Seumur hidup, Ambar Pradipta hanya dianggap beban oleh keluarganya sendiri. Ia dipaksa melayani, dihina, dipukul, bahkan dijadikan alat bayar utang. Ketika Bagas Pradipta menyerahkannya kepada Adrian Ferraro, semua orang mengira hidup Ambar akan jatuh ke neraka yang lebih gelap.
Namun Adrian Ferraro bukan pria yang bisa ditebak. Ia berbahaya, kejam kepada musuh, dan namanya cukup membuat satu kota menunduk. Tapi di hadapan Ambar yang gemetar karena luka masa lalu, ia justru membuat satu aturan baru: istrinya tidak boleh disentuh siapa pun.
Di dunia Ferraro, Ambar bukan lagi perempuan tak berharga. Ia adalah perempuan yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaqueline Mello, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Dapur
Ambar
Aku turun ke dapur. Setelah mulai mengenali letak barang-barangnya, aku mulai memasak. Pasta dengan saus. Bahan-bahannya lengkap, semuanya kusiapkan sebaik mungkin. Semoga rasanya enak, meski biasanya aku selalu gagal. Aku menata meja untuk Adrian. Aku tidak pernah makan di meja. Selalu di lantai, di sudut, setelah Papa dan Mama selesai. Semoga kali ini masakanku benar-benar enak.
Adrian
Aku masuk ke dapur sambil menatap ponsel. Aroma dari ruangan ini menarik perhatianku. Saat masuk, kulihat meja sudah tertata, tetapi hanya untuk satu orang. Ambar berdiri di sudut, kepala tertunduk, kedua tangan menyatu di depan tubuh.
Aku berusaha menenangkan diri. Mustahil. Aku menyeberangi dapur dalam tiga langkah dan berdiri di depannya. Ia gemetar, dan aku berusaha mengendalikan diri agar tidak membuatnya makin takut.
"Apa-apaan ini, Ambar?"
Ambar menelan ludah. "Saya... saya menyiapkan makan siang untuk Anda, Tuan Ferraro. Seperti... seperti seharusnya. Istri memasak dan..."
"Dan?" potongku.
"Dan menunggu," lanjutnya tanpa menatapku. "Di sudut, sampai tuannya selesai makan. Begitu saya diajari."
Aku memejamkan mata, mencoba menguasai diri, menghitung dalam kepala.
Satu mayat. Dua mayat. Tiga mayat. Untuk setiap kata yang Ambar ucapkan.
Tanpa berkata apa-apa, aku pergi ke lemari, mengambil satu piring lagi, satu set alat makan lagi, satu gelas lagi. Aku meletakkannya di meja, di hadapan tempatku, dengan kendali penuh agar tidak menakutinya.
"Duduk," perintahku sambil menunjuk kursi.
Ambar cepat-cepat menggeleng. "Tidak, saya tidak bisa. Meja itu untuk Anda. Saya makan setelahnya, di lantai, di sudut, sisa makanan, kalau Anda mengizinkan. Papa saya selalu bilang..."
"Persetan dengan apa yang dikatakan papamu," potongku. Untuk pertama kalinya aku meninggikan suara, bukan kepadanya, melainkan kepada bayangan yang masih membuatnya berlutut. "Duduk, Ambar, atau aku yang akan mendudukkanmu."
Aku kehilangan kendali, aku tahu. Tapi aku tidak bisa menahan diri lagi menghadapi omong kosong yang mereka ajarkan atau lakukan padanya. Aku bahkan belum tahu apakah semua itu hanya mereka tanamkan sebelum ia datang ke sini, atau memang begitulah mereka memperlakukannya.
Ia menurut dengan tubuh gemetar. Ia duduk di tepi kursi seolah kursi itu membakar, seolah ada api di bawahnya. Aku duduk di hadapannya, menyajikan pasta ke dua piring dengan jumlah yang sama, lalu menuang air ke dua gelas. Aku menatapnya. Kepalanya masih tertunduk.
"Di rumahku," kataku sambil mengambil garpu, "ratu tidak makan di sudut. Ia makan bersamaku. Selalu."
Aku menusuk pasta, memasukkannya ke mulut, mengunyah, lalu menelan. Ambar tidak bergerak, tidak sedikit pun. Ia bahkan tampak tidak bernapas. Ia menatapku lekat, menunggu penilaian, menunggu aku mengatakan sesuatu. Aku meletakkan garpu, menyeka mulut dengan serbet, lalu menatap langsung ke matanya.
"Enak," kataku sederhana dan jujur, karena masakan ini memang luar biasa.
Ambar menggeleng, matanya dipenuhi air mata.
"Tidak," bisiknya. "Tidak, Anda bohong. Saya tidak pernah memasak dengan benar. Papa... Papa selalu bilang semua yang saya sentuh pasti rusak. Katanya saya bahkan tidak berguna untuk memanaskan air. Saya tidak berguna. Karena itu tidak ada yang menghargai saya. Saya tidak pantas untuk..."
Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Tangis mencekiknya. Aku tidak berdiri. Aku tidak akan menyentuhnya. Kalau aku berdiri, kalau aku mendekat, ia akan lari. Sebagai gantinya, aku mengambil piringku, menukarnya dengan piringnya, lalu melanjutkan makan dari piring Ambar sambil menatapnya.
"Papamu," kataku di sela suapan, "bajingan."
Ambar mengangkat kepala, terkejut mendengar kata kasar yang baru saja kuucapkan. Tapi itu kebenaran.
"Dan kalau dia ada di sini," lanjutku sambil minum air, "aku sendiri yang akan mengajarinya cara berbicara kepada sebuah permata."
Aku meletakkan garpu, lalu mencondongkan tubuh di atas meja. Aku tidak menyentuhnya, tidak mendekat lebih jauh.
"Dengarkan aku, Ambar Ferraro," kataku seperti sumpah. "Di meja ini, di rumah ini, dalam hidupku... kamu bukan tidak berguna. Kamu tidak merusak apa pun." Aku menunjuk pasta itu. "Ini enak karena kamu yang membuatnya. Dan mulai sekarang, apa pun yang kamu sentuh bernilai emas. Mengerti?"
Tidak ada kata yang keluar darinya. Aku bisa melihatnya. Ambar tidak bicara, tidak juga bereaksi selain mengangguk sambil menyedot ingus seperti anak kecil. Aku bersandar di kursi dan memperhatikannya mengambil suapan pertama, gemetar, tidak percaya.
"Begitu," kataku lembut. "Pelan-pelan. Ratu makan lebih dulu. Utang makan di sudut. Hari ini kamu pilih ingin menjadi yang mana."
Dalam diam kami berdua makan. Aku melihatnya menghabiskan piringnya tanpa mengangkat wajah.
"Kecilku mau tambah?" Ia mengangguk. "Kecilku tidak perlu meminta izin untuk makan, mengambil sendiri, atau meminta sesuatu."
"Saya mau tambah, Tuan."
"Dengan satu syarat. Jangan panggil aku Tuan lagi. Aku suamimu, Ambar. Panggil aku dengan namaku."
Ia mengangguk. Aku menambahkan makanan ke piringnya, dan ia menghabiskannya. Ketika aku selesai makan, ia berdiri untuk membereskan piring. Sebelum ia menyentuh piringku, aku menggenggam tangannya. Ia gemetar seolah angin saja terasa berat.
"Masakan yang dibuat tangan-tangan ini sangat enak, bambina cantikku. Terima kasih."
Aku mencium tangannya, lalu berdiri dan mengusap rambutnya sebelum keluar dari ruang makan menuju ruang kerja. Ada beberapa berkas yang harus kuperiksa.
Ambar
Aku meletakkan piring-piring di wastafel, lalu ambruk. Berlutut di lantai, aku menangis tanpa henti. Akhirnya ada seseorang yang mengatakan aku melakukan sesuatu dengan benar. Akhirnya ada seseorang yang memberiku nilai.
Setelah selesai mencuci, aku naik ke kamar. Aku sedang berganti pakaian saat mendengar pintu dan langsung tersentak. Adrian masuk, tetapi begitu melihatku tanpa blus, ia segera membalikkan badan.
"Maaf. Kupikir kamu masih di bawah."
"Maaf, Tuan. Saya naik tanpa izin."
Ia menghela napas. "Ambar, sudah kubilang kamu boleh pergi dan melakukan apa pun yang kamu mau. Aku juga sudah bilang jangan panggil aku Tuan."
"Maaf, Adrian."
Ia berjalan ke lemari. Dalam dua detik ia keluar membawa sebuah gaun, lalu berdiri di depanku sambil menatap ke arah lain. Ia mengulurkan tangan, menyerahkan gaun itu kepadaku.
"Pakai ini. Kita akan pergi berbelanja dan membiarkan kota mengenal ratu Ferraro."
"Saya... tidak butuh... Anda sudah membeli banyak."
"Ini bukan soal apa yang kamu butuhkan, Ambar. Ini soal apa yang harus kamu beli. Pakaian, sepatu, perhiasan. Pakai itu."
"Tapi..."
"Ambar, istriku, perempuan Ferraro, tidak boleh berjalan di jalan seperti baru kutarik keluar dari tempat sampah."
Aku berpakaian cepat seolah ia baru saja memberiku perintah.
"Sudah."
Ia menatapku dan wajahnya menjadi serius. "Kalungnya."
Aku menunjuk meja rias. Aku takut merusaknya, jadi aku melepasnya.