Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan Ulang Dean
Waktu berjalan dengan ketetapan mekanis yang dingin di dalam ruang kerja CEO gedung perkantoran pusat. Satu bulan telah berlalu sejak kata putus terucap di ruangan kedap suara ini. Secara materi, proyek infrastruktur bersama investor Singapura telah berjalan sesuai dengan rencana kerja. Keuangan perusahaan stabil, dan nama baik korporat berhasil dipertahankan. Namun, bagi Dean, satu bulan ini adalah periode di mana logikanya dipaksa menghadapi sebuah anomali terbesar dalam hidupnya.
Kesunyian di apartemen pribadinya setiap akhir pekan, tidak adanya pesan teks berisikan kalimat ekspresif yang berisik, dan hilangnya sosok gadis bergaun kuning cerah dari radarnya ternyata memicu sebuah riak ketidaknyamanan yang kian hari kian pekat. Setiap kali Dean melihat cangkir kopi hitam yang diletakkan Dania di mejanya, ingatan tentang tas kertas bermotif stroberi yang dibuang ke tempat sampah tempo hari entah mengapa mendadak melintas di benaknya.
Siang itu, Dean duduk di balik meja kerjanya dengan kedua tangan saling bertaut di depan dagu. Matanya yang tajam bak elang menatap lurus ke arah draf laporan penutupan investigasi log IT internal yang ditandatangani oleh Timoty dan kepala divisi keamanan komputer satu bulan lalu.
"Ada yang tidak presisi," bisik Dean pada dirinya sendiri, suaranya rendah dan kaku.
Sebagai seorang pria yang memuja angka dan keteraturan, Dean mulai mendeteksi adanya variabel asing yang tidak masuk akal dalam kasus sabotase tersebut. Pertama, Valerie adalah seorang mahasiswi biologi semester tiga yang bahkan tidak memahami dasar-dasar jaringan komputer makro, lalu bagaimana bisa gadis itu memiliki flashdisk enkripsi dengan skrip peretasan kelas tinggi di dalam tasnya? Kedua, mengapa alarm log sistem berbunyi tepat satu menit setelah Valerie meletakkan tasnya, seolah-olah seluruh sistem penyerangan digital tersebut sudah diprogram untuk meledak secara otomatis pada waktu yang sangat spesifik?
Logika Dean yang dingin menyimpulkan satu hal: dia telah melewatkan sebuah variabel tersembunyi karena egonya yang terlanjur jengah oleh drama emosional Valerie tempo hari.
Pintu ruangannya diketuk dengan ritme yang halus. Dania masuk dengan langkah kaki yang sunyi, membawa beberapa berkas korespondensi luar. Wajah sekretaris junior itu tampak begitu patuh, dengan senyum santun yang selalu terjaga rapi.
"Pak Dean, ini ada beberapa draf pembaruan kontrak dari divisi logistik yang membutuhkan tanda tangan Anda," ucap Dania lembut, meletakkan map tersebut di ujung meja dengan gerakan yang sangat sopan.
Dean menatap Dania dengan tatapan mata yang membekukan, menolak untuk menunjukkan riak emosi apa pun. "Terima kasih, Dania. Letakkan saja di sana. Bagaimana dengan data log aktivitas pengunjung lantai atas untuk minggu ini? Apakah sudah diarsip oleh sekretaris senior?"
Dania sedikit tertegun, namun senyumnya segera terkembang kembali dengan sangat natural. "Sudah, Pak Dean. Semuanya sudah tersimpan rapi di dalam komputer meja depan sesuai prosedur. Apakah ada berkas masa lalu yang ingin Anda periksa kembali?"
"Tidak. Hanya memastikan semuanya teratur," jawab Dean kaku. "Kamu boleh kembali ke mejamu."
"Baik, Pak. Permisi," bisik Dania sebelum membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan dengan keanggunan yang biasa dia pamerkan.
Begitu pintu jati tebal itu tertutup rapat, Dean langsung meraih ponsel pribadinya dari dalam laci meja. Dia tidak menghubungi divisi IT kantornya sendiri. Dia tahu, jika ada manipulasi internal yang melibatkan nama adik Timoty, jaringan IT kantornya sudah tidak lagi steril untuk digunakan. Dean menekan sebuah nomor kontak khusus—sebuah firma audit digital independen di luar kota yang biasa menangani kasus spionase industri berskala internasional secara rahasia.
Panggilan dihubungkan pada deringan kedua. "Ya, Pak Dean? Ada yang bisa kami bantu?" suara seorang pria dengan intonasi berat terdengar di seberang sana.
"Saya membutuhkan audit forensik digital menyeluruh terhadap seluruh aktivitas server bayangan dan log enkripsi Wi-Fi lokal kantor saya untuk tanggal empat belas bulan lalu, tepat antara pukul dua belas siang hingga pukul dua siang," perintah Dean, suaranya sangat rendah namun sarat akan otoritas mutlak yang tidak boleh didebat. "Saya ingin kalian melacak alamat MAC asli dari perangkat yang mengeksekusi skrip penghapusan berkas proyek infrastruktur kami. Jangan gunakan jaringan internal kantor saya untuk pengiriman data. Kirimkan seluruh hasil analisisnya langsung ke email pribadi rahasia saya dalam waktu tiga hari."
"Dimengerti, Pak Dean. Kami akan langsung bergerak menggunakan server pemindai satelit independen kami agar tidak terdeteksi oleh sistem keamanan kantor Anda," jawab agen forensik tersebut sebelum sambungan diputus.
Dean meletakkan ponselnya kembali di atas meja kaca, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya. Dadanya bergemuruh oleh rasa cemas dan sebuah firasat buruk yang mulai mengikis dinding rasionalitasnya. Jika hasil audit independen ini membuktikan bahwa Valerie sama sekali tidak bersalah... maka logika yang selama ini dia agungkan dalam hidup ternyata telah menjadikannya seorang pria paling bodoh yang menghancurkan hati seorang gadis tulus demi sebuah topeng kepicikan.
Tiga hari kemudian, malam telah larut mendinginkan ibu kota Jakarta. Jam digital di dinding ruang tengah unit apartemen mewah milik Dean menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh binar cahaya dari layar laptop kerjanya yang terbuka di atas meja kopi.
Sebuah notifikasi email masuk dari alamat terenkripsi firma audit digital independen memecah keheningan. Subjek email tersebut sangat singkat: Hasil Analisis Forensik Digital Kasus Sabotase Kontrak Singapura.
Tangan Dean yang memegang tetikus mendadak terasa sedikit kaku. Dia menarik napas pendek melalui hidung, menenangkan debar jantungnya yang kian tidak beraturan, lalu membuka lampiran dokumen PDF setebal dua puluh halaman tersebut.
Dean membaca setiap baris analisis teknis dengan kecepatan tinggi. Matanya menyusuri deretan angka log waktu, bagan alamat IP, hingga tiba pada halaman kesebelas—halaman yang berisi kesimpulan akhir mengenai identitas perangkat fisik yang mengeksekusi skrip enkripsi pemusnah berkas.
Kesimpulan Analisis Forensik:
Aktivitas penghapusan berkas pada server utama tidak dilakukan melalui perangkat personal milik tamu (Valerie) yang terhubung ke Wi-Fi lobi. Skrip tersebut telah ditanam tiga hari sebelum kejadian di dalam sistem komputer meja depan menggunakan akun administrator cadangan yang terdaftar atas nama Dania. Eksekusi skrip dilakukan secara otomatis melalui perintah jarak jauh (remote access) menggunakan ponsel pintar kedua dengan alamat MAC yang terdaftar di area gedung apartemen Grand Orchid—alamat hunian milik sekretaris junior Dania.
Catatan Tambahan:
Ditemukan manipulasi log sistem digital lokal yang sengaja dibuat untuk mengalihkan alamat IP target menuju alamat IP perangkat personal milik mahasiswi bernama Valerie tepat pada menit ke-12 jam istirahat kantor.
Membaca deretan kalimat hitam di atas putih itu, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Dean seolah tersedot habis seketika. Tubuhnya membeku, matanya melebar menatap layar laptop dengan pandangan tidak percaya sekaligus murka yang teramat sangat pekat.
Bukti fisik dan logis yang selama ini dia agungkan untuk mengusir Valerie dari hidupnya... ternyata hanyalah sebuah dongeng fiksi yang dirancang dengan sangat kejam dan rapi oleh sekretaris barunya sendiri. Valerie sama sekali tidak bersalah. Gadis itu benar-benar datang ke kantornya dengan ketulusan membawa kotak makanan, namun dia justru disambut oleh vonis hakim yang kaku dari seorang kekasih yang menolak mendengarkan kejujurannya.
Rasa bersalah yang teramat sangat besar, rindu yang membakar, dan amarah yang meledak-ledak mendadak berkumpul di dada Dean hingga membuatnya sesak napas. Dia merosot di sofanya, menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya dengan frustrasi yang luar biasa hebat. Logikanya telah kalah telak oleh manipulasi seorang ular berbisa bernama Dania.
Dean segera meraih ponsel pribadinya dengan tangan yang gemetar hebat karena emosi yang tidak stabil. Dia menekan nomor kontak Valerie, bersiap untuk merendahkan seluruh egonya demi memohon ampun pada gadis itu malam ini juga. Namun, suara operator yang dingin dan monoton menyambutnya dari seberang telepon: “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”
Dean mencoba mengirimkan pesan teks lewat aplikasi pesan pribadi, namun tanda centang satu abu-abu yang muncul di bawah kalimatnya menegaskan sebuah kebenaran yang menampar kesadarannya: Valerie telah memblokir nomornya total dari seluruh kehidupannya.
Penyesalan yang terlambat kini mulai membakar habis sisa-sisa ketenangan hidup Dean, menuntunnya pada sebuah keputusan nekat untuk mendatangi kampus Valerie esok pagi guna mencari kebenaran yang sesungguhnya di duniakah nyata, tanpa menyadari bahwa di duniakah kampus itu, Valerie kini telah mulai berjalan berdampingan di bawah kehangatan tulus seorang pria bernama Carlo.