Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.
Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.
Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Ketakutan
Setelah Bai Yuan pergi, keheningan masih menyelimuti Aula Utama Sekte Awan Tinggi. Detik berganti menit, namun tak satu pun orang yang berani bergerak atau bersuara.
Berat aura yang baru saja mereka rasakan masih terasa menekan dada — seolah bayangan gunung raksasa itu masih berdiri di tengah ruangan.
Ketua Sekte Chang duduk diam di kursinya, kedua tangannya mencengkeram lengan kursi hingga buku-buku jarinya memutih.
Wajahnya pucat, keringat dingin perlahan menetes di pelipisnya. Dia yang selama ratusan tahun memimpin sekte terbesar di wilayah ini, merasa untuk pertama kalinya betapa kecil dan rapuhnya dirinya.
"Ketua Sekte..." bisik Tetua Ming pelan, suaranya bergetar memecah keheningan. "Kekuatan itu... itu bukanlah kekuatan yang bisa kita lawan, bukan?"
Ketua Chang mengangkat kepala perlahan, menatap ke arah pintu tempat Bai Yuan menghilang. Matanya penuh kekhawatiran bercampur rasa takut yang dalam.
"Itu bukan sekadar kekuatan yang lebih tinggi dari kita," jawabnya pelan namun berat. "Itu adalah kekuatan yang berada di dunia yang berbeda dari kita. Di Benua Langit Biru ini, belum pernah terdengar ada orang yang mencapai tahap seperti itu. Dan dia... dia bahkan bukan pemimpin sekte itu. Dia hanya utusan."
Kata-kata itu membuat seluruh ruangan kembali hening. Jika seorang utusan saja sudah begitu dahsyat, lalu bagaimana dengan orang yang mengutusnya? Bagaimana dengan Tuan Sekte Surgawi Langit sendiri? Pikiran itu membuat bulu kuduk mereka meremang.
"Kita... kita hampir membuat kesalahan fatal," ucap salah satu Tetua Inti dengan wajah pucat. "Menuntut upeti dari mereka... itu sama saja dengan mencari kehancuran sendiri."
Beberapa utusan sekte lain yang masih berada di ruangan itu saling bertukar pandang — ada yang ketakutan, ada yang mulai menyadari bahwa peta kekuatan di wilayah ini telah berubah secara permanen.
Sekte Awan Tinggi yang selama ini dianggap penguasa tunggal, ternyata bukan apa-apa di hadapan kekuatan baru itu.
Ketua Sekte Chang menarik napas panjang, berusaha menenangkan hatinya yang masih berdebar kencang.
Dia tahu kebanggaan tidak akan menyelamatkan sektenya jika dia terus memaksakan kehendak.
Kekuatan mutlak ada di pihak lain, dan menentangnya hanya akan membawa kehancuran bagi semua orang di Sekte Awan Tinggi.
"Kumpulkan para Tetua Inti dan para utusan kembali," perintahnya pelan namun tegas. "Kita selesaikan urusan batas wilayah ini — dengan benar kali ini."
Tak lama kemudian, semua orang kembali berkumpul. Wajah-wajah mereka masih penuh kekhawatiran, namun kini tatapan mereka kepada Ketua Sekte Chang bukan lagi penantian biasa — mereka menanti keputusan yang akan menentukan nasib sekte mereka.
Ketua Sekte Chang berdiri, menatap seluruh ruangan.
"Setelah mempertimbangkan dengan matang," ucapnya dengan suara yang terdengar lebih berat namun jujur. "Kita menetapkan: Gunung Puncak Langit dan seluruh pegunungan di atasnya adalah wilayah mutlak Sekte Surgawi Langit. Tidak ada sekte yang boleh masuk tanpa izin dari mereka. Kaki gunung tetap terbuka untuk umum, namun siapa pun yang naik tanpa izin... dianggap melanggar wilayah mereka."
Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan kalimat yang membuat semua orang terkejut namun sekaligus paham alasannya.
"Tidak ada upeti. Tidak ada tuntutan. Tidak ada perintah. Kita mengakui kedaulatan Sekte Surgawi Langit atas wilayah itu sepenuhnya. Siapa pun yang ingin berurusan dengan mereka... harus menghormati aturan mereka."
Tidak ada yang protes. Tidak ada yang berani membantah. Semua orang tahu — itu adalah keputusan yang paling bijaksana di hadapan kekuatan yang tak terukur itu. Para utusan sekte lain mencatat keputusan itu dengan cepat, menyadari bahwa dari hari ini, tatanan di wilayah ini telah berubah.
...----------------...
Di puncak Gunung Langit, Bai Yuan berdiri di hadapan Lin Yue di Aula Utama. Dia melaporkan seluruh kejadian.
Lin Yue mendengarkan dengan tenang, cadarnya berkibar pelan saat angin gunung masuk melalui celah jendela. Dia tidak terlihat bangga, tidak juga puas.
Dia sudah tahu semua apa yang terjadi di Aula Sekte Awan Tinggi. Sekarang, sistem bisa memberi informasinya lebih dulu.
"Mereka tunduk karena kekuatan, bukan karena hormat," ucap Lin Yue pelan setelah Bai Yuan selesai bercerita. "Itu belum cukup. Namun... itu adalah awal yang baik. Setidaknya mereka tidak akan berani mengganggu kita untuk sementara waktu."
Lin Yue berjalan perlahan keluar dari Aula Utama, menatap ke arah puncak-puncak sekte yang masih sepi.
Belasan Tetua dan empat murid inti adalah seluruh kekuatan yang dimilikinya saat ini. Jumlahnya memang sedikit, namun kualitasnya — di bawah bimbingan sistem dan perhatian pribadinya — jauh melampaui sekte mana pun di benua ini.
"Tetua Bai," panggil Lin Yue pelan tanpa menoleh.
"Ya, Tuan Sekte?" jawab Bai Yuan hormat.
"Pertemuan itu baru permulaan," ucap Lin Yue perlahan. "Kabar tentang kekuatan kita akan menyebar. Ada yang akan takut, ada yang akan ingin bersahabat, dan pasti ada pula yang ingin menguji kekuatan kita. Bersiaplah. Kita tidak mencari masalah... tapi jika masalah datang, kita tidak akan lari darinya."
"Siap, Tuan Sekte!" jawab Bai Yuan tegas. "Seluruh Tetua dan murid inti sudah siap."
[ SISTEM — HADIAH KARANA MENEGASKAN KEDAULATAN ]
Tepat saat itu, suara Sistem terdengar jelas di benak Lin Yue.
Sistem:
[ MISI SELESAI — MENEGASKAN KEDAULATAN SEKTE ]
✓ Berhasil menolak tuntutan upeti & menegaskan kedaulatan wilayah
✓ Kekuatan sekte diakui oleh seluruh sekte di wilayah ini
✓ Tidak ada pertumpahan darah — kekuatan saja sudah cukup untuk meyakinkan
~ HADIAH:
• Formasi Pelindung Sekte diperkuat — sekarang mampu menahan serangan Tahap Dewa
• 500 butir batu spiritual tingkat menengah
• Benih Pohon Roh — ditanam di halaman utama, memperkuat energi spiritual di seluruh sekte
Di luar Aula Utama, tanah di halaman utama bergetar pelan — sebuah bibit kecil berwarna keemasan perlahan tumbuh dengan cepat, menjadi pohon yang rindang dan megah.
Energi yang memancar darinya membuat siapa pun yang berada di dekatnya merasa segar dan jernih pikirannya.
Belasan Tetua dan keempat murid inti melihat pohon itu tumbuh dari kejauhan, dan mereka tahu — sekte mereka semakin kuat setiap harinya.
"Haahh.. Aku benar-benar takjub dengan keajaiban Sekte kita..!" ucap Su Ling dengan tatapan kagum.
"Mulai sekarang, kita harus terbisa. Kedepannya pasti ada banya lagi kejutan yang tidak kalah jauh dengan semua ini!" sela Xiao Tian.
"Benar!
***
Di Puncak ke-10, Lin Yue menatap kebun persik roh dan kebun teh pencerahan yang membentang subur di bawah sana. Pohon-pohon itu terus tumbuh dan berbuah
"Kekuatan sejati bukan untuk menindas orang lain," bisik Lin Yue pelan. "Tapi untuk melindungi orang-orang yang berdiri di bawah bendera yang sama denganku."
"Hmm.. mari buat aturan baru!"
Jatah buah persik roh dibagikan sekali untuk para Tetua ( 4 buah / 1 kg teh pencerahan). Sedangkan untuk murid inti jatahnya dua minggu sekali dengan jumlah yang sama.
Aturan itu disampaikan kepada seluruh penghuni sekte. Saat mendengarnya, keempat murid inti dan para Tetua merasa terhormat sekaligus bersyukur.
Persik roh yang di luar sana harganya tak ternilai karena hampir puna— di sini diberikan secara rutin, begitu juga dengan teh pencerahan yang sangat sulit dicari.
"Tuan Sekte tidak hanya memiliki kekuatan yang menggetarkan benua ini," ucap salah satu Tetua sambil memegang buah persik roh yang berkilau. "Tapi juga hati yang begitu luas. Kita harus semakin giat berkultivasi agar tidak mengecewakannya."
"Hmmm memang sudah sepantasnya!"
.
.
.
.
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥