Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Apa Kalian Percaya Kesempatan Kedua?
Isabella tiba di rumah, keadaan sudah begitu sepi saat dia tiba dengan lampu utama yang sudah mati dan hanya menyisakan lampu meja yang hangat.
Sebenarnya Isabella tak di izinkan untuk menemui Lyra, takut wanita itu nekad dan mencelakai dirinya. Namun, bukan Isabella namanya jika tak melanggar perintah. Di saat semua orang terlelap dia berjalan keluar rumah untuk menemui Lyra.
"Kamu nekad pergi?" satu pertanyaan dari seseorang menghentikan langkah Isabella.
Wanita itu berhenti melangkah, dia menoleh dan menemukan seseorang tengah duduk di sofa ruang tamu yang gelap.
"Siapa?" tanya Isabella, rasa takut langsung menghantui wanita itu.
Tubuh Isabella menegang, matanya berkedip beberapa kali dengan wajah yang terlihat pucat di balik lampu meja yang temaram.
Suara tepuk tangan langsung menghidupkan lampu utama, dan cahaya yang menyilaukan membuat mata Isabella belum mampu menerima hingga dia harus memejamkan matanya.
Setelah di rasa cukup. Isabella membuka mata dan melihat dia di sana dengan wajah datar.
DEGH!
Di dalam kamar.
"Kenapa nekad menemui Lyra sendiri Isabella? Apa kamu tidak tahu seberapa bahayanya wanita itu?" suara Arion terdengar dingin, cemas dan nadanya serak.
"Maaf, aku hanya ingin menemui dia Ar, apa salah seorang Kakak menemui adiknya?" tanya Isabella, matanya yang indah menatap tanpa berkedip pada Arion.
"Tidak salah, hanya dia itu penjahat dan dia hampir membunuh kamu juga orang tuamu, aku benar-benar tidak ingin kamu celaka Isa!" ungkapnya, menjelaskan rasa cemas itu pada Isabella.
Isabella terharu, dia segera memeluk Arion dengan erat dan mengecup pipi Arion dengan erat.
Arion membalas pelukan itu tak kalah erat dan beberapa kali mengecup pundak Isabella yang masih di balut hoodie.
"Jangan ulangi lagi Isabella! Aku benar-benar takut," bisik Arion.
"Iya, kamu tenang saja!" jawabnya meyakinkan.
Arion memeluk erat Isabella, dia benar-benar takut kehilangan lagi dan saat bayangan itu terlihat rasa sesak menghantui Arion.
Isabella hanya tersenyum dalam hati, tapi hatinya menghangat saat melihat bagaimana Arion begitu mengkhawatirkan nya.
Malam semakin larut, Isabella dan Arion berbaring di ranjang yang sama. Keduanya terlelap dengan keadaan berpelukan. Hanya berpelukan dan tak lebih dari itu.
Pagi itu suasana terasa hangat. Di meja makan hanya ada Arion dan Isabella.
"Jadi kamu di minta datang oleh Mama dan Papa?" tanya Isabella, ini adalah kali ke empat di melontarkan pertanyaan yang sama pagi ini.
"Iya, kamu ini sudah bertanya lebih dari empat kali, masa harus aku jawab terus?'" kata Arion. Nada suaranya tak lagi bersahabat.
Isabella tergelak, dia hanya suka mendengar ocehan Arion dengan wajah dan ekpresi datar juga kesal.
Saat jam menunjukkan pukul sembilan pagi, Arion pamit dia masih ada beberapa pekerjaan penting yang menunggu sebelum acara besar untuk keduanya kembali di gelar.
"Jangan melakukan hal diluar pengawasan ku Isabella!" kata Arion, mengultimatum Isabella yang sering kali nekad.
"Aku tahu, tenang saja!" angguknya, kali ini dia akan mendengarkan Arion.
Setelah Arion pergi. Dua sahabat Isabella tiba di rumah wanita itu sengaja mengundang karena dirinya mau menghabiskan banyak waktu sebelum acara pertunangan dan pengumuman tanggal pernikahan.
Di area kolam renang.
Isabella bersama Raisa dan Nayla. Tengah menikmati waktu musim panas di area kolam. Dengan di temani segelas jus Jeruk dan beberapa toples camilan.
"Jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nayla, meletakan gelas itu di atas meja.
"Tidak ada, aku hanya ingin menikmati hidup ini dan menikah dengan Arion!" jawaban Isabella membuat Nayla mengerutkan keningnya.
"Hidup ini?" tanya Nayla, mengulang ucapan Isabella tentang kehidupan ini.
Isabella tak terkejut. Dia dengan anggun meletakan kembali gelas di tangannya tepat di atas meja. Mengambil satu camilan kecil dan memakannya dengan tenang. Seolah pertanyaan Nayla adalah hal wajar.
"Isa, apa maksud kamu dengan kehidupan ini?" kali ini Raisa yang menuntut jawaban.
"Kehidupan ini, apa kalian percaya dengan kehidupan kedua?" pertanyaan yang terasa asing membuat keduanya terkejut.
"Kehidupan kedua?" tanya keduanya serempak.
Mereka saling tatap satu sama lain. Namun, sedetik kemudian tawa itu meledak seperti petasan yang di sulut api.
"Kamu itu, ada-ada saja!" ledek Raisa.
Tapi tawa mereka mereda saat melihat Isabella memandang dengan ekpresi yang tak berubah dan terlihat serius.
"Ja—jangan bilang ini beneran?" tanya Nayla.
"Kalian pikir aku akan bercanda?" alis Isabella naik sebelah, seolah kali ini dia benar-benar tidak sedang ingin bercanda.
Raisa dan Nayla segera bangun. Berdiri tegak dengan mata menatap Isabella tak percaya.
"Isa, masa di dunia ini ada seperti itu?" pekik Nayla.
"Ada, dan aku mengalami semua itu," jawabnya meyakinkan.
Kali ini tatapan Isabella begitu meyakinkan. Pandangannya mengarah pada sosok dua wanita di depannya ini dengan serius.
"Isa, apa benar-benar ada di dunia ini?" Raisa tak percaya. Tapi tatapan Isabella benar-benar meyakinkan untuk dia percaya.
Isabella mengangguk, dia menarik napas pelan dan siap untuk menceritakan pengalaman hidupnya di kehidupan pertama saat itu.
Keduanya mendengarkan cerita itu dengan seksama. Ekpresi mereka benar-benar tak bisa di bohongi jika kejadian itu benar-benar nyata.
"Saat itu aku merasa kalau kehidupan ku sudah hancur. Namun, saat aku kembali membuka mata aku kembali di saat sebelum tragedi dan kedua orang tuaku tiada," Isabella terisak. Hatinya teriris nyeri saat menceritakan semuanya.
"Dan aku hancur saat Kalian juga tiada di sana!" sambungnya.
Raisa dan Nayla juga ikut terisak, mereka segera memeluk Isabella dan seolah bisa merasakan kesakitan sahabatnya itu saat ini.
"Raisa, Nayla, aku membalas mereka yang menyakiti kalian. Dan aku berhasil," katanya, rasanya pundak itu ringan karena menceritakan kisah hidup pertamanya pada dua orang yang paling ia percaya.
"Terima kasih sudah menyelamatkan kami!" bisik Nayla. Jika memang Isabella mengalami kehidupan kedua dan kembali ke masa lalu, mereka bersyukur karena Isabella sadar tentang siapa Lyra dan Darel.
"Aku melakukan itu karena kalian lah orang yang paling aku sayang. Maaf di kehidupan pertama aku salah!" ucapnya, suara Isabella yang serak dan parau menambah goresan pada hati keduanya.
Mereka berpelukan cukup lama. Hingga kedatangan Sofia mengalihkan fokus mereka.
"Dia siapa?" tanya Nayla.
"Sofia, dia wanita yang juga ada dalam kisah hidup pertama ku," jawabnya.
Sofia yang mendengar itu merasa aneh. Namun, dia tak mengatakan apapun selain memperkenalkan diri dengan sopan pada para sahabat Isabella.
Nayla dan Raisa mengangguk, mereka memeluk Sofia bergantian seolah tengah memeluk saudari mereka sendiri dengan erat.
Sofia yang di perlakuan seperti itu agak terkejut. Namun, di sudut hatinya dia merasa nyaman seolah pelukan itu sudah pernah ia dapatkan sebelumnya.
'Perasaan apa ini?' batin Sofia.
Jangan Lupa ya Mampir juga di novel baru Author dengan judul : Ainun. Derita Menantu Tak Dianggap
Atau cari saja Nama Pena Hamzari20
Terima kasih dan selamat membaca