Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
Tepat pukul empat sore, derum halus mesin Rolls-Royce Phantom milik Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo melintasi pintu gerbang besi tempa mansion-nya. Arya sengaja mengosongkan agenda rapat sore dan melangkah keluar dari Soerjoatmodjo Tower lebih cepat dari biasanya. Rasa penasaran mengalahkan kedisiplinan kerjanya—ia ingin menyaksikan langsung wujud Aston Martin DBS Superleggera berwarna Royal Maroon seharga puluhan miliar rupiah yang mendarat di pelataran rumahnya atas nama sang istri.
Begitu mobilnya berhenti di pelataran berkerikil putih, mata kelam Arya langsung disambut oleh kilau bodi supercar eksotik berwarna deep maroon yang sudah terparkir megah di teras utama.
Sudut bibir Arya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan ketertarikan. "Benar-benar selera yang sangat mahal, Nyonya Soerjoatmodjo," gumamnya pelan seraya melangkah turun dari mobil, merapikan kancing jas navy-nya.
Namun, ketenangan Arya tak bertahan lama begitu kaki lengannya melangkah melewati pintu ganda utama. Suara perdebatan dengan nada tinggi dan dingin memecah keheningan foyer lantai dua.
Sudut bibir Arya terangkat perlahan. "Satu dari lima unit di dunia..." gumamnya rendah seraya merapikan jas navy-nya. "Daya rusak Black Card milikmu sungguh mengagumkan, Lilianne."
Namun, begitu Arya melangkah melewati pintu ganda utama, suasana tenang di foyer langsung menguap. Suara derap langkah high heels yang menghentak keras di marmer lantai dua berpadu dengan ketegangan yang membumbung tinggi dari arah walk-in closet kamar utama.
Beberapa menit sebelumnya, Lilianne baru saja tiba di kamar dengan kawalan empat pengawal yang mengangkut tumpukan kantong belanjaan brand mewah. Senyum puas di bibir cantiknya menguap seketika begitu melangkah masuk ke dalam area walk-in closet pribadinya.
Di sana, Widya berdiri dengan gestur berkuasa, mengawasi tiga pelayan muda yang sibuk memindahkan deretan koper, kotak perhiasan, dan gaun-gaun impor milik Lilianne dari rak utama ke atas sofa santai.
"Apa yang sedang kamu lakukan di ruangan pribadiku, Widya?" tegur Lilianne tajam. Suara dinginnya membuat para pelayan muda refleks menunduk takut.
Widya membalikkan badan dengan ketenangan yang dibuat-buat, memamerkan senyum profesional kaku khasnya. "Selamat sore, Ibu. Saya hanya sedang mengamankan dan memindahkan barang-barang pribadi Ibu ke ruang penyimpanan sementara."
Lilianne melangkah mendekat, netra hijaunya memancarkan kilatan perlawanan yang dingin. "Mengamankan barangku? Atas izin siapa kamu menyentuh walk-in closet pribadiku tanpa sepatah kata pun pemberitahuan?"
"Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai Kepala Pelayan di mansion ini, Ibu," jawab Widya lugas, matanya menatap Lilianne tanpa keraguan.
"Tugasmu tidak mencakup mengacak-acak barang pribadiku!" desis Lilianne, menyilangkan tangan di dada. "Ini kamarku. Dan aku adalah Nyonya di rumah ini. Tegaskan batasanmu!"
Tepat saat benturan ego itu menghebat, suara langkah kaki yang mantap mendekat dari pintu lorong. Arya Sena muncul di ambang pintu walk-in closet, melonggarkan ikatan dasi navy-nya dengan gerakan santai yang tetap terpancar dominan.
"Ada keributan apa ini?" suara berat Arya memecah keheningan, menghentikan ketegangan di udara.
Lilianne menoleh cepat, langsung mengarahkan tatapan menuntut pada sang suami. "Bagus kamu sudah pulang, Mas Arya! Tolong beri tahu kepala pelayan kesayanganmu ini untuk tahu diri! Dia lancang sekali memindahkan barang-barang pribadi milikku tanpa izin!"
Arya mengalihkan pandangan kelamnya pada Widya, menaikkan sebelah alisnya. "Widya?"
Widya segera membungkuk dalam-dalam di hadapan Arya, suaranya mendadak melunak penuh pembelaan. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Arya. Saya tidak bermaksud lancang. Saya hanya bertindak cepat karena tiba-tiba datang tim desainer interior yang katanya dipesan langsung oleh istri Pak Arya Sena untuk merombak kamar pribadi ini. Hal itu sama sekali tidak ada di dalam rencana harian atau pemberitahuan sebelumnya kepada saya, Pak. Jadi saya panik dan berinisiatif memindahkan barang-barang agar tidak terkena debu perombakan."
Widya menekankan kata 'istri Pak Arya Sena' dengan nada yang menyiratkan kepolosan, seolah Lilianne adalah pihak yang bertindak impulsif tanpa berdiskusi.
Lilianne terkekeh sinis, melangkah satu digit lebih maju dengan dagu terangkat tinggi. Matanya menatap Widya dan Arya secara bergantian tanpa niat untuk mengalah sedikit pun.
"Tentu saja aku merombaknya tanpa persetujuanmu, Widya!" sahut Lilianne menohok. Suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan. "Karena ini adalah kamarku! Aku yang menempatinya sekarang sebagai Nyonya rumah ini. Aku berhak mengubah dekorasi ruangan mana pun yang aku mau. Lagipula, interior di kamar ini sudah terlalu kuno, kaku, dan membosankan untuk selera tinggiku. Selera museum tua seperti ini tidak cocok untuk Nyonya Soerjoatmodjo!"
Widya terdiam seketika, raut wajahnya menegang menahan malu akibat gertakan Lilianne yang secara tak langsung meremehkan tata ruang yang selama ini dijaganya.
Arya mengamati interaksi itu. Pria itu menyandarkan sebagian tubuhnya pada meja perhiasan berbahan porselen di tengah ruangan, memutar-mutar jam tangan platinum-nya. Rasa lelah akibat negosiasi akuisisi belasan triliun rupiah sepanjang hari berpadu dengan jetan notifikasi belanja fantastis istrinya. Namun bukannya marah, Arya justru menemukan hiburan tersendiri dari keberanian Lilianne yang tak tersentuh.
Arya melirik Widya dan para pelayan muda yang berdiri tegang.
"Kalian semua keluar," pangkas Arya singkat dan dingin.
"Baik, Pak Arya," jawab Widya menunduk pasrah, memimpin para pelayan keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
Ruangan itu kini hanya menyisakan Arya dan Lilianne. Lilianne bersedekap dada, menatap Arya dengan tatapan sengit. "Kenapa disuruh keluar? Kamu belum menegurnya, Mas Arya! Dia itu jelas-jelas mencoba menantang posisiku!"
Arya menghela napas panjang, mengurut pangkal hidungnya pelan. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman licik yang amat sangat tipis. Pria itu menatap Lilianne dari atas ke bawah.
"Lilianne..." panggil Arya dengan suara berat yang teramat santai. "...biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Mau dia memindahkan barangmu, mau kamu merombak kamar ini sampai habis, biarkan saja."
Lilianne membelalakkan matanya, tidak percaya. "Apa?! Kamu membiarkannya begitu saja?!"
Arya melangkah mendekati Lilianne, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma woody dan tobacco mewahnya kembali mengurung Lilianne sepenuhnya.
"Saya baru saja menyelesaikan akuisisi bisnis bernilai triliunan, Lilianne," ujar Arya rendah, menatap mata hijau istrinya yang menyala. "Lalu sepanjang hari ponsel saya tidak berhenti bergetar karena kamu memborong perhiasan, gaun haute couture, dan menaruh Aston Martin maroon di depan rumah saya. Kepala saya sudah cukup pusing dan lelah hari ini. Saya tidak punya energi untuk meladeni adu gengsi antar wanita di rumah ini."
"Mas Arya! Ini bukan cuma soal adu gengsi, ini soal hakku di rumah ini!" seru Lilianne murka.
Arya terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat seksi sekaligus menyebalkan bagi Lilianne. Pria itu menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Lilianne hingga napas hangatnya menyapu kulit leher halus sang istri.
"Jika kamu ingin menegaskan dominasimu sebagai Nyonya Soerjoatmodjo..." bisik Arya dengan nada amat memikat dan dominan. "...rombak saja rumah ini sesukamu. Habiskan uang saya sesukamu. Tapi jangan ganggu waktu istirahat saya malam ini, Ajeng."
Darah Lilianne mendidih, namun desiran aneh di dadanya tak mampu ia bendung akibat jarak mereka yang teramat dekat. Sebelum Lilianne sempat membalas, Arya sudah menegakkan tubuhnya, mengusap pelan puncak kepala Lilianne dengan senyum licik, lalu melangkah santai menuju kamar mandi tanpa beban.
Bersambung....
i got you 🔥🔥🔥
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥