NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Harga dirinya sebagai tengkulak terkaya di wilayah ini merasa sangat diinjak-injak oleh seorang pemuda kemarin sore.

"Anak sialan! Kau belum tahu sedang berhadapan dengan siapa hah!" ancam Juragan Haris menunjuk wajah Akbar.

"Namaku Haris, semua jalur distribusi beras, minyak, dan gula di kecamatan ini ada di bawah kendaliku!"

"Kalau kau berani membangun toko grosir di tanah ini, aku pastikan tidak akan ada satu pun agen yang mau mengirim barang ke tokomu!"

Mendengar ancaman monopoli bisnis yang sangat kotor itu, Risa yang bersembunyi di belakang punggung Akbar mulai ketakutan.

"Bar, Juragan Haris ini memang kejam, dia bisa memboikot toko kita sebelum buka," bisik Risa dengan suara gemetar.

Akbar sama sekali tidak terpengaruh oleh ancaman murahan dari mafia sembako kelas kampung tersebut.

Bagi orang yang baru saja bertransaksi miliaran rupiah di hotel bintang lima Jakarta, ancaman Juragan Haris terdengar seperti rengekan anak TK.

"Bapak mau memboikot toko saya? Silakan saja kalau bapak memang merasa sehebat itu," tantang Akbar tersenyum sinis.

"Lagipula saya punya cukup uang untuk mendatangkan distributor langsung dari pabrik pusat di Jakarta."

"Saya tidak butuh perantara lintah darat berkalung rantai anjing seperti bapak ini."

Jleb.

Hinaan telak bernada santai itu langsung menembus ulu hati Juragan Haris hingga membuatnya sesak napas menahan marah.

Belum pernah ada orang di kecamatan ini yang berani menghinanya dengan sebutan lintah darat secara langsung ke wajahnya.

"Kurang ajar! Habisi anak ini sekarang juga biar dia tahu sopan santun!" teriak Juragan Haris memberi perintah pada dua premannya.

Dua preman berbadan kekar itu langsung mengepalkan tinju mereka dan bersiap maju menerjang Akbar.

"Sistem, aktifkan Mata Hoki Level 2 sekarang," perintah Akbar di dalam kepalanya tanpa rasa panik sedikit pun.

Tiba-tiba pandangan mata Akbar berubah, dan deretan angka digital muncul melayang di atas kepala ketiga orang itu.

Angka merah menyala terang di atas kepala Juragan Haris menarik perhatian Akbar seketika.

[Tingkat Kesialan Fatal: 90 Persen.]

[Penyebab Kesialan: Gudang utama sembako miliknya di desa sebelah sedang dilalap api akibat korsleting listrik saat ini juga.]

Mata Akbar langsung berbinar gembira membaca informasi rahasia yang sangat menghancurkan tersebut.

Ternyata musuh sombong ini rumahnya sedang kebakaran, tapi dia malah sibuk mencari ribut di desa lain.

"Berhenti di situ!" teriak Akbar dengan suara menggelegar sebelum dua preman itu sempat melangkah maju.

Suara Akbar yang berat dan penuh dominasi membuat langkah kedua preman itu tertahan sejenak.

"Juragan Haris, daripada bapak sibuk mengurus tanah orang lain di sini, mending bapak urus dulu harta bapak sendiri."

Juragan Haris mengernyitkan dahinya bingung mendengar perkataan Akbar yang tiba-tiba melenceng dari topik.

"Apa maksud omonganmu anak tengik? Hartaku aman dan terus berlipat ganda setiap harinya!" sombong Juragan Haris.

"Oh ya? Yakin aman?" Akbar tersenyum sangat lebar dan misterius.

"Coba bapak telepon penjaga gudang bapak yang di desa sebelah sekarang juga, tanyakan apakah api sudah melahap habis stok beras bapak hari ini."

Tubuh Juragan Haris mendadak menegang kaku mendengar kata api dan gudang beras disebut secara bersamaan.

Firasat buruk yang sangat kuat tiba-tiba menghantam dadanya tanpa ampun.

"Kau jangan sembarangan menyumpahi gudangku sialan!" teriak Juragan Haris meski tangannya kini mulai gemetar meraih ponsel di saku celananya.

Dia menekan tombol panggil cepat ke nomor mandor gudangnya dengan perasaan yang sangat was-was.

Tuut tuut tuut.

Nada sambung berbunyi keras karena ponsel itu sengaja dia mode pengeras suara.

"Halo Bos Haris! Gawat Bos, tolong kami Bos!" teriak suara melengking penuh kepanikan dari seberang telepon.

"Ada apa ini Karman? Kenapa kau teriak-teriak histeris begitu hah!" bentak Haris dengan keringat dingin mulai bercucuran.

"Gudang utama kita kebakaran besar Bos! Apinya tiba-tiba muncul dari ruang panel listrik belakang!"

"Semua stok beras dan minyak goreng puluhan ton ludes terbakar tidak bersisa Bos, pemadam kebakaran belum datang!"

Blup.

Ponsel mahal itu langsung terlepas dari genggaman tangan Juragan Haris dan jatuh ke atas rumput.

Wajah tengkulak sombong itu seketika berubah menjadi sepucat mayat yang sudah kehabisan darah.

Matanya mendelik kosong menatap lurus ke depan, nyaris tidak percaya dengan kabar kiamat yang baru saja didengarnya.

Gudang utama itu adalah jantung dari seluruh kekayaannya, dan tidak ada asuransi yang melindungi bangunan ilegal tersebut.

Kedua preman bayarannya juga ikut melongo kebingungan mendengar bos mereka tiba-tiba bangkrut mendadak dalam satu menit.

Juragan Haris perlahan menoleh menatap wajah Akbar dengan pandangan penuh horor dan ketakutan absolut.

Bagaimana mungkin anak muda ini bisa tahu kalau gudangnya sedang terbakar padahal dia tidak memegang ponsel sama sekali dari tadi?

"Ka... kau... kau pasti yang menyuruh orang membakar gudangku kan!" tuduh Juragan Haris dengan suara bergetar pelan menahan tangis.

"Jangan memfitnah saya seenaknya Juragan Haris, saya dari pagi tadi sedang sibuk makan enak di ibu kota Jakarta," elak Akbar santai melipat tangannya.

"Itu murni karma instan karena bapak terlalu serakah dan suka memeras warung-warung kecil di desa ini."

Ting.

Suara jernih mekanis sistem langsung bergema di kepala Akbar merayakan kemenangan psikologisnya.

[Sistem menerbitkan Misi Utama Baru untuk Tuan selesaikan.]

[Detail Misi: Hancurkan sisa-sisa monopoli bisnis Juragan Haris di kecamatan ini dan jadikan tokomu sebagai penguasa tunggal.]

[Hadiah Penyelesaian Misi: 200 Poin Hoki dan satu Item Misteri Kelas Emas.]

Mata Akbar sedikit melebar membaca imbalan hadiah yang sangat gila dari sistem tersebut.

Item misteri kelas emas adalah tingkatan yang belum pernah dia sentuh sama sekali selama ini.

"Sekarang bapak mending cepat pulang sana, siapa tahu masih ada sisa abu beras yang bisa bapak makan untuk makan malam nanti," usir Akbar dengan nada mengejek.

Tanpa banyak bicara lagi, Juragan Haris memungut ponselnya dan langsung berlari terbirit-birit menuju mobilnya.

Dia bahkan tersandung batu dan jatuh tersungkur ke tanah saking paniknya, tapi dia langsung bangkit lagi mengabaikan rasa sakitnya.

Dua premannya buru-buru menyusul bos mereka masuk ke dalam kabin mobil.

Vrooom.

Mobil merah besar itu langsung berputar arah secara ugal-ugalan dan melaju kencang meninggalkan desa Sukamaju.

Debu tebal kembali berterbangan menutupi kepergian memalukan dari penguasa sembako yang baru saja jatuh miskin tersebut.

Suasana tanah kosong itu kembali menjadi sunyi dan damai hanya menyisakan hembusan angin sore.

Risa yang dari tadi diam mematung di belakang Akbar akhirnya melepaskan cengkeramannya dari jaket pemuda itu.

"Bar... kamu ini sebenarnya punya ilmu cenayang atau bagaimana sih?" tanya Risa dengan suara sangat pelan masih tidak percaya.

"Bisa-bisanya kamu meramal gudangnya kebakaran tepat di waktu yang sama."

Akbar membalikkan badannya menghadap Risa dan tersenyum sangat manis menenangkan gadis itu.

"Sudah kubilang Mbak Risa, aku ini selalu dilindungi oleh keberuntungan besar, orang jahat pasti akan selalu kena sial sendiri kalau berhadapan denganku."

"Mulai sekarang Mbak Risa tidak perlu takut pada ancaman siapa pun, karena aku yang akan melindungi toko kita nanti."

Pipi Risa kembali bersemu merah mendengar kalimat melindungi yang diucapkan Akbar dengan nada sangat jantan tersebut.

Pemuda di depannya ini memang penuh dengan teka-teki, tapi anehnya Risa merasa sangat aman dan nyaman berada di dekatnya.

"Iya Bar, aku percaya padamu sepenuhnya," jawab Risa mengangguk sambil tersenyum tulus.

"Ayo kita pulang sekarang, besok pagi kita punya banyak pekerjaan menyusun desain toko dan mencari tukang bangunan yang handal."

Akbar kembali menaiki motor Scoopy hitamnya dan Risa duduk di jok belakang dengan posisi yang lebih dekat dari sebelumnya.

Motor itu perlahan meninggalkan hamparan tanah kosong yang akan segera menjadi saksi bisu kebangkitan kerajaan bisnis pertama milik Akbar.

Tidak ada lagi yang bisa menghentikan langkah sang dewa hoki untuk menguasai perekonomian kecamatan ini.

Monopoli kelam milik Juragan Haris akan segera dia gantikan dengan dominasi mutlak yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!