NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Hawa dingin dari pendingin ruangan di ruang Kepala Sekolah SMA Nusa Bakti terasa dua kali lipat lebih menusuk dari biasanya. Bunyi detak jarum jam dinding beradu dengan keheningan pekat yang menggantung di udara. Di balik meja kayu mahoni yang besar, Pak Haris—kepala sekolah yang biasanya tampil berwibawa—kini tampak gelisah, sesekali menyeka keringat dingin di pelipisnya meski ruangan itu bersuhu rendah.

​Di kursi seberang meja, Nadiva duduk dengan punggung tegak. Jari-jarinya bertaut erat di pangkuan, meremas ujung rok seragamnya hingga kusut. Jantungnya berdegup tak karuan, memompa darah dengan kecepatan yang membuat kepalanya sedikit pening.

​"Tapi, ada apa ya, Pak?" suara Nadiva akhirnya memecah keheningan, terdengar sedikit bergetar namun berusaha ia jaga agar tetap sopan. "Kenapa tiba-tiba beasiswa saya terancam dicabut? Nilai UTS saya kemarin nyaris sempurna, absensi saya penuh, dan saya tidak pernah melanggar tata tertib sekolah."

​Pak Haris menghela napas berat. Pria paruh baya itu menunduk, tak berani menatap langsung ke dalam sepasang mata cokelat terang milik siswinya yang menuntut keadilan.

​"Bapak tidak bisa menjawabnya, Nadiva," ucap Pak Haris lirih, nyaris terdengar seperti cicitan pasrah. Ia lalu mengangkat wajahnya, menatap ke arah sofa kulit di sudut ruangan. "Tapi... ada seseorang yang akan menjelaskan alasannya kepadamu."

​Nadiva mengikuti arah pandangan kepala sekolahnya. Jantungnya seakan merosot ke perut saat melihat seorang wanita dewasa berpakaian setelan blazer hitam rapi bangkit dari sofa. Wanita itu melangkah maju. Suara ketukan hak sepatu tingginya terdengar ritmis, dingin, dan mengintimidasi, mengiringi aroma parfum mahal yang seketika mendominasi ruangan.

​"Perkenalkan, saya Eva," ucap wanita itu dengan nada datar tanpa intonasi, layaknya robot yang diprogram untuk mengeksekusi perintah. Ia berhenti tepat di samping kursi Nadiva, menatap gadis mungil itu dengan sorot mata merendahkan. "Saya adalah asisten pribadi keluarga Hilton. Dan saya ke sini atas perintah langsung dari orang yang memegang kendali penuh atas sekolah ini... serta beasiswamu."

​Nadiva menahan napas. Matanya membulat sempurna. Hilton?

​"Nyonya Maya Hilton, ibu dari Tuan Muda Dereen, meminta Anda untuk segera menjauhi putranya," lanjut Eva, memuntahkan setiap kata dengan penekanan yang tajam bak silet. "Tuan Muda Dereen memiliki masa depan yang sudah tergariskan, dan Nyonya Besar tidak menoleransi adanya distraksi dari gadis yang tidak memiliki latar belakang setara, apalagi... keyakinan yang sama."

​Dada Nadiva terasa seperti dihantam balok es. Oksigen di sekitarnya mendadak tipis. Ia ternganga, menatap wanita di sampingnya dengan ketidakpercayaan yang luar biasa.

​"Jika Anda menolak atau mencoba bermain-main dengan perintah ini," ancam Eva, mencondongkan tubuhnya sedikit, "maka dengan terpaksa, beasiswa Anda akan dicabut secara tidak hormat hari ini juga. Dan saya pastikan, lewat koneksi keluarga Hilton, tidak akan ada satu pun sekolah di negara ini yang sudi menerima Anda."

​Ya Allah...

​Batin Nadiva menjerit tertahan. Bumi tempatnya berpijak seolah runtuh seketika. Selama ini ia hanya melihat kekejaman orang kaya di sinetron atau novel fiksi, namun kini, kejahatan itu berdiri nyata di depan hidungnya. Menikam masa depannya tanpa belas kasihan. Hanya karena Dereen—cowok arogan yang bahkan awalnya menjadikan dirinya babu—kini, mimpi besarnya harus menjadi tumbal.

​Tenggorokan Nadiva tercekat. Ego dan harga diri barbar-nya memberontak ingin melawan, ingin mengutuk kesombongan keluarga itu. Namun, bayangan menara-menara di Maroko, wajah lelah orang tuanya di kampung, dan tumpukan buku yang ia pelajari setiap malam, seketika membungkam mulutnya. Ia tidak punya privilege untuk melawan. Ia hanya gadis kecil dari desa.

​Dengan mata yang mulai memanas menahan genangan air mata, Nadiva mendongak. Ia menelan ego-nya bulat-bulat, mengubahnya menjadi keberanian untuk bertahan hidup.

​"Saya tahu diri, Bu," ucap Nadiva pelan, suaranya parau namun memancarkan ketegaran yang luar biasa. Ia menatap lurus ke arah Eva. "Saya berjanji... saya akan menjauhi Kak Dereen sejauh mungkin. Saya tidak akan berurusan dengannya lagi. Tapi saya mohon... tolong jangan cabut beasiswa saya."

​Nadiva meremas tangannya sendiri, menekan dadanya yang terasa sesak. "Jangan rusak masa depan saya hanya karena ketakutan yang tidak beralasan. Beasiswa ini... ini satu-satunya jembatan menuju impian saya."

​Eva menatap wajah memelas namun tegar itu selama beberapa detik tanpa riak emosi. "Lakukan saja apa yang harus kamu lakukan, Nadiva. Jaga jarakmu, maka beasiswamu aman," final wanita itu dingin.

​Tanpa basa-basi lagi, Eva memutar tubuhnya dan melangkah pergi. Pintu kayu berukir itu terbuka dan tertutup dengan suara bantingan halus, meninggalkan Nadiva yang masih terdiam kaku di kursinya, bertarung mati-matian menahan air mata agar tidak jatuh di depan kepala sekolahnya.

​Beberapa menit kemudian, Nadiva melangkah keluar dari ruang kepala sekolah dengan tatapan kosong. Lorong di area administrasi itu sepi. Kakinya terasa seperti tak bertulang. Ia baru saja bersandar pada dinding koridor untuk mengambil napas, ketika sebuah bayangan jangkung menghalangi cahaya lampu di depannya.

​Nadiva mendongak, mendapati Mex berdiri di sana.

​Wajah cowok kalem itu tak sehangat biasanya. Rahangnya mengeras tajam, urat di lehernya menonjol, dan kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuh. Rupanya, Mex yang kebetulan sedang mengurus berkas klub basket, tak sengaja mendengar seluruh percakapan laknat dari balik celah pintu yang tak tertutup rapat tadi.

​Tanpa aba-aba, Mex melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Matanya memancarkan rasa sakit yang seolah ikut ia rasakan untuk Nadiva.

​"Kamu tenang aja, Div," bisik Mex dengan suara berat yang bergetar menahan amarah. "Aku bakal jagain kamu. Tentang Dereen dan keluarganya... biar aku yang urus. Aku nggak akan biarin mereka nginjek-nginjek impian kamu kayak gini."

​Untuk sejenak, Nadiva terpaku melihat kilat perlindungan di mata Mex. Ada rasa hangat yang mampir di hatinya, mengetahui ada seseorang yang bersedia pasang badan untuknya di tengah sekolah yang kejam ini. Namun, logika Nadiva menolak untuk menjadi gadis lemah yang berlindung di balik punggung orang lain. Apalagi jika itu harus mengorbankan persahabatan Mex dan Dereen.

​Dengan senyum tipis yang dipaksakan, Nadiva menggeleng pelan. Ia memundurkan tubuhnya setengah langkah, menciptakan batas tak kasatmata yang selalu ia jaga.

​"Jangan, Kak Mex," tolak Nadiva sehalus mungkin, suaranya mengalun lirih namun tegas. "Kalau Kakak ikut campur, masalahnya malah akan semakin rumit. Persahabatan Kakak sama Kak Dereen bisa hancur, dan posisiku bakal makin terpojok."

​Mex menatap gadis di depannya dengan rasa frustrasi yang memuncak. "Tapi Div, mereka jahat! Kamu nggak bisa berjuang sendirian lawan keluarga Hilton!"

​"Aku bisa, Kak," potong Nadiva cepat, matanya memancarkan keteguhan yang tak bisa digoyahkan oleh badai sekalipun. Gadis itu menarik napas panjang, mengusap setitik air mata yang nyaris lolos di sudut matanya. "Tolong... rahasiakan ini dari siapa pun, termasuk Kak Dereen. Biar aku yang atasi semuanya sendiri. Aku punya cara sendiri buat mundur."

​Meninggalkan Mex yang mematung dengan dada bergemuruh hebat, Nadiva berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong yang dingin. Langkahnya tak lagi gontai. Ada tekad baru yang menyala di matanya. Mulai detik ini, tidak akan ada lagi pertengkaran konyol, tidak ada lagi taruhan nilai, dan tidak ada lagi celah untuk sang bad boy mendekatinya.

​Takdir telah memukul mundur perasaannya sebelum sempat mekar, dan Nadiva memilih tunduk demi sebuah impian bernama Maroko.

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!