“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
•••
"Giselle... mau kemana?"
Hari ini Giselle menyadari satu hal, keberuntungan yang Tuhan berikan padanya hanya berupa paras cantik juga uang di rekening tabungannya yang jumlah angkanya terus bertambah tanpa perlu repot-repot bekerja.
Namun hal tersebut harus ditukar dengan kehidupan yang berjalan tak sesuai seperti yang dia inginkan.
Seperti saat ini.
Kenapa Giselle selalu tidak beruntung pada hal-hal lain, padahal di depan sana dirinya sudah dapat melihat Jio yang sedang berjalan bersama Yoshi.
Mengapa orang ini harus muncul disaat yang tidak tepat.
"Kau masih belum jera, atau tendanganku masih belum cukup kuat untuk membuatmu jera?!"
Giselle sengaja bicara dengan lantang, agar Jio dapat mendengarnya dari depan sana.
Lalu kembali menatap sengit pria yang menghadang jalannya itu.
"Ayolah Giselle kenapa kau kasar sekali padaku? Aku sudah memaafkanmu jadi kau tak perlu khawatir."
"Dasar bajingan gila, harusnya kau berlutut di hadapanku dan memohon maaf padaku atas tindakanmu kala itu!"
"Haruskah?"
"Jevan Lesmana!"
Giselle terkejut saat melihat Jio yang sudah berdiri tepat di hadapannya, di samping Jevan. Menarik lengan Giselle untuk berada di sisinya, di balik punggungnya.
"Jangan pernah mengganggunya lagi."
Jio tak bisa berhenti memberikan tatapan sinisnya pada Jevan, Jevan pun demikian.
"Siapa kau berani memerintahku?"
"Apa aku perlu mematahkan beberapa tulangmu lagi atau harus kupatahkan semua?"
Jevan menaikkan sebelah alisnya, seketika mengingat seorang pria yang memukulinya di club beberapa bulan lalu.
"Oh jadi kau pahlawan kesiangan itu? Saat itu aku mabuk jadi tak bisa melawanmu dengan benar, aku akan buat perhitungan denganmu nantikan saja."
Setelahnya Jevan berlalu, Jio berbalik menghadap Giselle.
"Dia mengganggumu lagi?"
Giselle terdiam menatap wajah Jio, entah gadis itu salah lihat atau bagaimana Jio saat ini tengah menatapnya dengan khawatir. Giselle berkedip mengalihkan perhatian.
"Terima kasih Jio" Gumamnya pelan.
Merasa Giselle sudah aman sekarang, Jio beranjak pergi menuju tangga rooftop di depan persimpangan koridor.
Giselle sadar dirinya ditinggalkan segera mensejajarkan langkah dengan pria tersebut. Melangkah bersama menuju rooftop.
Seperti biasa mereka akan duduk di lantai rooftop tersebut dengan Jio yang mulai sibuk mengeluarkan berbagai buku tebal sebagai referensi juga laptopnya untuk mengerjakan tugas.
Sedang Giselle, dia hanya menemani Jio dengan segala ocehan tak pentingnya terkadang juga ikut mengerjakan tugas kuliahnya jika tak malas.
"Jio, boleh aku minta nomor telepon Yoshi?"
"Untuk apa? Tidak cukup hanya menggangguku?"
"Tenang saja, bukan untukku tapi untuk Karina. Apa kau cemburu?"
"Aku sudah cukup menderita di sini, jangan libatkan sahabatku juga."
Giselle terkekeh, "Jangan salah paham Jio, Karina memang sedikit gila tapi percayalah dia gadis yang baik. Aku berani jamin."
Jio memicingkan mata, menatap ragu pada gadis setengah Jepang tersebut dan dengan terpaksa mengeluarkan ponselnya. Mencari nomor milik Yoshi pada kontak telepon, bermaksud memberikannya pada gadis itu.
"Katakan pada temanmu itu untuk tidak bermain-main seperti dirimu."
Giselle acuh, "Baiklah."
Bergegas mencatat angka-angka itu lalu mengirimkannya pada Karina.
"Ji... besok aku ada pemotretan antarkan aku ya." Giselle kembali bersuara.
"Tidak bisa, besok ada kelas tambahan."
"Sepulang dari kampus Jio sayang..."
Jio mendengus, "Tck, merepotkan."
"Terima kasih."
"Aku belum menyetujuinya."
"Memangnya kau bisa menolak?"
"Baiklah Nona pembuat masalah, Giselle menyebalkan Uchinaga." Ujar Jio tersenyum paksa.
Giselle tertawa mendengar bagaimana cara Jio menyebut namanya.
"Jio, kenapa mengambil jurusan Economics Business? Bukankah itu membosankan, apa kau menyukainya?"
"Tidak."
"Lantas kenapa memilih itu?"
"Kewajiban."
Giselle mengangguk-anggukkan kepala paham, "Ah, pilihan orang tua rupanya."
"Kau sendiri mengapa memilih Performing Art?"
Giselle berubah antusias.
"Aku menyukai seni, terlebih aku suka sesuatu yang menyenangkan.”
“Sebenarnya kencan pertunjukan seni sekolah menengah kemarin tidaklah buruk meskipun itu tidak bisa disebut kencan sepenuhnya, tapi tak apa.”
“Adikmu, siapa namanya? Oh tidak lupakan... berapa lama dia menari?"
"Dia melakukannya sejak umur enam tahun."
"Pantas saja, dia terlihat memiliki bakat dibidang itu."
"Kau memperhatikannya?"
Giselle mengangguk, "Tentu saja. Aku menikmati setiap penampilan yang disuguhkan, aku bahkan memperhatikan setiap wajah para penampil. Jujur aku terkesan dengan tarian Adikmu tapi setelah sikapnya padaku membuat kesan itu sirna."
Jio menyunggingkan senyum tipis tak kentara dan Giselle melihat itu.
"Kau tersenyum?"
Jio berdeham kembali menetralkan raut wajahnya.
“Tidak."
Giselle terkekeh, "Tersenyum bukanlah dosa kau tak perlu menyangkal. Aku lebih suka melihatmu tersenyum daripada selalu menyatukan alismu saat bicara padaku."
•••Vienbluu (annavienbluu)