing yang tak diundang tiba-tiba bergemuruh di balik dadanya.
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu