NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Tanpa Nama dan Serpihan Kebenaran

Sirine darurat membahana menembus kegelapan Grand Ballroom Adhitama Tower, memancarkan pendar lampu merah berputar yang membelah asap dan kekacauan. Jeritan para tamu VIP yang saling berdesakan menuju pintu keluar beradu dengan derap sepatu boot militer dari tim taktis yang menyusup ke dalam gedung. Di tengah kekacauan itu, Dirga bergerak cepat bagaikan bayangan. Tangan kekarnya memandu Tania dan Dea menerobos lorong evakuasi rahasia menuju helipad di lantai puncak gedung delapan puluh lantai tersebut.

Dea berjalan bagai raga tanpa jiwa. Kata-kata Baskoro di atas panggung tadi masih bergema di dalam kepalanya, memukuli dinding kesadarannya tanpa ampun. “Kau cuma sampah yang harus kutanggung keberadaannya...” Air mata Dea mengering di pipinya, meninggalkan rasa kebas yang menjalar hingga ke ujung jari-jarinya.

"Tahan napas kalian!" bentak Dirga rendah saat mereka menaiki tangga besi menuju dek helipad yang terbuka.

Angin malam yang kencang dan deru hujan gerimis langsung menyergap wajah mereka saat pintu besi tebal menuju helipad terdorong terbuka. Di atas sana, baling-baling helikopter penyelamat milik Dirga sudah berputar kencang, membelah kegelapan langit Jakarta yang dihiasi kilatan petir.

Namun, sebelum langkah mereka mencapai tangga helikopter, sebuah tembakan membumbung ke udara, memecah gemuruh angin.

BANG!

Langkah mereka terhenti seketika. Dari balik bayangan tangki air raksasa di sudut helipad, Baskoro melangkah keluar. Pria itu sudah membuang jas mahalnya. Kemeja putihnya ternoda darah dari mulutnya akibat pukulan Tania tadi, rambutnya berantakan, dan matanya memancarkan kegilaan murni. Di tangan kanannya, sebuah pistol semiotomatis teracung lurus ke arah dada Dea. Di belakang Baskoro, empat sisa tentara bayaran Teratai Merah berdiri mengawal dengan senjata laras pendek.

"Kau pikir kau bisa melarikan diri dariku, Tania?!" raung Baskoro, suaranya parau tertelan gemuruh baling-baling helikopter. "Aku telah mengorbankan dua puluh tahun hidupku untuk membangun kerajaan ini! Aku membiarkan namaku tercemar malam ini, tapi aku tidak akan melangkah turun tanpa membawa kunci brankas Zurich itu!"

Dirga merentangkan tangannya, menggeser tubuhnya untuk menutupi Tania dan Dea, sementara tangan kanannya perlahan menyelinap ke balik pinggangnya. "Game over, Baskoro. Seluruh gedung ini sudah dikepung oleh aparat Kepolisian dan tim Mawar Hitam. Turunkan senjatamu jika kau masih ingin bernapas."

Baskoro tertawa melengking—sebuah tawa histeris yang terdengar begitu menyedihkan di tengah badai malam. "Polisi?! Aku yang memiliki kota ini! Aku tidak peduli lagi dengan hukum!" Matanya yang liar beralih menatap Dea yang berdiri gemetar di balik punggung Tania. "Maju, Dea! Ikut aku naik ke helikopter ini, atau kubunuh wanita yang kau anggap ibu sambungmu ini di depan matamu!"

Dea melangkah setengah garis dari balik perlindungan Tania. Rasa takutnya yang selama ini mengurungnya perlahan menguap, digantikan oleh kemarahan yang meluap-luap. "Kenapa kau begitu membenciku?" bisik Dea, suaranya menembus deru angin, penuh keheranan yang mendalam. "Jika kau memang ayahku... kenapa kau tega melihatku menderita setiap hari di rumah itu? Apakah harta benar-benar membuatmu menjadi iblis tanpa nurani?"

Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Baskoro berubah drastis. Senyum sinis yang mengerikan terukir di bibirnya yang berdarah. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Dea dengan pandangan menghina yang paling dalam.

"Ayahmu?" desis Baskoro, suaranya mendadak berubah dingin dan penuh kejijikan. "Kau masih menyebutku ayahmu?"

Dea mengerutkan dahi, jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. "Apa... apa maksudmu?"

Baskoro melangkah maju satu tapak, membiarkan gerimis membasahi wajahnya yang mengerikan. "Kau pikir darah kotor yang mengalir di nadimu itu darah Adhitama?! Kau pikir aku sudi memiliki keturunan dari wanita pembangkang seperti Diana?!"

Keheningan yang membekukan seketika menyelimuti helipad itu, bahkan gemuruh baling-baling helikopter seolah lenyap dari pendengaran mereka. Tania dan Dirga saling pandang dengan mata terbelalak.

"Baskoro... apa yang kau katakan?" desak Tania, suaranya bergetar menahan gejolak emosi.

"Mendiang kakakmu yang suci itu, Tania!" teriak Baskoro sambil menunjuk ke langit dengan ujung pistolnya. "Enam belas tahun yang lalu, saat aku dijodohkan dengannya untuk menggabungkan aset Adhitama dan Mawar Hitam, wanita itu sudah mengandung! Diana sudah membawa janin haram di dalam rahimnya saat dia berdiri di sampingku di pelaminan!"

Dea memegang dadanya yang mendadak terasa dihantam muatan berat. "Bohong... Kau bohong!"

"Aku tidak pernah menyentuh ibumu, Dea!" raung Baskoro, membongkar rahasia tergelap yang disimpannya rapat-rapat selama belasan tahun demi menjaga harga dirinya sebagai penguasa bisnis. "Ibumu menolakku di malam pernikahan kami! Dia bilang tubuh dan jiwanya hanya milik satu pria—pria misterius yang sampai hari kematiannya tidak pernah disebutkan namanya oleh ibumu! Ibumu memilih mati diracuni sedikit demi sedikit olehku daripada harus membocorkan siapa pria yang telah menghamilinya dan di mana pria itu bersembunyi!"

Airmata Dea menetes deras, namun kali ini bukan karena rasa sakit dikhianati oleh seorang ayah, melainkan karena syok yang teramat sangat. Pria yang selama enam belas tahun ini ia anggap sebagai ayahnya... ternyata sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya. Pria yang menyiksanya dan membiarkannya menderita ini hanyalah seorang monster penipu yang menampung ibunya demi harta Mawar Hitam!

"Aku menahan rasa malu itu!" lanjut Baskoro dengan nada histeris, matanya merah padam. "Aku berpura-pura menjadi ayahmu di mata dunia! Aku merawatmu, memberimu nama Adhitama, hanya karena kau adalah satu-satunya biometrik hidup yang bisa membuka brankas Zurich milik ibumu! Kau bukan anakku, Dea! Kau adalah anak haram dari seorang pangeran bayangan yang bahkan tidak berani menampakkan mukanya saat ibumu merenggang nyawa!"

"Cukup, Baskoro!" bentak Dirga dengan suara bagaikan guntur.

Tania berbalik sepenuhnya, merengkuh Dea yang berdiri membeku. Namun, alih-alih melihat kehancuran di mata Dea, Tania melihat sesuatu yang lain. Cahaya di mata Dea berubah. Beban dosa dan rasa bersalah karena memiliki darah seorang pembunuh di dalam tubuhnya seketika runtuh. Dea bukanlah keturunan dari monster di depannya ini. Ia adalah putri murni dari Diana, wanita anggun yang menjaga rahasia cintanya hingga napas terakhir.

"Terima kasih..." bisik Dea pelan, suaranya bergetar namun terdengar begitu lega di tengah badai.

Baskoro melotot bingung. "Apa kau bilang?!"

Dea menatap Baskoro tepat di matanya, tanpa ada lagi rasa takut sedikit pun. "Terima kasih sudah memberitahuku bahwa darah iblis di dalam tubuhmu tidak mengalir di nadiku. Aku bukan anakmu. Dan aku tidak akan pernah menjadi milikmu!"

"Jalang kecil sama seperti ibumu!" amuk Baskoro yang kehilangan kendali penuh. Ia menarik pelatuk pistolnya, berniat menembak Dea.

Namun, Tania bergerak lebih cepat dari kecepatan peluru. Dalam pecahan detik, Tania melompat menerjang hujan, memutar tubuhnya di udara, dan melayangkan satu tendangan berputar Dua Rajawali tepat ke pergelangan tangan Baskoro.

TAK!

Pistol di tangan Baskoro terlempar jauh, jatuh meluncur melewati tepi helipad menuju kegelapan bawah gedung. Sebelum empat tentara bayaran di belakang Baskoro sempat bereaksi, Dirga melesat maju bagaikan kilat, melumpuhkan dua penjaga dengan serangkaian pukulan kombinasi jarak dekat yang mematikan, sementara dua penjaga lainnya kabur ketakutan melihat kedatangan dua helikopter kepolisian yang kini melayang di atas helipad dengan lampu sorot raksasa.

"Ini Kepolisian! Letakkan senjata dan angkat tangan kalian!" suara bariton dari pengeras suara helikopter polisi membahana di seluruh area langit Adhitama Tower.

Baskoro tersungkur di atas lantai helipad yang basah. Ia mencoba merangkak bangun, namun ujung boot kulit Tania menginjak dadanya dengan tekanan yang mengunci napasnya. Tania menunduk, menatap pria yang telah menghancurkan hidup kakaknya itu dengan tatapan dingin penuh kemenangan.

"Permainanmu selesai, Baskoro," ucap Tania datar. "Kau akan menghabiskan sisa hidupmu di dalam sel paling gelap, membusuk bersama ketamakanmu."

Pasukan khusus kepolisian mengepung helipad dari tangga darurat, langsung memborgol Baskoro yang kini menangis dan meraung-raung bagaikan orang gila. Pria penguasa ratusan triliun rupiah itu diseret pergi dalam kehancuran total, kehilangan harta, nama baik, dan akal sehatnya dalam satu malam.

Dua jam kemudian, di dalam kabin helikopter privat milik Dirga yang terbang tenang menembus awan malam menuju markas rahasia Mawar Hitam di luar kota, suasana begitu hening. Suara deru mesin helikopter menjadi latar belakang dari kedamaian baru yang dirasakan oleh Tania dan Dea.

Dea duduk bersandar di bahu Tania, menyelimuti tubuhnya dengan kain tebal. Rasa lelah yang luar biasa menggelayuti tubuh dan jiwanya, namun untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, hatinya terasa sangat lapang.

"Ibu..." panggil Dea pelan, kini mantap menggunakan panggilan itu untuk Tania.

"Ya, Sayang?" Tania mengelus lembut rambut Dea.

"Jadi... siapa ayah kandungku yang sebenarnya? Kenapa Ibu Diana begitu merahasiakannya dari semua orang?"

Tania menoleh ke arah Dirga yang sedang duduk di kursi kemudi samping pilot. Dirga perlahan menarik sebuah kotak besi kecil dari balik sabuk taktisnya, lalu menyerahkannya ke belakang, ke pangkuan Dea.

"Ibumu tidak pernah membocorkan nama ayahmu kepada Baskoro atau Teratai Merah karena itu adalah satu-satunya cara untuk melindungi nyawa pria itu dan nyawamu," ujar Dirga dengan nada suara yang sangat dalam dan penuh rasa hormat.

Dea membuka kotak besi kecil itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, terbaring sebuah jam saku perak antik yang ukirannya sudah agak terkikis usia. Dea memutar gembok jam saku itu hingga penutupnya terbuka.

Di bagian dalam kover jam saku itu, tidak ada foto wajah. Yang ada hanyalah sebuah ukiran lambang yang amat rumit—sebuah mahkota berduri yang dililit oleh naga emas, dengan sebuah inskripsi latin kuno di bawahnya: Dominus Umbrae (Penguasa Bayangan).

"Lambang apa ini, Paman Dirga?" tanya Tania, matanya ikut membelalak melihat kemegahan lambang yang terasa asing namun memancarkan aura kekuasaan yang sangat pekat.

Dirga menatap lurus ke depan, menembus hamparan awan kelam di balik kaca kokpit. "Itu adalah segel kebesaran dari konsorsium penguasa dunia bawah tanah benua Eropa dan Asia... sebuah ormas kuno yang tingkatannya jauh di atas Mawar Hitam maupun Teratai Merah."

Dirga berbalik menatap Dea dengan tatapan serius. "Pria yang dicintai ibumu, ayah kandungmu yang sebenarnya, Dea... adalah pemimpin tertinggi dari konsorsium itu. Pria yang kekuasaannya sanggup meruntuhkan sebuah negara hanya dengan satu sapuan pena."

Napas Dea tercekat. Misteri tentang kehidupannya tidak berakhir dengan jatuhnya Baskoro. Sebaliknya, sebuah tirai raksasa baru saja terangkat, membuka jalan menuju takdir yang jauh lebih besar, lebih berbahaya, dan lebih epik dari yang pernah ia bayangkan.

"Apakah... apakah dia tahu aku ada?" bulir air mata kembali menetes di pipi Dea, kali ini oleh rasa ingin tahu yang membuncah.

Dirga tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius. "Jam saku yang kau pegang itu dilengkapi dengan pemancar sinyal kuantum hertz. Begitu kau membukanya tadi... sinyalnya telah terkirim langsung ke kastil utamanya di Pegunungan Alps."

Di saat yang sama, belasan ribu kilometer dari Jakarta, di dalam sebuah kastil batu megah yang berdiri di atas puncak gunung bersalju di Swiss, seorang pria berambut perak dengan setelan jas hitam elegan berdiri di depan jendela kaca raksasa. Tangan kirinya memegang cangkir anggur merah, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah layar satelit yang tiba-tiba menyala merah.

Di layar itu, koordinat posisi jam saku di atas langit Jakarta berkedip cepat, diiringi sebuah pesan teks pendek dalam bahasa Indonesia: Sinyal Mawar Hitam Terdeteksi. Putri Anda Masih Hidup.

Pria berambut perak itu memejamkan matanya sejenak, menghela napas panjang yang memancarkan kerinduan mendalam selama belasan tahun. Saat ia membuka matanya kembali, sorot matanya yang berwarna biru tajam menyala bagaikan kilat di tengah malam.

"Siapkan jet pribadiku," perintah pria itu dengan suara berat yang menggetarkan seluruh isi ruangan. "Kita berangkat ke Indonesia sekarang."

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!