NovelToon NovelToon
Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Ketos / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desty Haris Wahyuni

kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (⁠◠⁠‿⁠◕⁠)


Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?


Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NAMA YANG DIHAPUS DAN LANGKAH YANG TAK DIKENAL.

Sejak Callysta hilang begitu saja, rasanya udara di sekolah jadi lebih berat. Bukan hening yang tenang—tapi hening yang nunggu sesuatu jatuh. Setiap kali bel istirahat bunyi, gue nggak sendirian ke mana-mana. Sasa dan bela selalu nyamperin duluan, atau Zian nunggu di depan kelas, atau Arka yang udah berdiri di pintu kayak penjaga gerbang.

Pagi itu, pas kita duduk di tempat biasa—bangku di pojok halaman belakang—Arka ngeluarin sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah amplop cokelat, sudah agak kusam.

"Kemarin gue nemu ini di laci meja Daddy," suaranya rendah, matanya menatap amplop itu seolah benda itu bisa meledak. "Ditujukan ke Ayah lo. Tapi nggak pernah dikirim."

Gue pelan-pelan buka lipatannya. Isinya selembar kertas, tulisan tangan yang tegap tapi goresannya tajam. Ada tiga nama yang ditulis rapi di bagian atas:

Abian Alexander

Arga Danendra

Valerian Kirana

Dan di bawahnya, kalimat yang bikin jantung gue nyesek:

"Kalian berdua sudah memilih. Tapi ingat—apa yang kalian sembunyikan tidak akan mati. Ia hanya menunggu waktu untuk bangkit kembali."

Nama ketiga itu—Valerian Kirana. Itu nama yang dicoret di kertas yang Arka tunjukin kemarin. Nama yang dibisikkan Ayah sama Daddy-nya kalau mereka pikir nggak ada yang dengar.

"Siapa dia, Arka?" tanya gue pelan, suaranya hampir hilang tertiup angin.

Arka menggeleng pelan, rahangnya mengeras. "Gue tanya Daddy, dia diam. Cuma bilang... Valerian itu bagian dari masa lalu yang seharusnya sudah selesai. Tapi kelihatannya nggak begitu."

"Kalau dia belum selesai... berarti dia yang kirim pesan-pesan itu ke gue? Dia yang bikin Callysta mendekat?"

"Kemungkinan besar." Arka pegang tangan gue erat. "Dan kalau benar dia, ini bukan soal balas dendam biasa, Aluna. Ini soal sesuatu yang besar—sesuatu yang melibatkan kedua keluarga kita dari dulu."

Sore itu, gue pulang dengan pikiran berantakan. Langkah kaki gue berat pas masuk ke rumah. Ayah belum pulang, Bunda ada di ruang tengah, sedang menyusun bunga di vas. Gue tarik napas dalam, lalu berjalan mendekat.

"Bun..." panggil gue pelan.

Bunda menoleh, senyumnya sedikit memudar pas lihat wajah gue. "Ada apa, Sayang? Mukamu pucat."

Gue tunjuk nama yang tertulis di kertas itu. "Siapa Valerian Kirana?"

Wajah Bunda berubah pucat seketika. Tangan yang memegang bunga terhenti di udara. Dia diam cukup lama, sebelum akhirnya duduk di kursi, napasnya keluar gemetar.

"Dari mana lo dapat nama itu?"

"Arka nemu di rumahnya. Bun... siapa dia? Kenapa semua orang takut menyebut namanya?"

Bunda menunduk, matanya berkaca-kaca. "Valerian... dulu dia sahabat Ayah sama Daddy Arka. Bertiga mereka selalu bersama, seperti saudara. Sampai satu kejadian mengubah semuanya." Dia berhenti, menelan ludah. "Ada proyek yang mereka kerjakan bersama—sesuatu yang berisiko. Sesuatu terjadi... kesalahan yang menelan korban. Valerian merasa dikhianati. Dia menghilang, dan sejak itu, kami takut dia kembali."

"Jadi Callysta itu..."

"Kami belum yakin. Tapi kemungkinan besar keluarganya terhubung dengan Valerian. Dan kalau dia sudah bergerak... berarti dia tidak sendirian." Bunda menatap gue, matanya tegang. "Itulah kenapa pertunangan kalian dijaga begitu ketat. Bukan cuma untuk menyatukan keluarga—tapi untuk melindungi kalian berdua."

Malam itu, gue nggak bisa tidur. Duduk di tepi jendela, menatap kegelapan di luar. Jadi selama ini gue hidup di antara rahasia yang lebih dalam dari yang gue bayangkan. Orang-orang yang gue sayang menyembunyikan kebenaran karena takut gue terluka. Tapi justru karena itu, gue malah merasa semakin jauh.

HP gue bergetar. Bukan pesan—foto. Diambil dari kejauhan, menampilkan gue yang sedang duduk di jendela kamar. Di bawahnya ada tulisan:

"Lo pikir perlindungan mereka bisa menutup semuanya? Lo sudah dilihat, Aluna. Dan permainan baru saja dimulai."

Tangan gue dingin sampai ke ujung jari. Gue langsung telepon Arka. Dia angkat cepat, suaranya langsung tegang:

"Aluna? Kenapa telepon malam-malam?"

"Arka... dia tahu. Dia tahu di mana gue."

Hening sejenak di seberang sana, lalu suara Arka terdengar tegas: "Jangan keluar kamar. Kunci pintunya. Gue ke sana sekarang."

"Arka, jangan sendirian—"

"Gue bawa Raka sama Zian. Tetap di dalam, janji?"

"Iya..."

Gue berdiri mematung di kamar, mendengar detak jam dinding yang berdentang pelan. Di luar, angin berhembus kencang, meniup dedaunan. Sesekali gue melirik ke jendela, mencari bayangan yang bergerak. Nggak ada. Tapi gue tahu—dia di luar sana. Mengawasi. Menunggu.

Belum sepuluh menit berlalu, terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Gue mengintip dari balik tirai. Arka turun duluan, diikuti Raka dan Zian. Mereka nggak masuk, cuma berdiri mengelilingi rumah, memeriksa setiap sudut.

Pintu kamar diketuk pelan. "Aluna, ini gue."

Gue buru-buru buka. Arka berdiri di ambang pintu, napasnya agak terengah, matanya langsung memindai seluruh tubuh gue. "Lo nggak apa-apa? Dia masuk ke sini?"

"Nggak... cuma kirim foto. Dari luar." Gue tunjuk jendela.

Arka melangkah ke sana, memeriksa sekeliling, lalu menoleh ke gue, menarik gue ke pelukannya erat. "Lo aman sekarang. Gue sama teman-teman gue jaga di luar semalaman. Nggak ada yang bisa mendekat."

"Arka..." gue peluk pinggangnya erat. "Gue takut... tapi gue nggak mau lari. Gue mau tahu semuanya."

Dia mengusap rambut gue pelan, mencium ubun-ubun gue. "Gue tahu. Dan gue nggak akan sembunyikan apa-apa lagi. Mulai besok, kita cari tahu bareng-bareng. Tapi sekarang... istirahat dulu ya. Gue di sini."

Malam itu Arka nggak pergi. Dia duduk di kursi dekat jendela, mengawasi ke luar, sementara gue akhirnya terlelap. Di tidur gue, ada bayangan—bukan menakutkan, tapi penuh janji. Apa pun yang terjadi, kita hadapin bersama.

Besok paginya, kabar lain datang. Sasa telepon, suaranya gemetar:

"Na... kemarin malam rumah Callysta didatangi seseorang. Tetangga bilang suaranya berat, terdengar marah. Dan pagi ini... Callysta hilang sepenuhnya. Nggak ada barangnya, nggak ada kabarnya."

Gue menatap Arka yang berdiri di samping gue. Dia mengangguk pelan. "Dia dipanggil pulang," katanya tenang tapi dingin. "Ke tempat asalnya."

Langit pagi itu mendung kelabu. Gue pegang tangan Arka erat.

"Valerian," bisik gue. "Dia yang mengatur semua ini kan?"

Arka meremas pelan jari gue. "Kita akan ketemu dia. Dan kita akan tahu alasannya."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!