Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Reinkarnasi Menjadi Usia 15 Tahun — Part 9
[Location of origin: Yamada's grave. Behind the house, under the old maple tree.]
Yamada menatap bunga putih di tangannya. Bunga dengan lima kelopak yang berkilauan seperti terbuat dari embun beku dan cahaya bulan, yang tadi tiba-tiba ada di ambang jendela setelah perempuan rambut putih itu menghilang.
Untuk beberapa saat, dia tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada komentar malas, tidak ada keluhan "repot". Hanya diam. Diam yang panjang dan berat.
Bunga itu terasa dingin di telapak tangannya. Terlalu dingin untuk sebuah bunga yang baru dipetik. Dinginnya bukan dingin es biasa, tapi dingin yang meresap ke tulang, dingin seperti memegang sesuatu yang sudah lama berada di dalam tanah yang lembab dan gelap.
"Jadi ini berasal dari makamku." Gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun. Suaranya serak karena malam yang panjang dan penuh teriakan.
Bukan makamku. Makam kita. Atau... makam tubuh ini.
Suara kesadaran kedua, Yamada yang asli, terdengar pelan, sangat pelan, hampir tidak berani. Suara itu terdengar sedih, bukan takut lagi.
"Ya." Yamada mengangguk pelan, menatap kelopak bunga yang hampir transparan itu. "Makammu. Makam anak 10 tahun yang meninggal lima tahun lalu. Yang ayah gali sendiri dengan tangannya."
Kalau begitu kenapa bunga itu bisa berada di tanganmu sekarang? Kenapa bunga yang tumbuh di atas makamku yang kosong bisa muncul di jendela kamar kita malam ini, setelah perempuan itu datang?
"Itulah yang harus kita cari tahu." Jawab Yamada, matanya tidak lepas dari bunga itu. "Kenapa makam yang seharusnya berisi tulang, kosong, dan malah menumbuhkan bunga yang bisa muncul tiba-tiba di jendela."
Yamada memutar bunga tersebut perlahan di antara jari-jarinya. Tidak ada duri di tangkainya. Tidak ada daun. Hanya satu tangkai putih pucat, lurus, dengan lima kelopak di ujungnya yang terbuka sempurna. Kelopaknya tipis, hampir transparan, dengan urat-urat halus berwarna perak yang berkilauan saat terkena cahaya bulan dari jendela. Tidak ada serbuk sari.
[Requiem Flower]
[Rank: Unknown - Cannot be classified by current system level.]
[Effect: Unknown]
[Description: A flower that blooms only where a soul has died and has been forcibly kept alive. A flower that grows on a grave that should not be empty.]
Yamada mengangkat alis, membaca deskripsi yang muncul di samping bunga itu.
"Kenapa semuanya tidak bisa dianalisis? Dari pedang tua di dinding, monster bertanduk tiga, perempuan rambut putih, sampai bunga ini. Semuanya Unknown. Sistem ini kerjanya apa selain bilang Unknown?"
[Insufficient authority. Host does not have permission to access information of this tier.]
"Authority? Authority siapa? Authority-ku sebagai pemilik tubuh? Atau authority sistem itu sendiri yang belum cukup tinggi?" Tanya Yamada, menangkap kata kunci baru.
[Affirmative. Authority level of host is insufficient. Authority level of system is also insufficient for this item.]
"Authority siapa yang cukup, kalau begitu?" Desak Yamada.
Sistem diam. Jendela itu berkedip sekali, lalu tidak menjawab, seolah-olah pertanyaan itu adalah pertanyaan terlarang.
Yamada menghela napas panjang. Napas lelah yang sudah kesekian kalinya malam ini.
"Sudah kuduga. Jawaban andalanmu: diam."
Dia meletakkan bunga tersebut di atas meja belajarnya yang kayu, di sebelah buku Sejarah Asteria yang masih terbuka di bab Hutan Elaria. Dia pikir, setidaknya bunganya bisa dia simpan, mungkin besok bisa dia tunjukkan pada ayahnya, mungkin ayahnya tahu apa itu Requiem Flower.
Namun ketika tangannya terlepas dari tangkai bunga itu— ketika sentuhannya terlepas sepenuhnya—
bunga itu tiba-tiba berubah menjadi cahaya. Bukan layu, bukan hancur, tapi berubah.
FWOOSH!
Suara seperti angin yang berhembus kencang dari dalam bunga itu. Cahaya putih yang sangat terang, putih bersih, bukan putih kekuningan seperti lampu minyak, tapi putih murni seperti cahaya bulan purnama yang dikumpulkan menjadi satu titik, meledak dari kelopak bunga itu.
Yamada mundur selangkah, menyipitkan mata karena silau, mengangkat tangan untuk melindungi matanya.
Cahaya putih itu memenuhi kamar yang kecil itu dalam sekejap. Dinding kayu, langit-langit, lantai, semuanya menjadi putih. Bayangan Yamada menghilang ditelan cahaya.
Kemudian, saat cahaya itu sedikit meredup, sebuah lingkaran sihir muncul di lantai kayu kamarnya. Lingkaran sihir yang besar, hampir memenuhi seluruh lantai kamar, dengan diameter dua meter.
Simbol-simbol yang sama seperti lingkaran tempat dia ditemukan dua hari lalu di hutan, tapi jauh lebih rumit, jauh lebih indah, dan berputar perlahan, searah jarum jam, dengan cahaya putih dan sedikit semburat merah di tepinya.
Yamada menatapnya, dengan jantung berdebar kencang.
"Ini... lingkaran ini..."
Itu lingkaran dari hutan. Lingkaran tempat aku mati. Suara Yamada yang asli berbisik, dengan nada takut dan rindu bercampur.
"Ya. Tapi versi yang lebih lengkap. Yang ini utuh."
Lingkaran itu berputar perlahan, mengeluarkan suara dengungan rendah, seperti lebah raksasa. Simbol-simbol di dalamnya menyala satu per satu.
Kemudian sebuah suara terdengar. Bukan suara sistem yang mekanis. Bukan suara perempuan rambut putih yang lembut tapi dingin. Bukan suara kesadaran kedua yang panik.
Suara seorang anak laki-laki. Suara yang sangat familiar bagi salah satu dari mereka.
"Yamada."
Yamada membeku. Darahnya berhenti mengalir. Bulu kuduknya berdiri dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Suara itu... adalah suaranya sendiri. Tapi jauh lebih muda. Suara anak laki-laki 10 tahun. Suara yang belum pecah, suara yang masih polos, tapi penuh dengan tekad dan kesedihan.
"Apa?" Bisiknya.
Lingkaran sihir bersinar semakin terang, dan di atas lingkaran itu, di udara, sebuah gambaran muncul. Seperti proyeksi hologram dari cahaya, tapi jauh lebih nyata, seperti jendela ke masa lalu.
Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun, dengan wajah yang sama persis dengan wajah Yamada yang ada di cermin, tapi lebih kecil, lebih bulat, dengan mata yang masih penuh air mata yang belum kering. Dia berdiri di depan sebuah makam kecil yang baru digali, tanahnya masih basah dan gembur.
Makam itu kecil, hanya seukuran tubuh anak 10 tahun. Di depannya ada batu nisan kayu sederhana yang baru dibuat, dengan tulisan yang masih kasar: YAMADA - 10 TAHUN.
Di depan makam itu ada seorang pria dan seorang wanita yang menangis tersedu-sedu, berlutut di tanah. Ayah dan ibunya, tapi versi lima tahun lebih muda. Ayah yang belum beruban, ibu yang belum memiliki kerutan sedalam sekarang.
Yamada memperhatikan gambaran itu dengan napas tertahan.
Kemudian anak itu, anak 10 tahun yang seharusnya sudah mati dan ada di dalam makam itu, berlutut di depan makamnya sendiri. Tangannya yang kecil menyentuh tanah basah makam itu.
"Aku akan kembali." Bisik anak itu, dengan suara yang bergetar, tapi penuh janji. "Aku janji, Bu, Ayah, Kakak... aku akan kembali. Tunggu aku."
Yamada mengerutkan kening, tidak mengerti.
Apa itu? Apa maksudnya dia berjanji akan kembali? Bukankah dia sudah mati?
"Aku tidak tahu." Jawab Yamada yang pendatang, dengan suara pelan.
Gambaran itu berubah, seperti adegan film yang berganti.
Anak 10 tahun itu kini berdiri di tengah hutan, di tengah lingkaran sihir putih dan merah yang sama dengan yang ada di lantai kamar sekarang. Di depannya berdiri seorang perempuan berambut putih panjang sampai ke tanah, mata merah menyala indah, wajah tenang tanpa ekspresi. Perempuan yang sama yang baru saja berdiri di atas pagar.
Perempuan yang sama yang menawarkan kontrak lima tahun.
"Jika kau ingin kembali... jika kau ingin melihat ibumu lagi, jika kau ingin menepati janjimu pada kakakmu..." Perempuan itu berkata, dengan suara yang lembut tapi bergema.
"...kau harus membayar harganya. Tidak ada kebangkitan yang gratis. Dunia ini tidak mengizinkan jiwa yang sudah pergi untuk kembali tanpa harga."
Anak 10 tahun itu mengangguk, tanpa ragu, dengan mata yang penuh air mata tapi penuh tekad.
"Aku siap. Apapun harganya. Ambil apapun dariku. Aku hanya ingin kembali. Aku ingin melihat Ibu tidak menangis lagi."
"Apapun? Bahkan jika harganya adalah kau tidak akan pernah menjadi dirimu yang seutuhnya lagi? Bahkan jika kau harus berbagi tubuhmu dengan orang lain? Bahkan jika kau harus tidur selama lima tahun?"
"Apapun." Jawab anak itu.
Perempuan itu tersenyum, senyum sedih yang sama. Kemudian menempelkan tangannya yang pucat ke dada anak itu, tepat di jantungnya.
Cahaya merah darah muncul dari telapak tangannya, masuk ke dalam dada anak itu.
Anak itu berteriak pelan, bukan karena sakit, tapi karena terkejut, lalu jatuh pingsan, tergeletak di tengah lingkaran sihir.
Yamada menatap adegan itu dengan wajah kaku, dengan tangan mengepal.
"Berhenti. Jangan lanjutkan. Aku tidak ingin melihatnya."
Tapi gambaran itu tidak berhenti. Proyeksi itu terus berjalan, seperti sudah diatur untuk menunjukkan semuanya.
Perempuan berambut putih itu mengangkat tubuh anak 10 tahun yang pingsan itu dengan mudah, seolah-olah tubuh itu tidak memiliki berat. Menggendongnya seperti menggendong anaknya sendiri.
Kemudian berkata, dengan suara yang terdengar jelas di seluruh kamar yang dipenuhi cahaya putih,
"Lima tahun. Aku akan menjaganya selama lima tahun. Aku akan membuatnya tumbuh, aku akan membuatnya bernapas, aku akan membuatnya hidup sebagai Yamada, sampai pemilik yang seharusnya datang. Sampai waktunya tiba."
Gambaran berubah lagi, dengan cepat, seperti montase waktu.
Satu tahun berlalu. Tubuh anak 10 tahun itu terbaring di dalam sebuah kepompong cahaya putih di tengah Hutan Elaria, di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun. Tubuhnya tumbuh sedikit.
Dua tahun. Tubuhnya tumbuh menjadi 11 tahun, wajahnya sedikit berubah.
Tiga tahun. 12 tahun.
Empat tahun. 13 tahun, mulai terlihat seperti remaja.
Lima tahun. Tubuh itu berubah, tumbuh dengan cepat dalam cahaya, dari 10 tahun menjadi 11, 12, 13, 14, dan akhirnya...
Lima belas. Usia 15 tahun. Wajah yang sama persis dengan wajah yang ada di cermin kamar Yamada sekarang. Tubuh yang sama persis yang sedang berdiri menonton proyeksi ini.
Dan tepat ketika tubuh itu mencapai usia lima belas tahun, tepat ketika detak jantungnya menjadi stabil sebagai remaja 15 tahun
gambaran tersebut berhenti, membeku.
Kemudian perempuan berambut putih itu, yang masih menggendong tubuh itu dalam pelukannya selama lima tahun, menatap ke arah langit-langit hutan, seolah-olah menatap menembus waktu dan ruang, menatap langsung ke arah Yamada yang sedang menonton dari masa depan, dari kamarnya, dan berkata:
"Sudah waktunya. Waktunya untukmu kembali, Yamada. Yang asli dan yang baru."
Cahaya putih yang memenuhi seluruh ruangan meledak, jauh lebih terang dari sebelumnya, memaksa Yamada menutup matanya dengan kedua tangan, dengan mata terpejam rapat.