NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:124
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Para Aetherist muda

"Hei, Putri! Pelan-pelan sedikit, ku mau berlari, ya?" William terus mengejar dari belakang.

Namun, Airyn terus mengacuhkannya dan melangkah setengah berlari. Gadis itu hanya ingin menyusuri koridor untuk mencari keberadaan Flora—entah karena penasaran atau memang ingin mencari teman baru. Tentu saja selain bocah laki-laki bersurai nila ini, yang terus mengekorinya sedari tadi.

Tak butuh waktu lama segera pandangan Airyn tertuju pada sosok gadis yang berdiri di bawah pohon cassia yang sedang bermekaran dengan bunga-bunga kuningnya yang anggun.

Gadis itu tampak mengelus batang pohon lembut seraya tersenyum manis. Airyn membelokkan langkahnya menuju pohon itu, tak lupa William pun ikut mengekor rapat di belakangnya.

"Hai!" sapa Airyn hangat.

Namun alih-alih membalas sapaan, Flora yang terkejut justru buru-buru bersembunyi di balik batang pohon besar itu.

"Eh... maaf, aku tidak bermaksud menakutimu. Boleh kita berkenalan?" tanya Airyn pelan, memastikan Flora tidak merasa terancam.

"Kau menakutinya, Putri," bisik William yang kini sudah berdiri tepat di samping Airyn.

"Kau lagi! Kau yang membuatnya takut, bukan aku!" Protes Airyn kesal karena terus diikuti.

"Hei, aku baru saja tiba di sini! Kau yang menyapanya duluan..."

"Tapi kau..."

"Pffht..."

Sebuah tawa kecil berembus dari balik batang pohon, memotong perdebatan kecil Airyn dan William. Gadis bersurai merah muda itu perlahan memunculkan kepalanya sedikit, meski tubuhnya masih tersembunyi.

"Rambutmu indah sekali. Aku Airyn. Kau Flora, kan?" puji Airyn mengumbar senyum hangat seraya mengulurkan tangannya.

Flora tampak ragu sejenak. Perlahan, ia melangkah keluar dari balik pohon dan menyambut uluran tangan Airyn dengan lembut.

"I-Iya... Aku Flora. Salam kenal, Airyn," sahutnya malu-malu.

Airyn tersenyum gembira—gadis di hadapannya ini terasa begitu imut dengan kepribadiannya yang polos.

"Nama yang bagus, Putri. Aku William," sela William seraya menjulurkan tangannya juga pada Airyn, berniat berkenalan ulang.

Namun Airyn menepis pelan tangan William dan mengabaikannya. Gadis itu memilih bergeser mendekati Flora. "Sedang apa di sini, Flora?"

"M-melihat pohon ini. Ini sudah waktunya ia berbunga, tapi sepertinya tanah di sekitarnya terlalu kering..." terang Flora pelan.

"Butuh sedikit air, kan?"

Flora mengangguk. Airyn menyapu pandangan ke sekeliling taman hingga matanya menangkap sebuah kolam hias tak jauh dari sana.

Memfokuskan Aether di dalam tubuhnya, Airyn menarik segumpal air jernih dari kolam, menerbangkannya melintasi udara, lalu menyiramkannya secara perlahan ke atas tanah di sekitar akar pohon cassia.

"Bagus sekali..." Ujar Flora berbinar. Kini tanah di bawah pohon itu kembali lembap dan segar.

Prok! Prok! Prok!

"Keren sekali, Airyn!" Puji William seraya bertepuk tangan heboh.

"Sekarang kau memanggil namaku? Bukankah tadi bersikap sangat sopan?" Sindir Airyn melirik sinis.

"Kau sendiri yang menyuruhku bersikap lebih santai, kan?" Timpal William sambil menaikkan alisnya.

"Menyebalkan..." Gerutu Airyn pelan.

Flora yang mendengar bisikan itu tak sanggup menahan tawa kecilnya.

"Heh, aku kira siapa... ternyata anak kampung yang sedang pamer," cetus sebuah suara tajam yang mendadak memecah kehangatan mereka.

Seorang gadis bersurai pirang melangkah mendekat. Airyn mengingatnya—ia adalah Stella dari Solaria.

"Kalian sedang adu Aether, ya? Lawan aku dong!" Timpal seorang gadis bersurai cokelat yang mengenakan gaun berzirah ringan di sebelah Stella. Iris matanya yang berwarna jingga kecoklatan tampak berkilat penuh semangat.

"Airyn hanya membantu Flora menyiram pohon, Emery. Tidak ada pertarungan," potong William tenang pada gadis bermanik kejinggaan itu.

Emery hanya mengangguk-angguk mengerti. Sementara Stella makin mengikis jarak dengan wajah penuh keangkuhan.

"William, sedang apa kau berkumpul dengan si anak kampung ini?" Tanya Stella seraya menunjuk Airyn dengan dagunya.

"Stella, kau ini seorang putri, bukan? Berlaku lah seperti putri yang bermartabat dan jangan merendahkan orang lain," balas William tajam namun tetap terkontrol.

"Pffht..." Airyn berusaha keras menahan tawanya setelah mendengar balasan menohok dari William.

"Kau...!" Wajah Stella memerah menahan malu. Manik matanya menatap Airyn dengan benci.

"Tapi itu benar, kan? Putri yang hilang belasan tahun, hidup miskin dan kesusahan, lalu dalam semalam diangkat jadi putri mahkota. Kisah dongeng yang sangat menggelikan, bukan?"

"H-hentikan! Kau bersikap sangat tidak sopan!" tegur Flora akhirnya memberanikan diri membela Airyn.

"Apa maumu, Flora?! Kau mau melawanku juga?!" bentak Stella murka.

Flora yang tadinya tak mau ikut campur, melangkah tegas ke depan Airyn. Ia mengokohkan kuda-kudanya, lalu menghentakkan kakinya ke permukaan tanah.

DUUAM!

Tumpukan tanah padat terangkat dari bumi, membentuk dinding pelindung setinggi pinggang mereka. Airyn terpana menyaksikan pengendali Aether milik Flora secara langsung.

"Kalian mau bertarung? Ayo! Emery, kita lawan mereka!" Seru Stella memasang posisi tempur.

Pendar cahaya kuning keemasan mulai memancar dari telapak tangannya. Emery yang berdiri di sebelahnya ikut memasang kuda-kuda, siap menerjang.

William bergerak cepat berdiri di barisan depan bersama Airyn dan Flora. Airyn yang juga waspada kembali mengarahkan jemarinya ke kolam air, bersiap melancarkan sihir pertahanan jika perkelahian benar-benar pecah.

DUAARRR!

Gema petir yang membahana di atas langit seketika membuat mereka semua tersentak dan spontan menutup telinga. Padahal tidak ada tanda-tanda hujan—langit Asteria sangat cerah benderang—namun dentuman kilat itu sukses membungkam ketegangan di taman.

"Jangan memancing keributan seperti anak kecil," tegur seorang pemuda yang berjalan mendekat. Surai ungu plum-nya sedikit panjang, menutupi sebagian dahinya.

Airyn menebak-nebak dalam hati, apakah pemuda dingin itu yang mendatangkan petir mendadak tadi?

"William, kau bukannya menghentikan mereka, malah ikut-ikutan dalam urusan kekanak-kanakan ini?" Ujar pemuda itu seraya menghentikan langkahnya.

"Hei, Teira! Kau membuat kaget saja. Kami hanya meluruskan sedikit kesalahpahaman," Sahut William santai.

"Jangan mengganggu. Enyahlah! Aku masih ada urusan dengan bocah kampung ini!" Seru Stella yang tampaknya masih keras kepala ingin memicu perkelahian.

"Kalian hanya membuang-buang Aether untuk hal tidak berguna," sela pemuda lain yang baru saja bergabung. Surai putih bersih dengan iris mata berwarna perak membuat penampilannya terasa sangat dingin dan tak tersentuh.

"Snow? Kau ikut-ikutan mau mengomel juga?" Tanya William memasang wajah heran dengan senyuman jahil khas dirinya.

Pemuda bernama Snow itu tak menjawab, hanya berdiri diam mengamati dari jarak yang aman.

"Sepertinya sedang ada hal seru yang terjadi di sini?"

Sosok kedelapan akhirnya muncul. Pria muda bersurai merah menyala melangkah santai mendekati kerumunan. Warna rambutnya memancar tebal, membakar layaknya kobaran api di mata Airyn.

"Andrew, kau selalu saja lambat," sindir Teira dingin.

Sindiran singkat itu mendadak menyulut emosi pemuda bersurai merah tersebut.

"Hai, Teira! Mau kubakar kau sampai jadi abu, huh?!" Ancam Andrew seraya mencengkeram kerah jubah Teira.

"Hentikan kalian berdua! Jangan menambah percekcokan lagi!" Pangkas Snow tegas, memecah emosi Andrew yang mulai tersulut.

Kini di hadapan Airyn, seluruh pewaris Aetherist muda dari delapan wilayah benua telah berkumpul lengkap.

Mengamati atmosfer di antara mereka yang penuh ego dan saling bergesekan, Airyn menghela napas panjang.

Dalam hati ia bergumam... bisakah orang-orang berwatak keras dan saling bertentangan ini benar-benar bersatu demi keselamatan umat manusia di Astergald?

1
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!