NovelToon NovelToon
Suami Kredit

Suami Kredit

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!

Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?

"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.

"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 - Kredit Macet

Samsudin memejamkan mata erat-erat di atas kasur lipatnya yang mengempis. Tangan kanannya meremas seprei bermotif karakter kartun yang warnanya sudah pudar. Sebagai anak tertua yang memikul beban sandwich generation tanpa alas pelindung, dada Samsudin rasanya selalu dihantam godam setiap kali panggilan telepon dari kampung masuk.

"Butuh berapa lagi, Bu?" tanya Sam halus, menelan saliva yang terasa pahit.

"Paling tidak... lima ratus ribu lagi, Din," suara ibunya terdengar penuh iba dan keputusasaan. "Belum lagi token listrik kontrakan nenekmu yang sudah bunyi tet-tet-tet dari kemarin. Ibu bingung mau pinjam ke siapa lagi."

"I-iya, Bu. Uang simpananku masih ada. Malam ini langsung aku transfer sisanya," bohong Sam tanpa berkedip.

Setelah telepon ditutup, Sam langsung membuka aplikasi m-banking di ponselnya yang retak. Dengan jemari bergetar, dia mentransfer seluruh uang pegangannya, termasuk simpanan darurat yang ia kumpulkan rupiah demi rupiah. Usai transaksi berhasil, mata Sam melotot menatap saldo akhirnya, Rp50.000,00.

"Lima puluh ribu rupiah... untuk dua minggu ke depan..." bisik Sam pada dinding kamar kostnya yang berjamur. Uang segitu bahkan tidak cukup untuk membeli paket data hemat, apalagi makan tiga kali sehari.

Kehidupan Sam di kostan gang sempit itu memang jauh dari kata istimewa. Tepat saat Sam meratapi nasibnya, suara dentuman musik dangdut koplo menggema dari kamar sebelah. Pak Danu tetangganya yang hobi karaoke tengah melantunkan lagu dengan nada sumbang yang menusuk gendang telinga.

"*Cinta satu malam... oh indahnya*"

"Pak! Tolong volumenya dipelankan! Sudah jam sepuluh malam!" teriak Sam dari dalam kamar.

"Halah, Din! Lu kayak kagak tahu seni aja! Daripada melamun mending cek jemuran lu tuh di luar! Tadi ada beberapa anak kost lain yang ngeluh hilang CD nya!" balas Pak Danu berteriak balik tanpa memelankan musik.

Sam mendelik, lalu buru-buru membuka pintu kost. Benar saja, jemuran kain di koridor sempit sudah berantakan. Celana dalam kesayangannya, satu-satunya yang tidak bolong, hilang entah kemana.

"Cobaan hidup apa lagi ini... CD hilang, uang tinggal lima puluh ribu, bapak asam urat, adik mau diputus sekolah!" keluh Sam sambil mengacak rambutnya yang kotor.

Ia sempat memikirkan opsi meminjam uang ke teman-teman sesama karyawan kebun binatang. Namun, Sam langsung mengurungkan niat. Utangnya pada Pak Ujang penjual warteg di depan gang saja sudah menumpuk tiga ratus ribu untuk kasbon makan siang bulanan. Kalau dia nekat meminjam lagi, bisa-bisa dia disajikan sebagai pakan buaya oleh teman-temannya sendiri.

Tiba-tiba, bayangan wanita aneh berdandan rapi yang menghadangnya di dekat kandang buaya tadi siang melintas di kepala Sam.

“Saya mau sewa Mas jadi calon suami saya! Saya bayar tiga juta untuk tiga jam!”

Sam mendadak terduduk tegak di kasurnya. Tiga juta rupiah! Angka itu terus berputar di kepalanya seperti lampu komedi putar. Jika wanita itu benar-benar serius, uang tiga juta rupiah bisa menyelamatkan seluruh silsilah keluarganya dari kebangkrutan bulan ini!

"Aduh, bodohnya aku..." gumam Sam menepuk jidatnya sendiri. "Kenapa tadi siang tak minta nomor teleponnya dulu?! Malah sok jual mahal mentang-mentang punya perut six-pack!"

Sam mengacak-acak kantong celana kerja dan tas lusuhnya, berharap wanita itu sempat menyelipkan kartu nama atau selembar kertas. Tapi nihil. Wanita itu tadi siang langsung kabur dengan wajah cemberut setelah ditolak mentah-mentah.

Desakan ekonomi membuat akal sehat Sam melenceng. Ia sempat berpikir untuk membuka jasa "Pacar Sewaan" atau "Suami Bayaran" secara daring. Sam membuka aplikasi media sosial di ponselnya, mengetik draf postingan: Jasa Calon Menantu Tampan & Atletis, Bisa Jinakkan Buaya Muara dan Tante-Tante Rewel.

Namun, baru saja jemarinya menyentuh tombol publikasi, bayangan wajah teman-teman pawangnya muncul. Bagaimana kalau kawan-kawannya di kebun binatang melihat iklan itu? Bisa hancur reputasinya sebagai pemuda perkasa penakluk reptil. Dia bakal diejek habis-habisan di grup WhatsApp kantor. Dengan berat hati, Sam menghapus draf tersebut.

"Harapan sisa satu-satunya cuma tips dari pengunjung kebun binatang besok," desah Sam pasrah. Kadang-kadang, kalau ada pengunjung kaya yang puas melihat aksinya memasukkan kepala ke mulut buaya, Sam bisa diberi tips seratus hingga dua ratus ribu. Besok, dia bertekad akan melakukan aksi yang lebih ekstrem di depan buaya demi menarik perhatian dermawan.

Sementara itu, di tempat lain yang berjarak lima kilometer dari kost kumuh Sam, suasana kamar kontrakan Tia tidak kalah mencekam.

Tia duduk di depan cermin meja riasnya seraya menepuk-nepuk wajahnya kasar dengan kapas pembersih. Wajahnya ditekuk 180 derajat.

"Dasar lelaki tengil! Sok jual mahal!" gerutu Tia pada bayangannya di cermin. "Nama saja Samsudin! Tampan sih tampan, tapi namanya kampungan banget! Dijual di pasar kaget juga paling harganya sepuluh ribu dapat tiga! Dikasih rezeki tiga juta malah dibilang gila!"

Tia menendang bantal sofa di dekatnya sampai terpental ke sudut ruangan. Kesal setengah mati rasanya. Sudah gagal mendapat calon sewaan murah, harga dirinya sebagai wanita karier senior tercabik-cabik oleh seorang pawang buaya berbau amis daging rawa.

Saat Tia sedang sibuk memaki-maki nama Samsudin, pintu depan kontrakannya tiba-tiba digedor dengan sangat tidak sopan.

Brak! Brak! Brak!

"Mbak Tia! Buka pintunya! Ini Nia!" teriak suara dari luar.

Tia menghela napas panjang, mengurut pelipisnya yang makin pening, lalu melangkah membukakan pintu. Di depan pintu, berdiri Nia, adik kandung Tia yang berusia 27 tahun, dengan wajah berseri-seri penuh kemenangan. Namun, yang membuat jantung Tia serasa melompat keluar adalah sosok lelaki jangkung berdasi yang berdiri merangkul pinggang Nia dengan senyum menyebalkan.

"Surprise, Mbak!" seru Nia langsung menerobos masuk tanpa diundang, menyeret pria di sampingnya. "Kenalkan, ini Mas Aris!"

Tia berkedip ragu. "Aris? Yang waktu itu kamu ceritakan kerja di bank swasta?"

"Bukan cuma kerja di bank, Mbak! Mas Aris ini baru saja dipromosikan jadi Branch Manager!" potong Nia dengan nada suara dinaikkan dua oktaf, jelas-jelas sengaja dipamerkan. "Dan yang paling penting... jeng jeng jeng!"

Nia mendadak mengacungkan jari manis tangan kirinya tepat satu senti di depan hidung Tia. Sebuah cincin permata imitasi yang lumayan berkilau melingkar di sana.

"Mas Aris baru saja melamar Nia tadi malam di restoran rooftop ternama!" jerit Nia histeris. "Bulan depan kami mau melangsungkan lamaran resmi di rumah Tante Lies, pas banget barengan sama acara arisan keluarga besar!"

Dunia Tia rasanya runtuh seketika. Langit-langit rumahnya yang mengelupas seolah roboh menimpa kepalanya.

"L-lamaran? Bulan depan?" pusing Tia makin menjadi-jadi.

"Iya, Mbak! Makanya Nia malam-malam ke sini," Nia duduk di sofa Tia sambil mengibas-ngibaskan tangannya manja. "Nia mau bilang, Mbak Tia harus secepatnya cari calon! Masa adik melangkahi kakak? Tante Lies sama Ibu kan sudah bilang, kalau Mbak Tia belum bawa calon pas arisan bulan depan, pernikahan Nia terancam ditunda gara-gara Ibu bakal pingsan!"

Pria bernama Aris itu tersenyum tipis, jenis senyuman miring yang sangat ingin ditampar oleh Tia. "Iya nih, Mbak Tia. Kata Nia, Mbak Tia ini sibuk karier terus ya sampai lupa cari jodoh? Kasihan lho, umur 35 itu kalau di dunia perbankan sudah masuk kategori kredit macet."

Kredit macet?! Mulut Tia terbuka lebar. Ingin rasanya Tia menyiramkan air teh basi di mejanya ke wajah pria klimis itu.

"Tenang saja, Nia, Mas Aris..." sahut Tia dengan suara yang dipaksa setenang mungkin, meski jemarinya menancap kuat di telapak tangan. "Mbak sudah punya calon. Tampan, atletis, pekerja keras, dan... sangat pemberani."

Nia melotot kaget. "Hah?! Beneran, Mbak?! Kok Nia tidak pernah dengar? Siapa namanya? Kerja di mana?"

"Namanya... Sam!" potong Tia cepat, berniat menutupi nama Samsudin yang merakyat.

Aris menaikkan sebelah alisnya, tampak tidak percaya. "Oh ya? Boleh dong dibawa ke acara arisan bulan depan? Biar bisa kenalan kita."

"Tentu saja!" tangkas Tia tegap, meski dalam hatinya ia ingin menangis darah.

Setelah Nia dan tunangannya yang menyebalkan itu akhirnya pulang jam sebelas malam, Tia langsung terduduk di ubin dingin rumahnya. Keringat dingin menetes di lehernya. Ia telah melontarkan kebohongan publik yang sangat besar!

"Mati aku... Aku harus dapatkan Samsudin itu besok pagi!" gumam Tia dengan mata menyala-nyala. "Mau dia pawang buaya, mau dia bau amis, mau dia minta dibayar pakai metode cicilan apa pun, besok dia harus mau jadi calon suami sewaanku!"

1
ˢ⍣⃟ₛ ERti ˢ⍣⃟ₛ.
tambahin up dong tor lagi seru lo torr
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu

udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
Ass Yfa
Sam...kalo belum mau jujur...bilang sja ke Tia...aku siap nafkahi mb tiSd. lahir batin🤭🤭
Ass Yfa
mereka itu miskom..belum ada kejujuran diantara mereka
Ardan
Sam kamu lelaki sejati, tambahin dong kalimat, "aku sudah ada rasa ama Mba Tia" 😍
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
Arin
Hayo..... mau cari alasan apa Mas Sam?? Sudah diterima kerja kantoran??? Tapi dalam hati bilang dengan gaji milyaran🤣🤣🤣🤣
Hary Nengsih
lom tau suami nya sultan
Arin
Cobalah saling terbuka, biarpun hanya suami-istri kontrak sementara.
Ida Khalifah: lanjut Thor 💪
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Khaira Almahendra
lanjoot thoor...mkn gregetan ni cerita nya😄,,,💪💪💪othor
Faidah Ida
lucu dan gemes thor,... 🤣🤣🤣

turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
Ass Yfa
Samsudi...gara2 grogi..mlh bikin dapur berantakan🤭
Ass Yfa
mb Tia suruh nglamar ditempat Sam
Ardan
sing sabar mbar, bojo mu si pawang buaya, udah jadi milyader loh, utang mu wis pasti dilunasin
Rommy Wasini Khumaidi
ini pasti mimpi,gk mungkin mereka secepat kilat melakukanya
❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ
itu akibatnya main nikah² an jadi serbasalah kalau ada adegan dewasa dikit udah tegang😁
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran
Ardan
makin lucu aja tingkah berdua🤣
Arin
Hayo lo..... Mba Tia. Sampai umur 35 baru ngelihat bentuk "ular ponton"?? 🤣🤣🤣 Apa lagi punya Mas Sam sang suami " kredit" Apa gak pengin di cicil dulu coba-coba kenalan dulu biar akrab🤭🤭🤭🤭
Hary Nengsih
ada2 ajs🤣🤣
Ass Yfa
😄😄😄😄ular piton...besar ya Tia...nggk pengin kamu🤭🤭
Rommy Wasini Khumaidi
sayang udah disewain kamar kalau dianggurin mas Sam,gas aja daripada nanggung,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!