NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Lapangan utama SMA Nusa Bangsa tampak riuh dan penuh sesak oleh ratusan siswa yang berkumpul sejak pagi. Ratusan pasang mata tertuju pada area panggung utama, di mana acara pelepasan peserta Olimpiade Sains tingkat Kota sedang berlangsung. Bendera-bendera sekolah berkibar megah diiringi sorak-sorai serta tepuk tangan riuh yang membahana di udara, melepas keberangkatan para siswa terpilih yang akan mengharumkan nama sekolah.

Di tengah kerumunan massa yang berjejal, Lexa melangkah dengan gaya bak seorang ratu yang baru saja memenangkan pertempuran. Kepalanya terangkat tinggi dengan senyum angkuh yang terpampang jelas di bibirnya. Mengenakan seragam yang disetrika amat rapi, sepatu bermerek yang mengilap, serta polesan riasan tipis yang sempurna, Lexa menikmati setiap pandangan kagum dari siswa-siswa lain. Hani, Aurel, dan Lana berjalan di belakangnya bagaikan pengawal, makin memupuk rasa percaya diri Lexa yang membumbung tinggi hingga ke langit.

Bagi Lexa, hari itu bukan lagi tentang ajang pembuktian ilmu pengetahuan, melainkan ajang pamer kehormatan palsu. Ia berjalan melewati kerumunan dengan penuh rasa percaya diri karena di dalam kepalanya, deretan pola abjad A, B, C, D dari kunci jawaban yang ia curi dari berkas papanya telah tertanam rapi. Ia merasa telah menggenggam piala Juara Pertama bahkan sebelum bus sekolah yang membawa mereka berangkat.

Sementara itu, berdiri di sudut panggung yang jauh lebih sepi, Maya menundukkan kepala seraya meremas tali ransel kusamnya. Penampilannya sangat sederhana seragam yang agak pudar dan kacamata tebal yang bertengger di hidungnya. Ketika nama Maya dipanggil oleh Kepala Sekolah sebagai perwakilan resmi bidang Biologi bersama Lexa, cibiran tipis dari beberapa siswa sempat terdengar, namun Maya memilih untuk tidak memedulikannya. Lexa melirik ke arah Maya dari sudut matanya dengan tatapan meremehkan yang teramat sangat. "Nanti setelah hari ini, lu bakal tahu rasanya dilempar balik ke dasar jurang, Maya", bisik Lexa di dalam hatinya dengan cengiran dingin.

Namun, satu hal besar yang sama sekali tidak pernah diketahui atau diperhitungkan oleh Lexa kemampuan otak Maya jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan oleh siapa pun di sekolah itu. Maya bukan sekadar menghafal teori ia memahami inti dari setiap interaksi molekuler, meresapi setiap rumus persilangan genetika, dan menguasai konsep-konsep tersulit hingga ke akar-akarnya. Gemblengan rasa sakit, penghinaan, dan malam-malam panjang belajar di bawah remang lampu minyak telah menempa otaknya menjadi sebuah senjata yang amat tajam dan mematikan.

Satu jam kemudian, rombongan peserta tiba di gedung aula megah tempat Olimpiade Sains tingkat Kota diselenggarakan. Ratusan peserta terpilih dari puluhan sekolah terbaik se-kabupaten dan kota telah berkumpul di dalam ruangan berpendingin udara yang amat luas. Suasana di dalam aula terasa begitu tegang dan mencekam bau kertas baru dan ketegangan akademik menyergap udara.

Para peserta dipersilakan duduk di meja masing-masing yang dipisahkan jarak cukup jauh. Maya ditempatkan di barisan tengah, sementara Lexa mendapat barisan di dekat lorong samping.Pengawas ujian yang berpakaian rapi melangkah ke depan panggung, membacakan tata tertib dengan suara tegas yang bergema di seluruh ruangan.

"Waktu pengerjaan adalah seratus dua puluh menit. Lembar soal terdiri dari pilihan ganda bernilai tinggi dan soal uraian analisis mendalam. Berdoa mulai... pengerjaan dimulai dari sekarang!"

Suara gemerisik ratusan lembar kertas yang dibuka secara bersamaan seketika memecah kesunyian aula.

Di mejanya, Maya menarik napas panjang, menenangkan debaran jantungnya, lalu membuka lembar pertama. Begitu matanya membaca baris-baris pertanyaan yang tertera di atas kertas, sebuah keajaiban kecil seolah terjadi di dalam kepalanya. Soal-soal yang bagi peserta lain merupakan labirin penuh jebakan rumit, di mata Maya terlihat bagaikan peta yang sangat terang benderang.

Tanpa ada rasa ragu sedikit pun, jemari Maya yang memegang pulpen langsung menari-nari di atas lembar jawaban. Maya mengerjakannya dengan sangat cekatan. Ia tidak hanya memilih jawaban, tetapi di lembar corat-coretnya, ia dengan lincah menguraikan skema persilangan genetika, menuliskan rumus-rumus hukum Mendel, dan merangkai kalimat analisis biokimia dengan begitu rinci, sistematis, dan elegan. Logika berpikirnya mengalir deras tanpa hambatan, membuktikan ketelitian murni hasil dari kerja keras yang jujur.

Di sisi lain aula, suasana yang sangat berbeda terjadi di meja Lexa.Lexa memegang pulpen mewahnya dengan santai. Ia membuka lembar soal hanya sebagai formalitas belaka, bahkan tidak repot-repot membacanya. Tatapannya hanya tertuju pada lembar jawaban komputer. Dengan ingatan visualnya tentang pola kunci jawaban yang berhasil ia hapal dari email papanya, Lexa menghijaukan bulatan-bulatan pilihan ganda dengan sangat cepat."Nomor satu A, nomor dua C, nomor tiga D, nomor empat B..."

Lexa tersenyum tipis di balik wajah angkuhnya. Proses ini terasa begitu mudah dan instan baginya. Tanpa perlu memeras otak, tanpa perlu merasa pusing memikirkan teori metabolisme atau rumus fisika yang rumit, ia bisa menyelesaikan puluhan soal pilihan ganda hanya dalam waktu kurang dari dua puluh menit.

Namun, keangkuhan Lexa mendadak sedikit tertahan saat matanya bergulir ke bagian akhir lembar ujian soal uraian analisis.Di bagian itu, soal tidak lagi berbentuk pilihan ganda, melainkan pertanyaan terbuka yang mengharuskan peserta menuliskan langkah-langkah pembuktian rumus dan analisis data laboratorium secara mendalam. Kunci jawaban yang dicuri Lexa memang memuat ringkasan poin jawaban, namun karena Lexa sama sekali tidak memahami dasar teorinya, kalimat-kalimat yang ia tulis di lembar jawaban tampak begitu kaku, dangkal, dan seperti salinan mentah tanpa pemahaman konsep yang utuh.

Lexa mengibaskan tangannya pelan, menganggap hal itu tidak penting. "Ah, yang penting pilihan gandanya benar semua. Nilai gue pasti tetap paling tinggi," bisiknya menenangkan diri sendiri.

Ia melirik ke arah tengah ruangan, melihat Maya yang masih fokus menunduk, menulis lembar uraian dengan tulisan tangan yang rapi dan deretan rumus yang memenuhi kertasnya. Lexa menyunggingkan senyum mengejek, membayangkan momen beberapa jam lagi ketika pengumuman skor dibacakan di atas panggung kehormatan.

Lexa bersandar santai di kursinya, menyilangkan tangan di dada, dan membiarkan waktu ujian berlalu tanpa usaha tambahan. Ia merasa menjadi pemenang mutlak di atas panggung kecurangan yang ia bangun sendiri. Sementara di meja lain, Maya terus menggoreskan tinta pulpennya hingga titik darah penghabisan berjuang dengan seluruh jiwa dan kejujuran otaknya demi merebut takdir yang berhak ia dapatkan.

1
Hadi Mulyono
seru ceritanya
Hadi Mulyono
jaman sekarang jangankan anak orang kaya .anak orang biasa ga pny aja bnyk yg kelakuan gayanya kaya orang kaya .kasihan maknya jg
Hadi Mulyono
kapan nih pindah jiwa maya
Hadi Mulyono
di awal cerita SDH menarik semoga bab nya ga terlalu panjang yg penting pny kualitas isi yg bagus
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!