NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 - DEBUR OMBAK DAN KULIT YANG TERBAKAR

Matahari pagi menyembul dari balik cakrawala Selat Sunda bagai lelehan tembaga pijar, membelah halimun kelabu yang sejak semalam mendekap Pulau Damar Barat.

Di lantai teratas mercusuar, jasad Gavin Zhou terbaring kaku di atas lantai marmer yang bersatu dengan bubuk mesiu dan serpihan lensa Fresnel yang hancur berkeping-keping.

"Bastian," suara bariton Adrian memecah keheningan yang dingin melalui sambungan interkom taktis.

"Saya, Tuan Besar," sahut Bastian dari lantai dasar mercusuar.

"Bakar seluruh struktur menara ini dari ruang penyimpanan bahan bakar bawah tanah. Gunakan bahan pembakar termit militer. Jangan sisakan satu helai rambut atau serpihan sidik jari pun dari pulau ini."

"Siap, Tuan Besar. Tim peledak sudah memasang sumbu pemantik. Evakuasi amfibi dalam lima menit."

Adrian mematikan radio komandonya. Pria itu tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Tangannya terulur meraih pergelangan tanganku, menuntunku dengan langkah mantap menuruni tangga spiral besi yang berderit.

Setiap anak tangga yang kupijak terasa bergetar. Adrenalin liar yang sejak tengah malam tadi memompa darahku perlahan surut, menyisakan keletihan fisik yang menuntut jeda. Namun di dalam genggaman tangan kiriku, batangan platinum berbentuk stik memori terenkripsi—kunci brankas bernilai puluhan miliar dolar milik sindikat Selat Malaka—terasa dingin dan padat. Sebuah beban kekuasaan mutlak yang baru saja kurampas dari rahang bahaya.

Begitu tumit sepatu bot kami menyentuh pasir karang di bibir pantai, deru mesin kapal patroli siluman Trisula Satu sudah menunggu dengan pintu palka buritan terbuka lebar.

Kami melangkah naik tepat saat dentuman teredam berbunyi dari perut pulau.

BLUMMM.

Gelombang panas membakar udara di belakang kami. Api putih menyilaukan dari pembakar termit menyembur keluar dari celah-celah jendela mercusuar kuno itu, melelehkan batu kapur dan besi tua menjadi puing yang runtuh ke laut. Dalam tempo singkat, menara tua itu musnah ditelan air pasang, mengubur seluruh jejak konfrontasi subuh ini ke dasar palung laut.

Pintu palka kapal menutup rapat dengan dengungan hidrolik kedap udara.

"Arahkan haluan ke dermaga privat Varell di Pulau Ayer," perintah Adrian kepada nakhoda di anjungan utama melalui mikrofon dinding. "Kecepatan jelajah ekonomi. Jangan nyalakan radar aktif sebelum melewati batas suar terluar."

"Dimengerti, Tuan Besar."

Dua mesin turbin air berdesau halus saat kapal memutar haluan, membelah ombak pagi yang mulai berkilau keemasan.

Di dalam lambung kapal, kebisingan dunia luar lenyap seketika. Koridor sempit berlapis dinding baja abu-abu membawa kami menuju kabin eksekutif di dek tengah—sebuah ruangan kedap suara berlantai kayu mahoni gelap dengan tempat tidur berukuran king-size, sofa kulit, dan fasilitas privat yang dirancang khusus untuk mobilitas sang pimpinan tertinggi Varell Group.

Pintu kabin tertutup dan terkunci otomatis di belakang punggung kami.

Klek.

Bunyi kunci magnetik itu seolah memutus batas antara intrik berdarah di luar sana dengan ruang hening yang sarat ketegangan baru. Hawa sejuk dari pendingin udara menyapu kulit leherku yang lembap oleh sisa garam laut.

Aku melangkah menuju meja konsol marmer kecil, meletakkan kalung batangan platinum itu di atas permukaannya.

Ketika menatap cermin rias di dinding, bayangan yang kulihat adalah sosok seorang perempuan yang baru saja melewati garis batas hidup dan mati. Balaklava hitamku telah kulepas; rambut panjangku terurai bebas membingkai pundak. Ada goresan tipis di tulang pipi kiriku, dan rompi kevlar pas badan masih membebat dadaku.

Namun mataku menyala dengan keteguhan yang tak lagi bisa disembunyikan.

Sebuah bayangan jangkung muncul di cermin tepat di belakang punggungku.

Adrian melangkah mendekat tanpa suara. Pria itu telah menanggalkan rompi tempur dan perlengkapan senjatanya di sudut pintu. Kemeja taktis abu-abu gelapnya membalut tubuh tegapnya yang kokoh. Kancing teratas kemejanya terlepas, menampakkan garis leher yang tegas sisa lonjakan ketegangan pertempuran tadi.

Aroma tembakau dingin dan kayu cedar seketika menyelimuti udara di antara kami.

Adrian berhenti tepat di belakangku. Hawa hangat yang memancar dari tubuhnya terasa menembus lapisan pakaian taktisku. Melalui pantulan cermin, mata kelam Adrian menatap lurus ke dalam pupil mataku—sebuah tatapan pekat penuh intensitas yang menuntut pengakuan mutlak atas apa yang baru saja kami lalui bersama.

"Kamu terluka, Nadia," suara bariton Adrian bergetar rendah, parau dan dalam.

Tangannya yang besar perlahan terangkat. Ibu jarinya menyentuh tulang pipi kiriku, menyapu pelan luka gores kecil di sana dengan kelembutan yang sangat kontras dengan ketegasan yang ia tunjukkan di mercusuar tadi. Sentuhan itu mengirimkan sengatan halus yang membuat napasku tertahan sejenak.

"Hanya goresan kecil," sahutku pelan, membalas tatapannya di cermin.

"Tetap saja sebuah tanda," bisik Adrian.

Jemarinya meluncur turun dari pipiku, menyusuri garis rahangku yang tegas, lalu jemari itu menyelusup ke celah pengait rompi kevlar di pundakku.

Dengan gerakan mantap dan terarah, Adrian membuka pengait baja rompi pelindungku.

Klik. Klik.

Rompi kevlar yang berat itu terlepas dari tubuhku, jatuh berdebum ke atas lantai kayu mahoni, menyisakan kaus taktis hitam pas badan yang mencetak garis tubuhku. Napasku naik-turun teratur di bawah tatapannya yang tak beralih.

Tangan Adrian bergerak ke pinggangku, menarik tubuhku merapat ke dadanya dengan kekuatan penuh kendali.

Ketegangan di antara kami memadat seketika. Aku bisa merasakan kerasnya garis dadanya menopang punggungku, serta ritme detak jantungnya yang tenang namun berkuasa.

"Kamu menghadapi Gavin Zhou tanpa gentar sedikit pun di atas tebing itu, Nadia," bisik Adrian tepat di dekat telingaku, hembusan napasnya menyapu kulit leherku. "Bahkan pisau bermata ganda itu tidak membuat tanganmu ragu. Dari mana asal dinginnya tatapanmu itu?"

"Dari tekad untuk memastikan masa lalu tidak berulang, Adrian," bisikku serak, memiringkan kepala sedikit hingga bahuku menyentuh dadanya. "Dan kamu... sejak kapan seorang Adrian Varell peduli pada alasan di balik sebuah pertempuran?"

Adrian terkekeh rendah—getaran di dadanya merambat langsung ke tubuhku.

"Sejak kamu melangkah masuk ke ruang rapat dewan komisaris dan membuktikan bahwa kamu bukan sekadar sekutu biasa," desis Adrian.

Perlahan, pria itu membalikkan tubuhku.

Kini punggungku bersandar pada tepi meja konsol marmer. Kedua tangan Adrian mengunci di sisi tubuhku, mencengkeram tepi meja hingga tubuhnya mengurungku sepenuhnya dari pandangan ruangan. Wajahnya menunduk, mengikis jarak hingga hanya tersisa beberapa inci di antara kami.

Di bawah temaram lampu kabin, garis wajahnya tampak begitu tegas dan berbahaya.

"Di atas papan catur ini, kamu memegang kendali," bisik Adrian, suaranya berat dan menuntut. "Tapi di dalam ruangan ini... tidak ada dewan komisaris atau musuh yang bisa mengalihkan pandanganmu dari saya."

"Saya tidak pernah lari dari apa pun, Tuan Varell," tantangku dengan suara tenang, tatapanku mengunci kedua matanya tanpa sedikit pun keraguan.

Adrian tidak lagi membuang kata.

Bibirnya menangkup bibirku dalam sebuah ciuman yang dalam, tegas, dan menuntut kepatuhan mutlak. Ketegangan yang tertahan sejak letusan peluru pertama di pantai tadi malam seolah tumpah ruah dalam sentuhan itu. Tangannya bergerak menangkup tengkukku, menahan kepalaku saat ciuman kami semakin intens, menyatukan rasa garam laut, sisa adrenalin, dan tarikan gravitasi yang tak lagi mampu kami sangkal.

Tanganku merambat ke bahunya yang bidang, mencengkeram kain kemejanya saat hawa panas di antara kami membakar dinginnya kabin baja. Adrian mengangkat tubuhku ke atas tepi meja konsol, melangkah semakin rapat hingga batas di antara kami luluh seutuhnya.

Tatapannya menggelap saat ia melepaskan bibirku sejenak, menatap dadaku yang naik turun cepat sebelum bibirnya turun menyesap garis rahang dan ceruk leherku. Setiap kecupan dan cengkeraman tangannya di pinggangku menegaskan ikatan tak kasat mata yang terjalin erat di antara kami—bukan sekadar aliansi bisnis, melainkan persatuan dua jiwa yang sama-sama tak kenal ampun.

Dalam dekapan yang menuntut dan penuh hasrat berkuasa itu, Adrian mengangkat tubuhku, membawaku melangkah menjauhi meja konsol menuju ranjang luas di sudut kabin.

Pintu kabin bergetar halus oleh deburan ombak di luar, namun di dalam ruangan itu, dunia luar seolah berhenti berputar. Di bawah temaram lampu kabin kapal yang melaju menembus fajar, kami menenggelamkan diri dalam keintiman yang liar dan pekat—sebuah pengikatan tanpa kata antara dua penguasa yang siap membakar siapa pun yang berani merintangi jalan mereka.

Satu jam berlalu dalam keheningan yang menenangkan.

Cahaya matahari pagi kini menembus jendela kapal berbentuk lingkaran kecil, menyinari debu-debu halus yang melayang tenang di udara kabin.

Di atas tempat tidur, selimut kasmir tebal menutupi tubuh kami. Aku berbaring dengan kepala bersandar di atas lengan kokoh Adrian, menatap langit-langit kabin seraya mengatur ritme napas yang telah kembali stabil. Keletihan fisik terasa sirna, digantikan oleh ketajaman pikiran yang siap menyambut babak berikutnya.

Adrian membuka matanya perlahan. Wajah pria itu telah kembali dingin dan berwibawa, namun tatapan matanya menyiratkan kepuasan mutlak. Ibu jarinya membelai lembut bahuku yang terbuka.

"Kapal akan merapat di dermaga Pulau Ayer dalam dua puluh menit, Nadia," suara bariton Adrian kembali stabil, sarat akan wibawa seorang pimpinan konglomerasi.

Aku bangkit duduk perlahan, menarik selimut menutupi dada seraya menyandarkan punggung pada kepala ranjang.

"Dan setelah merapat di Pulau Ayer?" tanyaku tenang.

Adrian bangkit dari tempat tidur, mengenakan kemeja putih bersih yang telah disiapkan di lemari kabin tanpa tergesa-gesa, lalu mengancingkan manset peraknya.

"Helikopter pribadi Varell Group sudah bersiap di helipad pulau untuk menerbangkan kita kembali ke Jakarta," jawab Adrian seraya mengambil kalung batangan platinum sindikat Sembilan Teratai dari meja konsol, lalu menyerahkannya ke tanganku.

Adrian menatapku lurus dengan senyuman tipis yang dingin.

"Pukul sembilan pagi nanti, bursa efek Singapura dan Jakarta akan menyaksikan goncangan besar. Data di dalam batangan platinum ini akan kita teruskan ke meja otoritas keuangan dan aparat penegak hukum secara bertahap."

Jantungku berdegup mantap. Rencana strategis ini melaju tepat sesuai perhitungan.

"Kita akan membekukan seluruh aset sindikat Sembilan Teratai di berbagai bank koresponden sebelum dewan tetua di Singapura sempat menunjuk pengganti Gavin Zhou," sambungku dengan senyum tipis, jemariku menggenggam erat stik memori platinum itu.

"Tepat," ucap Adrian seraya menunduk sedikit, menyapukan kecupan singkat di dahiku yang menegaskan kemitraan abadi kami. "Dan di saat yang sama, kita pastikan Ryan Arkana dan Selena Marvia menerima kabar kehancuran pelindung mereka di balik jeruji besi."

Masa lalu yang kelam di apartemen lantai tiga puluh dua perlahan terkubur oleh realitas baru yang kubangun.

Kini, aku melangkah keluar dari perairan ini bukan lagi sebagai korban, melainkan sebagai sosok yang memegang kendali atas kehancuran musuh-musuhku.

Kapal patroli membelah ombak terakhir, membawa kami berdua menuju panggung pertarungan berikutnya di lantai bursa internasional.

Dan babak pembalasan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!