Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal Makan dan Tikungan Rumus
Bel penanda jam pelajaran terakhir baru saja berbunyi lima belas menit yang lalu. Di saat koridor sekolah mulai sepi karena para siswa berhamburan pulang, ruang perpustakaan SMA Nusa Bangsa justru baru memulai aktivitasnya bagi dua juara umum. Sinar matahari sore menembus celah-celah jendela kaca besar, memantulkan bayangan deretan rak buku di atas meja kayu panjang nomor empat.
"Nan, lo kalau ngerjain soal matriks transformasi pakai jalur pintas kayak gitu, ntar pas koreksi seleksi tingkat kota bisa dikira dukun, tahu gak?" tegor Kirana, tangannya menunjuk coretan angka-angka acak di kertas buram Keenan yang tidak estetik sama sekali.
Keenan Abimara justru tertawa renyah, memutar-mutar pulpen hitamnya dengan sangat lincah di sela-sela jari. "Kirana Putri, dengerin asisten belajar lo yang paling ganteng ini ya. Juri seleksi itu nyari jawaban yang efektif dan bener. Jalur resmi buatan lo itu bagus, tapi makan waktu. Nih, lihat tikungan rumusnya..." Keenan mencondongkan tubuhnya, mengambil pensil Kirana dan menarik satu garis lurus di kertas, menjelaskan taktik cerdasnya dengan begitu dekat hingga helai rambut berantakannya hampir menyentuh pelipis Kirana.
Kirana menahan napasnya sesaat. Kedekatan yang spontan ini selalu berhasil membuat dadanya riuh tak karuan. Sifat genius Keenan yang dibungkus kebandelan kasual itu selalu memiliki cara untuk meruntuhkan fokus belajarnya.
Tok, tok, tok.
Ketukan pelan di pintu kaca perpustakaan yang tertutup membuat perhatian keduanya teralih. Seorang wanita muda dengan kemeja kasual rapi dan wajah yang sangat teduh tampak berdiri di ambang pintu sambil menjinjing sebuah tas kain bermotif bunga.
Kirana seketika membelalakkan matanya gembira. "Kak Naya?!"
Itu Kak Kanaya. Kakak perempuan Kirana yang sedang sibuk koas kedokteran itu melangkah masuk dengan senyuman hangat, menghampiri meja pojok mereka. Aroma rumah sakit yang samar langsung berbaur dengan bau kertas tua di perpustakaan.
"Hei," sapa Kanaya lembut, meletakkan tas kain itu di atas meja. "Kakak kebetulan ada jadwal break satu jam sebelum visit sore di rumah sakit deket sini. Ibu tadi pagi masak ayam kecap banyak banget, jadi Kakak sekalian bawain buat bekal makan siang menjelang sore kamu. Takut adik Kakak kelaparan karena otaknya diperas."
"Astaga, makasih banyak, Kak! Aku emang udah laper banget," ucap Kirana tulus, langsung memeluk pinggang kakaknya manja—sisi ekspresif yang hanya dia tunjukkan di luar rumah kaku Ayah Baskara.
Saat itulah, mata Kanaya beralih pada sosok cowok berjaket denim yang sejak tadi langsung mengubah posisi duduknya menjadi sangat sopan dan tegap. Keenan buru-buru merapikan rambutnya yang acak-acakan dengan tangan, memberikan senyuman ramah yang kelewat manis—sangat jauh dari kesan rebel-nya di lapangan sekolah.
"Sore, Kak. Nama saya Keenan. Keenan Abimara dari MIPA-1, partner bimbingannya Kirana," ucap Keenan memperkenalkan diri dengan nada suara yang sengaja dibuat sesopan mungkin, mengulurkan tangannya dengan takzim.
Kanaya menerima uluran tangan itu, tersenyum geli melihat perubahan sikap Keenan yang mendadak jadi anak alim dalam satu detik. Sebagai kakak yang peka, Kanaya langsung mengingat nama yang tertulis di bungkus roti isi tempo hari: 'Jangan lupa dimakan, Tuan Putri.'
"Oh, ini Keenan yang punya 'investasi susu cokelat' itu ya?" goda Kanaya dengan kerlingan mata jenaka ke arah Kirana, membuat Kirana seketika tersedak ludahnya sendiri dan wajahnya merona merah padam.
"Kak Naya, ih!" bisik Kirana panik, sementara Keenan justru salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan cengiran bandel yang mendadak terlihat menggemaskan.
"Gak apa-apa, Nan. Panggil Kak Naya aja," ucap Kanaya ramah, membuka kotak bekal ayam kecap yang membawa aroma gurih luar biasa ke dalam perpustakaan sepi itu. "Nih, dimakan berdua ya. Porsinya Kakak banyakin kok. Titip Kirana ya, Keenan. Tolong jagain dia biar tetep bisa ketawa riuh di sekolah. Di rumah... dia udah terlalu sering dipaksa sunyi."
Mendengar kalimat terakhir Kanaya, tatapan mata Keenan mendadak melunak penuh keseriusan yang mendalam. Dia menatap Kirana yang sedang menata sendok, lalu beralih menatap Kanaya dengan anggukan mantap. "Pasti, Kak. Tanpa diminta pun, Keenan bakal selalu jaga keriuhan Kirana biar gak pernah redup."
Kanaya menepuk bahu Keenan dengan rasa sayang seorang kakak, merasa lega karena instingnya mendapati bahwa Keenan adalah cowok yang sangat baik dan tulus, meskipun desas-desusnya sangat bandel di sekolah. "Ya udah, Kakak harus balik ke rumah sakit sekarang ya. Kir, habis les bimbingan ini langsung pulang ya, jangan kemalaman biar Ibu gak nyari perkara."
"Iya, Kak. Hati-hati di jalan ya," jawab Kirana memeluk kakaknya sekali lagi sebelum Kanaya melangkah keluar meninggalkan perpustakaan.
Suasana kembali sunyi, namun keheningan kali ini terasa begitu hangat oleh aroma ayam kecap rumahan di atas meja. Keenan mengambil sepasang sendok, lalu menyodorkannya ke arah Kirana.
"Nyokap lo masakannya wangi banget, Kir. Beruntung banget lo punya kakak sekeren Kak Naya," puji Keenan tulus sebelum menyuap potongan ayam pertama.
Kirana tersenyum manis, menyendok nasinya pelan. "Iya. Kak Naya itu satu-satunya pelindung gue di rumah kaku Ayah Baskara." Kirana menatap Keenan, mendapati binar mata cowok itu yang begitu hangat di bawah siraman cahaya senja dari jendela. "Dan sekarang... kata Kak Naya pelindung gue nambah satu di sekolah."
Keenan menghentikan kunyahannya sejenak, tertegun mendengar kalimat Kirana, sebelum akhirnya sebuah tawa renyah yang lepas bergema membelah kesunyian perpustakaan sore itu. "Beres, Tuan Putri! Benteng pertahanan keriuhan lo sekarang udah resmi berlapis-lapis!"
Sore itu, di sela-sela kotak bekal ayam kecap dari rumah dan perdebatan seru tentang tikungan rumus matriks transformasi, Kirana menyadari bahwa bimbingan awal seleksi tingkat kota ini tidak lagi terasa membebani otaknya. Kehadiran Keenan yang selalu punya cara untuk menghidupkan suasana, ditambah restu rahasia dari Kak Kanaya, telah resmi mengubah sudut perpustakaan yang sepi menjadi ruang paling membahagiakan dalam hidup putih abu-abunya.