'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Aneka Ria.
...~•Happy Reading•~...
Seminggu Kemudian 》
Nelson duduk bercakap-cakap dengan Kakeknya di teras rumah. Sesuatu yang sering dilakukan sebelum tidur, setelah bisa mengatasi persoalan yang terjadi dengan keluarga Omnya.
Mama Tine tidak lagi protes setelah merasakan hasil penjualan durian tidak mulus seperti yang dilakukan Tine dan Nelson. Dan ancaman Kakek Samy membuatnya khawatir kehilangan penghasilan. Sehingga menyerah dan tidak ikut campur lagi dengan yang dilakukan Nelson dan Tine.
Nelson tidak lagi menyesuaikan dengan tempramen Tantenya yang meledak-ledak. Dia fokus pada tujuannya dan merasa waktu telah cukup, bisa menghabiskan waktu bersama Kakek Samy dan fokus pada yang dikerjakan.
"Kek, besok aku pulang, ya. Mau persiapan sama Papa Mama di rumah untuk ujian minggu depan."
"Besok? Kenapa cepat sekali?"
Nelson tersenyum melihat reaksi Kakeknya yang belum rela ditinggalkan. "Iya, Kek. Karna sibuk sana sini, waktu cepat berlalu. Tidak terasa aku sudah sepuluh hari di sini."
"Kenapa tidak tunggu hari Minggu saja? Biar ke Gereja dengan Kakek, sekali lagi." Kakeknya coba menahan Nelson, karena besok sudah hari sabtu.
"Maaf, Kek. Kemarin temanku yang sedang pulang kampung ingin bertemu besok. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, sekalian hari Minggu mau ke Gereja sama Papa Mama..." Nelson menjelaskan rencananya, agar Kakeknya tidak terlalu kecewa.
"Ya, sudah. Besok pulang jangan terlalu pagi." Kakek Samy terima dan mengerti yang dikatakan Nelson.
"Besok baru pamit sama Tine, supaya dia tidak ribut malam ini dan membuat kita begadang."
Nelson tersenyum ingat Tine mengganggu dia saat belah kayu dan keseruan canda tawa mereka sambil berbagi kerja menjual durian. Rumah jadi seperti pasar, hingga dia melupakan pikiran tidak perlu dan kembali berkonsentrasi.
"Iya, Kek. Sekalian besok aku pamit sama Om Tante."
"Begitu lebih baik. Sikap Om Tante yang kurang baik jangan simpan di hati."
"Iya, Kek. Kakek jaga kesehatan, ya. Aku tidak bisa janji kapan kembali, karna setelah ujian ada perubahan rencana kalau aku lulus." Nelson tidak bilang dia berencana akan kuliah S2 di luar daerah, agar Kakeknya tidak sedih oleh sesuatu yang belum pasti.
Kakeknya mengangguk mengerti lalu mengajak Nelson masuk. "Rapikan barang-barangmu, jangan sampai ada yang tertinggal."
"Iya, Kek. Terima kasih buat semuanya." Nelson berdiri dan memeluk Kakeknya dengan sayang, sebelum ke kamar mandi.
~••
Ke esokan pagi ; Nelson bangun pagi seperti biasa. Begitu juga dengan Tine dan Kakeknya yang sudah ke hutan untuk bantu mengumpulkan durian bersama orang tua Tine.
"Kak Nel, mau ke mana dengan dandanan keren begitu?"
"Mau pulang." Jawab Nelson sambil sarapan.
"Kak Nel mau pulang sekarang?"
"Belum. Tunggu Kakek kembali dari hutan." Nelson bersikap seakan tidak tahu wajah Tine tiba-tiba sedih.
"Belajar yang benar. Supaya nilaimu bagus." Ucap Nelson sambil menikmati singkong yang diolah Tine menjadi sarapan enak.
"Kak Nel gak bisa tinggal sampai selesai musim durian?" Tine bertanya pelan, penuh harap. Dia terlanjur merasakan kegembiraan dalam rumah dan belum rela berpisah.
Nelson jadi tersenyum dalam hati mendengar suara Tine yang tersendat. "Kau mau aku jadi penjual durian?" Nelson coba bercanda. Tine mengangkat tangan dan menggoyang di depan wajahnya.
"Aku mau ujian, jadi mesti kumpul dengan Papa Mama. Aku titip Kakek, ya. Kalau ada apa-apa, telpon aku." Nelson menggerakan tangan ke telinganya. Tine menangguk, pelan.
"Itu Kakek sudah pulang." Tine segera berdiri untuk menyembunyikan rasa sedih mau berpisah dengan kakak yang disayang dan kebanggaannya.
Nelson menghabiskan minum lalu ke belakang. "Kakek, ini sudah terang. Aku pamit pulang, ya." Nelson memeluk Kakeknya, walau dicegah.
"Om Tante, aku pamit pulang. Terima kasih buat semua." Nelson salim pada Om Tantenya, setelah mereka meletakan durian di tanah.
"Kau mau pulang sekarang?" Omnya terkejut. Nelson mengangguk.
"Kami kira mau tunggu sampe abis musin durian." Ucap Tantenya datar.
"Tidak, Tante. Mau ujian." Nelson bersikap biasa, walau dia tahu arti ucapan Tantenya. "Untung Tante bilang durian. Aku mau beli beberapa buah buat Papa Mama." Nelson berkata demikian, karena giliran jatah Omnya.
"Nel bawa semua duriannya. Biar besok jatah Kakek buat Om Ridho." Kakeknya memutuskan. Sehingga Mama Tine tidak bisa protes.
"Terima kasih, Kek, Om, Tante."
"Ridho, bantu ikatkan durian di motor Nel." Pinta Kakek Samy.
~•
Tidak lama kemudian, Nelson meninggalkan halaman rumah Kakeknya dengan motor penuh buah durian di depan dan belakang. Yang membedakan dia dengan penjual durian adalah backpacker di punggung dan helm mahal.
Saat turun gunung, Nelson sangat berhati-hati, agar dia dan durian bisa selamat sampai di tempat tujuan.
Beberapa waktu kemudian, Nelson tiba di batas kotak. Dia tersenyum senang dan mengarahkan motor ke tempat parkir lalu membuka kaca helm.
"Anggiiii, bantu aku." Teriak Nelson saat melihat Angga bersandar pada mobilnya sambil asyik dengan ponsel di tangan.
"Astaghfirullah, Son. Kau kah ini?" Angga segera mendekat dengan mata membulat.
"Emang siapa lagi, Anggi? Cepat bantu buka ikatan ini. Jok motorku sudah nangis sepanjang jalan." Ucap Nelson setelah parkir motor.
"Kekasih gelapku, sejak kapan kau punya profesi..." Angga tidak meneruskan, tapi segera melepas tali pengikat durian di belakang motor dan mengangkat kardus yang mengalas jok motor.
"Kalau butuh uang buat acara syukuran lulus ujian, bilang aku, Son." Ucap Angga sambil meletakan durian di tanah. Dia mengira Nelson mau menjual durian, karena saking banyak durian yang dibawa.
"Kau gak suka durian?" Hati Nelson menghangat dengar ucapan Angga. Dia mengerti maksud Angga yang akan membantunya.
"Suka, dong. Kalau begitu, aku beli saja semua." Angga berkata dengan suara riang, sebab menemukan solusi untuk membantu Nelson.
"Aku minta kau tunggu di sini, bukan mau beli durian ini, tapi bantu jual." Nelson jadi iseng, meledek Angga.
"Apa bedanya uangku dengan uang pembeli lain? Kau mulai membeda-bedakan aku." Angga benar-benar protes. Nelson ingin meledek, tapi tidak jadi, karena Angga sedang serius.
"Ikatan yang itu, masukan ke mobilmu." Nelson menunjuk ikatan yang lebih besar dan banyak. "Jangan lupa bagi buat Evi." Nelson melanjutkan.
"Ini bukan buat dijual?" Angga tidak mengangkat durian, tapi serius melihat Nelson.
"Bukan. Ini hasil bela kayu bantu Kakekku." Nelson tersenyum dan ingin meraup wajah Angga yang tercengang.
"Bro Son, emang the best. Bela-belain ketutup durian, jok motor bopeng, demi air liurku yang suka gak sopan lihat durian."
"Pasang palang pintu air liurmu. Jangan minta makan di sini. Bisa-bisa tempat ini dikerumuni orang untuk ikut makan." Nelson tahu kebiasaan Angga yang spontan, kalau suka.
"Baik, baiklah... Aku akan menahan liurku demi kekasih terang dan gelapku." Angga berkata riang.
"Ini gak diikatkan lagi ke atas motor?" Tanya Angga sambil menunjuk seikat durian yang masih di tanah.
"Nah, panjang umurnya. Dia sudah datang." Nelson melihat sebuah mobil pik up masuk ke tempat parkir tanpa membunyikan klakson.
...~•••~...
...~•○♡○•~...