Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Persiapan Acara
Di tengah ruang musik yang masih agak berantakan, Danu menatap lekat-lekat ke arah set drum akustik di sudut ruangan. Benda itu tampak mengintimidasi sekaligus menantang baginya.
"Aku di bagian drum, ya... Kira-kira bisa gak, ya?" gumam Danu pelan. Nada suaranya sarat akan keraguan. Tangannya meremas ujung seragamnya, merasa belum siap memegang tanggung jawab sebesar itu.
Rio yang duduk tak jauh darinya langsung menyahut santai. "Gapapa kali, Dan. Kan semuanya bisa dipelajari dari nol. Gak ada orang yang lahir langsung jago main drum."
"Hmm... semoga aja sih aku ga ngacauin penampilan kita nanti," balas Danu masih terdengar pesimis.
Mendengar kecemasan juniornya, Kak Rizki yang sedang menata kabel microphone langsung menoleh dan menepuk dada dengan bangga. "Aduh, gapapa, Danu! Jangan insecure gitu. Nanti Kak Rizki yang bakal bantu ajarin kamu dari dasar. Tenang aja, meski Kakak di luar kelihatan ceroboh dan sering nabrak barang, tapi kalau urusan musik, Kakak ini hebat loh!"
Mendengar promosi diri yang sangat percaya diri dari Kak Rizki, keraguan Danu sedikit memudar. Ia tak kuasa menahan tawa kecilnya. "Iya, Kak. Aku percaya kok."
Zahra melirik jam tangan merah mudanya. "Jadi... kita mau kapan nih mulai latihannya?"
"Gimana kalau sekarang aja mumpung masih ada sisa waktu istirahat?" usul Rio penuh semangat.
Zahra buru-buru menggeleng. "Aduh, gabisa, Yo! Gue udah ada janji penting nih sama temen kelas lain di perpustakaan."
"Loh, masa ga bisa dibatalin atau ditunda bentar aja sih, Ra?" tawar Rio, sedikit kecewa karena formasinya langsung bolong.
"Pokoknya gabisa!" tolak Zahra tegas tak terbantahkan.
Rio menghela napas pasrah. "Haa... oke deh, Tuan Putri. Lu siap latihannya kapan? Nanti kita tungguin."
"Hmm... palingan sih sepulang sekolah nanti. Kalian standby aja di sini, nanti aku langsung nyusul," janji Zahra.
Danu menatap jam dinding ruang musik. Masih ada sedikit waktu sebelum bel berbunyi. "Ehh, tunggu. Teman-teman, gimana kalau kita tetap coba latihan aja sekarang? Meski cuma sisa lima menit, waktu segitu kan berharga buat nyoba."
Rio menjentikkan jarinya. "Bener juga lu. Gue ikut ide lu aja deh, Dan."
Zahra yang sudah menggendong tasnya tersenyum bersalah. "Maaf ya, Danu, Rio, aku harus keluar duluan buat nepatin janji. Kalian pemanasan aja dulu."
"Ya... santai saja, Ra," balas Danu memaklumi.
Zahra pun melambaikan tangan, melangkah keluar dari pintu klub dan menutupnya kembali. Ruangan itu kini menyisakan Danu, Rio, dan Kak Rizki.
"Soo... kita ngapain sekarang, Dan?" tanya Rio yang kembali duduk bersandar.
"Hmm... aku mau belajar ngerasain alatnya dulu aja. Lu terserah mau ngapain, Yo."
Tanpa membuang waktu, Danu berjalan mendekati set drum itu. Ia duduk di kursi bundarnya, lalu mengambil sepasang stik kayu yang tergeletak di atas snare. Awalnya, Danu hanya memukulnya secara iseng—mengetuk cymbal, lalu berpindah ke tom-tom dengan ritme yang masih sangat berantakan.
Namun, di menit-menit terakhir sebelum bel berbunyi, ekspresi Danu mulai berubah serius. Meski masih banyak ketukan yang meleset dan kaku, ia mencoba mencari pola ritme yang pas. Ia terlihat sangat menikmati prosesnya.
Tak lama kemudian, bel tanda berakhirnya jam istirahat pun berbunyi nyaring, menghentikan ketukan stik Danu. Para siswa-siswi di luar mulai berlarian menuju kelas masing-masing.
Sebelum Danu dan Rio beranjak pergi, Kak Rizki membagikan dua buah buku catatan tipis. "Nih, bawa. Ini buku panduan dasar. Yang satu isinya pola ketukan drum buat Danu pelajari di rumah, dan yang satu lagi isinya chord serta not balok piano buat Rio."
Rio menerima buku catatan tersebut. Namun, detik ketika matanya menatap deretan not balok piano di halaman pertama itu, pergelangan tangannya tiba-tiba bergetar pelan.
Dada Rio mendadak terasa sesak. Ingatan masa lalu yang selalu ia hindari nyaris saja menyergap pikirannya kembali. Ia buru-buru menutup buku itu dan meremasnya kuat-kuat.
Gak, gak apa-apa, Yo, batin Rio menenangkan dirinya sendiri, menarik napas dalam-dalam. Ini cuma acara ulang tahun sekolah biasa. Gak sama kayak kejadian waktu itu... lu pasti bisa.
Danu dan Rio berjalan beriringan menyusuri koridor kembali ke kelas, sesekali mengobrol ringan untuk mengusir rasa bosan. Begitu mereka menginjakkan kaki di dalam kelas, keduanya langsung duduk manis di tempat masing-masing.
Waktu seolah melaju cepat. Pelajaran demi pelajaran berlalu tanpa terasa, melewati jam istirahat kedua yang hanya mereka habiskan di kelas untuk memakan camilan.
Hingga akhirnya, bel yang paling dinanti-nantikan oleh seluruh siswa berbunyi nyaring. Waktunya pulang sekolah!
"Mantap, pulang!" seru Rio kegirangan. Wajahnya yang semula lesu mendadak segar seketika seolah baru saja disiram air es. Ia buru-buru memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
Danu yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya menggeleng pelan. "Loh, Yo, kan kita sekarang mau ke ruang ekstra buat latihan. Lupa ya?"
Pergerakan Rio langsung terhenti. Bahunya merosot turun. "Ahh, iya juga... Malas banget sih rasanya, tapi yaudahlah, yuk gas."
"Tungguin!"
Sebuah seruan membuat mereka menoleh. Zahra berlari kecil menyusul mereka dari ambang pintu kelas. Setelah pasukan mereka genap bertiga, mereka pun kembali berjalan beriringan menuju ruang ekstrakurikuler musik di ujung lorong.
Setibanya di sana, pemandangan yang menyambut mereka cukup menggelitik. Di tengah ruangan, Kak Rizki tampak sedang fokus menonton sebuah video tutorial musik dari YouTube di layar ponselnya. Namun, saat ia mencoba mempraktikkannya dengan alat musik di depannya, nadanya malah terdengar sangat sumbang dan kacau balau.
Melihat kecerobohan seniornya itu, Rio langsung menggigit bibir bawahnya, menahan tawa sekuat tenaga.
"Pfft—"
Rio nyaris saja melepaskan tawanya, tetapi empat pasang mata dari Danu dan Zahra yang menatapnya tajam bagai silet sukses menghentikan niatnya.
"Iya, iya, maaf. Udah dong, jangan lihatin gue kayak gitu," keluh Rio sambil mengangkat kedua tangannya, menyerah.
Zahra melangkah maju, mendekati ketua klub mereka. "Kak Rizki gapapa?"
Kak Rizki menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa canggung. "Hahaha, aduh, maaf ya bikin sakit telinga."
"Gausah minta maaf, Kak, gaada yang salah kok namanya juga belajar," hibur Zahra. Ia lalu menatap sekeliling. "Jadi... beneran gue nih yang bagian nyanyi?"
"Iya, tentu saja. Karena firasatku mengatakan kalau kamu pasti punya suara yang bagus, Zahra," jawab Kak Rizki mantap.
Rio yang mendengarnya langsung menyela dengan nada skeptis. "Halah, Kakak tahu dari mana coba? Firasat ya hanyalah firasat, Bang. Ga mungkin lah seorang Zahra yang cerewet ini punya suara bagus."
Zahra langsung Berkacak pinggang, menatap Rio dengan tatapan menantang. "Oho, meremehkan ya? Okay... kalau ternyata suaraku beneran bagus, lu mau taruhan apa?" tantang balik Zahra.
Rio menyeringai meremehkan. "Yaa... gampang. Siapa yang kalah, dia harus mijitin pundak yang menang setiap baru datang ke kelas pagi-pagi. Gimana?"
"Okay, deal!" sahut Zahra tanpa ragu. Ia lalu menoleh ke Kak Rizki. "Yaudah, Kak. Mana mic-nya?"
"Oh, sebentar." Kak Rizki langsung sibuk menggeledah sebuah kardus di pojok ruangan. Terdengar suara barang-barang yang digeser sebelum ia akhirnya mengangkat sebuah mikrofon. "Nah, ini dia!"
Zahra menerima mic tersebut. "Ok, kalian dengerin baik-baik, ya."
Gadis itu mengambil napas panjang. Begitu ia mulai menyanyikan lirik pertama dari lagu favoritnya, suasana di ruang musik itu mendadak hening.
Nada yang keluar dari mulut Zahra terdengar sedih, namun entah bagaimana terasa begitu menenangkan hati. Suaranya sangat stabil, merdu, dan penuh penghayatan.
Penampilan dadakan itu sukses membuat Danu, Rio, dan Kak Rizki speechless. Mereka terpaku di tempat masing-masing sampai lagu itu berakhir.
"Terima kasih!" ucap Zahra sambil tersenyum lebar, melakukan selebrasi kecil seolah baru saja memenangkan piala Grammy.
Kak Rizki bertepuk tangan heboh. "Wah! Bener, kan?! Hahaha, firasat Kakak emang gak pernah salah!"
Sementara itu, Rio masih mematung dengan mulut setengah terbuka. "WHAT?! Mana bisa gitu?! Lu lipsync ya dari HP?!" tuduh Rio kaget setengah mati.
"EHHH! Enak aja!" protes Zahra tak terima. "Gak lah! Ini murni suara gue beneran tahu!"
Danu yang sedari tadi terdiam, akhirnya ikut bertepuk tangan pelan. Ia menatap gadis itu dengan tatapan kagum. "Bagus banget suara kamu, Ra," puji Danu tulus.
Mendapat pujian lembut dan langsung dari Danu, Zahra mendadak salah tingkah. "S-serius? Aku cuma main-main aja loh tadi nyanyinya, hehe..." balasnya, memelintir ujung rambutnya dengan senyum malu-malu.
Melihat interaksi manis itu, Rio mendengus keras, merasa menjadi obat nyamuk di ruangan tersebut. "Sialan, woi! Jangan bucin di sini napa! Gue yang single ngenes ini merasa malu melihatnya."
"Yee... siapa juga yang bucin?! Hmmph!" elak Zahra sembari memalingkan mukanya yang kini sudah merona merah bak kepiting rebus.
"Udahlah, malas gue debat sama lu," gerutu Rio yang masih syok dengan kekalahannya.
"Alasan aja. Mending lu siap-siap nepatin janji lu, Yo," tagih Zahra.
Rio menghela napas panjang, meratapi nasibnya. "Haa... yaudah, yaudah. Gue bakal pijitin pundak lu setiap pagi pas baru nyampe di sekolah."
"Nah, gitu dong. Gentleman," kekeh Zahra puas. Ia lalu bergumam pelan. "Duh... semoga pas tampil nanti gaada masalah lagi sih. Ya gak, Dan?"
Danu menatap Zahra bingung. "Hah? Masalah apa?"
"Ya... ada lah pokoknya," jawab Zahra ambigu, menyimpan sedikit kekhawatiran di balik senyumnya.
Setelah perdebatan dan taruhan konyol itu berakhir, mereka berempat akhirnya mulai fokus. Waktu mereka tidak banyak. Karena dua hari lagi mereka akan tampil di lapangan sekolah, sesi latihan hari itu benar-benar dilakukan secara serius.
Namun, tentu saja 'serius' versi mereka tetap dipenuhi oleh berbagai kekocakan. Latihan itu berulang kali harus dihentikan karena Rio yang jarinya masih kaku beberapa kali salah menekan not di tuts piano, sementara Danu masih terlihat kesulitan menyesuaikan ritme kakinya menginjak pedal drum. Perjalanan mereka menuju panggung tampaknya masih akan sangat panjang dan penuh warna!