perjuangan cinta aji sang pengusaha sukses begitu rumit dan panjang, mencintai dalam diam yang dia pendam selama bertahun-tahun tak membuat dia patah semangat mendapatkan sak kekasih. suci adalah wanita yang dia cintai dalam diam selama ini. akankah aji mendapatkan cintanya suci? di baca sampai akhir ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
baju kurang bahan
hari demi hari berlalu, aji berusaha menghindar dari wulan, berharap apa yang terjadi hanya sebuah hayalan wulan.
siang itu aji memutuskan untuk pergi ke kantor milik pak izam, sebuah expedisi terbesar di kota Jogja dan kini hampir semua kota memiliki cabang, yang besar juga ada di semarang yang kini di kelola oleh anak pertamanya yaitu teguh
"pa... " aji nongol dari balik pintu, mengagetkan pak izam yang tengah sibukk dengan setumpuk kertas di hadapannya
"masuk ji... mimpi apa kamu kesini" ucap pak izam sambil membetulkan kacamata yang sedikit melorot
"main aja pa"
"papa kira kamu mau memutuskan untuk bantu papa"
"rencananya pa"
"kamu serius kan?" ucap pak izam senang dan di balas anggukan dari aji
"ayo sini papa ajarin, step by stepnya"
aji mendengar semua penjelasan pak izam, tanpa sedikitpun yang dia lewatkan
"untuk sementara ini kamu boleh ikut kerja di sini, kamu belajar"
"oke pa"
"walaupun kamu anak pemilik perusahaan ini, tapi kamu tetap.. sama seperti karyawan yang lainnya, datang tepat waktu, ndak boleh asal libur apa lagi bolos"
"oke pa"
"kamu juga mendapatkan gaji seperti yang lainnya"
aji menyetujui persyaratan orang tuanya itu, tampak wajah bahagia dari pak izam
Ponsel aji berdering, panggilan masuk dari wulan
"ji... kamu beberapa hari ini ndak ke rumah"
"aku sibuk lan"
"sibuk? kamu sudah dapat kerja?"
"aku bantu papaku di kantor"
"jadi ndak ada waktu lagi buat aku"
aji terdiam
"nanti aku mampir ke rumahmu"
dari nada suara wulan senang mendengar aji akan ke rumahnya
"siapa? " tanya pak izam "pacar?"
"teman pa" Jawab aji datar. aji melanjutkan lagi mendengarkan penjelasan dari pak izam
****
Sepulang dari kantor pak izam
Wulan menunggu aji di teras rumahnya sambil menyelesaikan skripsinya
"sibuk lan"
suara aji membuyarkan konsentrasi wulan
"kok ndak kedengeran mobilmu?"
"tuh aku taruh di jalan"
"tumben ndak di masukan" ucap wulan sambil menutup laptop di depannya
"kok udahan ngerjakan skripsinya" aji duduk di depan wulan
"nanti lagi, kan ada kamu.. kemana aja sih, ndak tau kalau aku kangen"
"kangen?"
"iya... sejak saat itu kamu ndak kesini, seperti menghilang di telan bumi"
"aku di rmh aja, sambil nyari-nyari kerjaan"
"dapat? "
Aji menggeleng
"anak pengusaha kok mau cari kerja sih"
"mulai besok aku bantu papa di kantor"
suasa hening sejenak, wulan masuk kedalam rumah mengambil beberapa camilan dan secangkir just alpukat kesukaan aji
"kamu kenapa sih... sekarang berubah, beda" rajuk wulan duduk di samping aji, manja seperti biasanya
"kamu ini ya... ndak berubah"
"apa sih... " kilah wulan
"bajumu itu lho... kurang bahan"
"ya namanya di rumah, kan pakai yang santai-santai"
"iya di rumah... tapi kalau di teras seperti ini. dilihat orang, apa ndak malu"
"biarin... suruh siapa lihat"
"oke kalau cuma lihat, kalau ada yang nafsu bagaimana?"
"hmmm... kamu nafsu yaaa.... " goda wulan
"mulai genit, ambil kain penutup, ganti baju atau aku pulang?"
"iya iya... " wulan masuk ke dalam sambil cemberut dan keluar lg dengan baju yang berbeda dan tertutup
"nah seperti ini kan enak di lihat" ucap aji "tolong kasihani mata laki-laki. di lihat dosa, ndak di lihat barang bagus" canda aji, suasana sedikit mencair
wulan duduk kembali di samping aji, melingkarkan tangannya di legan aji. aji sedikit menghindar
"kok geser?" ucap wulan
"gerah" timpal aji sambil meneguk just alpukat yang di buatkan wulan
"lan"
"hmm... apa" wulan memandang wajah ganteng di hadapannya itu
"apa kita benar-benar melakukannya"
Kini wulan merubah posisi duduknya dan lebih tegak
"iya ji, kamu ndak ingat? kamu yang memaksa aku aji"
"berani sumpah aku ndak ingat lan... sampai sekarang aku mencoba mengingat tetap tidak ada yang aku ingat"
"lantas... apa yang kita lakukan malam itu ji?"
aji terdiam, benang kusut di otaknya masih belum terurai, blm ingat ritual malam itu
"aku melakukannya pertama kali ya malam itu ji, sakit tau"
Sepontan aji melihat bagian bawah milik wulan dan terdiam krn blm percaya dengan apa yang terjadi
"kamu takut?"
"bukan takut... eh ya takut sih, tp aku ndak ingat sama sekali lan"
"kamu mabok ji, kamu ndak sadar"
"oke aku mabuk ya, kamu ndak mabuk kan? lantas kenapa kamu ndak menolak waktu itu?"
"menolak? tenaga perempuan mana kuat menolak tenaga laki-laki ji, kamu memaksa aku dengan kuat"
aji mendengarkan sambil mencerna ucapan wulan
"kamu memaksa ku ji, oke aku sebenarnya juga menginginkan itu, tapi yang aku inginkan dengan kesadaran penuh, bukan waktu kamu mabok seperti kemarin"
"seharusnya kamu menghindar, atau menamparku bila perlu, krn perbuatan itu dosa besar lan" ucap aji menghadapkan tubuhnya ke arah wulan dan memandang lekat wajah gadis itu
"ndak sanggup ji, kamu di bawah pengaruh minuman, tenagamu sangat kuat, apa kamu menyesal? harusnya aku yang menyesal ji"
aji diam
"kamu menyesal?"
"iya... aku menyesal. menyesalku krn itu dosa besar" ucap aji tegas
"tapi kita sudah melakukannya ji" rajuk wulan manja
"kemarin untuk pertama dan terakhir"
"maksudnya?" tanya wulan serius
"jangan sampai khilaf lagi seperti kemarin"
"ow... aku kira kamu mau minta putus dari aku"
aji diam, krn bukan wulan perempuan yang dia inginkan dan aji tak ingin salah memilih teman hidup
"lan... jujur ya. dan aku sebelumnya aku minta maaf" ucap aji serius "kamu cantik, memang cantik, tapi kamu tau sendiri kan bukan kamu yang aku harapkan untuk menjadi istriku"
Ucapan aji terasa sakit di telinga wulan
"maksud kamu?" wajah wulan semakin serius "maksud kamu ndak mau menikah dengan ku? dan masih berharap untuk mendapatkan suci?"
Aji diam
"lantas bagaimana dengan aku ji? yang sudah kau rebut kesucian ku? apa kamu akan lepas begitu saja?"
"aku ndak sadar lan, dan aku ndak ingat. anggap saja hal itu tidak pernah terjadi lan"
"enteng kamu ya... enteng banget kamu bicara seperti ini ji. kecewa aku sama kamu ji, kalau memang aku bukan pilihanmu, jangan memberi harapan untuk ku ji" wulan meninggalkan aji di teras depan rumahnya, masuk ke dalam dan menutup rapat pintu rumah tua tapi asri itu
"lan... dengarkan aku dulu" aji mengetuk pintu itu berharap wulan keluar dan mendengarkan penjelasannya
wulan tak juga kunjung keluar, aji memutuskan untuk pulang. dari balik tirai wulan melihat kepergian aji. rasa kecewa jelas di rasakan wulan saat itu. dia berharap aji akan bertanggung jawab dengan apa yang terjadi, bukan mengatakan sebaliknya.
Wanita mana yang tidak tertarik dengan ketampanan aji, tubuh tinggi besar dan wajah tampan membuat wanita ingin dekat dengannya