NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat yang Membuat CEO Tertegun

Pagi itu, gedung pencakar langit Grup Lin menjulang gagah di tengah kota, kaca-kaca jendelanya memantulkan cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Di lantai teratas, ruangan kantor yang luas dan mewah itu masih sunyi — hanya terdengar suara detak jam dinding yang berirama tenang, menandakan bahwa hari kerja belum benar-benar dimulai. Yicheng duduk di kursi besarnya, punggung tegak, namun matanya terus melirik amplop merah yang tergeletak di atas meja — amplop yang dihiasi gambar bintang kuning kecil, tulisan tangan kecil yang agak miring namun penuh kesungguhan. Itu surat dari Xiaoqi. Setiap kali ia melihatnya, dadanya terasa hangat, seakan ada sumber kekuatan baru yang mengalir dari dalam hatinya.

Ia sudah membaca surat itu berkali-kali sejak kemarin, hingga setiap kata, setiap kalimat, bahkan cara penulisan huruf-hurufnya sudah terukir jelas di ingatannya. Namun pagi ini, ia tidak hanya ingin membacanya — ia ingin menyimpannya di tempat yang paling istimewa, tempat di mana ia bisa melihatnya setiap kali ia merasa lelah atau ragu. Ia membuka laci meja bagian dalam, mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang berisi dokumen-dokumen penting dan kenangan berharga, lalu meletakkan surat Xiaoqi di sana — tepat di atas foto-foto lama, seakan anak ini kini menjadi bagian paling berharga dari hidupnya, bagian yang melengkapi semua yang hilang selama lima tahun ini.

Belum lama berselang, pintu diketuk. Sekretarisnya masuk, membawa tumpukan berkas dan sebuah amplop berwarna cokelat yang terlihat formal, tersegel rapi dengan lilin bermeterai lambang keluarga Lin. Yicheng mengernyit — surat dari keluarga yang dikirim ke kantor, bukan ke rumah? Itu tidak biasa. Ia mengambilnya, merasakan kertas tebal dan dingin di tangannya, lalu memecahkan segel lilin itu perlahan.

Saat ia membuka dan membaca baris pertama, napasnya tertahan. Tangan yang memegang kertas itu perlahan mengeras, urat-urat di pergelangan tangannya menonjol. Isi surat itu singkat, namun setiap kata terasa begitu berat, begitu dingin, begitu penuh tekanan:

Kepada Yicheng,

Aku tahu kau sedang mencari tahu hal-hal yang seharusnya tetap tersembunyi. Aku tahu kau mulai meneliti masa lalu, menanyakan orang-orang yang tidak perlu kau tanyakan, dan menyusun potongan kejadian yang seharusnya tetap utuh dalam kegelapan.

Dengarkan aku baik-baik: berhentilah. Kembalilah pada pekerjaanmu, lupakan masa lalu, dan biarkan semuanya tetap seperti apa adanya. Kau tidak tahu seberapa dalam lubang yang sedang kau gali. Dan kau tidak tahu siapa yang akan jatuh ke dalamnya — kau, atau orang-orang yang kau cintai.

Su Wan dan anak itu berada dalam bahaya bukan karena mereka tidak diterima, tapi karena kau tidak tahu kapan harus berhenti. Jika kau terus melangkah lebih jauh, kau tidak hanya akan menghancurkan dirimu sendiri — kau juga akan menyeret mereka berdua ke dalam kehancuran.

Berhenti. Demi mereka.

— Seseorang yang menginginkan yang terbaik untuk keluarga Lin

Yicheng meletakkan surat itu di atas meja, jari-jarinya menekan kertas itu erat seakan ingin meremasnya, namun ia menahan diri. Tidak ada nama pengirim. Tapi gaya bahasanya, nada ancamannya, dan cara ia menyebut Su Wan dan anak itu — semuanya terlalu jelas. Itu cara bicara Paman Zhenghao. Halus, penuh peringatan, namun di balik setiap kata tersembunyi ancaman yang nyata. Ia tahu Yicheng menyelidiki sesuatu, dan ia tidak menyangkal — ia justru memperingatkan, seakan memastikan bahwa Yicheng tahu: ia sedang diawasi. Setiap langkah, setiap pertanyaan, setiap gerak-geriknya — semua terlihat oleh mata yang tak terlihat.

Yicheng berdiri, berjalan ke jendela kaca besar yang menghadap ke seluruh kota, menatap bangunan-bangunan di bawah sana yang tampak kecil dan tidak berdaya. Ia merasakan ketegangan merambat di sekujur tubuhnya — bukan ketakutan, melainkan kesadaran bahwa perjuangan ini jauh lebih berat dan lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan. Paman Zhenghao tidak hanya licik, tapi juga selalu selangkah lebih depan. Ia tahu apa yang Yicheng lakukan bahkan sebelum rencana itu benar-benar matang. Dan itu berarti — ia juga tahu di mana Su Wan dan Xiaoqi berada.

Pikiran itu membuat darahnya berdesir dingin. Jika Paman Zhenghao tahu keberadaan mereka, maka rumah kecil itu tidak lagi aman. Mereka bisa ditemukan kapan saja, dikunjungi kapan saja, diancam kapan saja — persis seperti lima tahun lalu. Dan kali ini, Yicheng tidak akan membiarkan hal itu terulang. Ia tidak akan membiarkan siapa pun mendekati mereka, tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti satu helai rambut pun di kepala Xiaoqi atau Su Wan.

Ia segera mengambil ponselnya, menekan nomor Li Wei dengan jari yang cepat dan tegas. Telepon diangkat setelah dua dering.

"Halo, Tuan Lin," suara Li Wei terdengar tenang, namun ada nada waspada di dalamnya.

"Li Wei, kita punya masalah," ucap Yicheng langsung, tanpa basa-basi. "Aku menerima surat peringatan. Pengirimnya anonim, tapi isinya jelas — dia tahu aku sedang menyelidiki masa lalu. Dia memperingatkanku untuk berhenti, dan dia menyebut Su Wan serta Xiaoqi secara langsung. Dia tahu tentang mereka, Li Wei. Dia tahu mereka ada di sini."

Li Wei terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada yang menjadi lebih serius dan fokus. "Itu berarti penyelidikan kita sedang diawasi. Seseorang di dalam perusahaan atau di sekitar Anda mengetahui apa yang sedang kita lakukan. Dan jika dia tahu tentang Nona Su Wan dan Xiaoqi… maka keberadaan mereka tidak lagi rahasia. Keamanan mereka terancam."

"Persis," jawab Yicheng, menatap ke luar jendela, pikirannya melayang ke rumah kecil itu, ke Su Wan yang mungkin sedang menyiapkan sarapan, ke Xiaoqi yang mungkin sedang bermain di halaman — tidak tahu bahwa bahaya sedang mengintai di kejauhan. "Aku tidak akan mengambil risiko. Aku butuh kamu memperketat pengawasan di sekitar rumah mereka. Pasang pengawalan yang tidak mencolok, tapi pastikan setiap orang yang mendekati rumah itu diperiksa. Dan aku butuh kamu mencari tahu siapa yang mengirim surat ini — dari mana asalnya, siapa yang membawanya, siapa yang memiliki akses ke informasi tentang Su Wan dan Xiaoqi. Setiap jejak, sekecil apa pun, harus ditelusuri."

"Dimengerti, Tuan Lin. Saya akan segera mengerahkan tim. Tapi saya harus memperingatkan Anda — jika Tuan Lin Zhenghao terlibat, dia pasti sudah menutup semua jejak dengan sangat rapi. Mencari bukti langsung akan sangat sulit. Dia tidak akan pernah melakukan hal sendiri jika bisa menyuruh orang lain melakukannya. Dan dia sangat berhati-hati agar tidak pernah terlihat bersalah."

"Aku tahu," jawab Yicheng, menekan keningnya dengan jari, merasa frustrasi namun tidak menyerah. "Tapi dia membuat kesalahan. Dia mengirim surat ini. Dan setiap tindakan pasti meninggalkan jejak — sekecil apa pun. Cari tahu dari mana surat ini dikirim, kapan, dan siapa yang membawanya ke kantor ini. Setiap orang yang menyentuh surat ini adalah saksi. Dan jika kita bisa melacak satu orang, kita bisa menelusuri sampai ke puncak."

"Saya akan mulai sekarang juga, Tuan Lin. Dan tolong — jangan kunjungi rumah Nona Su Wan untuk sementara waktu. Jika dia sedang diawasi, kehadiran Anda di sana akan membuat mereka semakin curiga dan semakin berbahaya. Tetaplah di tempat yang aman, dan biarkan tim saya yang memantau keamanan mereka dari kejauhan."

Yicheng berhenti sejenak, hatinya menolak — ia ingin pergi ke sana sekarang, ingin memastikan mereka aman, ingin memeluk Xiaoqi dan memberitahunya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tahu Li Wei benar. Jika ia pergi ke sana sekarang, ia mungkin justru akan membawa bahaya langsung ke pintu rumah mereka. Ia harus bersabar — demi keselamatan mereka, bukan karena pengecut.

"Baik," jawab Yicheng pelan, berat hati namun tegas. "Aku akan menunggu. Tapi pastikan mereka aman, Li Wei. Jangan biarkan apa pun terjadi pada mereka. Jika sesuatu terjadi pada Xiaoqi atau Su Wan… aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."

"Mereka akan aman, Tuan Lin. Saya berjanji. Kami tidak akan membiarkan siapa pun mendekati mereka tanpa izin," jawab Li Wei dengan tegas, lalu sambungan terputus.

Yicheng meletakkan ponselnya di atas meja, duduk kembali di kursinya, menatap surat peringatan itu — kertas putih polos, tulisan yang dicetak, tidak ada tanda tangan, tidak ada jejak. Tapi di sampingnya, di dalam kotak kayu kecil itu, tersimpan surat lain — surat dari anaknya, ditulis dengan tangan kecil yang penuh cinta dan harapan. Ia mengeluarkan surat Xiaoqi lagi, membacanya sekali lagi, perlahan, merasakan setiap kata yang ditulis oleh putranya — "Ayah, jangan terlalu lelah ya… jangan lupa saya… saya selalu menunggu Ayah."

Air mata hampir jatuh, tapi ia menahannya. Ia harus kuat. Ia harus menjadi ayah yang bisa diandalkan, pelindung yang tidak goyah, benteng yang tidak bisa diruntuhkan oleh ancaman apa pun. Anaknya menunggunya. Su Wan mempercayainya. Dan ia tidak akan mengecewakan mereka — tidak kali ini, tidak pernah lagi.

Ia mengambil ponselnya lagi, mengetik pesan untuk Su Wan — singkat, tenang, namun menyembunyikan kekhawatiran di balik kata-kata yang menenangkan.

"Su Wan, maaf — hari ini aku mungkin tidak bisa datang. Ada urusan mendesak di kantor yang harus diselesaikan. Tolong jaga diri baik-baik dan jaga Xiaoqi. Jangan biarkan orang asing mendekati rumah, dan jika ada sesuatu yang mencurigakan — siapa pun, apa pun — segera hubungi aku. Janji ya? Aku akan segera datang saat semuanya selesai. Aku merindukan kalian berdua."

Pesan terkirim. Yicheng menatap layar ponselnya, berharap Su Wan tidak bertanya terlalu banyak, berharap ia cukup tenang untuk tidak panik. Ia tidak ingin menakutinya, tapi ia juga tidak bisa berbohong — bahaya itu nyata, dan mereka harus waspada.

 

Di rumah kecil itu, Su Wan baru saja selesai menyiapkan sarapan saat ponselnya berdering. Ia membaca pesan dari Yicheng, dan hatinya sedikit terasa berat — ia tahu ada sesuatu yang tidak biasa. Nada pesannya terlalu hati-hati, terlalu menekankan agar mereka berhati-hati, seakan ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Tapi ia juga tahu Yicheng — jika ia bilang ada urusan mendesak, maka itu memang mendesak. Ia tidak akan membatalkan janji tanpa alasan yang kuat.

Ia menghela napas, lalu mengetik balasannya dengan tenang, berusaha meyakinkan pria itu bahwa mereka baik-baik saja.

"Mengerti. Selesaikan pekerjaanmu dulu, jangan terburu-buru. Kami baik-baik saja di sini. Xiaoqi sedang bermain di halaman. Kami akan berhati-hati, jangan khawatir. Jaga dirimu juga di sana. Kami menunggumu."

Su Wan meletakkan ponselnya, lalu berjalan ke jendela, melihat Xiaoqi yang sedang bermain di halaman depan — mengejar kupu-kupu, tertawa riang, tidak tahu bahwa di luar sana ada bahaya yang mengintai. Ia tersenyum sedih, lalu menyadari satu hal penting: ia tidak bisa lagi menjadi wanita yang lemah, yang hanya menunggu dilindungi. Ia harus melindungi anaknya sendiri. Ia harus waspada, berani, dan siap menghadapi apa pun — demi Xiaoqi, dan demi masa depan mereka.

Ia berjalan keluar ke halaman, memanggil putranya dengan lembut. "Xiaoqi, sayang, kemarilah Ibu sebentar."

Xiaoqi berlari menghampirinya, wajahnya berseri-seri, rambutnya sedikit berantakan karena bermain. "Ada apa, Ibu? Apakah Ayah datang?"

Su Wan berlutut di hadapannya, merapikan rambut putranya dengan lembut, lalu menatap matanya dengan serius namun tetap lembut. "Ayah ada urusan hari ini, jadi belum bisa datang. Tapi Ayah menyuruh kita berhati-hati di rumah, ya? Kalau ada orang yang tidak dikenal datang ke rumah, atau orang yang menanyakan hal-hal aneh, Xiaoqi harus segera masuk ke dalam rumah dan memanggil Ibu. Jangan bicara dengan orang asing, jangan ikut siapa pun, dan jangan membukakan pintu kalau Ibu tidak ada di sampingmu. Mengerti?"

Xiaoqi mengerutkan kening sedikit, bingung namun merasa penting. "Apakah ada orang jahat, Ibu? Apakah mereka ingin menyakiti kita?"

Su Wan memeluknya erat, tidak ingin menakutinya, tapi juga tidak ingin berbohong. "Tidak ada orang jahat di sini sekarang. Tapi kita harus tetap berhati-hati, supaya tetap aman. Seperti saat kita menyeberang jalan — kita harus melihat ke kiri dan ke kanan dulu, kan? Begitu juga di rumah — kita harus selalu waspada, supaya kita tetap aman dan Ayah tidak khawatir. Xiaoqi anak yang pintar dan berani, kan?"

Xiaoqi mengangguk tegas, dadanya membusung. "Saya berani! Saya akan menjaga Ibu dan menjaga rumah! Kalau ada orang asing, saya akan memanggil Ibu dan tidak akan membukakan pintu! Saya akan menjadi pelindung yang hebat, seperti Ayah!"

Su Wan tersenyum bangga, mencium kening putranya. "Benar, Xiaoqi. Kamu sudah menjadi pelindung yang hebat. Sekarang mari kita masuk ke dalam rumah. Cuci tanganmu, lalu kita makan siang bersama."

 

Sementara itu, di kantornya, Yicheng tidak duduk diam menunggu kabar. Ia mulai memeriksa setiap catatan, setiap jadwal, setiap orang yang ia temui dalam beberapa hari terakhir — mencoba mencari tahu siapa yang bisa melihat kegiatannya, siapa yang memiliki akses ke informasi tentang Su Wan dan Xiaoqi, dan siapa yang mungkin melaporkan setiap gerak-geriknya kepada Paman Zhenghao.

Ia menyadari satu hal: di dalam perusahaan yang sebesar Grup Lin, tidak semua orang yang tersenyum di depannya adalah teman. Ada mata di mana-mana — di ruang rapat, di lorong, di lift, bahkan di kantornya sendiri. Paman Zhenghao mungkin menempatkan orang-orangnya di posisi-posisi penting, orang-orang yang melaporkan setiap langkah Yicheng tanpa ia sadari. Dan itu berarti — ia tidak bisa lagi mempercayai siapa pun di kantor ini, kecuali Li Wei. Setiap percakapan, setiap panggilan telepon, setiap pesan — semuanya bisa diawasi, bisa didengar, bisa dibaca.

Yicheng berdiri, berjalan ke rak buku di sudut ruangan, menyentuh salah satu buku tebal yang tampak biasa saja. Ia menariknya sedikit, dan bagian rak itu terbuka, menampakkan brankas tersembunyi di baliknya — tempat ia menyimpan dokumen-dokumen paling rahasia dan berharga. Ia memasukkan kode, pintu brankas terbuka, dan ia mengambil sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam — buku berisi catatan pribadinya selama bertahun-tahun, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu dan keluarganya.

Ia membalik halaman demi halaman, mencari catatan tentang Paman Zhenghao — pertemuan, percakapan, keputusan yang diambil, perubahan posisi di perusahaan. Ia ingin melihat pola — kapan pamannya mulai mengambil langkah-langkah tertentu, kapan ia mulai memperoleh kekuasaan lebih besar, dan bagaimana semua itu berhubungan dengan kejadian-kejadian di masa lalu. Semakin ia membaca, semakin jelas gambaran itu terbentuk — setiap langkah Paman Zhenghao selalu bertepatan dengan peristiwa yang melemahkan posisi Yicheng, setiap keuntungan yang ia peroleh selalu datang saat Yicheng sedang terpuruk atau terganggu secara emosional.

Paman Zhenghao tidak hanya beruntung — ia merencanakan semuanya. Ia menunggu momen yang tepat, memanfaatkan kelemahan Yicheng, dan mengambil alih kekuasaan perlahan-lahan, tanpa pernah terlihat agresif atau mencurigakan. Ia selalu tampak membantu, selalu tampak mendukung, selalu tampak seperti paman yang baik hati — padahal di balik itu, ia sedang membangun kerajaan kekuasaannya di atas kelemahan orang lain.

Yicheng menutup buku catatan itu, menatap ke luar jendela dengan tatapan tajam dan penuh tekad. Ia tahu sekarang — ini bukan lagi sekadar mencari kebenaran tentang masa lalu. Ini adalah perjuangan untuk melindungi keluarganya, untuk mempertahankan keutuhan perusahaannya, dan untuk menghentikan seseorang yang haus kekuasaan sebelum ia bisa menyakiti lebih banyak orang. Paman Zhenghao mungkin selangkah lebih depan sekarang, tapi Yicheng tidak akan membiarkannya tetap berada di depan. Ia akan menyusun rencana, bersabar, menunggu momen yang tepat — dan saat ia melangkah, ia akan melangkah dengan kekuatan penuh, sehingga tidak ada yang bisa menghentikannya.

Ponselnya berdering — pesan dari Li Wei. Yicheng segera membukanya, jantungnya berdebar melihat isi pesan itu:

"Ada perkembangan. Surat itu dikirim dari kantor pos di pusat kota, dikirim secara anonim menggunakan uang tunai. Tapi petugas pos mengingat pengirimnya — seorang pria paruh baya, memakai topi dan kacamata, berbicara dengan nada rendah, dan terlihat sangat berhati-hati. Berdasarkan deskripsinya, kemungkinan besar itu adalah salah satu staf pribadi Tuan Lin Zhenghao yang sudah bekerja padanya selama bertahun-tahun. Saya sedang memverifikasi identitasnya. Segera beri tahu Anda hasilnya."

Yicheng tersenyum tipis — bukan senyum kegembiraan, tapi senyum kepuasan. Akhirnya ada jejak. Bukan bukti langsung, tapi langkah pertama yang penting. Jika orang yang mengirim surat itu adalah anak buah Paman Zhenghao, maka itu adalah bukti kuat bahwa pamannya terlibat. Dan setiap orang yang terlibat adalah saksi yang bisa diajak bicara, yang bisa memberikan keterangan, yang bisa membuktikan kebenaran.

Ia membalas pesan Li Wei:

"Lanjutkan. Identifikasi orang itu, cari tahu di mana dia tinggal dan bekerja, tapi jangan menangkap atau menghadapinya dulu. Kita butuh dia untuk mengarah ke atas. Jika kita menangkapnya sekarang, Paman Zhenghao akan tahu dan akan menutup semua jejak lainnya. Kita butuh dia untuk membawa kita langsung ke pamanku. Berhati-hatilah. Jangan biarkan siapa pun tahu bahwa kita sedang mengawasinya."

Yicheng meletakkan ponselnya, lalu mengambil surat Xiaoqi dari kotak kayu itu, membacanya sekali lagi — kata-kata murni dan penuh cinta dari anaknya, yang menjadi alasan terkuat mengapa ia harus berjuang, mengapa ia tidak boleh menyerah, mengapa ia harus menang.

"Ayah, jangan terlalu lelah ya… jangan lupa saya… saya selalu menunggu Ayah."

"Xiaoqi… Ayah tidak akan menyerah," bisik Yicheng pelan, suaranya penuh janji yang tak tergoyahkan. "Ayah akan melindungi kalian. Ayah akan menghentikan orang yang menyakiti kita. Dan Ayah akan pulang ke rumah kalian — untuk selamanya. Ayah berjanji."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!