Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Asap Belerang dan Akar Parasit di Dinding Pualam
Ruang Tungku Besi di sayap barat Paviliun Dalam dirancang untuk para alkemis sekte memurnikan pil tingkat rendah. Ruangan itu dibangun dari batu obsidian penahan panas, dengan sebuah kuali besi hitam raksasa di tengahnya yang terhubung langsung ke urat api bumi di bawah tanah.
Namun selama tiga hari terakhir, ruangan yang biasanya beraroma dupa spiritual yang elegan itu telah berubah menjadi neraka berbau limbah.
Asap tebal berwarna kuning kehijauan mengepul dari kuali besi, membawa bau menyengat kapur mentah, belerang, dan darah ular tanah yang direbus mendidih. Bau itu begitu brutal hingga para penjaga elit sekte yang berpatroli di luar sayap barat terpaksa menyumpal hidung mereka dengan kain basah berlapis minyak cengkeh, dan bahkan itu pun tak cukup untuk menahan rasa mual.
Di tengah kepulan asap beracun itu, Li Yun bekerja bagaikan budak yang tak kenal lelah. Wajahnya cemong oleh jelaga hitam, pakaian raminya basah oleh keringat, dan tangannya melepuh terkena percikan kapur panas. Ia mengaduk kuali raksasa itu menggunakan dayung kayu panjang, sambil terus memasukkan karung-karung berisi limbah beracun fana yang dibawa secara khusus oleh Ah San dan timnya dari luar paviliun.
Diakon Han Mo sempat datang berkunjung pada hari pertama untuk memastikan tabib fana itu benar-benar bekerja. Namun, begitu ia melangkah melewati ambang pintu, uap belerang bercampur kotoran kelelawar itu nyaris membuat Qi Lapis Ketujuhnya bergejolak karena mual. Kesadaran Spiritual Han Mo menyapu ruangan itu dengan cepat—hanya menemukan seorang manusia fana yang ketakutan dan cairan hitam bergolak yang tidak memiliki fluktuasi sihir sedikit pun. Puas sekaligus jijik, Han Mo segera pergi dan memerintahkan agar pintu sayap barat disegel dari luar, melarang siapa pun masuk kecuali untuk mengambil drum-drum obat yang sudah matang.
Itulah persisnya isolasi mutlak yang diinginkan Li Yun.
Di siang hari, Li Yun meracik ribuan liter obat penawar itu. Rencananya bekerja dengan sempurna. Ramuan fisiknya membunuh parasit spora di tubuh para budak. Angka kematian berhenti, budak-budak mulai pulih, dan Diakon Han Mo mendapatkan kembali stabilitas produksinya. Sang Diakon menganggap Tabib Li hanyalah alat fana yang menjijikkan namun efisien, sebuah alat yang tidak perlu diwaspadai sama sekali.
Namun, ketika malam turun dan bel pergantian penjaga berbunyi, pertunjukan siang hari itu berakhir.
Li Yun meletakkan dayung kayunya. Napasnya yang tersengal-sengal karena kelelahan fana seketika berubah. Sutra Pernapasan Kayu Mati mengambil alih. Detak jantungnya melambat hingga nyaris berhenti, suhu tubuhnya menurun menyamai batu obsidian di sekitarnya, dan aura kelelahannya lenyap tanpa sisa.
Matanya yang sebelumnya tampak sayu kini memancarkan kilatan perak yang tajam menembus asap kuning di ruangan itu.
Tujuannya bukanlah kuali besi, melainkan dinding timur ruangan tersebut. Dinding pualam tebal itu adalah satu-satunya pembatas antara Ruang Tungku Besi dan Ruang Kultivasi Pribadi milik Diakon Han Mo.
Di dalam Ruang Kultivasi itu, terdapat Formasi Pengumpul Qi tingkat menengah. Formasi itu menyedot energi spiritual dari nadi bumi di bawah lembah dan memadatkannya secara eksklusif untuk diserap oleh Han Mo. Kualitas energi di sana sangat murni, cukup untuk menyokong seorang kultivator Lapis Ketujuh—atau dalam kasus Li Yun, cukup untuk menyempurnakan Tulang Kayu Besi-nya.
Namun, meretas formasi sekte bukanlah perkara mudah. Formasi itu dilengkapi dengan segel pendeteksi Qi asing. Jika Li Yun mencoba mengebor dinding itu dengan Qi-nya, atau menggunakan pedang untuk merusaknya, formasi itu akan berbunyi layaknya lonceng raksasa, dan Han Mo yang berada di sebelah akan langsung mendobrak masuk dan memenggal kepalanya.
Li Yun berjalan tanpa suara mendekati dinding pualam tersebut. Ia menempelkan telapak tangannya yang kapalan ke permukaan batu yang dingin.
Dunia kultivasi selalu mengajarkan bahwa kekuatan harus ditaklukkan dengan kekuatan yang lebih besar. Namun, Li Yun adalah seorang tabib. Ia tahu bahwa penyakit paling mematikan bukanlah pedang yang menebas leher, melainkan parasit diam yang tumbuh di dalam pembuluh darah tanpa disadari oleh inangnya.
Ia menutup matanya dan memusatkan pusaran mutiara perak di Dantiannya.
Bukannya memancarkan Qi untuk menghancurkan, Li Yun memecah Qi berelemen kayu miliknya menjadi ratusan helai benang yang jauh lebih tipis dari sutra laba-laba. Benang-benang energi itu mengalir keluar dari pori-pori telapak tangannya, menembus retakan mikroskopis di dinding pualam.
Sutra Kayu Mati tidak memiliki sifat agresif. Saat benang-benang Qi itu menyentuh segel pendeteksi formasi, segel itu tidak bereaksi. Mengapa? Karena energi Li Yun meniru karakteristik akar tanaman rambat yang mati. Formasi pelindung sekte dirancang untuk menolak serangan Qi manusia atau monster, bukan untuk membunyikan alarm setiap kali ada lumut atau akar pohon yang merambat di sela-sela bebatuan pondasi.
Dengan kesabaran luar biasa, Li Yun mengendalikan benang-benang Qi-nya merayap melewati ukiran rune formasi, memutarinya layaknya sulur tanaman merambat, hingga akhirnya menyentuh inti pusaran energi murni di ruangan sebelah.
Saat akar Qi Li Yun menembus kolam energi itu, sensasi luar biasa menghantam otaknya.
Energi di ruangan Han Mo begitu kental hingga terasa seperti cairan perak. Jika Li Yun serakah, ia bisa menyedot seluruh kolam energi itu dalam satu malam dan mungkin langsung menembus ke Pembentukan Fondasi.
Tetapi, Li Yun sadar betul siapa yang tinggal di sebelah dinding ini. Han Mo adalah pria bersempoa yang menghitung setiap butir debu di sektor ini. Jika tekanan Qi di ruang kultivasinya anjlok drastis, Han Mo akan segera membongkar seluruh paviliun untuk mencari tahu alasannya.
"Sedikit demi sedikit," bisik Li Yun di dalam kegelapan yang berasap. "Curi hanya setetes dari setiap cawan, dan tak ada satu pun raja yang menyadarinya."
Ia membatasi daya hisap benang Qi-nya hanya sebesar satu persen dari total aliran formasi. Fluktuasi sekecil itu sepenuhnya tertutup oleh ketidaksempurnaan alami dari formasi itu sendiri. Jika Han Mo merasakannya, ia hanya akan mengira Nadi Bumi sedang berfluktuasi atau ada sedikit energi yang menguap lewat celah dinding.
Sssshh...
Satu persen energi murni tingkat tinggi itu mulai mengalir menembus benang Qi Li Yun, kembali ke telapak tangannya, dan langsung disuntikkan ke dalam tulang lengannya.
Rasa sakit yang luar biasa kembali menyerang. Energi Lapis Ketujuh itu mencoba memberontak di dalam tubuhnya yang masih di Lapis Kelima, bertabrakan dengan daging fananya. Namun Li Yun telah menyiapkan wadahnya. Tulang Kayu Besi miliknya, yang telah ditempa dalam darah mendidih selama berbulan-bulan, menyerap energi itu dengan rakus.
Warna hijau gelap di tulangnya perlahan mulai menampakkan serat-serat perak. Kepadatan tulangnya berlipat ganda setiap jam ia menyerap energi tersebut. Otot-ototnya terkoyak dan dijahit kembali oleh Qi Kayu dengan kecepatan yang mengerikan, tanpa mengeluarkan setetes darah pun ke luar kulitnya.
Ia berdiri menempel di dinding seperti patung pualam selama lima jam penuh. Asap belerang menutupi wujudnya, menjadikannya hantu di dalam tungku neraka.
Menjelang fajar, sebelum Han Mo menyelesaikan meditasinya di sebelah, Li Yun menarik seluruh benang Qi-nya dengan sangat halus. Ia memutuskan kontak sepenuhnya, tidak meninggalkan jejak energi setitik pun di dinding pualam.
Ia mundur, mengatur napasnya kembali berantakan, menempelkan sedikit jelaga ke wajahnya, dan kembali mengambil dayung kayunya. Keringat yang membasahi tubuhnya kini bukan lagi keringat palsu, melainkan hasil dari siksaan penempaan tulang yang brutal.
Ketika para penjaga membuka segel pintu untuk mengambil gelombang obat penawar pertama, mereka menemukan Tabib Li sedang tertidur kelelahan di lantai yang kotor, tangannya masih memegang erat dayung kayu, dan belasan drum obat telah siap didistribusikan.
Melihat dedikasi gila dari manusia fana itu, para penjaga hanya mendengus meremehkan, membawa drum-drum itu pergi, dan mengunci Li Yun kembali di dalam.
Mereka tak pernah menyadari, di balik tubuh kurus yang tertidur meringkuk di lantai kotor itu, tersembunyi kekuatan fisik yang kini mampu meremukkan leher mereka hanya dengan dua jari tangan. Li Yun tersenyum dalam tidurnya.