Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mafia Bucin
Rara berdiri. ia hendak pergi. Namun, Arif mengejar dan menjepit tubuhnya di tembok.
“Mas, lepas!”
Rara menangis. Tubuhnya terhimpit antara Arif dan dinding. Ia berontak, tapi tidak bisa. Kedua tangannya terkunci oleh satu tangan Arif yang besar dan lebar.
“Kamu tahu, aku tidak akan melepasmu. Sampai kapan pun.”
“Kenapa?” Rara menatap wajah Arfi yang masih tampan dengan tubuh yang juga masih gagah di usianya.
Sejujurnya, untuk wajah memang Arfi lebih tampan dari Adit. Akan tetapi, perangai mereka jauh berbeda. Sejak pacaran, Rara yang terus mengalah. Mengalah dari keegoisan Arif yang pemaksa, mau menang sendiri dan tidak bisa diatur.
“Karena aku mencintaimu. Sangat mencintaimu,” jawabnya.
“Ini bukan cinta, Mas. Cinta itu memberinya bahagia. tapi, apa? Aku tersiksa Delapan belas tahun, aku hidup terkungkung seperti ini.”
Rara kembali menangis. suaranya terdengar sesegukan. Sejujurnya, setiap kali mendengar Rara menangis, hati Arif ikut teriris. Namun, ada sisi yang mengalahkan semua ini.
“Aku tidak bisa melihatmu dengan orang lain. Kamu milikku, Ra. Hanya aku.”
Arif mengangkat tangannya untuk menyeka air mata yang jatuh di pipi Rara yang mulus.
“Aku tahu, kamu juga masih sangat mencintaiku. Iya kan?”
Rara menunduk. Entah, rasa apa yang dia miliki saat ini untuk Arif. Dulu, saat mereka masih pacaran, dia memang sangat mencintainya. Tapi, ketika menikah rasa yang ada untuk suaminya dan sekarang? Entah lah.
“Kamu terlibat perampokan itu?” tanya Rara untuk ke sekian kalinya.
“Tidak.”
“Bohong.”
“Berapa kali aku bilang. Tidak, Sayang. Aku menemukan mu di jembatan waktu itu saat mereka meninggalkanmu.”
Rara menggeleng. “Tidak, mungkin. Malam itu pasti rekayasa kamu kan? Mereka sengaja meninggalkanku di bawah jembatan karena kamu dan mereka sudah berkomunikasi sebelumnya. Lalu, kamu menjemput ku.”
“Tidak!” bentak Arif.
Bentakan itu langsung membuat Rara tersentak hingga memejamkan kedua matanya sejenak. Melihat Rara ketakutan, Arif langsung menarik tubuhnya dan memeluknya erat. Benar saja, Rara gemetar.
“Sayang, maaf,” bisiknya lembut. “Makanya, jangan buat aku marah. Oke!”
Tubuh Rara masih gemetar. Ada sisi yang tidak bisa ia pungkiri karena Arif juga cinta pertama untuknya.
Kemudian, Arif melonggarkan pelukan dan menangkup wajah Rara.
Cup
Bibirnya dikecup, pelan dan lembut. Arif selalu menggunakan cara ini untuk menenangkan Rara yang terkadang tak terkendali. Sentuhan lembut yang akhirnya membuat Rara menurut. Saat mulai hanyut, tubuh Rara diangkut.
Tak ada penolakan. Tak ada pemberontakan.
Rara membiarkan dibawa dan dibaringkan lembut di atas ranjang mereka hingga Arif melakukan sesuatu yang lebih padanya.
“Aku rindu sekali padamu, Sayang.”
“Sangat rindu.”
Lagi – lagi, di bawah tekanan, Rara melakukan apa yang Arif inginkan. Demi sang putri yang hidup bahagia di sana, dia rela menjadi pemu4s nafsv Arif dan menerima pernikahan ini.
Meski, tidak pernah mengakui bahwa dia adalah dalang dari kejadian malam kelam itu, tapi Rara yakin kalau Arif ikut terlibat.
***
Klik
Lampu menyala, Gio melihat Fio yang sedang mengendap.
“Mau kabur?”
Fio menoleh. Dia terkejut. Langkahnya terhenti dan langsung mengalihkan dengan berjalan menuju dapur.
"Aku mau minum. Haus. Tenggorokanku kering.”
Fio menunjukkan gelas itu pada Gio dan menawarkan. "Mau minum juga?"
Gio menggeleng.
Tubuh kekar itu sengaja di sana. Gio berdiri miring, menyandarkan bahunya pada dinding yang ada di samping dengan kedua tangan yang melipat di dada. Dia menatap Fiona sembari menarik turunkan jakunnya. Gaya Fio saat minum terlihat sexy.
“Sudah sana! Kembali ke kamarmu,” pinta Fio yang tidak suka Gio berada di sini.
Pria itu terus memperhatikan. Bahkan, saat membuka lemari es dan mencari makanan.
“Aku hanya ingin memastikan calon pengantinku tidak pergi ke mana – mana. Ingat, besok kita akan menikah.”
Fio menemukan tart cokelat dan langsung mengambilnya. “Hm … enak!”
“Jangan mengalihkan Fiona. Aku tahu, kamu ingin kabur. Iya, kan?”
Gio meluruskan tubuhnya dan menghampiri wanita cuek itu. Fio mengabaikan perkataan Gio. Dengan lahap, perempuan itu terus menyantap tart cokelat.
“Hei, aku bicara denganmu.”
Nyam .. Nyam … Nyam …
Fio tetap mengunyah. “Kamu suka tart cokelat juga?”
Terpaksa, kepala Gio menggeleng. Padahal, dia masih ingin membahas tentang keberadaan Fio malam – malam di sini dengan tubuh yang terbalut hoodi serta kepalanya yang ditutup. Mirip seeprti penyusup.
“Tidak,” jawabnya.
“Kalau tidak suka cokelat. Kenapa ada di sini.”
“Untukmu.”
“Untukku?” tanya Fio bingung.
“Ya, karena aku tahu kamu suka tart cokelat.”
Fio tertawa. “Dasar mafia bucin!”
Gio langsung menarik pinggang Fio hingga kedua tubuh mereka menempel. “Terserah kamu mau sebut aku apa. Tapi bagiku, keamananmu adalah di sini.”
Fio tersenyum. “Lalu, bagaimana dengan pasien – pasienku? Dengan Paman Arif dan Gal …”
“Apa?” Gio memotong nama yang ingin disebut Fiona. “Setelah apa yang dia lakukan padamu, kamu masih memikirkannya?”
“Tidak.” Fio menggeleng. “Hanya saja …”
“Mmmmmppphhh!”
Tiba – tiba, Gio membungkam mulut Fio dengan mulutnya. Tart cokelat itu pun sampai padanya. Ditambah, durasi yang Gio lakukan cukup lama. Hingga, pasokan udara di rongga dada Fiona terasa hanya beberapa yang tersisa.
“Gi … Mmppphh.”
Gio tak melepaskan. Dia kembali mencium bibir ranum yang kini terasa manis. Hingga, saat Fio mendorong d4d4 itu sekuat tenaga dan terlepas. Napasnya tersengal. Bibirnya bengkak. Tangannya sudah mengudara dan siap memberi tamparan pada Gio, tiba – tiba …
“Manis! Sepertinya, setelah ini aku suka tart cokelat.”
Pria itu pergi begitu saja, meninggalkan sisa saliva dan bibirnya yang terasa tak sama.
“Gioooooo!!!”
Gio tertawa dan kembali ke kamarnya dengan memastikan cctv menyala agar calon pengantinnya tidak kabur ke mana – mana.
Di sana, Gala uring – uring an. Dia tidak menemukan Fio di mana – mana. Dia juga tidak dapat menghubungi ponsel Fio yang saat ini disita oleh Gio.