Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raja yang Menolak Kalah
Ruang kerja Komisaris Utama NSM Company terasa lebih dingin daripada biasanya.
Di balik meja kayu mahoni yang luas, Arman duduk dengan rahang mengeras. Sebuah map berwarna merah tergeletak di hadapannya. Di samping map itu terdapat salinan laporan audit internal tahun 2023 yang beberapa hari terakhir telah menghancurkan rencana bisnisnya.
Laporan yang seharusnya terkubur di Basement 2.
Laporan yang semestinya tidak pernah sampai ke tangan Elena.
Arman membalik halaman demi halaman, meskipun ia sudah hafal isi dokumen tersebut. Setiap kali melihat tanda tangannya sendiri pada keputusan untuk mempertahankan vendor logistik, amarahnya semakin sulit dikendalikan.
Bukan karena ia baru mengetahui isi laporan itu.
Melainkan karena Elena kini mengetahui apa yang selama ini berusaha ia sembunyikan.
Pintu ruangannya diketuk dua kali.
"Masuk."
Pak Haris melangkah ke dalam sambil membawa tablet. Ia berhenti di depan meja, lalu menunggu sampai Arman mengangkat wajahnya.
"Bagaimana situasi setelah rapat kemarin?" tanya Arman.
"Departemen keuangan sedang meninjau ulang pembayaran kepada vendor logistik. Bu Elena juga meminta seluruh dokumen terkait diamankan dan diperiksa kembali."
Arman mengetukkan ujung jarinya ke meja.
"Tentu saja. Putri saya akhirnya menemukan sesuatu yang bisa digunakannya untuk melawan saya."
"Bu Elena belum membuat pernyataan resmi mengenai dugaan keterlibatan pihak lain, Pak. Untuk sementara, yang menjadi fokusnya adalah penghentian kontrak dan pemeriksaan transaksi."
"Jangan mengajari saya apa yang dilakukan putri saya sendiri."
Haris langsung menundukkan kepala.
Arman bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela. Dari ketinggian lantai itu, Jakarta tampak sibuk seperti biasa. Kendaraan bergerak memenuhi jalan, gedung-gedung menjulang di bawah cahaya matahari, dan kehidupan terus berjalan tanpa memedulikan perang kecil yang sedang berlangsung di dalam NSM.
Namun, pikirannya tidak berada pada laporan audit semata.
Ada kejadian lain yang terus mengganggunya.
Malam ketika Elena membawa Andrian ke rumah keluarga mereka.
Ia masih ingat bagaimana putrinya berdiri di hadapan dirinya dan Puspasari, menggenggam tangan seorang anak magang seolah seluruh ancaman keluarga mereka tidak berarti apa-apa.
Elena bukan sekadar membela pemuda itu.
Ia memilihnya.
Di depan kedua orang tuanya sendiri.
Dan yang lebih menyakitkan, Andrian tidak pernah terlihat gentar meskipun dihina, diancam, dan diperlakukan seperti seseorang yang tidak pantas berdiri di rumah itu.
Arman kembali ke mejanya.
"Anak itu."
Haris mengangkat wajah.
"Andrian Pratama?"
"Siapa lagi?"
Arman menarik kursi, lalu duduk dengan gerakan terkendali.
"Saya sudah memberikan kesempatan kepadanya untuk memahami posisinya. Saya memindahkannya ke Basement 2 agar dia sadar bahwa keberanian berbicara di hadapan keluarga saya tidak membuatnya menjadi siapa-siapa."
Ia berhenti sejenak.
"Tetapi sekarang, laporan yang seharusnya terkubur bertahun-tahun justru ditemukan di tempat anak itu bekerja."
Haris tampak berhati-hati sebelum menjawab.
"Apakah Bapak menduga Andrian sengaja mencari laporan tersebut?"
"Saya tidak mengatakan itu."
"Baik, Pak."
"Saya hanya ingin tahu bagaimana laporan itu bisa ditemukan, siapa yang pertama kali mengetahui isinya, dan apakah ada orang lain yang membantunya."
Arman menatap Haris tajam.
"Jangan membuat kesimpulan sebelum ada bukti. Saya tidak ingin masalah ini berkembang menjadi persoalan baru karena seseorang bertindak ceroboh."
Haris mengangguk.
"Dimengerti, Pak."
"Periksa riwayat penempatan Andrian, akses arsipnya, serta siapa saja yang pernah berhubungan dengannya sejak dia dipindahkan. Lakukan sesuai prosedur. Jangan mengubah catatan kepegawaian dan jangan menyentuh barang bukti yang sedang diperiksa Elena."
"Baik."
"Satu lagi." Arman mengetuk map merah di depannya. "Cari tahu apakah masih ada dokumen lain dari periode yang sama."
Haris terdiam sesaat.
"Dokumen lain?"
"Ya. Laporan audit itu tidak mungkin berdiri sendiri. Jika ada keputusan keuangan yang berkaitan dengannya, saya ingin mengetahuinya sebelum orang lain menemukannya."
Haris mencatat instruksi tersebut.
"Saya akan memeriksanya."
"Silakan."
Saat Haris hendak keluar, suara Arman kembali menghentikannya.
"Pak Haris."
Haris berbalik.
"Jangan meremehkan anak itu hanya karena dia seorang magang."
Tatapan Arman mengeras.
"Saya sudah melakukan kesalahan dengan menganggap keberaniannya sebagai gertakan kosong. Saya tidak akan mengulanginya."
Haris tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sebelum meninggalkan ruangan.
Setelah pintu tertutup, Arman membuka laci paling bawah di sisi mejanya.
Di dalamnya tersimpan sebuah amplop cokelat yang sudah menguning pada bagian tepinya. Arman mengeluarkannya, meletakkannya di atas meja, lalu menatap tulisan yang tercetak di sudut kanan amplop tersebut.
DOKUMEN 17-B.
Untuk beberapa saat, ia tidak bergerak.
Kemudian ia memasukkan kembali amplop itu ke dalam laci dan menguncinya.
Belum saatnya dokumen tersebut dibuka.
---
Sementara itu, jauh di bawah gedung NSM Company, Andrian sedang berjuang melawan tumpukan arsip yang seolah tidak pernah berkurang.
Kipas angin tua di sudut ruangan berputar dengan suara berderit. Udara tetap pengap, sementara debu menempel di lengan dan kerah kemejanya.
Andrian mengangkat satu kotak ke atas troli, mengusap keringat di dahinya, lalu menatap deretan rak yang masih belum selesai ia rapikan.
"Kalau begini terus, gue bisa lulus kuliah dengan gelar tambahan sebagai ahli perkardusan."
Ia menghela napas.
Ponselnya bergetar di atas meja kecil tempat ia menyimpan air minum.
Pesan dari Elena.
Elena: Kamu sudah makan?
Andrian melirik bekal yang masih tersisa separuh.
Andrian: Sudah, Bu CEO. Tenang aja. Pegawai Basement 2 masih hidup dan belum mengajukan surat pengunduran diri.
Balasan Elena datang hampir seketika.
Elena: Aku serius, Andrian.
Andrian tersenyum kecil sebelum mengetik lagi.
Andrian: Gue juga serius. Udah makan. Gimana keadaan di atas?
Kali ini, Elena membutuhkan waktu lebih lama untuk membalas.
Elena: Aku sedang mengamankan seluruh dokumen audit. Papa belum menghubungiku, tapi aku yakin dia tidak akan tinggal diam.
Andrian membaca pesan itu dua kali.
Ia teringat kejadian di rumah keluarga Elena. Ia masih bisa mengingat bagaimana suara wanita itu bergetar ketika membela dirinya, meskipun harus berhadapan dengan kedua orang tuanya.
Andrian tidak ingin Elena menanggung seluruh akibatnya sendirian.
Andrian: Kalau dia melakukan sesuatu yang berhubungan sama pekerjaan gue, kasih tahu. Tapi jangan sampai lo mengorbankan posisi lo cuma buat membalas perlakuannya ke gue.
Elena: Kamu selalu mengatakan hal seperti itu seolah-olah aku tidak punya hak untuk melindungimu.
Andrian terkekeh pelan.
Andrian: Bukan begitu. Gue cuma nggak mau lo kehilangan kendali atas perusahaan sendiri gara-gara masalah kita.
Beberapa detik kemudian, balasan Elena muncul.
Elena: Jaga dirimu. Itu saja yang kuminta.
Andrian memasukkan ponselnya ke saku.
"Siap, Bu CEO."
Ia kembali mengangkat kotak berikutnya.
Di tempat itu, ia memang tidak bisa menggunakan akses ke lantai atas. Ia juga tidak bisa menghadiri rapat atau bertanya langsung kepada para eksekutif mengenai laporan audit.
Namun, penempatannya di Basement 2 memberinya satu hal yang mungkin tidak disadari Arman.
Waktu.
Di antara ribuan arsip yang harus disortir, ia dapat melihat dokumen mana yang masih tersimpan, mana yang rusak, dan mana yang seharusnya berada di tempat lain.
Tentu saja, Andrian tidak berniat membongkar semua arsip perusahaan hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Ia juga tidak ingin menyentuh dokumen yang sedang diperiksa tanpa izin.
Tetapi setelah laporan audit itu ditemukan, ia mulai memahami bahwa keputusan bisnis yang terlihat sederhana terkadang menyimpan persoalan yang jauh lebih besar.
Dan jika seseorang sengaja menyembunyikan bukti, biasanya ada alasan di baliknya.
"Ndri!"
Suara yang dikenalnya terdengar dari pintu.
Andrian menoleh dan mendapati Rendy serta Doni datang membawa dua botol air mineral dan sebungkus roti.
"Pasukan penyelamat datang!" seru Andrian. "Gue kira kalian baru bakal muncul kalau gue udah berubah jadi fosil."
"Fosil apaan?" Rendy meletakkan makanan di meja. "Lu baru beberapa hari di sini, gaya ngomongnya kayak udah dipenjara sepuluh tahun."
"Beberapa hari di tempat tanpa AC itu rasanya beda, Ren."
Doni tertawa, lalu memperhatikan tumpukan kardus di belakang Andrian.
"Serius, lu ngerjain semuanya sendiri?"
"Instruksi resminya begitu."
"Edan."
Rendy menggelengkan kepala.
"Kalau ini bukan gara-gara masalah sama keluarga Bu Elena, gue nggak tahu lagi."
Andrian mengambil roti dari tangan Rendy.
"Jangan ngomong sembarangan. Nanti temboknya punya telinga."
"Memangnya kita sedang membahas rahasia negara?" Doni berbisik berlebihan.
"Di perusahaan ini, kayaknya kardus aja bisa punya jabatan komisaris kalau dibiarkan cukup lama."
Mereka bertiga tertawa kecil.
Untuk sesaat, suasana Basement 2 terasa lebih manusiawi.
Sebelum kembali bekerja, Rendy menepuk bahu Andrian.
"Kalau butuh bantuan, bilang aja. Kami memang nggak bisa membatalkan hukuman lu, tapi setidaknya kami bisa bantu sebisanya."
Andrian menatap kedua temannya.
"Makasih, bro."
Setelah mereka pergi, ia kembali menyortir arsip.
Ia belum mengetahui bahwa pada saat yang sama, di lantai atas, seseorang sedang mencari dokumen yang mungkin memiliki hubungan dengan laporan yang ia temukan.
---
Pukul empat sore, Maya memasuki ruang kerja Elena dengan membawa beberapa lembar daftar inventaris arsip.
"Bu, saya sudah menerima konfirmasi dari bagian administrasi. Seluruh dokumen yang berkaitan langsung dengan audit vendor logistik tahun 2023 sedang diamankan. Tidak ada pemindahan yang dilakukan tanpa pencatatan."
Elena meletakkan pena.
"Bagus. Saya tidak ingin ada satu lembar pun yang hilang sebelum pemeriksaan selesai."
"Ada satu hal lagi."
Maya membuka tabletnya.
"Pak Haris mengirimkan permintaan untuk memeriksa kembali arsip keuangan periode yang sama. Permintaannya sudah masuk melalui jalur resmi."
Elena mengerutkan kening.
"Atas instruksi Papa?"
"Sepertinya begitu. Namun, permintaan tersebut tidak menyebut dokumen tertentu."
Elena menyandarkan punggungnya ke kursi.
Ia mengenal ayahnya. Setelah kekalahannya dalam rapat, Arman tentu tidak akan menerima keadaan begitu saja. Namun, Elena tidak ingin membuat tuduhan baru tanpa mengetahui apa yang sedang dicari.
"Catat permintaan itu. Pastikan tim audit mengetahui bahwa pemeriksaan dokumen harus dilakukan dengan prosedur yang sama untuk semua pihak."
"Baik, Bu."
"Dan bagaimana dengan Andrian?"
"Masih di Basement 2. Saya sudah memastikan dia menerima makanan yang Ibu kirimkan."
Elena mengembuskan napas lega, meskipun hanya sedikit.
"Terima kasih, Maya."
Maya mengangguk, tetapi sebelum keluar, ia berhenti di dekat pintu.
"Bu, saya ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?"
"Saya tidak tahu apakah Andrian menemukan laporan itu karena kebetulan atau karena ketelitiannya. Namun, dia menyerahkannya kepada saya tanpa mencoba memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi."
Elena menatap Maya.
"Saya tahu."
"Kalau begitu, jangan biarkan tekanan ini membuat Ibu bertindak terburu-buru. Pak Arman mungkin sedang menunggu Ibu melakukan kesalahan yang bisa digunakannya untuk menyerang balik."
Elena terdiam.
Nasihat itu tidak menyenangkan untuk didengar, tetapi ia tahu Maya benar.
"Baik. Kita ikuti prosedur, amankan bukti, dan biarkan pemeriksaan berjalan."
Maya tersenyum tipis.
"Itu keputusan yang tepat, Bu."
Setelah Maya keluar, Elena kembali menatap daftar arsip di layar komputernya.
Laporan tahun 2023 itu sudah membuka satu persoalan besar. Ia tidak akan membiarkan kemarahannya terhadap ayahnya membuat penyelidikan kehilangan arah.
Jika masih ada sesuatu yang disembunyikan, ia akan menemukannya dengan bukti yang sah.
Bukan dengan dugaan.
---
Malam mulai turun ketika Andrian akhirnya menyelesaikan satu baris rak tambahan.
Ia duduk di kursi kayu tua, memijat tengkuknya yang pegal. Ponselnya hanya menunjukkan satu garis sinyal. Ia berniat mengirim pesan kepada Elena sebelum pulang, ketika sebuah notifikasi dari nomor tak dikenal muncul di layar.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya sebuah pesan singkat.
Nomor Tak Dikenal: Kamu sudah menemukan laporan audit yang disembunyikan. Tapi apakah kamu tahu dokumen apa saja yang berkaitan dengannya?
Andrian menegakkan tubuh.
Ia membaca pesan itu sekali lagi, lalu membalas.
Andrian: Siapa ini?
Tidak ada jawaban.
Beberapa detik kemudian, sebuah foto masuk.
Foto itu memperlihatkan selembar dokumen yang diambil dari sudut tertentu. Sebagian tulisannya terlihat jelas, tetapi bagian bawahnya tertutup bayangan.
Di sudut kanan atas terdapat kode yang membuat Andrian mengerutkan kening.
17-B.
Di bawah kode tersebut, tampak potongan tulisan yang menyebut periode keuangan tahun 2023 dan sebuah persetujuan pembayaran. Nama pihak yang menyetujui dokumen itu tidak terlihat utuh.
Andrian memperbesar gambar, mencoba membaca bagian yang masih terbaca.
Namun, resolusinya terlalu rendah.
Pesan berikutnya muncul.
Nomor Tak Dikenal: Laporan yang kamu temukan hanyalah satu bagian. Periksa hubungan dokumen 17-B dengan transaksi tahun itu.
Andrian menatap layar tanpa berkedip.
Ia tidak langsung menyimpulkan bahwa dokumen tersebut membuktikan keterlibatan Arman ataupun Kusuma Group. Foto itu belum cukup jelas, dan pengirimnya bahkan tidak mau memperkenalkan diri.
Pesan terakhir menyusul.
Nomor Tak Dikenal: Kalau kamu benar-benar ingin membantu Elena, jangan percaya bahwa semua orang yang berdiri di pihaknya sudah mengatakan seluruh kebenaran.
Andrian mencoba menelepon nomor tersebut.
Panggilan tidak tersambung.
Ia mengirim pesan lagi, tetapi kali ini hanya muncul tanda bahwa pesannya belum terkirim.
"Siapa sebenarnya lo?"
Andrian menurunkan ponselnya.
Ia teringat laporan audit yang ditemukan di dalam kotak rusak. Dokumen itu memang membuktikan adanya masalah serius pada kontrak vendor, tetapi belum menjelaskan seluruh rangkaian keputusan yang membuat kontrak tersebut terus dipertahankan.
Sekarang, seseorang mengarahkannya kepada dokumen lain.
Pertanyaannya, apakah orang itu benar-benar ingin membantu Elena?
Atau justru sedang mencoba memanfaatkan dirinya untuk membuka sesuatu yang belum siap terungkap?
Andrian menyimpan foto tersebut, tetapi tidak meneruskannya kepada Elena begitu saja. Ia ingin memastikan informasi itu dapat diverifikasi terlebih dahulu. Ia juga tidak akan mengambil dokumen perusahaan secara sembarangan hanya karena menerima pesan anonim.
Jika dokumen 17-B memang ada, keberadaannya harus ditemukan melalui jalur yang benar.
Andrian bangkit dari kursinya dan memandang lorong panjang Basement 2.
Rak-rak arsip berdiri dalam kesunyian. Ribuan kotak menyimpan catatan tentang keputusan yang pernah dibuat orang-orang di lantai atas, keputusan yang mungkin sudah dilupakan atau sengaja disembunyikan.
Arman berusaha membuatnya menyerah dengan membuangnya ke tempat itu.
Namun, tanpa sengaja, hukuman tersebut justru menempatkannya di tengah persoalan yang belum selesai.
Andrian memasukkan ponsel ke saku, lalu kembali menatap tumpukan arsip di hadapannya.
"Baiklah," gumamnya. "Kalau memang ada sesuatu yang disembunyikan, gue bakal cari tahu. Tapi gue nggak akan menuduh siapa pun cuma berdasarkan pesan dari nomor misterius."
Di lantai atas, Arman masih menyimpan dokumen 17-B di dalam laci terkunci.
Di Basement 2, Andrian baru saja menerima petunjuk pertama tentang keberadaannya.
Keduanya belum mengetahui seberapa jauh persoalan itu akan berkembang.
Namun, satu hal mulai terlihat jelas: setelah laporan audit tahun 2023 terbongkar, pertarungan di NSM Company tidak lagi sekadar tentang seorang ayah yang menentang pilihan putrinya.
Ada keputusan lama yang belum sepenuhnya terungkap.
Dan seseorang baru saja memastikan bahwa Andrian mulai mencarinya.
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨