Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.
Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.
Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serena Sakit
Suara detak jam dinding bergema pelan di dalam kamar bernuansa klasik Eropa itu. Aroma obat antiseptik dan lavender berpadu, menciptakan atmosfer yang tenang namun menyesakkan bagi Serena yang masih terbaring lemah di atas ranjang king size berbalut seprai satin hitam.
Pintu kamar terbuka pelan tanpa suara. Sergio Maximilian Ziegler melangkah masuk dengan mantel hitam panjang yang belum dilepas, menyiratkan betapa terburu-burunya pria itu kembali ke mansion setelah mendengar kabar tentang kondisi istrinya. Di sisi ranjang, Dokter Loan pria paruh baya dengan koper medis di tangannya langsung berdiri dan membungkuk hormat.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Sergio dengan suara baritonnya yang berat dan dingin, seolah mengiris kesunyian ruangan.
"Nyonya hanya syok dan tertekan, Tuan, selebihnya semuanya normal," jelas Dokter Loan sopan, merapikan jas putihnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Sergio tidak menanggapi ucapan dokter itu lagi. Pria tersebut mengalihkan pandangannya sepenuhnya ke arah Serena. Gadis berambut kecokelatan itu tampak memejamkan mata rapat-rapat, tenggelam dalam pengaruh obat penenang yang baru saja disuntikkan. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak pucat pasi, dihiasi sisa-sisa keringat dingin di pelipisnya.
Sergio melangkah mendekat, lalu memilih duduk di tepi ranjang. Jemari tangannya yang besar dan kokoh terulur pelan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi dahi Serena. Tatapan matanya yang terkenal kejam dan tanpa ampun di dunia gelap, kini melunak tanpa disadari siapa pun.
"Padahal kamu sendiri yang penasaran ingin menembak dan melihat perang..." ucap Sergio sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin,
"Kemana Serena yang berani kemarin itu?"
Dokter Loan yang masih berdiri di dekat pintu mendengarnya secara tidak sengaja. Bulu kuduknya meremang seketika. Selama bertahun-tahun bekerja untuk keluarga Ziegler, dia tidak pernah melihat sisi lembut dari sang kepala keluarga. Sergio Maximilian Ziegler yang dikenal sebagai monster dingin tanpa belas kasihan, kini tampak begitu sabar menunggui seorang wanita yang pingsan karena ketakutan sendiri.
Merasa tidak memiliki urusan lagi dan terlalu gugup berada di ruangan penuh aura dominan itu, Dokter Loan berdehem kecil.
"Uhm... Tuan Sergio, jika tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, saya akan pamit undur diri. Resep obat untuk pemulihan mental Nyonya sudah saya berikan di meja nakas," pamit Dokter Loan dengan sopan.
Sergio hanya melirik sekilas ke arah dokter tersebut tanpa bersuara, lalu sedikit mengangkat dagunya sebagai tanda mengizinkan. Dokter Loan segera membungkuk dalam-dalam dan melangkah mundur keluar dari kamar mewah itu.
Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, Dokter Loan menghela napas panjang di lorong mansion yang sepi. Pikirannya melayang pada kejadian semalam. Tengah malam buta, ponselnya berdering nyaring karena panggilan darurat dari pelayan mansion. Dia dipanggil bukan untuk merawat Serena, melainkan untuk mengobati Calum, pria kepercayaan Sergio yang malam itu harus menerima timah panas langsung dari senjata tuannya sendiri sebagai bentuk hukuman telak.
Dokter Loan menggelengkan kepalanya pelan saat mengingat betapa mencekamnya suasana malam itu. Calum dihukum karena berani bersikap tidak sopan dan meremehkan Serena. Tidak hanya itu, Sergio bahkan sengaja mempertontonkan acara penembakan tersebut di hadapan semua anak buahnya sebagai peringatan keras: tidak boleh ada satu pun orang di mansion ini yang berani berlaku semena-mena pada Serena Amaryllis.
"Sepertinya mansion ini sebentar lagi akan cerah," gumam Dokter Loan pelan pada dirinya sendiri, berharap ketulusan di balik kekejaman sang tuan muda bisa membawa kedamaian bagi Nyonya muda mereka.
Kembali ke dalam kamar, waktu berjalan lambat. Serena perlahan mengerjap-nerjap, menyesuaikan retinanya dengan cahaya lampu kamar yang temaram. Kepalanya terasa berat, dan bayangan-bayangan mengerikan tentang malam kemarin langsung berkelebat di kepalanya.
Suara dentuman senjata. Getaran keras di tangannya. Dan yang paling mengerikan... bayangan tubuh Calum yang terjungkal bersimbah darah.
"Ugh..." Serena merintih pelan, mencengkeram selimut dengan jemarinya yang masih lemas.
Mendengar suara itu, Sergio yang sedari tadi duduk di sampingnya langsung mendekat. "Kamu sudah sadar?" tanya pria itu dengan nada suara yang sedikit melunak, meski tetap terdengar tegas.
Serena menolehkan kepalanya secara perlahan. Netra cokelatnya langsung bersiborok dengan manik biru milik Sergio yang tajam menghujam. Seketika itu juga, ingatan tentang darah dan jeritan membuat napas Serena kembali memburu.
"S-Sergio..." suara Serena terdengar serak dan bergetar hebat.
"Aku... aku membunuhnya? Calum... aku melihatnya tertembak, dan aku memegang pistol itu... Ya Tuhan, aku adalah pembunuh!"
Serena mulai panik, air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya. Dia menarik kedua lututnya ke dada, mencoba menjauh meski tubuhnya tidak punya tenaga sama sekali. Dunianya yang dulu dipenuhi cerita-cerita fiksi dan novel romantis kini runtuh berkeping-keping. Di dunia aslinya dulu, memegang senjata atau melihat pertempuran hanyalah sebuah hiburan visual yang keren. Tapi kenyataannya? Bau mesiu, darah segar, dan rasa bersalah yang mencekik jauh lebih menakutkan dari apa pun di dunia ini.
Melihat kepanikan luar biasa di wajah istrinya, Sergio tidak tinggal diam. Pria itu langsung bergerak cepat, menarik tubuh lemas Serena ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh.
"Tenanglah, Serena. Dengarkan suaraku," ucap Sergio tegas namun menenangkan, mendekap kepala Serena ke dadanya.
"Kamu tidak membunuh siapa pun."
"Tapi... tapi darah itu..." Serena terisak di dada bidang suaminya, mencengkeram jas Sergio erat-erat.
"Dia jatuh... karena aku... aku penyebabnya..."
"Dengar, Serena Amaryllis," potong Sergio dengan nada dominan yang memaksa gadis itu untuk mendengarkan. Tangan kanannya mengelus punggung Serena perlahan, memberikan rasa aman di tengah badai pikiran gadis itu.
"Calum tidak mati. Dia hanya terluka di bagian bahunya. Itu adalah hukuman mutlak dariku karena dia berani bersikap tidak sopan padamu kemarin."
Serena mendongak perlahan, air mata masih membasahi bulu matanya. "B-beneran? Calum tidak mati?"
"Untuk apa aku berbohong?" jawab Sergio datar, meski tatapannya menyiratkan kelembutan yang hanya diberikan khusus untuk Serena seorang.
"Dia pria kuat. Peluru di bahunya tidak akan membuatnya tewas. Jadi, buang jauh-jauh pikiran bodoh mu yang menganggap dirimu seorang pembunuh."
Serena menelan ludahnya susah payah. Napasnya perlahan mulai teratur, meski sisa-sisa trauma masih terasa di rongga dadanya.
"Aku... aku tidak menyangka... mengangkat senjata ternyata semenakutkan ini, Sergio. Di novel-novel yang sering kubaca dulu, pahlawan wanita yang memegang pedang atau pistol terlihat begitu keren dan elegan. Kenapa kenyataannya justru membuatku ingin mati saja karena rasa bersalah?"
Mendengar keluhan polos itu, sudut bibir Sergio sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Pria itu merapikan kembali helai rambut Serena yang berantakan karena keringat.
"Novel dan kenyataan adalah dua hal yang berbeda, bodoh," tukas Sergio pelan, tidak ada nada mengejek, murni sebuah pernyataan fakta.
"Dunia ini bukan tempat bermain peran untuk anak kecil. Tempat ini dipenuhi darah dan aturan mutlak. Dan di dunia ini, posisimu adalah istri dari Sergio Maximilian Ziegler. Kamu tidak perlu menyentuh senjata apa pun untuk melindungi dirimu, karena ada aku yang akan membereskan semuanya."
Serena tertegun menatap pria di hadapannya ini. Di balik sifat dingin, kejam, dan irit bicaranya, Sergio ternyata memiliki cara tersendiri untuk membuatnya merasa aman. Pria ini tidak suka berbasa-basi, tapi setiap kalimat yang diucapkannya selalu memuat kepastian yang mutlak.
"Tapi aku bosan, Sergio," aku Serena jujur, suaranya melemah.
"Setiap hari di mansion ini rasanya sangat menegangkan. Kemarin aku hanya ingin tahu rasanya memegang benda itu karena aku penasaran. Aku tidak menyangka akibatnya akan sebesar ini."
"Rasa penasaranmu hampir membuatmu kehilangan nyawamu sendiri karena syok," balas Sergio tegas, tatapannya kembali berubah serius.
"Cukup jadikan ini pelajaran terakhir. Jangan pernah menyentuh benda berbahaya apa pun lagi tanpa izinku. Mengerti?"
Serena mengerucutkan bibirnya, meski pada akhirnya dia mengangguk pelan. "Iya... aku mengerti, Tuan Besar."
Melihat ekspresi Serena yang mulai kembali menunjukkan sedikit keceriaan khasnya, beban di dada Sergio sedikit berkurang. Pria itu tahu betul istrinya ini berasal dari dunia yang jauh berbeda, dunia yang damai, penuh warna, dan jauh dari bau mesiu. Adaptasi ini pasti sangat berat untuk Serena.
"Istirahatlah lagi," titah Sergio lembut, membaringkan kembali tubuh Serena dengan hati-hati ke atas bantal.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Aku akan ada di sini sampai kamu benar-benar tertidur."
Serena menatap Sergio dengan mata sayu. Efek obat penenang mulai kembali bekerja, membuat kesadarannya perlahan-lahan kabur.
"Jangan kemana-mana..." gumam Serena pelan sebelum akhirnya benar-benar jatuh tertidur pulas dalam dekapan rasa aman yang diciptakan suaminya.
Sergio menatap wajah tenang Serena dalam diam. Pria itu tetap duduk di sisi ranjang, menjaga istrinya tanpa sedikit pun berniat beranjak. Di luar kamar, badai mungkin tengah bersiap menerpa dunia bawah tanah mereka, namun di dalam ruangan ini, Sergio memastikan tidak ada satu pun ancaman yang bisa menyentuh ratunya.
Bersambung...
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔