Shen Qingyue adalah istri pertama keluarga Marquis Yong'an yang dikenal kejam dan pencemburu. Ditinggalkan suami di malam pernikahan, ia mati setelah meminum semangkuk "sup penenang" yang diracun.
Tapi takdir berkata lain.
Ketika Lin Xiao, seorang direktur pemasaran modern yang mati kelelahan, terbangun di tubuh Shen Qingyue, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah keluarga bangsawan yang penuh intrik. Suami yang dingin, selir yang licik, dan ibu mertua yang kejam—semua orang ingin melihatnya jatuh.
Namun Lin Xiao bukanlah Shen Qingyue yang lemah. Dengan kecerdasan verbal dan logika modernnya, ia bertekad untuk bertahan hidup dengan martabat. Satu per satu, jebakan dibongkar, musuh dipermalukan, dan rahasia gelap keluarga Marquis mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh Belas
Lin Xiao menyimpan pemikiran itu dalam hati dan kembali ke Paviliun Timur tanpa menunjukkan apa pun.
Namun, baru saja ia melangkah masuk, ia melihat seseorang sedang berlutut di halaman.
Selir Zhou.
Wanita itu mengenakan pakaian putih polos. Rambutnya terurai tanpa sanggul, wajahnya tanpa riasan, dan matanya yang bengkak tampak merah seperti buah persik matang.
Ia berlutut sendirian di atas batu halaman, tanpa seorang pelayan pun menemani. Sosoknya tampak seperti patung yang terlupakan.
Begitu melihat Lin Xiao masuk, air matanya langsung mengalir deras.
"Kakak..."
Lin Xiao berhenti melangkah.
Qingxing di belakangnya menarik napas tajam.
"Kakak..."
Selir Zhou merangkak maju beberapa langkah. Lututnya bergesekan dengan batu kasar, sementara suaranya bergetar oleh tangis.
"Aku tahu aku salah... Aku tidak seharusnya memfitnah Kakak... Aku tidak seharusnya menuduh Kakak meracuniku... Aku hanya dibutakan oleh kebodohan..."
Tangisnya begitu memilukan hingga seluruh tubuhnya gemetar.
Lin Xiao menunduk memandangnya tanpa segera berbicara.
Di luar gerbang Paviliun Timur, beberapa pelayan dan perempuan tua sudah mulai mengintip.
Strategi Selir Zhou sangat cerdik.
Ia datang berlutut di Paviliun Timur dan meminta maaf di depan semua orang.
Tak peduli Lin Xiao menerima atau tidak, orang-orang pasti akan berpikir:
"Selir Zhou sudah sampai berlutut meminta maaf. Kalau Shen Qingyue masih belum memaafkannya, berarti dialah yang terlalu kejam."
Apakah permintaan maaf itu tulus?
Tentu saja tidak.
Tetapi orang-orang yang menonton tidak peduli soal ketulusan.
Mereka hanya peduli apakah pertunjukannya menarik.
Lin Xiao berdiri di tengah halaman, menatap punggung Selir Zhou yang membungkuk. Cahaya pagi memanjangkan bayangannya.
"Adik."
Akhirnya Lin Xiao berbicara. Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas untuk didengar semua orang di luar.
"Berdirilah dulu."
Selir Zhou menangis sambil menggeleng.
"Kalau Kakak belum memaafkanku, aku tidak akan bangun..."
"Berdirilah."
Lin Xiao memotong ucapannya.
"Kau sedang mengandung. Batu halaman dingin dan tidak baik untuk anakmu."
Tangisan Selir Zhou langsung terhenti sesaat.
Ia tidak menyangka Lin Xiao akan menggunakan anak itu sebagai alasan.
Senjata yang semula ingin dipakainya kini justru diambil alih.
Selir Zhou ragu beberapa saat. Qingxing segera maju membantunya berdiri.
Kali ini, ia tidak menolak.
Dengan bantuan Qingxing, ia bangkit, meski tubuhnya masih gemetar dan air matanya belum mengering.
Lin Xiao memandangnya dengan tenang.
"Hari ini kau datang untuk meminta maaf, dan aku sudah menerimanya. Tapi ada satu hal yang ingin kusampaikan."
Selir Zhou mengangkat kepala. Mata merahnya memancarkan kewaspadaan.
"Bubur yang kau minum kemarin, siapa pun yang memberikannya, jangan dimakan lagi."
"Keadaan tubuhmu lemah. Apa pun yang kau makan dan minum harus diperhatikan. Kalau kau tidak bisa membedakan mana yang aman dan mana yang tidak, aku bisa membantumu mengawasinya."
Lin Xiao berhenti sejenak sebelum melanjutkan,
"Bagaimanapun juga, anak dalam kandunganmu adalah darah daging keluarga Marquis."
Wajah Selir Zhou langsung memucat.
Sekilas, kata-kata itu terdengar seperti perhatian.
Namun, hanya Selir Zhou yang memahami ancaman tersembunyi di baliknya.
Aku tahu ada masalah dengan bubur itu.
Aku juga tahu siapa yang bermain di balik layar.
Kalau kau masih ingin membuat masalah denganku, aku tidak keberatan mengungkap semuanya satu per satu.
Selir Zhou menundukkan kepala.
"Aku... mengerti."
"Bagus. Pulanglah."
Lin Xiao berkata datar.
"Rawat dirimu baik-baik dan jangan datang berlutut lagi. Kalau orang luar melihatnya, mereka akan mengira aku menindasmu."
Selir Zhou menggigit bibirnya, lalu berbalik pergi.
Langkahnya lambat dan sedikit goyah. Bayangannya memanjang di bawah sinar matahari pagi.
Lin Xiao memperhatikannya keluar dari Paviliun Timur sebelum akhirnya kembali ke dalam rumah.
Qingxing ikut masuk dan bertanya pelan,
"Nyonya... apa maksud Selir Zhou melakukan semua ini hari ini?"
"Untuk menguji."
Lin Xiao duduk dan menuangkan secangkir teh.
"Dia ingin tahu seberapa kuat diriku sekarang."
"Kalau hari ini aku melunak dan memaafkannya, dia akan tahu bahwa aku tidak lebih dari itu dan besok akan datang lagi."
"Kalau hari ini aku marah dan memakinya, dia akan tahu bahwa aku masih Shen Qingyue yang mudah terpancing emosi, lalu mencari cara lain untuk menghadapiku."
"Lalu sekarang..."
"Aku tidak melakukan keduanya."
Lin Xiao menyesap teh.
"Aku membiarkannya berlutut, lalu menyuruhnya berdiri."
"Aku mendengar permintaan maafnya, tetapi tidak mengatakan bahwa aku memaafkannya."
"Aku menunjukkan kepedulian pada anaknya, sekaligus mengingatkannya soal bubur itu."
Ia meletakkan cangkirnya di atas meja.
"Sekarang dia tidak tahu apa yang kupikirkan. Karena itu, dia tidak berani bergerak."
Qingxing merenung cukup lama sebelum akhirnya mengerti.
"Nyonya... Anda sedang memanggangnya di atas bara."
Lin Xiao tidak menyangkal.
"Dia sendiri yang memilih berlutut. Bukan aku yang menyuruhnya."
"Semua orang di rumah ini sudah melihat Selir Zhou datang ke Paviliun Timur untuk meminta maaf. Mulai sekarang, siapa pun yang menuduhku menindasnya, kejadian hari ini akan menjadi tameng terbaikku."
Lin Xiao berdiri dan berjalan ke jendela.
Kuncup bunga begonia di halaman telah mekar sedikit lebih banyak dibanding kemarin. Kelopak merah mudanya tampak tipis dan tembus cahaya di bawah matahari pagi.
Menatap bunga-bunga itu, ia tiba-tiba berkata,
"Musim semi benar-benar sudah tiba."
Qingxing berdiri di belakangnya tanpa berkata apa-apa.
Namun, dalam hatinya, ia tahu bahwa musim semi Paviliun Timur baru saja dimulai.
*
Setelah Selir Zhou datang berlutut meminta maaf, Paviliun Timur benar-benar tenang selama sehari penuh.
Tidak ada yang mengetuk pintu, tidak ada pelayan tua yang datang menyampaikan pesan. Bahkan dua perempuan tua yang biasanya berjaga di depan pintu pun sudah ditarik pergi. Maksud Nyonya Tua sangat jelas:
"Karena kesehatan Nyonya sudah membaik, tidak perlu lagi dikurung."
Gembok dibuka, palang dicabut, dan Paviliun Timur kembali memperoleh kebebasan keluar masuk.
Namun, Lin Xiao tidak pergi ke mana-mana.
Ia duduk di dekat jendela sambil menatap mangkuk obat penenang yang masih tersegel. Endapan putih di dasar mangkuk tampak lebih banyak dibanding beberapa hari sebelumnya, sementara permukaannya ditutupi lapisan tipis, seperti obat yang mulai rusak karena terlalu lama dibiarkan.
Ia memandanginya cukup lama sebelum akhirnya menyimpannya kembali ke dalam lemari.
"Qingxing."
"Hamba di sini."
"Siang ini, apa ada acara di tempat Nyonya Tua?"
Qingxing berpikir sejenak.
"Biasanya setelah makan siang, Nyonya Tua tidur sebentar di aula belakang. Setelah bangun, beliau minum teh dan menerima kunjungan para nyonya dari cabang keluarga lain. Hari ini sepertinya istri Paman Kedua akan datang menemaninya mengobrol."
"Siapa yang menyeduhkan tehnya?"
"Mama Zhang sendiri. Teh Nyonya Tua tidak pernah disentuh orang lain. Mama Zhang selalu mengawasi tungku dan membawanya masuk dengan tangannya sendiri."
Jari Lin Xiao mengetuk meja dua kali.
Mama Zhang.
Orang yang paling dipercaya Nyonya Tua, seorang pelayan tua yang telah tinggal di kediaman Marquis selama empat puluh tahun.
Semua urusan makan, minum, dan keseharian Nyonya Tua berada di tangannya. Bahkan teh pun ia siapkan sendiri.
Kalau obat Nyonya Tua memang bermasalah, tidak mungkin Mama Zhang tidak tahu.
Dan jika Mama Zhang mengetahuinya tetapi tidak mencegahnya, hanya ada dua kemungkinan:
Entah dia pelakunya.
Atau dia dimanfaatkan tanpa menyadarinya.