NovelToon NovelToon
SANG PENGUKIR JIWA

SANG PENGUKIR JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:474
Nilai: 5
Nama Author: Bajing33

Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Ruang Rahasia

Pintu tersembunyi yang ditunjukkan Tetua Feng ternyata mengarah ke sebuah tangga batu sempit yang menurun jauh ke bawah tanah, dindingnya dipenuhi ukiran-ukiran kuno yang masih berpendar samar meski usianya sudah tiga ratus tahun.

"Berhati-hatilah," Tetua Feng memperingatkan sambil memimpin jalan dengan obor kecil di tangannya. "Beberapa jebakan lama masih aktif di sepanjang tangga ini. Ikuti langkahku persis."

Mereka menuruni tangga itu dengan hati-hati, dan setelah beberapa menit yang terasa jauh lebih lama karena ketegangan, tiba di sebuah ruangan bundar besar yang jauh lebih terawat dibanding reruntuhan di permukaan—rak-rak batu berisi gulungan dan kotak-kotak kayu tersusun rapi di sepanjang dinding, dan di tengah ruangan, sebuah altar batu dengan satu kotak besi kecil tergeletak di atasnya, dikelilingi lingkaran formasi yang berpendar lembut.

"Arsip sekte," Tetua Feng menjelaskan, menunjuk rak-rak di sekeliling mereka. "Catatan setiap anggota sekte, teknik-teknik yang pernah kami kembangkan, dan—yang paling penting—dokumentasi lengkap tentang bagaimana Mo Yan mengkhianati prinsip dasar seni kami."

Su Mei mendekati salah satu rak dengan tangan gemetar, mengambil sebuah gulungan yang tampaknya sangat familiar baginya. "Ini catatan tanganku sendiri, dari saat aku masih murid biasa. Aku tidak pernah tahu ini tersimpan di sini."

"Aku menyelamatkan sebanyak mungkin sebelum aliansi sekte membakar sisa bangunan atas," Tetua Feng berkata, suaranya penuh kelelahan tiga puluh tahun. "Bukan untuk kepentinganku sendiri, tapi karena aku tahu suatu hari, seseorang akan butuh kebenaran ini—untuk membersihkan nama kami, atau setidaknya, untuk mencegah kesalahan yang sama terulang."

Perhatian Ji Ming tertuju pada kotak besi kecil di altar tengah ruangan, sesuatu di dalamnya terasa seperti magnet tak kasat mata yang menarik kesadarannya—sensasi dingin dan gelap yang sangat berbeda dari kehangatan yang selalu ia rasakan dari Xiao Mu.

"Itu wadahnya," ia berkata pelan, lebih pada dirinya sendiri.

"Ya." Tetua Feng mendekati altar dengan hati-hati, tidak menyentuh kotak itu langsung. "Sisa tekad Mo Yan, disegel dalam wadah besi khusus yang dirancang untuk menahan kebocoran kekuatan jiwanya selama mungkin. Tapi segel bukanlah hal yang abadi, Nak. Tiga ratus tahun sudah cukup lama untuk melemahkan bahkan formasi terkuat sekalipun."

"Kenapa tidak dihancurkan saja?" Yun Xia bertanya, suaranya tegang menatap kotak kecil yang tampak begitu tidak berbahaya namun menyimpan sesuatu yang jelas mengerikan.

"Karena menghancurkan wadah bisa melepaskan sisa kekuatan jiwanya secara instan, tanpa kendali sama sekali—jauh lebih berbahaya daripada membiarkannya tersegel perlahan melemah." Tetua Feng menggeleng pelan. "Satu-satunya cara aman untuk benar-benar memusnahkannya adalah dengan ritual penyucian yang membutuhkan setidaknya tiga pengukir jiwa berpengalaman bekerja bersama—sesuatu yang mustahil kulakukan sendirian selama tiga puluh tahun terakhir."

Old Bo, yang sejak tadi memperhatikan dalam diam, akhirnya bersuara. "Sekarang kalian bertiga—Su Mei, Tetua Feng, dan Ji Ming—semuanya pengukir jiwa. Bukankah itu artinya kalian bisa melakukannya sekarang?"

Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak, sebelum Su Mei dan Tetua Feng saling pandang, sesuatu yang mendekati harapan mulai tumbuh di wajah keduanya yang sudah lama dipenuhi beban.

"Secara teori, ya," Tetua Feng berkata pelan. "Tapi ritual seperti itu butuh waktu berjam-jam tanpa gangguan, dan kekuatan jiwa Ji Ming masih terlalu muda untuk benar-benar diandalkan dalam ritual seberat itu."

"Dan kita tidak punya waktu berjam-jam tanpa gangguan," Su Mei menambahkan, mengingat peringatan tentang gagak yang telah mengawasi lembah ini selama sepuluh hari terakhir. "Tidak dengan seseorang yang mungkin sudah dalam perjalanan ke sini juga."

Ji Ming menatap kotak besi kecil itu, merasakan beban tanggung jawab yang tiba-tiba terasa jauh lebih berat dari sekadar bertahan hidup sebagai buronan. "Jadi apa yang harus kita lakukan?"

Tetua Feng menghela napas panjang, matanya menatap berkeliling ruangan arsip yang telah menjadi rumahnya selama tiga puluh tahun kesendirian. "Kita mempertahankan lembah ini selama mungkin, dan berdoa waktu cukup untuk menyelesaikan ritual sebelum mereka tiba. Kalau tidak—" ia menatap Ji Ming dengan sorot mata yang serius, "—kita harus siap membawa wadah ini pergi dari sini, ke tempat yang lebih aman, dan berharap ritual bisa dilakukan lain waktu, di tempat lain."

"Membawa Mo Yan pergi dari tempat yang selama ini terkunci dengan aman terdengar seperti ide yang sangat buruk," Yun Xia berkata tajam.

"Aku tahu," Tetua Feng menjawab, suaranya berat. "Tapi kalau lembah ini jatuh ke tangan yang salah, membiarkan Mo Yan tetap di sini bersama musuh yang mengincarnya adalah pilihan yang jauh lebih buruk."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!