NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANGAN MENYESAL, IBU!

“Oh, ya.” Nafisa mengangkat sudut bibirnya. “Gudang tempat kalian gunakan untuk bercinta sudah ku bereskan. Mungkin sekarang sudah gak ada yang tersisa lagi?”

“A-apa?!”

Nafisa tidak menjawab. Ia hanya menatap Damar beberapa saat sebelum berbalik dan melangkah menjauh dari mereka.

Namun, baru beberapa meter berjalan, langkahnya mendadak terhenti.

Jemari Nafisa mengerat di sisi tubuhnya. Ia menoleh sedikit, melirik Damar dari sudut matanya.

“Tenang saja, Mas. Impianmu akan terwujud untuk menikahi ibuku.”

Nafisa menarik napas panjang, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar tenang meski hatinya masih terasa hancur.

“Bukankah selama ini Mas ingin bersama Ibu? Sekarang kalian sudah gak perlu sembunyi-sembunyi lagi.”

Bibirnya bergetar menahan emosi.

.

Damar menatap kepergian Nafisa hingga sosok istrinya itu menghilang dari pandangan.

Ia kemudian menoleh kepada wanita di sebelahnya. Tanpa banyak bicara, Damar meraih tangan Yulia dan menggenggamnya erat.

“Bajingan!”

Suara ayahnya memecah keheningan yang mencekam.

Damar tersentak. Ia segera menoleh dan mendapati ayahnya kini tengah menatapnya tajam dengan wajah penuh kemarahan.

“Yah, aku bisa menjelaskan—”

Bugh!

Belum sempat Damar menyelesaikan kalimatnya, sebuah pukulan telak mendarat di wajahnya. Kepalanya terpelanting ke samping, sementara rasa nyeri langsung menjalar di pipinya.

“Pak Arifin!” seru Bu Yulia terkejut.

Damar mengusap sudut bibirnya, lalu kembali menatap ayahnya dengan wajah tegang.

“Bikin malu keluarga saja kamu, Damar!” bentak Pak Arifin. “Apa kamu sudah kehilangan akal sehat sampai tega mengkhianati istrimu sendiri? Bahkan perempuan yang kamu pilih untuk berselingkuh adalah ibu kandungnya!”

Damar mengepalkan tangan. Sebelum ia sempat menjawab, Yulia lebih dahulu angkat bicara.

“Pak, saya dan Damar memang saling mencintai. Izinkan kami bersama.”

Bu Suci menggeleng tak percaya.

“Jeng Yulia, Anda seharusnya sadar diri. Anda sudah dewasa, ingat usia Anda! Kenapa tega menghancurkan rumah tangga anak sendiri?” Suara Bu Suci bergetar menahan amarah. “Nafisa itu anak kandung Anda. Bagaimana mungkin Anda melakukan ini kepadanya?”

Yulia menunduk sesaat, tetapi genggamannya pada tangan Damar tidak mengendur.

“Jeng Suci, saya sudah berusaha menahan perasaan ini. Namun, saya tidak bisa membohongi hati saya sendiri. Perasaan ini tumbuh begitu saja.”

Damar melirik Bu Yulia. Mendengar wanita itu membela hubungan mereka di hadapan kedua orang tuanya.

“Bu, Yah. Izinkan kami bersama. Sekarang Ibu mertuaku sedang mengandung anakku.”

Suasana kembali hening.

Beberapa saat kemudian, Pak Arifin mengembuskan napas panjang.

“Silakan.”

Damar mengernyit, tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Apa maksud Ayah?”

Pak Arifin menatapnya dingin.

“Kalau kalian memang saling mencintai dan bersikeras ingin bersama, silakan. Ayah tidak akan menghalangi kalian.”

Damar sempat merasa lega.

Akhirnya.

Namun, kelegaan itu tak bertahan lama ketika suara sang Ayah kembali terdengar.

“Warisan kami akan kami berikan ke yayasan. Dan kamu gak akan mendapatkan bagian.”

Senyum di bibir Damar seketika memudar.

“Apa?” Keningnya berkerut. “Yah, kenapa?”

Pak Arifin tak menjawab. Wajahnya tetap dingin, membuat Damar semakin gelisah.

“Sebentar lagi kalian punya cucu,” lanjut Damar, berusaha mencari celah agar ayahnya mengubah keputusan. “Bukannya selama ini Ayah dan Ibu ingin punya cucu?”

“Iya, kami memang menginginkan anak itu,” sahut Bu Suci dengan nada kecewa. “Tapi, apa kata orang kalau kamu menikah dengan mertuamu sendiri, Damar? Apa kamu tidak memikirkan rasa malu yang harus kami tanggung?”

Damar terdiam sesaat. “Bu, tapi—”

“Sudahlah.” Pak Arifin memotong ucapannya. “Ayo, kita pulang saja. Tidak usah diladeni mereka!”

Bu Suci mengangguk. Tanpa melirik kearahnya lagi, ia mengikuti langkah suaminya menuju pintu.

“Yah! Bu!” panggil Damar.

Namun, kedua orang tuanya tak berhenti.

.

Sementara itu, Nafisa masih berdiri di balik tembok, tak jauh dari ruang tamu. Ia mendengar dengan jelas percakapan Damar dan ibunya yang seolah tak merasa bersalah setelah mengkhianatinya.

Bahkan, keduanya masih bersikeras membenarkan hubungan terlarang itu atas nama cinta.

Nafisa tersenyum miring. Rasa muak kembali memenuhi dadanya.

“Menjijikkan,” gumamnya lirih.

Ia tak ingin berlama-lama berada di sana. Dengan langkah pelan, Nafisa berbalik dan berjalan menjauh. Namun, baru beberapa meter melangkah, suara ibunya terdengar dari belakang.

“Naf, tunggu sebentar!”

Langkah Nafisa terhenti. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menahan kejengkelan yang kembali muncul.

“Naf, Ibu memang salah,” lanjut Bu Yulia. “Tapi, bisa gak kamu mengerti perasaan Ibu? Biarkan Ibu bahagia bersama Damar.”

Nafisa tertawa kecil tanpa humor.

“Silakan, Bu. Lagi pula, aku sudah gak membutuhkan laki-laki seperti dia. Kalau Ibu mau mengambilnya, ya, ambil saja. Kalau memang itu bisa membuat Ibu bahagia.”

Setelah mengatakan itu, Nafisa akhirnya berbalik. Ia menatap wajah ibunya yang kini tampak sedikit terkejut.

“Kamu serius?” tanya Bu Yulia, seolah tak percaya mendengar jawaban putrinya sendiri.

“Tentu saja.”

Nafisa menjawab tanpa ragu.

“Syukurlah. Ibu memang putriku, Naf,” ucap Bu Yulia, mencoba tersenyum. “Ibu harap kamu jangan sampai membuat masalah ini memutus hubungan kita sebagai ibu dan anak.”

Nafisa menunduk sesaat, menatap tangan ibunya yang menyentuh lengannya. Perlahan, ia melepaskan sentuhan itu.

“Hubungan kita sebagai ibu dan anak?” ulangnya pelan.

Ia mengangkat wajah, menatap ibunya lekat-lekat sembari  tersenyum tipis.

“Tapi, Bu, pria yang sekali berselingkuh akan tetap menjadi pria brengsek.”

“Enggak mungkin, Naf!” bantah Yulia cepat. “Damar cinta sama Ibu, dan Ibu juga cinta sama Damar. Damar gak mungkin jadi pria berengsek.”

Nafisa terdiam sejenak. Ia menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. Rupanya, Yulia benar-benar yakin bahwa cinta bisa menjadi alasan untuk membenarkan pengkhianatan mereka.

“Oh, atau kamu bicara begini karena kamu enggak senang melihat Ibu bahagia, Naf?” tanya Bu Yulia tiba-tiba.

Nafisa menggeleng pelan, berusaha menjaga emosinya agar tak kembali meledak.

“Coba Ibu pikir sendiri. Saat Ibu menggoda Mas Damar, dia tergoda.” Nafisa berhenti sejenak, menatap mata ibunya tanpa berkedip. “Lalu, bagaimana kalau nanti ada wanita lain yang menggoda dia? Apa Ibu yakin dia enggak akan tergoda lagi?”

“Aku saja, yang merupakan istri sahnya, bisa dikalahkan oleh ibu kandungku sendiri. Padahal, selama ini aku percaya Mas Damar adalah suami yang setia.”

“NAFISA?!” seru Yulia dengan wajah memerah.

Nafisa tak gentar.

“Aku cuma mengatakan apa yang mungkin dirasakan perempuan mana pun ketika diselingkuhi, Bu.” Suaranya bergetar, tetapi ia tetap melanjutkan, “Rasanya sakit ketika orang yang kita percaya justru mengkhianati kita.”

Setelah mengatakan itu, Nafisa berbalik dan kembali melangkah pergi. Ia tak peduli dengan ekspresi ibunya yang tampak tak terima.

Toh, ia sudah memperingatkan ibunya.

Laki-laki yang selama ini terlihat setia, penyayang, dan perhatian ternyata mampu mengkhianati istrinya sendiri. Bahkan, perselingkuhan itu telah menghasilkan seorang anak yang kini dikandung Yulia.

Nafisa tidak berharap ibunya hidup dalam kesedihan. Ia tetap ingin ibunya bahagia, tetapi bukan dengan cara yang melukai orang lain, terlebih dirinya sendiri.

.

Yulia masih berdiri mematung, menatap punggung putrinya yang semakin menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan. Perkataan Nafisa terus terngiang di telinganya, membuat perasaannya campur aduk.

Namun, sebelum sempat memikirkan lebih jauh ucapan putrinya, sebuah tangan melingkar di pinggangnya.

“Aku akan setia sama kamu, Sayang. Jangan pedulikan ucapan Nafisa,” bisik Damar di dekat telinganya. “Dia hanya ingin membuat kita bertengkar, lalu akhirnya berpisah.”

Yulia perlahan berbalik. Ia mendongak, menatap wajah laki-laki yang kini berdiri di hadapannya. Tatapannya menyusuri mata Damar, untuk berusaha mencari kebohongan di balik janji yang baru saja diucapkannya.

Namun, ia merasa tak menemukan apa pun selain tatapan yang tampak tulus. Ia mengangguk pelan, lalu merengkuh tubuh Damar ke dalam pelukannya.

“Iya, Dam,” jawabnya lirih.

Damar mengusap punggungnya perlahan, kemudian mengecup puncak kepalanya.

“Kita berjuang dari nol, ya?” tanyanya.

Yulia mengangkat wajah. “Iya.”

. . .

Malam perlahan larut.

 Nafisa yang masih terjaga di dalam kamar. Ia sudah berusaha memejamkan mata sejak tadi, berharap bisa tertidur dan melupakan sejenak semua masalah yang menimpanya.

Nafisa menghela napas panjang. Tubuhnya bergeser, mencari posisi yang nyaman, tetapi tetap saja ia tak kunjung terlelap.

Akhirnya, ia membuka mata dan menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.

Ia mengusap wajahnya, lalu kembali menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya. Sayangnya, rasa lelah tak serta-merta membuatnya bisa tidur nyenyak.

Drttt ... drttt ...

Suara getaran dari atas nakas membuat Nafisa mengalihkan pandangan. Ia meraih ponselnya, lalu mengernyit ketika melihat nama yang tertera di layar.

Pak Dewangga.

“Kenapa Pak Dewangga menelepon malam-malam begini?” gumamnya heran.

Nafisa segera mengangkat panggilan itu dan menempelkan ponsel ke telinga.

“Hm?”

“Bagaimana, nyenyak tidurnya?” Suara Dewangga terdengar dari seberang.

Nafisa mendengus pelan.

“Katakan saja, Pak. Mau ngomong apa?”

“Surat persetujuan cerai sudah ada di tangan saya.”

Nafisa terdiam. Matanya membulat, sementara punggungnya yang semula bersandar kini tegak seketika.

“Loh, kok bisa? Kan aku belum melakukan apa-apa, Pak.”

Tut!

Nafisa mengerjap, lalu menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia menatap layar yang kini kembali menampilkan halaman utama.

Sambungan teleponnya terputus.

“Benar-benar bikin kesal!” gerutunya.

Ia mengembuskan napas kasar, kemudian menjatuhkan punggungnya ke kepala ranjang. Ponsel masih tergenggam di tangannya, sementara keningnya berkerut memikirkan ucapan atasannya tadi.

“Pak Dewangga sebenarnya sedang merencanakan apa, sih?” gumamnya.

Nafisa akhirnya meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia mengusap wajah, lalu menghela napas panjang.

“Padahal aku belum menyerahkan bukti apa pun. Kenapa suratnya bisa cepat keluar?” gumam Nafisa sambil mengernyitkan kening.

Ia mencoba memahami ucapan Dewangga, tetapi semakin dipikirkan, kepalanya justru terasa semakin pusing. Akhirnya, Nafisa mengembuskan napas panjang dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Suasana kamar seketika hening. Nafisa memiringkan tubuh, lalu tanpa sengaja melirik sisi ranjang yang kosong.

“Buat apa dipikirkan,” gumamnya pelan.

Nafisa menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, kemudian memejamkan mata.

1
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!