Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17_Sebuah ilusi
Aku berjalan di lorong menuju kamar kak Zafira, wajahku tegang, alis bertaut.
_apa maksud dari yang tertulis di buku itu??_ Mataku gelisah.
[Ingatan masa lalu]
Saat aku hendak membaca sebuah buku, tiba-tiba saja ada sebuah buku yang jatuh dari rak paling atas.
*BUKK!!*
Aku menoleh ke arah buku itu dan berjalan ke arahnya, mata membelalak kaget.
"sebuah buku??"
Saat aku memegangnya dan membaca judul buku itu, aku tersentak, wajahku pucat.
"apa maksudnya ini??"
Judul yang tertulis di buku itu adalah: mimpi buruk versi dirimu, aku langsung membuka buku itu dan benar-benar terkejut, tangan gemetar.
"kau akan bertemu dengan dirimu yang lainnya, jadi bersiaplah untuk kemungkinan terburuk nya, kau memiliki 2 pilihan: ..menyerah atau melawan" Bibirku bergetar.
[Akhir ingatan masa lalu]
Ketika sudah sampai di kamar Zafira, aku langsung mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya, dadaku sesak.
"huhh... sejak pertama kali aku kesini, aku merasa ada yang aneh dengan tempat ini, seolah-olah tempat ini sedang menunggu kehadiran ku" Wajahku cemas.
aku langsung mengetuk pintunya, tangan agak gemetar.
*Tokk.. Tokk... Tokk*
Saat itu juga Zafira langsung keluar, penampilannya masih acak-acakan karena baru bangun dari tidurnya, rambut berantakan, mata sayu.
"Ouh kai, ada apa mencari kakak malam-malam begini??" Suaranya serak ngantuk, senyum tipis.
Aku langsung tersentak, mata membelalak bingung.
"hah.. malam??, bukankah disini hanya bisa terus siang hari??" Wajahku kaget.
Zafira yang mendengar hal itu langsung membuka pintunya sedikit dan menunjuk ke arah jendela kamarnya, mata menyipit.
"lihatlah.. ini sudah malam, memang benar dulunya tempat ini hanya memiliki satu waktu, tapi semenjak kau berada disini waktu di tempat ini mulai bergerak" Wajahnya lembut.
Badanku langsung gemetar, tanganku mengepal, wajahku tegang.
_kalau begitu..._
kemudian aku bertanya kepada kak Zafira, suara pelan gemetar.
"kak Zafira ada yang ingin aku tanyakan kepadamu, boleh kan??"
Zafira langsung mengangguk, senyumnya hangat.
"tentu saja, dengan senang hati aku akan menjawab pertanyaan adikku yang manis, tapi pertama-tama mari kita masuk, aku juga akan membuatkan teh untukmu"
Dia langsung membuka pintunya dengan lebar dan membiarkan aku masuk, setelah di dalam aku pun duduk di sofa, wajahku masih tegang.
_apa yang terjadi di tempat ini sekarang??_ Alis bertaut.
Zafira pun langsung menyeduhkan aku sebuah teh hangat, tangannya cekatan.
*Srrk...*
"silahkan diminum" Dia pun langsung duduk di sampingku, mata lembut menatapku.
Aku pun meminum teh itu dan langsung bertanya kepada Zafira, mata serius.
"kak Zafira, saat itu kau pernah bilang kepadaku, bahwa tempat ini tercipta karena ku, apa semua yang bekerja di tempat ini juga bekerja atas diriku??"
Zafira langsung mengangguk pelan, wajahnya tenang.
"hmm.. tentu saja, semua yang tercipta dan bekerja di tempat ini, semuanya terjadi atas kehendak dirimu"
Aku langsung mengerutkan alisku dan menaruh tangan di daguku, wajahku curiga berpikir.
_kalau benar ini semua terjadi karena kehendak ku, mungkin ini semua adalah kecemasan ku saja_
"Tapi.. tempat ini juga bisa berubah sesuai dengan emosi yang kau rasakan" Matanya menatapku dalam.
dia pun berdiri sambil mengambil cangkirku, senyum tipis.
"sepertinya sudah cukup untuk malam ini, kau juga harus tidur kai, mengerti!?" Wajahnya tegas tapi sayang.
Aku langsung mengangguk pelan dan tersenyum tipis kepadanya, mata masih gelisah.
"ouhh.. hmm, kalau begitu aku permisi dahulu" aku pun berjalan menuju pintu keluar, langkah pelan.
Wajah Zafira langsung berubah cemas, alis bertaut, dan tepat setelah aku ingin keluar dari kamarnya dia memanggilku, suara agak bergetar.
"kai, ...jika mungkin ada yang sedang kau pikirkan sekarang, tolong.. jangan sungkan untuk meminta tolong kepada kami" Matanya berkaca khawatir.
Aku langsung tersenyum kepadanya, senyum dipaksakan.
"hmm.. baiklah, akan kuingat baik-baik"
aku langsung menutup pintu kamarnya dan berjalan ke ruang arsip, wajahku murung.
Saat di perjalanan, alisku terus mengkerut, mata sayu.
_emosi ku sendiri ya?? Kalau begitu suasana siang bisa diartikan dengan emosi ku yang senang, berarti suasana malam bisa diartikan dengan ketenangan_
Tiba-tiba saja langit berubah menjadi gelap, angin mulai bertiup kencang diiringi guntur yang mulai terdengar dari balik awan-awan yang gelap itu.
*Wussh...*
*Gruuum...*
aku melihat ke arah jendela yang ada di lorong, mataku membelalak takut.
_kalau begitu, perubahan yang terjadi sekarang.. disini karena apa??_ Wajahku pucat.
[Keesokan harinya]
Cuaca pun akhirnya kembali cerah, sinar matahari mulai menyinari kamarku, dan tiba-tiba ada suara orang yang mengetuk pintuku.
*Tokk.. Tokk.. Tokk*
Aku bangun dari tempat tidurku, mataku masih menutup sepenuhnya, wajah kusut ngantuk.
"siapa yang membangunkan ku pagi-pagi sekarang??"
Aku mengusap mataku dan kemudian berjalan menuju pintu, langkah gontai.
Saat aku membukanya tiba-tiba Zafira memelukku sambil mengusap-usap wajahku ke wajahnya, mata berbinar gemas.
"ahh.. kai, kakak sangat merindukan mu.. kai yang lucu" Pipinya menempel.
Aku yang masih setengah sadar pun langsung berusaha mendorongnya, wajahku merah kaget.
"sudah ku duga.. ternyata kak Zafira, dan juga kakak.. kita baru berpisah selama satu malam"
Dia langsung menarikku dan langsung menyuruhku untuk duduk di sofa kamarku, senyumnya lebar puas.
"sudah ku duga, ide mu untuk membuat sofa ini sangatlah hebat kai, belum ada orang yang terpikir untuk membuat tempat duduk yang sangat lembut seperti ini"
Aku langsung mengelus permukaan sofa itu, wajahku agak bangga.
"tidak juga.. lagipula aku mendapatkan ide ini, karena membaca buku sejarah perang yang ku baca di ruang arsip"
Tangan Zafira nampak sibuk di belakang, dia mengambil sebuah gunting kecil, jepit rambut, sisir lalu sebuah cermin besar dan kecil, mata berbinar jail.
"ehh.. begitu kah, ngomong-ngomong buku itu bercerita tentang apa??"
Aku memejamkan mataku dan tersenyum dengan lebar, wajah ceria.
"tentang perang antara Kerajaan Eiden yang mencoba membuat kekaisaran selama berabad-abad, dikatakan disini bahwa perang dan perampasan wilayah sering dilakukan Kerajaan Eiden untuk mencari sumber daya alam yang melimpah, seperti wilayah pegunungan Mitril dekat dengan sarang Naga bumi dan kerajaan Dark elf dan Reruntuhan milik penyihir agung tinggal yang sarangnya dekat dengan sarang Naga es, konon semenjak kepergian sang penyihir itu, tidak ada yang berani mendekati tempat itu lagi, bahkan murid-murid nya pun tidak ada yang berani"
Zafira langsung mendorong dan menaruh cermin itu di depanku, senyum menggoda.
"ehh.. benarkah, lalu apa sihir penyihir itu??"
Aku langsung memutar jariku dan tersenyum dengan lebar, mata berbinar.
"sihir yang tercipta dari fenomena yang sangat langka dimana seorang penyihir bisa meningkatkan jumlah mana yang ditampung di tubuhnya secara drastis..."
Zafira pun langsung menyisir rambutku dengan pelan dan mulai menjepitkan rambutku, wajahnya fokus serius.
"jadi.. apa nama sihirnya??"
"Sihir itu bernama sihir Es, kau tahu.. itu benar-benar sangat luar biasa, karena penyihir atau pejuang yang memiliki sihir yang berbeda sangatlah sedikit di dunia ini, dan lebih hebatnya lagi sihir ini bisa diwariskan jika orang yang diwariskan itu memenuhi kriteria untuk memegang kekuatan sihir ini, karena sihir ini tidak termasuk ke dalam 4 cabang sihir yang ada"
Zafira pun mulai menggunting rambutku sedikit-demi sedikit, wajahnya serius teliti.
*Srek... srek...*
"jadi bagaimana tentang Reruntuhan milik penyihir agung itu??"
"Reruntuhan itu tidak bisa dimasuki oleh orang sembarangan, katanya ada sebuah ritual yang diperlukan untuk mendapat izin dari sang penjaga reruntuhan itu, karena didalamnya terdapat sebuah buku catatan tentang alat sihir dan ilmu sihir yang diteliti oleh sang penyihir agung ...jadi tidak heran jika tempat itu sangat diinginkan oleh banyak kerajaan, walaupun untuk sekarang hal kepemilikan Reruntuhan itu di pegang oleh kerajaan salfaria, karena penyihir agung itu memiliki hubungan darah dengan keluarga Kerajaan, ahhh.. dan juga, salah satu penelitian yang berhasil didapatkan sekarang dari mengumpulkan informasi murid-murid penyihir agung itu adalah sebuah alat yang dapat mengambil gambar, yang dinamai kamera, yahh.. Walau alat ini hanya bisa digunakan oleh orang-orang terpilih dari Kerajaan Salfaria saja.."
Zafira mulai menata rambut kai secara meneliti, dia tampak tersenyum puas melihat potongan rambut adiknya, mata berbinar.
"baiklah sudah selesai.."
Aku langsung membuka mataku dan hendak menoleh ke arahnya, tapi aku berhenti ketika melihat rambutku sudah dipotong oleh Zafira, mataku membelalak kaget.
"a-apa?? ba-bagaimana?? Ra-rambutku??" Wajahku panik menyentuh rambut.
Zafira langsung menaruh cermin di belakang kepalaku sambil tersenyum lebar puas.
"bagaimana?? Bukan hanya bisa membuat sesuatu, tapi kakak mu ini juga berbakat mengubah sesuatu"
dia pun tertawa terbahak-bahak, mata menyipit senang.
"Ha-ha-ha-ha.."
Mataku membelalak, bibir bergetar, air mata menggenang.
_potongan rambut ini?? Mirip dengan potongan yang selalu ibu berikan untukku_
Aku meneteskan air mataku, wajahku terharu.
"hmmm.. terima kasih.. kak Zafira"
aku menoleh ke arahnya dan tersenyum lebar untuknya, mata berkaca-kaca.
"aku sangat menyayangimu"
Zafira yang melihat itu langsung memelukku dengan lembut, matanya berkaca haru.
"sama-sama" dia mengusap kepalaku dengan lembut, senyumnya tulus.
Kemudian setelah itu, aku langsung mandi dan membilas rambutku, kemudian setelah memakai pakaianku, aku terus memandangi cermin sambil tersenyum, wajahku cerah bangga.
"potongan samping ini!! Potongan poni yang memberi kesan berantakan tapi rapi ini!! dan potongan belakangnya yang tidak terlalu pendek ini!! Tidak salah lagi..."
[Ingatan masa lalu]
Teringat momen saat ibunya mencukur rambutnya pertama kali, saat itu kai kecil duduk di pangkuan ibunya yang sedang memotong rambutnya di depan cermin kamarnya, wajahnya polos senang.
_persis seperti yang ibu lakukan dulu.._ Matanya berkaca.
[Akhir ingatan masa lalu]
Aku langsung memiringkan kepalaku dan berpikir, alis bertaut curiga.
"tapi kenapa kak Zafira bisa mengetahui gaya rambut yang sering ibu buat untukku?? Ouh iya.. dia juga sering membuatkan ku roti lapis dan selalu merekomendasikan aku buku untuk dibaca, seolah-olah dia tahu akan kesukaan ku, dan bukan hanya itu, dia juga tahu bahwa aku sangat tidak menyukai kacang polong, makanya dia tidak menanam kacang polong di tempat ini" Wajahku menegang.
Saat aku berjalan menuju pintu dan hendak membuka pintu, mataku tiba-tiba membelalak, wajahku kaget.
_ouh iya.. karena sibuk dengan latihan dan membaca buku, aku jadi tidak pernah berpikir.. bagaimana caranya mereka mendapatkan benih-benih untuk sayuran dan buah-buahan yang ditanam disini??_
Aku langsung berlari di lorong menuju ke luar istana, napas memburu.
_lebih baik jika kau tanyakan hal ini kepada Belial, karena dia tidak akan menutupi apapun dariku_
aku keluar dari istana, mata membelalak.
Mataku membelalak dan mulutku ternganga, wajahku shock.
"bagaimana bisa?? Tempat ini memiliki sebuah kota??"
Dia melihat dari jauh, bahwa ketinggian Reruntuhan ini sengaja dinaikkan, dan tepat di bawah sana terdapat banyak bangunan, jalanan, lampu-lampu bahkan sebuah sungai buatan yang sedang dibangun.
"aku baru meninggalkan mereka selama 1 Minggu, dan ini yang terjadi!!" Suaranya pecah kaget.
Aku langsung menoleh ke sekeliling, sebuah arena tarung, lapangan para ksatria, barak pasukan, taman dan jalan megah yang menuju ke istana, mata berbinar tak percaya.
"sebenarnya apa yang terjadi disini?? Ahh... Duhh aku tidak akan kaget lagi, yang lebih penting aku harus mencari Belial sekarang" Wajahku bingung tapi takjub.
Aku pun berlari menyusuri seluruh kota yang sedang dibangun itu, saat aku berlari itu aku melihat aktivitas mereka yang terlihat seperti makhluk biasa, wajahku kagum.
_sepertinya tidaklah terlalu buruk, melihat keadaan mereka yang seperti ini_ Senyum tipis.
Saat aku sedang berlari aku melihat Belial yang sedang berlatih sendirian di sebuah bukit yang tidak terdapat sebuah pohon besar di atasnya, dia terus melakukan meditasi tanpa bergerak sedikitpun, bahkan kupu-kupu yang hinggap di hidungnya tidak membuatnya bergerak, wajahnya tenang damai.
_keren.. entah aku bisa melakukan itu atau tidak ya??_ Mataku berbinar kagum.
Belial langsung membuka matanya dan berdiri dari meditasinya, wajahnya tenang.
"ahh.. kai ternyata, ada apa kau kesini??" Senyum tipis.
Aku berjalan ke arahnya, wajah penasaran.
"aku hanya sedang melihat-lihat sesuatu yang besar sedang terjadi disini"
Belial langsung mengusap kepalanya sambil tersenyum kepadaku, wajahnya agak canggung.
"ahh.. maaf kai, kau pasti sangat tidak suka dengan yang berlebihan seperti ini kan"
Aku langsung menggelengkan kepalaku, senyum tulus.
"hmm tidak sama sekali, malah aku benar-benar menyukainya.. mungkin memang aku yang terlalu banyak berpikir dan mulai mencurigai kalian karena terlalu paham tentang semua hal yang aku sukai" Mataku berkaca jujur.
Belial tersenyum tipis, matanya lembut.
"apa benar kami paham dengan apa yang kau sukai?? Apakah kau tidak terpikir bahwa mungkin itu adalah keinginan mu sendiri??"
Aku langsung menoleh ke arahnya, mataku membelalak, wajahku kaget melihat Belial yang menatapku dengan tatapan yang sangat kosong, mata hampa.
"apa yang kau bicarakan "Belial?? Apa yang terjadi dengan mu??" Suaraku bergetar takut.
Dia berjalan ke arahku, langkah pelan, wajahnya datar kosong.
"semua yang kau rasakan saat ini... Adalah kebohongan yang kau ciptakan" Suaranya dingin hampa.
Tiba-tiba saja muncul sebuah retakan pada dunia itu, dan saat aku menyentuhnya, dunia itu hancur berkeping-keping lalu menyisakan ruangan yang gelap yang dipenuhi dengan potongan-potongan ingatan diriku.
*Kraak...*
"apa yang terjadi?? Lalu apakah yang ada di depanku sekarang adalah.. ingatanku??" Wajahku pucat panik.
Aku terus melihat ke semua potongan-potongan ingatan itu, mata berkaca bingung.
"tapi aku sama sekali tidak mengingatnya, apa benar aku pernah memiliki ingatan ini??"
Saat aku berjalan mundur tiba-tiba saja aku menabrak seseorang, seketika badanku gemetar, jantungku berdegup kencang, wajahku pucat.
"siapa.. kau sebenarnya??" Suaraku tercekat.
Wajah orang itu mulai muncul dari balik bayangan, senyumnya miring, mata merah.
Dan mulut orang itu berbisik di telingaku, dingin menusuk.
"senang bertemu dengan dirimu... Diriku.."
Aku langsung membuka mataku, nafasku terengah-engah dan saat itu juga aku melihat semua orang berkerumun mengelilingiku dengan wajah mereka yang terlihat sangat cemas, mata berkaca.
"apa yang kalian lakukan disini??" Suaraku serak panik.
Aku langsung bangun dan duduk di tempat tidurku, wajah pucat bingung.
"apakah ada seseorang yang bisa jelaskan apa yang terjadi kepadaku??"
Zafira langsung menangis dan memelukku dengan erat, air matanya jatuh, bahu bergetar.
"syukurlah.. syukurlah kau baik-baik saja kai" Suaranya pecah lega.
Aku menoleh melihat wajah Agrees dan yang lainnya yang terlihat sangat kesal, rahang mengeras, mata marah khawatir.
"apa yang terjadi sebenarnya??" Wajahku tegang.
Belial langsung mengambil cermin kecil dan memberikannya kepadaku, wajahnya serius cemas, aku pun mengambil cermin itu dan mengarahkannya ke wajahku, tangan gemetar.
Tanganku langsung gemetar ketakutan, mataku membelalak ngeri, wajahku pucat pasi.
"apa yang terjadi.." lewat cermin aku melihat wajahku yang mulai memunculkan urat-urat hitam itu lagi, menjalar.
"...dengan tubuhku?? Kenapa aku bisa terkena amukan mana kembali??" Suaranya bergetar takut.
Aku memegang urat-urat hitam itu, wajahku meringis sakit.
_rasanya seperti ada yang menggerogoti pikiranku..._ Mataku berkaca menahan sakit.