NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Rahasia yang Terkuak

Saking terhanyut dalam lamunannya yang berkecamuk, Aura sama sekali tidak menyadari langkah kaki Fadil yang menginjak karpet tebal kamar tersebut.

Pria itu menyunggingkan senyum tipis, lalu dengan gerakan lembut melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Aura dari belakang.

"Kenapa berdiri saja? Apa belum ngantuk?" tanya Fadil pelan. Helaan napas hangat suaminya menyapu leher Aura yang tertutup plester, hingga membuat wanita itu tersentak kaget dan spontan berbalik menghadap Fadil.

"Mas...!" seru Aura terbata-bata.

"Stttt..." Fadil segera meletakkan jari telunjuknya di bibir Aura.

Sorot matanya yang sayu dipenuhi pendar gairah dan kasih sayang yang mendalam. Tanpa memberi ruang untuk intrupsi, Fadil makin mengeratkan pelukannya di pinggang Aura dan mulai mendaratkan ciuman mesra di bibir istrinya.

"Mas, hmmfth..."

Fadil langsung melumat bibir Aura yang hendak bicara, dan menyecap kehangatan itu dengan penuh kerinduan seolah tak ingin terpisah sedetik pun.

Di sela-sela pagutan hangat tersebut, Aura mencoba mempertahankan kesadarannya. Rasa bersalah yang membakar jiwanya jauh lebih besar daripada buaian gairah suaminya.

Lalu, Aura memberanikan diri menekan dada bidang Fadil dengan kedua telapak tangannya, dan berusaha keras melepaskan diri dari pagutan Fadil.

"Mas, aku mau bicara," ujar Aura seraya menarik wajahnya menjauh dengan napas yang sedikit terengah.

Ciuman yang mendadak terhenti itu membuat Fadil tersentak. Ia menatap Aura dengan kening yang berkerut bingung. Ada gurat keseriusan dan gundah gulana yang begitu pekat di manik mata istrinya. "Ada apa, Sayang?"

"Aku mau bicara sesuatu... hal yang sangat penting," jawab Aura.

Ia lalu berbalik menghadap lemari pakaian. Dengan jemari yang gemetar, Aura memutar kunci kecil laci tersembunyi itu, membuka slot kayu, lalu mengambil sebuah buku harian bersampul kulit coklat milik Keisya, lengkap dengan lembaran surat yang terselip di dalamnya.

Fadil memperhatikan setiap gerakan Aura dengan seksama. Pandangannya langsung tertuju pada benda bersampul kulit yang dipegang erat oleh istrinya itu. Wajah Fadil yang tadinya dipenuhi kehangatan perlahan berubah menjadi agak heran.

Aura kemudian melangkah pelan menuju sofa panjang di sudut kamar, sementara Fadil mengikutinya dari belakang tanpa bersuara, lalu mereka berdua duduk berdampingan.

Aura meremas buku harian itu di pangkuannya. Rasa ragu menyergap hatinya bagaikan ombak yang besar. Ia tau, momen ini bisa saja mengubah arah pernikahan mereka atau bahkan menghancurkan kebahagiaan manis yang baru beberapa hari ini mereka nikmati.

Namun, membiarkan Fadil terus berada dalam ketidaktahuannya seperti mengkhianati ketulusan pria itu. Apapun konsekuensinya, Aura mantap meyakini inilah saatnya.

"Mas Fadil..."

Aura mengulurkan buku harian bersampul kulit itu beserta selembar kertas surat yang terlipat ke hadapan Fadil.

"Ini... buku harian dan surat peninggalan Kak Keisya," bisik Aura.

Fadil tertegun. Binar matanya meredup seketika saat mendengar nama Keisya diucapkan. Jarum jam seolah melambat saat tangan Fadil terulur perlahan meraih buku harian tersebut.

Aura menundukkan kepalanya, jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan. Rasa bersalah yang membakar dadanya kian menjadi-jadi saat melihat mata Fadil terpaku pada kertas surat dan buku harian bersampul kulit coklat itu.

"Mas... maafkan aku," bisik Aura. "Buku harian dan surat itu, Kak Keisya sendiri yang mengirimkannya padaku lewat kurir paket beberapa waktu lalu."

Fadil menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Aura dengan kening yang berkerut. "Dikirim lewat paket?"

Aura mengangguk pelan, hingga air matanya menetes. "Iya, Mas. Dulu aku sengaja menyembunyikannya dan tidak langsung memberitahu Mas Fadil... Aku terlalu takut. Aku khawatir kalau Mas membaca ini, Mas akan makin membenci Kak Keisya atau kesedihan Mas akan bertambah parah. Tapi belakangan ini aku sadar... aku tidak berhak menyembunyikan kebenaran ini dari Mas Fadil."

Fadil tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar tersebut. Lalu dengan perlahan, tangan Fadil terulur membuka lipatan surat pertama yang ditujukan khusus untuk Aura.

Mata Fadil bergerak menelusuri setiap baris tulisan tangan Keisya yang sangat ia kenali:

Aura, adikku tersayang...

Jika kamu membaca surat ini, berarti paket ini sudah sampai dengan selamat di tanganmu tanpa diketahui siapa pun. Maafkan Kakak, Ra. Maafkan Kakak yang sudah menjadi penjahat terburuk dalam hidupmu.

Kakak tau saat ini kamu pasti membenci Kakak. Kamu dan Fadil harus menanggung akibat dari kehancuran yang Kakak tinggalkan. Tapi percaya sama Kakak, Ra... Kakak tidak punya pilihan lain hari itu. Kakak terlalu takut dan hancur.

Tolong jangan cari Kakak. Kakak ingin menenangkan diri dan merawat janin ini di tempat yang jauh. Tolong jaga Mama dan Papa untuk Kakak. Dan untuk Fadil... sampaikan permohonan maaf Kakak yang teramat besar padanya. Kakak tidak pantas untuk pria sebaik dia.

Pegang buku harian ini, Ra. Di sana ada semua jawaban tentang apa yang terjadi pada Kakak malam itu. Kakak memercayakannya padamu.

Salam sayang,

Keisya.

"Janin ini...? Hamil...?"

Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong yang menghantam kesadaran Fadil. Rahangnya mengeras seketika. Manik matanya bergetar hebat saat membaca fakta bahwa Keisya melarikan diri karena sedang mengandung.

Tanpa membuang waktu, dengan jemari yang menegang, Fadil membuka halaman demi halaman buku harian milik Keisya. Ia mencari jawaban di balik tragedi kelam yang menghancurkan hari pernikahan mereka.

Di dalam catatan harian itu, Keisya menumpahkan segala kepedihan dan kehancuran jiwanya.

Beberapa minggu sebelum hari pernikahan, Keisya menghadiri sebuah acara ulang tahun temannya. Malam itu menjadi awal dari mimpi buruknya, ia dijebak dan diminumi minuman beracun hingga tak sadarkan diri oleh seorang teman pria yang obsesif. Keisya terbangun di sebuah kamar hotel dalam keadaan hancur dan ternoda.

Keisya merasa sangat kotor dan hina. Ia tak sanggup berterus terang kepada Fadil maupun keluarganya karena rasa malu yang teramat besar dan ketakutan akan merusak nama baik kedua keluarga.

Puncaknya, satu Minggu sebelum akad nikah, Keisya mendapati dirinya positif hamil akibat tragedi malam kelam tersebut.

Dalam keputusasaan dan jiwa yang tergoncang hebat, Keisya sadar ia tidak bisa menikahi Fadil, pria suci dan baik hati yang sangat dihormatinya dengan membawa janin dari pria yang telah merenggut kehormatannya.

Karena itulah, di hari pernikahan, Keisya memilih mundur, menghilang, dan menanggung penderitaannya sendirian di tempat yang jauh tanpa ingin membebani siapa pun.

CRASH!

Fadil memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkram buku harian itu hingga sampul kulitnya terlipat keras. Napasnya terdengar berat dan memburu.

Kebencian dan rasa amarah yang selama ini ia simpan terhadap Keisya, karena mengira wanita itu tega mencampakkannya demi pria lain secara sukarela, seketika luruh dan berganti menjadi rasa guncangan emosional yang dahsyat.

Keisya bukan penjahat yang tega membuangnya, melainkan korban dari tragedi kejam yang menyedihkan.

Aura yang melihat perubahan raut wajah Fadil yang begitu pias tak sanggup lagi menahan tangisnya. Ia lalu maju mendekat, dan menggenggam jemari Fadil yang menegang kaku.

"Mas Fadil..." tangis Aura pecah. "Maafkan aku... maafkan aku yang baru memberitahumu sekarang..."

Fadil perlahan membuka matanya, dan menatap Aura yang menangis sesenggukan di sampingnya.

Pria itu menarik napas panjang, dan mencoba menata kembali serpihan emosinya yang sempat berhamburan.

Kebenaran kelam ini memang memukul jiwanya, namun saat melihat wanita yang kini berada di hadapannya, istri yang telah hadir membawa kedamaian dan menyembuhkan luka hatinya, Fadil sadar akan satu hal.

Fadil lalu merengkuh tubuh Aura ke dalam pelukannya yang erat, dan mengusap lembut punggung istrinya yang bergetar.

"Tidak apa-apa, Aura... Ini bukan salahmu," bisik Fadil. "Terima kasih sudah memberitahuku kebenarannya."

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya aura plong, sudah gak ada beban.. tinggal menata hatinya lagi, semoga Fadil tetap mempertahankan pernikahannya😊
Aurora: wkwkwkw...😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
katakanlah Aura, kebenaran yang terlalu lama kamu pendam sendiri akan membuat luka di kemudian hari...
Aurora: Betul betul betul...
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
nyamuknya besar banget Farah 🤣🤣🤣
Aurora: lah... kalau sampai di lahap habis dong Aura 🤣🤣🤣😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya bagus dan gak ngebosenin.. authornya juga asyik 🥰 semangat terus kak, jangan patah semangat untuk berkarya🤗 sukses slalu😊
𝐀⃝🥀Weny: sama² kak🥰🥰
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
orang tua kalau ngeliat keluarga anaknya bahagia jadi ikut senang.. gak seperti bayangannya karena sebelumnya Fadil sangat menolak pernikahan itu😊
Aurora: Makasihh kakak..🥰🥰🙏🙏
total 13 replies
sunaryati jarum
Tidak apa-apa Aura kamu bangun kesiangan kan sudah ada Mbok.Semoga bibit unggul Mas Fadil ada yang tumbuh,Ya.
Aurora: hehehe iya ya, semoga...🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Jadi candu dan move on dari Kesya ya Nak Fadil,semoga Kesya menemukan orang yg tulus mencintainya.Dan Ryan si pemerkosa dapat karmanya,siapun yang terlibat saat itu juga mendapat karmanya.Bahagia selalu Aura, Fadil,Kesya.dan Farhan mantan calon suami Aura.
sunaryati jarum
Pagi- pagi sudah sarapan Aura, mantaaap
𝐀⃝🥀Weny
walaah.. aku pikir kalau mau dikasih tiket untuk bulan madu🤦🤣🤣🤣🤣
Aurora: xixixixi... bulan madunya di rumah aja dulu, ydha cape itu juga 🫣🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
kasihan auranya samapi kecapean kyk gitu.. gara² si Fadil, kyk orng kesurupan 🤣🤣
Aurora: hmmm... perdebatan batin yang bergelora tuh 😅😅
total 7 replies
Aurora
wkwkwkk... jangan bikin Fadil malu dong kak..🤣🤣🤣🤭
𝐀⃝🥀Weny
ciiiee... mas Fadil, sudah tau rasanya minta lagi dan lagi 🤣 tadinya aja gak mau sekamar sama aura😜
sunaryati jarum
Akhirnya terjadi penyatuan juga, selamat kalian sudah jadi suami istri seutuhnya
sunaryati jarum
Nah jadilah suami istri sesungguhnya, semoga Kesya entar tidak ingin merebut suami kamu, karena selama ini kalian hidup rukun dan saling menyayangi
sunaryati jarum
Mungkin Fadil makin lama makin nyaman , apalagi Aura sabar,patuh ,dan lebih muda kan
Aurora: yes, betul bangetttt 😅🤗
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
waaah... si Fadil pagi² dh menang banyak lagi tuuuh🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: hadeeech🤦🤣🤣🤣
total 8 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya gol juga🤣🤣🤣
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣
Aurora: wkwkwk bahaya ta🤭🙏
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
iya mas Fadil, kamu juga milikku mas😂😂😂
Aurora: betul bangetttt 😅
total 11 replies
sunaryati jarum
Cie- cie mulai romantis nih
sunaryati jarum
Nah karena terbiasa bersama dalam satu atap,dan Aura sangat tulus menjalankan kewajiban, lambat laun tumbuh cinta dan membakar kebencian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!