Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.
Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.
Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duka maya
Mendengar penjelasan dokter kandungan itu, raut wajah semua orang di dalam bilik seketika berubah kaku. Maya... keguguran?
Semua terdiam membisu, terkecuali Maya yang dadanya kian terguncang hebat, menangis histeris meratapi takdir kejam yang baru saja menghantamnya.
Dokter menghela napas prihatin lalu beranjak keluar.
"Kami turut berduka cita atas kepergian calon bayi kalian. Jika emosi pasien sudah tenang, mohon selesaikan proses administrasi agar bisa segera dilakukan tindakan kuretase," ucap perawat pelan dan hati-hati, sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka yang masih berdiri mematung.
Di sudut ruangan, Santi mengulas senyum sinis yang tipis. Di dalam hatinya, ada rasa lega yang menyusup. Ia sempat berpikir, seandainya Maya melahirkan seorang anak laki-laki, perhatian dan sifat mertuanya bisa berubah total, dan ujung-ujungnya Santi yang akan terus dibanding-bandingkan. Untung saja Maya keguguran, batin Santi keji.
"Maya... kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu hamil?" tanya Arya, suaranya gemetar setelah berhasil menguasai rasa syoknya.
Maya tak menjawab, tubuhnya masih terisak pilu di atas brankar.
Sedetik kemudian, raut wajah Bu Rika mendadak berubah sangat bengis. Tanpa ampun, satu tamparan keras melayang dan mendarat mulus di pipi Maya!
Plak!
Suara tamparan itu menggema. Namun, Maya tak sedikit pun mengindahkan rasa panas di pipinya. Ia seolah larut dalam ruang hampa yang begitu dingin, tak lagi merasakan perih fisik yang menderanya.
"Dasar pembunuh! Apa yang kau lakukan pada cucuku, hah?!" teriak Bu Rika histeris. Ia begitu murka karena calon cucu yang ia nanti-nantikan justru tiada sebelum sempat melihat dunia.
"Maya, tolong bicara sama Mas... Sejak kapan kamu hamil?" tanya Arya lagi, meremas jemari istrinya.
"Kamu memang sengaja, kan, Maya, menggugurkan kandunganmu?! Kamu dendam sama Saya?!" amuk Bu Rika kesetanan, menudingkan telunjuknya tepat di depan wajah Maya.
Maya menggertakkan giginya rapat-rapt, jemarinya mengepal kencang hingga buku-buku jarinya memutih. Dengan pipi yang memerah dan mata yang bercucuran air mata, Maya mendongak. Ia menatap lurus ke dalam iris mata Bu Rika, lalu... terkekeh sinis. Sebuah tawa penuh kepedihan.
"Ibu lupa siapa yang terus-menerus memaksa Maya bekerja tanpa henti di rumah?" tanya Maya, suaranya parau namun sarat akan kegetiran.
Kini, tak ada lagi Maya yang lemah lembut, bersabar, dan selalu mengalah.
Mata Maya beralih menatap Arya tajam. "Dan Kamu, Mas... Kamu lupa? Berapa kali aku memohon untuk dibawa ke rumah sakit?! Sekarang kalian malah menyalahkan aku?!"
"B-bukan begitu, Maya..." sahut Arya terbata-bata, menyunggingkan raut bersalah yang teramat tipis.
"Halah! Kamu saja yang tidak becus menjaga diri, sekarang malah menyalahkan kami!" potong Bu Rika sengit, menolak mentah-mentah mengakui andil kesalahannya. "Kamu itu pembunuh! Saya tidak sudi punya menantu seorang pembunuh!"
Maya hanya tersenyum sinis mendengarnya. Hatinya sudah terlalu kebas untuk terluka oleh bentakan itu.
Saat Bu Rika hendak mengoceh dan memaki lebih lanjut, pintu tirai tersingkap. Seorang perawat masuk dan menegur mereka dengan nada tegas agar tidak membuat keributan di area IGD.
"Bu, sudah... Nanti tensi Ibu naik lagi. Kita pulang saja," ajak Santi seraya menarik lengan ibunya. Ia mulai merasa malu karena serapah Bu Rika menjadi pusat perhatian pasien lain.
"Iya, Bu. Mending Ibu pulang dan istirahat," timpal Arya menyetujui.
Dengan wajah yang masih merah padam menahan amarah, Bu Rika berbalik dan pergi melangkah keluar dari rumah sakit mengekor Santi.
"Maya, aku ke bagian administrasi dulu ya," ucap Arya datar, beranjak pergi tanpa menyisakan sedikit pun rasa duka atas kehilangan calon buah hatinya. Tak ada sepatah kata maaf yang terucap dari bibirnya atas keterlambatannya membawa Maya berobat.
Sepeninggal Arya, Maya kembali terisak sendirian. Jemarinya yang bergetar pelan mengusap perutnya yang kini terasa hampa.
"Maafkan Ibu, Nak..." gumam Maya di sela isak tangisnya yang memilukan.
Lama Maya menangis sendirian tanpa ada satu pun orang yang mendampingi, hingga akhirnya tubuhnya yang kehabisan tenaga menyerah. Ia tertidur lelap akibat rasa lelah luar biasa.
Saat terbangun, Maya menatap sekeliling dengan kening berkerut. Ia tak tahu sedang berada di mana.
Ia berusaha mendudukkan tubuhnya meski bagian bawah tubuhnya terasa nyeri dan badannya masih sangat lemas. Matanya sembab, dan pipinya agak bengkak bekas tamparan Bu Rika tadi siang.
Suasana ruangan ini sangat asing. Ruang rawat inap yang begitu luas, sejuk, dan dilengkapi fasilitas mewah layaknya hotel bintang lima. Sangat mustahil jika Arya yang memintanya.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Arya keluar dari dalam, lalu bergegas menghampiri bed pasien dan duduk di kursi samping Maya.
"Kamu sudah bangun, May?" tanya Arya lembut. "Tadi waktu Mas tinggal ke administrasi, kata dokter kamu tertidur karena energimu terkuras habis, jadi tindakan kuretasenya langsung dilakukan saat kamu tertidur."
Maya menyapu pandangan ke sudut ruangan. "Terus... ini ruangan apa?" tanya Maya yang tak lagi memakai embel-embel 'mas'
"Sebenarnya Mas juga tidak tahu," aku Arya dengan nada senang yang berusaha ia sembunyikan. "Sewaktu Mas mau melengkapi berkas administrasi dan membayar biaya, ternyata semua biayanya sudah dibayarkan lunas oleh seseorang. Malah kita dipindahkan ke kamar ini."
Arya mengusap tengkuknya seraya tersenyum tipis tanpa tahu malu. "Lumayan kan, May? Kamu bisa dapat ruangan VVIP dengan fasilitas lengkap begini, dan Mas juga tidak perlu keluar uang sepeser pun."
Maya menatap Arya dalam hening. Di dalam hatinya, ia tersenyum sinis. Pernikahan ini benar-benar telah mati. Anaknya baru saja meninggal, namun suaminya sama sekali tidak menunjukkan rasa berduka, melainkan justru merasa beruntung karena mendapat fasilitas gratis.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Maya memiringkan tubuhnya, membelakangi Arya.
"Aku ngantuk, mau tidur," ucap Maya dingin.
"Iya, Sayang. Istirahat yang cukup ya. Mungkin besok kita sudah bisa pulang," sahut Arya seraya mengusap pundak Maya pelan.