NovelToon NovelToon
Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: AZKA DINARA

Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.

Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.

Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Cemburu yang Halus

Waktu terus berjalan, dan hubungan diam-diam antara Liān Huā dan Yuán Zhēn semakin erat, meskipun keduanya masih belum pernah mengucapkan kata-kata cinta secara langsung. Namun semua orang yang peka bisa melihat perubahan itu: bagaimana kaisar selalu tahu di mana dia berada, bagaimana dia selalu memiliki alasan untuk memanggilnya, bagaimana pandangannya selalu mencari keberadaan gadis itu di tengah keramaian.

Namun di istana yang besar ini, ada banyak mata yang mengawasi dan banyak hati yang penuh harapan. Salah satunya adalah Putri Xiāo Lán, putri dari penguasa wilayah barat yang berkuasa, yang datang ke ibu kota beberapa waktu lalu. Dia cantik, berwibawa, cerdas, dan sejak awal dia berniat menjadi permaisuri kaisar. Dia tahu betul apa yang dia inginkan, dan dia tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi jalannya.

Suatu hari, diadakan pesta besar di halaman istana untuk menyambut pejabat-pejabat penting dari berbagai daerah. Di sana penuh dengan orang-orang berpakaian indah, musik mengalun lembut, dan udara dipenuhi wangi anggur dan bunga. Liān Huā hadir juga, berdiri di sudut sambil memegang cangkir teh, berusaha tidak terlalu menonjolkan diri. Dia tahu betul bahwa semakin dia terlihat tenang dan rendah hati, semakin aman dia dari rasa iri hati orang lain.

Namun matanya tetap tidak bisa berhenti melirik ke arah tempat duduk utama. Di sana, Yuán Zhēn duduk dengan jubah keemasan yang berkilauan, terlihat gagah dan berwibawa. Dan di sampingnya, duduk Putri Xiāo Lán, mengenakan gaun berwarna merah menyala yang sangat mencolok, wajahnya berseri-seri sambil berbicara dengan kaisar, tertawa dengan suara yang merdu dan penuh percaya diri.

Mereka terlihat sangat serasi. Dua orang yang sama-sama berkuasa, sama-sama tampan dan cantik, sama-sama berasal dari keluarga tinggi. Melihat mereka berdua berbicara dengan akrab, sesuatu yang aneh dan tidak nyaman mulai merayap di dalam dada Liān Huā. Seperti ada rasa pahit yang menyebar perlahan, seperti ada sesuatu yang terasa berat dan sesak di dada. Dia menundukkan kepala, menatap permukaan teh di cangkirnya, berusaha menekan perasaan itu. Apa yang aku rasakan ini? pikirnya. Aku tidak berhak merasa seperti ini. Aku hanya orang biasa, dan dia adalah Kaisar. Mereka memang seharusnya bersama.

Sementara itu, di tempat duduk utama, Yuán Zhēn sebenarnya tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan Xiāo Lán. Matanya terus bergerak mencari ke satu arah tertentu, dan saat melihat Liān Huā berdiri sendirian dengan wajah yang tampak sedih dan menunduk, hatinya langsung terasa tidak tenang. Dia melihat bagaimana gadis itu menatap ke arah mereka, lalu memalingkan wajah seolah tidak ingin melihat lagi.

“Yang Mulia? Apakah Anda mendengar apa yang saya katakan?” suara Xiāo Lán memecah lamunannya.

Kaisar berkedip sejenak, kembali menatap wanita di sampingnya dengan senyum tipis yang dingin. “Maaf, aku sedang memikirkan urusan negara. Apa yang kamu katakan tadi?”

Xiāo Lán tersenyum manis, namun matanya menangkap ke mana arah pandangan kaisar tadi. Dia melirik ke arah sudut ruangan, melihat sosok Liān Huā, dan senyumnya sedikit berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam. “Saya hanya mengatakan, saya berharap bisa membantu Yang Mulia mengurus segala urusan di istana. Saya dengar ada beberapa orang yang tidak memiliki kedudukan tinggi, tapi entah bagaimana bisa terlalu sering mendapat perhatian Yang Mulia. Mungkin mereka tidak tahu cara menjaga batas diri.”

Yuán Zhēn diam sejenak, lalu menatap Xiāo Lán dengan pandangan yang tajam dan dingin, seketika mengubah suasana menjadi berat. “Orang yang memiliki hati yang baik dan kecerdasan yang jernih, tidak peduli dari mana asalnya, selalu pantas mendapat perhatian. Dan ingatlah, di istana ini, batas diri itu ditentukan oleh aku, bukan oleh orang lain.”

Suara itu rendah namun tegas, membuat Xiāo Lán menundukkan kepala dengan cepat, wajahnya memerah karena malu dan marah.

Tidak lama kemudian, Yuán Zhēn berpamitan dengan alasan ingin berkeliling melihat keadaan, lalu berjalan cepat menuju ke taman belakang tempat dia tahu Liān Huā pasti akan pergi saat merasa tidak nyaman.

Dan benar saja, dia menemukan gadis itu berdiri di dekat pohon bunga persik yang sedang mekar, wajahnya terlihat sedih dan matanya sedikit merah.

“Kamu menghindar dari pesta itu?” tanyanya pelan, berjalan mendekat sampai berdiri di sampingnya.

Liān Huā terkejut, lalu menundukkan kepala. “Hanya merasa udara di dalam ruangan terlalu panas, Yang Mulia. Hamba ingin mencari udara segar sebentar.”

Kaisar Zhēn menatapnya lama, lalu dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia melihat perasaan yang tersembunyi di balik wajah itu — rasa cemburu, rasa tidak aman, dan rasa sedih yang dia coba sembunyikan sebaik mungkin.

“Kamu cemburu?” tanyanya tiba-tiba, langsung dan tanpa basa-basi.

Wajah Liān Huā langsung memerah padam, matanya terbelalak kaget. “Tidak! Hamba tidak... hamba tidak berhak...”

“Kamu berhak,” potong kaisar itu lembut, sambil perlahan mengangkat ujung jari dan menyentuh pipi gadis itu dengan sangat hati-hati, seolah takut melukainya atau membuatnya lari. “Dan aku senang kamu cemburu. Karena itu artinya... kamu juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Kamu juga takut kehilangan aku.”

Liān Huā menatapnya, napasnya tertahan. Di bawah tatapan mata itu, dia tidak bisa lagi menyembunyikan apa pun. Dia mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca. “Hamba... hamba tidak suka melihat Yang Mulia bersama orang lain. Hamba tahu itu salah, hamba tahu hamba tidak pantas... tapi hati hamba tidak mau mendengar.”

Yuán Zhēn tersenyum lembut, sebuah senyum yang penuh kebahagiaan dan kepuasan yang mendalam. Dia perlahan mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di dekat telinga gadis itu, “Dengarkan aku, Liān Huā. Di antara ribuan orang yang ada di istana ini, bahkan di seluruh negeri ini... hanya ada satu orang yang membuat hatiku berdebar, hanya ada satu orang yang membuatku ingin selalu ada di dekatnya, hanya ada satu orang yang aku inginkan. Dan orang itu berdiri tepat di depanku sekarang.”

Angin berhembus pelan, menjatuhkan kelopak bunga persik yang berwarna merah muda ke atas bahu mereka. Di antara keheningan dan keindahan itu, mereka berdua saling menatap, dan untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi berusaha menyembunyikan apa yang ada di dalam hati. Rasa cemburu itu ternyata bukan hal yang buruk — ia adalah bukti nyata bahwa perasaan itu sudah tumbuh kuat, berakar dalam, dan tidak bisa lagi disangkal oleh siapa pun, termasuk diri mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!