NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman tak terduga

Malam itu, Vania tak berani kembali ke kamarnya sendiri. Takut bertemu dengan Melati dan Sinta yang mungkin sudah mendengar keributan di lobi asrama.

Ia memilih berjalan tanpa arah, akhirnya duduk sendirian di sebuah bangku taman kecil di belakang gedung asrama, tempat yang biasanya sepi pengunjung di malam hari. Isak tangisnya masih terdengar lirih, tubuhnya bergetar menahan dingin malam sekaligus kepedihan yang begitu menyayat.

Tak jauh dari sana, Haruna yang kebetulan baru saja menyelesaikan panggilan telepon dengan Reynan, tanpa sengaja melewati area itu. Langkahnya terhenti begitu mendengar suara isak tangis yang begitu familiar. Ia menoleh, dan mendapati sosok Vania yang duduk meringkuk sendirian, wajahnya basah oleh air mata, jauh berbeda dari sikap angkuh yang biasa ia tunjukkan.

Meski selama ini Vania selalu bersikap kasar dan merendahkannya, hati Haruna yang begitu lembut tak sanggup melihat seseorang menangis sendirian dalam kegelapan malam tanpa berusaha membantu. Ia melangkah pelan mendekat, mengeluarkan sebungkus tisu dari dalam tasnya.

"Vania," panggil Haruna lembut, menyodorkan tisu itu.

Vania mendongak, terkejut mendapati sosok yang paling ia benci kini berdiri di hadapannya. Wajahnya yang basah oleh air mata segera berubah galak, meski suaranya masih terdengar bergetar. "Ngapain kamu di sini? Pergi sana! Aku nggak butuh belas kasihan dari kamu!"

Haruna tak menghiraukan penolakan itu. Dengan tenang, ia justru duduk di sebelah Vania, mengabaikan tatapan tajam yang dilayangkan kepadanya.

"Aku bilang pergi!" bentak Vania lagi, mendorong bahu Haruna kasar.

Namun Haruna tetap bergeming, tak sedikit pun beranjak dari duduknya. "Aku cuma mau nemenin sebentar, kok. Nggak akan ngomong apa-apa kalau kamu nggak mau."

Mendengar jawaban itu, Vania terdiam. Tak menyangka respons semacam itu akan keluar dari gadis yang selalu ia rendahkan. Keheningan menyelimuti mereka berdua untuk beberapa saat, hanya suara jangkrik malam yang mengisi kesunyian.

Setelah beberapa lama, Haruna akhirnya membuka suara. Namun bukan dengan nada menggurui atau menasihati seperti yang biasa dilakukan orang lain. "Kamu tahu nggak, rasanya gimana punya orangtua yang marah-marah sama kamu?"

Vania melirik sinis. "Ya jelas nggak enak lah, kamu lihat sendiri tadi."

"Aku juga nggak tahu rasanya," lanjut Haruna pelan, suaranya begitu tenang, "soalnya aku nggak pernah punya kesempatan buat ngerasain itu. Aku dibuang sama orangtua kandungku waktu masih bayi, cuma karena kakiku nggak sempurna kayak gini."

Kata-kata itu membuat Vania terdiam, matanya menatap Haruna dengan tatapan yang mulai berubah, meski masih menyisakan sedikit keraguan.

Haruna melanjutkan ceritanya, bukan dengan nada memelas atau meminta simpati. Melainkan sekadar berbagi kisah yang selama ini jarang ia ceritakan kepada orang lain. Ia menceritakan bagaimana Nek Lasmi menemukannya menangis sendirian di teras rumah kosong, bagaimana wanita tua itu membesarkannya dengan penuh cinta meski hidup dalam keterbatasan, hingga akhirnya kepergian sang nenek yang begitu menyayat hati.

Awalnya Vania hanya mendengarkan dengan sikap acuh tak acuh. Namun lambat laun cerita itu berhasil menarik perhatiannya sepenuhnya, hingga tanpa sadar ia mulai larut dalam setiap kata yang diucapkan Haruna.

"Terus... orangtua kamu sekarang di mana?" tanya Vania akhirnya, rasa penasaran mengalahkan kebenciannya.

"Aku nggak tahu," jawab Haruna jujur, "dan aku juga udah nggak punya siapa-siapa lagi sekarang. Nenek yang ngerawat aku juga udah meninggal beberapa bulan lalu."

Mendengar pengakuan itu, sesuatu di dalam hati Vania mulai bergejolak. Sebuah perasaan yang sulit ia definisikan... campuran antara rasa bersalah dan iba yang selama ini tak pernah ia rasakan terhadap siapa pun.

Merasa Vania sudah mulai membuka hatinya, Haruna akhirnya melanjutkan dengan lebih berani. "Vania, aku tahu kamu marah sama orangtua kamu. Tapi coba deh sadar, kamu masih punya mereka. Masih ada orang yang peduli sama kamu, walau caranya mungkin nggak seperti yang kamu mau."

"Peduli?" Vania mendengus sinis, "mereka cuma peduli sama nama baik mereka sendiri. Kalau soal aku, mereka nggak pernah bener-bener peduli."

"Tapi mereka tadi sampai dateng ke sini, kan? Sampai marah-marah gitu karena khawatir sama kelakuan kamu?" balas Haruna lembut.

"Yang aku butuhin itu bukan uang atau kekayaan," Vania akhirnya meledak, suaranya bergetar menahan emosi yang selama ini terpendam, "yang aku butuhin itu waktu mereka! Perhatian mereka! Bukan cuma dikasih uang jajan banyak terus ditinggal kerja lagi!"

Mendengar keluhan itu, Haruna justru tertawa kecil. Membuat Vania mengernyit heran, bingung dengan respons yang tak terduga itu.

"Kamu tahu, nggak," ucap Haruna setelah tawanya mereda, "gimana beratnya hidup tanpa uang? Aku dan Nenek dulu tinggal di gubuk reyot, atapnya bolong di mana-mana, kalau hujan derasnya sampai bocor ke mana-mana. Makan pun kadang cuma nasi sama garam, kalau lagi beruntung baru bisa makan telur."

Vania terdiam, tak menyangka akan mendengar cerita sepahit itu.

"Kamu itu beruntung banget, Vania," lanjut Haruna, "orangtua kamu kerja keras mati-matian, mungkin salah satu alasannya biar kamu nggak pernah ngerasain kesusahan kayak yang mereka alami dulu. Mereka mungkin nggak sempurna, tapi mereka udah berusaha keras buat kasih yang terbaik buat kamu."

Kata-kata itu menghantam hati Vania begitu dalam. Untuk pertama kalinya, ia melihat perjuangan orangtuanya dari sudut pandang yang berbeda. Sesuatu yang selama ini tak pernah terpikirkan olehnya di tengah kekesalan dan kesepian yang terus menggerogoti hatinya.

"Tapi... aku capek Har," bisik Vania pelan, air matanya kembali menetes. Kali ini bukan karena amarah, melainkan kesedihan yang begitu tulus. "Dari kecil aku selalu sendirian di rumah gede itu. Nggak ada yang bisa diajak ngobrol, nggak ada yang nemenin makan malam. Semua yang aku lakuin, semua kenakalan yang aku bikin, sebenarnya cuma karena aku pengen mereka lihat aku, pengen mereka perhatiin aku, walau cuma sebentar aja."

Mendengar pengakuan jujur itu, Haruna menatap Vania dengan pandangan penuh pengertian. "Vania, kamu pernah nggak ngomong semua itu langsung ke orangtua kamu? Dari hati ke hati?"

Vania menggeleng pelan. "Nggak pernah. Setiap kali mereka marah, aku cuma bisa diem atau malah balik marah. Nggak pernah beneran cerita apa yang aku rasain."

"Coba deh," saran Haruna lembut, "coba kamu minta maaf sama mereka, terus ngomong dari hati ke hati. Ceritain semua yang kamu rasain, apa yang kamu butuhin dari mereka. Terus, dengerin juga apa yang mereka mau dari kamu. Mungkin selama ini kalian cuma salah paham aja, nggak pernah bener-bener saling ngomong."

Vania terdiam, merenungkan kata-kata itu dalam-dalam. Sesuatu yang begitu sederhana namun belum pernah ia coba lakukan sepanjang hidupnya.

Melihat waktu yang sudah semakin larut, Haruna akhirnya bangkit dari duduknya, bersiap untuk kembali ke kamarnya sendiri. Namun sebelum melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah Vania.

"Vania," ucapnya pelan, "percaya deh, hidup tanpa orangtua itu nggak enak sama sekali. Aku udah ngerasain sendiri gimana sepinya nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Jadi, selagi masih ada kesempatan, jangan sia-siain orangtua kamu, ya."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Haruna berbalik. Melangkah tertatih menuju gedung asrama, meninggalkan Vania yang masih duduk termenung di bangku taman itu, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Vania menatap punggung Haruna yang perlahan menjauh, hatinya dipenuhi perasaan yang begitu campur aduk.

Gadis yang selama ini selalu ia rendahkan, yang baru saja ia bully habis-habisan, kini justru menjadi satu-satunya orang yang menemaninya di saat-saat paling terpuruk dalam hidupnya. Tanpa sedikit pun menghakimi, tanpa sedikit pun menyalahkan atas semua kelakuan buruk yang pernah ia lakukan.

"Kenapa dia baik banget, sih," gumam Vania pelan pada dirinya sendiri, air mata kembali menetes. Namun kali ini bukan lagi air mata kemarahan, melainkan air mata penyesalan yang begitu dalam.

Untuk pertama kalinya, Vania mulai mempertanyakan segala sikap buruk yang selama ini ia tunjukkan kepada Haruna. Seorang gadis yang ternyata memiliki hati yang jauh lebih besar dan tulus dibandingkan siapa pun yang pernah ia temui.

Meski hidupnya sendiri dipenuhi begitu banyak luka dan kepedihan yang jauh lebih berat dari apa yang selama ini Vania rasakan.

1
Ilfa Yarni
emang gmn cara km tes drive
Muft Smoker
test Drive ,, test Drive ,, Dy fikir si Haruna sirkuit Mandalika kali yx/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilfa Yarni
jgn coba comblangin haruna dgn laki2 lain ya vania
Sayekti 0519
bukannya tobat ,malah laknat.seharusnya ada jln untuk sadar.terima dengan niat baik
Ilfa Yarni
awas ya reynan jgn sampe luluh km
Muft Smoker
astgaaaa ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Sayekti 0519
ngerawat nenek lah.balas budi.kuliah bisa menyusul.
Muft Smoker
semoga Bagas cepat dpat karma ny ,,
Ilfa Yarni
aku ingin bagas cepat hancur jahat banget jadi manusia
Muft Smoker
tunggu karma menghampiri mu Bagas ,,
Ilfa Yarni
dasar orangtua jahat tunggu lah kehancuranmu suatu saat keboho ganmu terbongkar
Muft Smoker
semangat Haruna ,, jgn biarkan pak Bagas meremehkan mu ,,
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
Ilfa Yarni
Ya ampun ga nyangka Ada orangtua yg seperti ini aku doakan Haruna cepat jadi konglomerat Dan bagas hancur oleh perbuatannya sendiri
Muft Smoker
yakin laa reynan kalo Haruna bakal bisa melewati semua ini ,, udh banyak pahit kehidupan yg di lalui haruna ,,
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,
Ilfa Yarni
tenang aja reynan haruna akan membuktikannya klo dia bisa sukses km cukup doakan saja dan of saat nya tiba bagas akan menyesal perbuatannya
Ilfa Yarni
nah lol feeling ga ya nyonya larasati pd Haruna bahwa Haruna adalah ank kandungnya biasanya antara ibu Dan ank itu Ada ikatan bathin yg kuat
Dew666
💟
Ilfa Yarni
aduh hbs penasaran dongv thor Mana upnya cuma 1 sehari
Ilfa Yarni
haruna ank kandung km bagas yg km buang sesudah Lahir krn cacat
Ilfa Yarni
duh aplg ini ora gtua ga bener ini mah pdhl itu ank kandungnya sendiri di benci hanya krn reputasinya semoga saja perusahaannya hancur dan haruna jadi gadis sultan dikenal dunia baru lah menyesal km bagas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!