SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: HUKUMAN UNTUK PEMERAS
Sore harinya, langit di atas SMA Garuda mendung pekat. Suasana area belakang tempat parkir sekolah yang berbatasan langsung dengan gudang olahraga tampak begitu sepi. Hanya ada desir angin dingin yang menyapu dedaunan kering di atas tanah.
Reno berdiri di balik tembok gudang, bersandar santai sembari memutar-mutar ponsel di tangannya dengan senyum puas. Ia membayangkan rasa panik Aluna yang sebentar lagi akan berlutut memohon padanya.
Namun, langkah kaki berat yang mendekat bukan berasal dari seorang gadis yang ketakutan.
Brak!
Sebelum Reno sempat bereaksi, sebuah tangan kekar mencengkeram kerah bajunya dan menghentakkannya ke dinding tembok bata gudang dengan kekuatan luar biasa.
Reno meringis menahan rasa sakit di punggungnya. Saat ia mendongak, tatapannya langsung bertabrakan dengan iris cokelat gelap milik Devan. Tidak ada lagi raut siswa teladan atau kakak tiri yang santun di sana—wajah Devan begitu dingin, kelam, dan memancarkan aura membunuh yang sangat nyata.
"K-kau...?" bisik Reno, binar percaya dirinya seketika runtuh berganti kepanikan mendadak.
Devan tak mengucapkan sepatah kata pun. Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, Devan mencengkeram pergelangan tangan Reno yang memegang ponsel, memutarnya ke belakang hingga terdengar bunyi gemeretak halus dan jeritan tertahan dari mulut Reno.
"Aaghh! Lepas!" jerit Reno terengah-engah.
Devan merebut ponsel dari tangan Reno, lalu menghantamkan ponsel itu ke lantai semen dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping di bawah sol sepatunya.
"Foto aslinya ada di mana lagi?" tanya Devan dengan suara yang amat rendah, serak, dan penuh tekanan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
"N-nggak ada! Cuma di ponsel itu!" sahut Reno terbata-bata, tubuhnya gemetar hebat dalam kungkungan Devan. Pria di depannya ini sama sekali bukan lawan yang bisa ia intimidasi. Devan benar-benar berbahaya.
Devan mendekatkan wajahnya ke telinga Reno, mencengkeram rahang cowok itu hingga Reno tak bisa berkutik.
"Dengarkan aku baik-baik," bisik Devan dingin, setiap kata ditancapkan seperti belati. "Kalau sampai aku mendengar ada satu kata atau rumor sekecil apa pun soal Aluna di sekolah ini... bukan cuma sekolahmu yang hancur. Aku pastikan kamu dan keluarga keluargamu tahu akibatnya. Paham?"
Reno mengangguk cepat dengan wajah pucat pasi. "P-paham... aku janji nggak akan ganggu Aluna lagi!"
Devan melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membiarkan Reno jatuh terduduk di tanah sembari memegangi tangannya yang kesakitan. Tanpa menoleh lagi, Devan berbalik dan melangkah meninggalkan area gudang.
Di dalam mobil Devan yang terparkir agak jauh dari area sekolah, Aluna duduk meremas jemarinya yang dingin. Air matanya hampir menetes karena cemas menunggu Devan yang tak kunjung kembali.
Cklek.
Pintu pengemudi terbuka. Devan masuk ke dalam kabin dan langsung mengunci seluruh pintu.
"Kak Devan!" cicit Aluna panik, menatap Devan yang sedang merapikan lengan kemejanya. "Gimana? Reno—"
Devan memotong kata-kata Aluna dengan merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Ia menarik Aluna ke pangkuannya, mengurung gadis itu rapat-rapat di dadanya seraya mengecup kening dan pipi Aluna dengan sangat posesif dan mendalam.
"Semuanya sudah selesai," bisik Devan serak di leher Aluna, menyalurkan kehangatan dan rasa aman yang mutlak. "Foto itu sudah hancur. Reno nggak akan pernah berani mendekat atau mengusik kamu lagi."
Aluna menyandarkan kepalanya di bahu tegap Devan, menghembuskan napas lega yang panjang. Rasa takutnya meleleh sepenuhnya di dalam dekapan pria yang selalu siap menjadi benteng pelindungnya dari ancaman dunia luar.