NovelToon NovelToon
Jenderal Langit : Terbangun Di Benua Dewa

Jenderal Langit : Terbangun Di Benua Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Identitas Tersembunyi / Fantasi Timur
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.


Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.


Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Malam dan Titik Balik Takdir

Deru angin malam bergemuruh hebat, membelah angkasa Kota Awan Berkabut dengan suara yang mirip lolongan binatang buas. Hujan deras turun dengan brutal, menyiram tanah berbatu, mencuci bersih noda darah di sekujur tubuh, sekaligus mendinginkan kulit Gu Yan-Zhi yang terbakar oleh rasa sakit. Setiap kali ia melangkahkan kaki, luka-luka robek akibat siksaan keji di ruang bawah tanah berdenyut nyeri, mengirimkan gelombang denyutan panas ke seluruh saraf tubuhnya. Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak dihiraukan. Fokus kesadarannya kini terkunci penuh pada satu tujuan mutlak: bertahan hidup dan menjauh sejauh mungkin dari jangkauan Klan Gu.

Di belakangnya, sayup-sayup terbawa angin malam, terdengar suara teriakan penuh amarah melengking dari Gu Tianlang yang mulai pulih dari keterkejutannya.

"Keparat sialan! Kejar dia! Jangan biarkan sampah itu lolos hidup-hidup dari halaman dalam!" seru suara itu, yang langsung disusul oleh lolongan tajam anjing pelacak spiritual milik Klan Gu—binatang buas bermata merah yang mampu mengendus jejak darah sekecil apa pun dalam jarak bermil-mil.

Gu Yan-Zhi menggertakkan giginya. Ia tahu berlari di atas tanah lapang atau jalan setapak pemukiman klan adalah bentuk bunuh diri yang konyol. Tanpa pikir panjang, ia merangsek masuk ke dalam lebatnya Hutan Larangan—sebuah kawasan liar dan berkabut tebal di perbatasan wilayah klan yang dipenuhi pepohonan raksasa berusia ratusan tahun, duri beracun, serta flora karnivora yang mematikan. Bagi warga biasa atau kultivator tingkat rendah sekalipun, masuk ke dalam hutan ini tanpa pil penawar racun sama saja dengan menyerahkan nyawa pada maut. Namun, bagi Gu Yan-Zhi, ini adalah satu-satunya jalur pelarian ekstrem yang tidak akan pernah ditebak oleh para pengejarnya.

Bum!

Kilatan petir menyambar garang di langit malam yang legam, menerangi jalan setapak berlumpur dan berakar licin yang ia lewati dengan susah payah. Pernapasan Gu Yan-Zhi mulai memburu hebat. Tanpa adanya pasokan energi spiritual atau Qi yang bersirkulasi untuk melindungi tubuhnya dari elemen luar, stamina manusianya terkuras dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Suhu dingin ekstrem malam itu mulai merasuk menembus tulang belulangnya, menghadirkan ancaman nyata berupa hipotermia yang siap merenggut kesadarannya kapan saja.

"Sial... Jika aku terus memaksa berlari di tengah badai ini tanpa memulihkan sirkulasi darah dan menutup luka, aku akan mati kedinginan bahkan sebelum anjing-anjing pelacak itu menemukan jasadku," gumam Gu Yan-Zhi di tengah gemuruh guntur, suaranya hampir tenggelam oleh deru air hujan yang menghantam dedaunan lebar di atas kepalanya.

Ia tahu ia harus segera menemukan tempat perlindungan sementara untuk memulihkan diri, sekadar meredam pendarahan internal dan menyusun strategi lanjutan. Matanya menyapu sekeliling dengan tajam dalam remang-remang cahaya kilat yang menyambar bersahut-sahutan. Tak jauh dari posisinya, di balik rimbunnya semak berduri dan akar gantung yang menjuntai lebat, ia menangkap siluet sebuah rongga gelap—sebuah gua kecil tersembunyi yang tertanam di balik dinding tebing batu cadas.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia menyeret kakinya yang terasa semakin berat, merangkak masuk ke dalam rongga gua tersebut, lalu menarik tumpukan dahan kayu dan daun pakis besar untuk menutupi bagian mulut gua agar keberadaannya tersamarkan dari pandangan luar.

Suasana di dalam gua terasa jauh lebih tenang. Meskipun lembap dan berbau tanah basah, tempat itu setidaknya mampu memblokir terpaan angin badai yang sedari tadi meremukkan ketahanan fisiknya. Gu Yan-Zhi menyandarkan punggungnya yang penuh luka pada dinding batu yang kasar, lalu memejamkan mata untuk mengatur ritme pernapasannya yang nyaris putus.

Ia sangat sadar bahwa berdiam terlalu lama di dalam gua sempit ini adalah sebuah kesalahan besar jika para pemburu klan berhasil melacak aromanya. Namun, memaksakan diri menerobos badai dalam kondisi Dantian yang masih terkunci rapat oleh paku hitam juga merupakan tiket jalan satu arah menuju kematian.

"Jika aku ingin hidup di dunia ini, aku tidak bisa terus-menerus mengandalkan fisik manusia biasa," batin Gu Yan-Zhi penuh ketegasan.

Ia mengubah posisinya menjadi bersila di atas lantai batu yang dingin, menegakkan punggungnya dengan tegap, dan mulai memusatkan seluruh kesadarannya ke dalam tubuh. Sebagai seseorang yang terbiasa menyelami karakter-karakter kompleks melalui disiplin mental dan konsentrasi tingkat tinggi di kehidupan lamanya, ia mampu mengalihkan rasa sakit fisik yang luar biasa hebat dari sekujur tubuhnya, membiarkannya mengalir begitu saja tanpa memecah fokus batinnya.

Ia mulai memindai jalur meridian di dalam tubuhnya secara sistematis. Di area pusat energi atau Dantian, paku energi hitam pekat buatan para tetua klan masih tertancap dengan kokoh, memancarkan aura dingin yang membekukan seluruh aliran energi vital. Paku itu dirancang khusus untuk menyiksa dan memastikan korban tidak akan pernah bisa menyerap Qi alam seumur hidupnya.

Namun, di dalam sudut ingatannya yang paling dalam, sisa-sisa memori dari jiwa asli Gu Yan-Zhi mendadak membisikkan sebuah warisan kuno yang selama ini dianggap sebagai kutukan oleh Klan Gu—sebuah teknik pernapasan ekstrem yang dinamakan Kitab Pembalik Langit.

Teknik itu dilarang keras di dalam klan karena metode pelatihannya yang melawan hukum alam: alih-alih mengalirkan Qi secara lembut mengikuti jalur meridian yang normal, teknik ini justru memaksa aliran energi berbalik arah untuk menghancurkan hambatan internal secara paksa. Siapa pun yang mencoba mempelajarinya tanpa fondasi yang kuat biasanya akan berakhir dengan kehancuran organ dalam dan kematian yang mengenaskan.

"Melawan arus... menghancurkan untuk membangun kembali..." gumam Gu Yan-Zhi di dalam hati, merenungkan filosofi dari kitab tersebut. "Di duniaku yang dulu, obat paling mujarab sering kali memiliki efek samping paling mematikan. Risiko besar selalu berjalan seiring dengan hasil yang luar biasa."

Tanpa ragu-ragu lagi, ia mengambil keputusan bulat. Ia mulai menarik napas dalam-dalam, menahannya di dada sesuai dengan pola rumit yang teringat di kepalanya, lalu menuntun aliran udara itu untuk menabrak langsung area Dantian yang tersegel rapat.

CARRRGGH—!

Sebuah sensasi terbakar yang luar biasa mengerikan seketika meledak di dalam perutnya. Rasanya seperti ribuan jarum berapi menusuk lambung dan menghancurkan setiap pembuluh darah di sekitarnya secara bersamaan. Gu Yan-Zhi tidak kuasa menahan diri; seteguk darah segar berwarna kehitaman menyembur keluar dari mulutnya, membasahi lantai gua yang gelap.

Pandangannya langsung menggelap, dan sekujur tubuhnya mendadak kejang-kejang hebat akibat shock luar biasa yang dialami sistem sarafnya. Rasa sakit itu melampaui batas toleransi makhluk hidup mana pun. Di alam bawah sadarnya, bayangan wajah dingin Roy saat meracuninya di bumi berkelebat tajam, berdampingan dengan seringai angkuh Gu Tianlang di ruang bawah tanah.

Aku tidak boleh mati di sini! Aku baru saja mendapatkan kesempatan kedua! Bangun, Vano! Bangkit, Gu Yan-Zhi! teriaknya dalam hati dengan sisa-sisa kesadaran yang hampir padam.

Alih-alih menyerah pada rasa sakit dan menghentikan latihannya, ia justru mengerahkan seluruh kekuatan tekad mentalnya untuk memperkuat dorongan pernapasan tersebut. Ia memaksa energi liar dari luar ditarik masuk melalui pori-pori kulitnya, membimbingnya langsung menghantam paku energi hitam di dalam Dantiannya layaknya palu godam raksasa yang menghantam dinding baja.

K Desss...! K Desss...!

Sebuah suara retakan halus yang memekakkan telinga bergema di dalam rongga dadanya. Paku energi hitam yang selama bertahun-tahun menjadi kutukan dan sumber penderitaan Gu Yan-Zhi tiba-tiba bergetar hebat dengan amplitudo yang luar biasa. Retakan-retakan bercahaya keemasan muncul di permukaan paku hitam tersebut, menyebar dengan cepat ke seluruh sisinya.

Bum!

Ledakan energi internal yang tertahan seketika melepaskan gelombang kejut tak kasat mata. Paku kutukan itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu spiritual, melepaskan aliran energi murni dalam jumlah masif yang langsung membanjiri seluruh jalur meridian tubuhnya yang tadinya lumpuh.

Di luar gua, badai petir yang sedari tadi mengamuk mendadak mereda dalam sekejap mata, seolah-olah tunduk pada perubahan tekanan energi spiritual yang baru saja tercipta di wilayah tersebut.

Di dalam gua yang sunyi, mata Gu Yan-Zhi perlahan terbuka lebar. Sepasang matanya kini memancarkan kilatan cahaya keemasan yang tajam, dingin, dan mematikan. Segel pertama telah runtuh sepenuhnya, dan fondasi awal sebagai seorang kultivator sejati resmi terbangun. Jenderal Langit telah membuka mata di Benua Dewa, dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang sanggup menghentikan langkah kakinya ke depan.

1
Siskasuryaningsih
bapak mu piye nang? bok no tinggal ta?
ᵣₕyₜₕₘ.ₒf.ᵣₐᵢₙ: 😂😂lha harus gimana kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!