NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 — TUNDA

BAB 17 — TUNDA

Banyu Pradana terlihat hampir sama seperti tiga tahun lalu.

Rambutnya masih terlalu panjang untuk ukuran orang yang sering tampil di depan kamera. Kemejanya digulung sampai siku, tas kanvas tergantung di bahu, dan ekspresinya tetap seperti seseorang yang sudah menyiapkan jawaban bahkan sebelum pertanyaan diajukan.

Yang berbeda hanya bekas luka tipis di atas alis kirinya.

Ia berdiri di ruang rapat Ruang Tengah bersama Damar. Di atas meja, sebuah map plastik transparan diletakkan di antara mereka.

“Mobil abu-abu itu milikmu?” tanyaku sebelum ia sempat menyapa.

Banyu memastikan perekam baru dinyalakan setelah ia menandatangani persetujuan. Ia lalu duduk tanpa meminta kopi atau menanyakan keadaanku. Hal itu justru membuatku lebih mudah bernapas.

“Kamu mengikuti aku dari kantor. Rendra tahu?”

“Aku yang mengikuti. Soal Rendra, aku baru tahu hari ini.”

Damar mendorong salinan pernyataan Rendra ke arahnya. Banyu membaca beberapa bagian, lalu mengembalikannya tanpa komentar.

“Kamu mengikuti untuk mencari halaman yang dikirim kepadaku—foto mobil Ayah dan potongan audit?”

“Iya. Aku tidak datang langsung karena belum tahu apakah kamu menyimpannya atas kemauan sendiri atau dipakai seseorang untuk memancingku keluar.”

Tawa kecil lolos.

“Ternyata dua-duanya.”

Banyu tidak ikut tertawa.

Ia membuka tas, mengeluarkan satu kotak dokumen kecil, lalu meletakkan kunci di depan Damar.

“Apa ini?” tanyaku.

“Arsip yang seharusnya kubuka enam tahun lalu.”

“Kenapa baru sekarang?”

Pandangan Banyu turun ke buku abu-abu di dekat tanganku.

“Karena aku dibayar untuk menundanya.”

Kata itu membuatku membuka halaman daftar nama. Tidak ada Banyu dalam buku milikku.

Damar mengenakan sarung tangan sebelum membuka map plastik yang dibawa Banyu. Di dalamnya terdapat satu halaman tua dengan format serupa buku kata kerja: nama, tanggal, sumber dana, dan satu kata dalam huruf kapital.

Banyu Pradana — TUNDA.

Nominal di sampingnya tidak kecil.

Pembayaran pertama terjadi enam tahun lalu, beberapa bulan setelah Banyu mulai bekerja sebagai reporter tetap. Pembayaran berikutnya tidak teratur. Sebagian muncul setiap kali ia mengajukan permintaan dokumen, bertemu mantan pegawai Kalyana, atau hampir menerbitkan artikel.

“Kamu menerima semua pembayaran itu untuk tidak menulis tentang Ayah?”

“Untuk menunda publikasi sampai korban memiliki pendamping hukum, sumber utama berada di tempat aman, dan kamu mengetahui penyelidikan ini dari orang yang tidak berkepentingan menguasaimu.”

“Siapa yang menetapkan syarat?”

“Instruksi datang melalui pengacara yayasan dan surat tulisan tangan yang ditandatangani Laksmi Sasmita.”

Banyu mengeluarkan salinan surat. Tulisan Ibu memenuhi dua halaman. Aku mengenali kebiasaannya membuat huruf t terlalu tinggi dan memberi garis bawah dua kali pada kalimat yang dianggap penting.

Di salah satu bagian tertulis:

Jangan beri Nadira bukti hanya karena ia menuntut jawaban. Pastikan ia memiliki orang yang dapat melindungi pilihannya setelah jawaban itu datang.

Aku membaca kalimat itu lagi.

Bahkan ketika mencoba menyiapkan kebebasanku, Ibu masih memutuskan kapan aku dianggap siap.

“Kenapa kamu setuju?” tanyaku.

“Awalnya karena ayahku.”

Banyu membuka kotak dokumen. Di dalamnya ada buku catatan, kaset perekam kecil, beberapa kartu memori, dan kliping berita yang warnanya sudah memudar.

“Ayahku menyelidiki penyelesaian perkara rumah tangga yang melibatkan eksekutif Kalyana,” katanya. “Perempuan yang mengajukan kekerasan atau penipuan ditawari uang, rumah, pengacara, dan kehidupan baru. Sebagai gantinya, mereka mencabut laporan dan menandatangani kerahasiaan.”

“Bantuan untuk membungkam.”

“Sebagian benar-benar membutuhkan bantuan. Itu yang membuat sistemnya sulit dibongkar. Uangnya menyelamatkan mereka sekaligus menghapus kesaksian mereka.”

Aku memikirkan pekerjaanku sendiri. Berapa kali aku melihat kesepakatan yang secara hukum adil, tetapi lahir dari keadaan yang membuat salah satu pihak tidak punya pilihan lain?

“Ayahku hampir menerbitkan,” lanjut Banyu. “Lalu Aditya menghubunginya. Ayahmu mengaku pernah menandatangani salah satu penyelesaian sebagai auditor internal.”

Dadaku terasa berat.

“Ayah terlibat?”

“Dia ikut menyetujui satu transaksi. Setelah melihat korban dipaksa diam, dia mulai mengumpulkan bukti.”

Aku ingin membantah.

Dalam ingatanku, Ayah selalu menjadi orang yang menolak amplop, mengembalikan uang kembalian berlebih, dan marah kalau aku mencontek satu jawaban tugas.

Membayangkan namanya berada dalam sistem yang menyakiti orang lain serasa melihat retakan pada patung yang selama ini kusembah.

“Kenapa artikel ayahmu tidak terbit?”

“Aditya meminta waktu untuk memperoleh bukti penghubung ke dewan. Sebelum bukti lengkap, ayahmu meninggal. Enam bulan kemudian, ayahku juga meninggal.”

“Serangan jantung.”

“Itu hasil resmi.”

Nada Banyu tidak menuduh, tetapi ia juga tidak memercayainya.

“Setelah itu kamu mengambil arsipnya?”

“Iya. Aku ingin menerbitkan semuanya. Lalu surat Laksmi datang bersama pembayaran pertama.”

“Dan uang membuatmu diam.”

Banyu menatapku lurus.

“Iya.”

Jawaban tanpa pembelaan itu membuat amarahku kehilangan sasaran yang mudah.

“Kamu bisa menolak, tetapi tidak melakukannya. Kenapa?”

“Tiga sumber masih hidup tanpa perlindungan. Salah satunya punya anak kecil, dua lainnya bergantung pada rumah yang dibayar yayasan Kalyana. Kalau artikel terbit, mereka bisa kehilangan tempat tinggal sebelum polisi bergerak.”

“Uangnya dipakai untuk mereka?”

“Sebagian—penyimpanan dokumen, bantuan hukum, biaya pindah, dan salinan di luar jangkauan Kalyana. Sisanya kupakai untuk hidup.”

Ia tidak mencoba terlihat mulia.

Pengakuannya tidak membuat uang itu bersih. Sebagian dipakai melindungi sumber, sebagian lagi membiayai hidupnya. Aku tidak dapat memisahkan Banyu menjadi penjaga bukti atau orang yang dibeli untuk diam. Ia adalah keduanya pada waktu yang sama.

“Aku membayar sewa, makan, dan kuliah adikku dari uang itu,” lanjutnya. “Aku membenci setiap transfer, tapi tetap memakainya. Itu sebabnya aku tidak akan berdiri di sini dan mengaku hanya menjaga bukti.”

Damar mencatat nominal serta lokasi penyimpanan.

“Apakah pembayaran masih berjalan?”

“Berhenti tiga tahun lalu.”

“Tepat ketika Anda mengikuti Nadira?”

“Iya.”

Aku mengerutkan kening.

“Hubungannya?”

“Pembayaran terakhir disertai pesan bahwa syarat ketiga hampir terpenuhi. Nadira akan menerima satu halaman dan memilih apakah ingin membuka sisanya.”

“Siapa yang mengirim amplop itu?”

“Aku—foto kecelakaan dan potongan audit.”

Ruangan mendadak sunyi.

Selama tiga tahun aku menyimpan amplop itu sebagai tanda bahwa seseorang di luar rumah mengetahui kebenaran. Sekarang orang tersebut duduk di depanku dan mengaku menjadikanku bagian dari ujiannya sendiri, sama seperti Rendra pernah menjadikanku bagian dari rencana keselamatan yang tidak kupahami.

“Lalu kamu mengikuti untuk memastikan aku tidak membawanya kepada Rendra.”

“Iya. Aku tahu dia anak Surya dan mengelola sebagian jaringan, tetapi belum tahu apakah ia melindungimu atau menjaga bukti tetap diam.”

Aku menahan keinginan membela Rendra. Kebiasaan itu muncul begitu cepat hingga membuatku marah kepada diri sendiri.

“Orang yang hendak kutemui di Yogyakarta adalah sumber terakhir ayahmu, dan kamu sudah memindahkannya dengan persetujuannya.”

“Iya.”

“Tapi kamu tidak memberitahuku karena masih mengikuti syarat Ibu. Semua orang selalu punya aturan darinya untuk menjelaskan kenapa aku tidak boleh tahu.”

Banyu menunduk.

“Benar.”

“Lalu sekarang kenapa kamu datang?”

“Karena kamu sudah memilih pengacara sendiri, keluar dari rumah sendiri, dan meminta semua jaringan dibuka. Aku tidak berhak terus memakai kata siap untuk menahanmu.”

Sejak ia masuk, baru kali itu kemarahanku sedikit surut.

Aku belum memaafkannya.

Ia juga tidak mengklaim berhak menentukan keputusanku lebih lama.

“Apa arti TUNDA?” tanyaku.

“Menunda publikasi, bukan menunda kamu meninggalkan Rendra. Bukan menahan kariermu. Bukan mengatur siapa yang boleh kamu percaya.”

“Dan kamu tetap mengikuti hidupku.”

“Tiga kali. Yang terakhir dengan mobil abu-abu. Itu tetap salah.”

Aku memberi tanda kepada Damar. Ia membuka halaman tua yang tadi dibawa Banyu dan memeriksa cap, tinta, serta nomor urut.

“Ini bukan salinan dari buku yang dimiliki Nadira,” katanya.

“Bukan,” jawab Banyu. “Halaman itu berada di antara catatan ayahku. Menurut surat Laksmi, bagian tersebut dicabut dari buku asli agar tidak ditemukan keluarga Kalyana.”

“Kenapa sekarang dibawa?”

“Karena nama di bawah milikku menjelaskan siapa yang harus ditahan kalau bukti mulai keluar.”

Aku berdiri dan mendekat ke meja.

Banyu membalik halaman.

Baris pertama memuat namanya: TUNDA.

Di bawahnya terdapat satu nama lain. Tidak ada jumlah pembayaran. Hanya tanggal yang sama dengan rapat terakhir Ayah di Kalyana Group dan sebuah kode yang ditulis menggunakan tinta merah.

Surya Kalyana — BUNGKAM.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!