NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Punggung Penuh Luka Sang Macan

Tiga ketukan pelan itu belum sempat diulang ketika kunci diputar dari dalam.

Pintu terbuka hanya selebar bahu.

Lelaki di baliknya jauh lebih tinggi daripada bayangan Arum. Rambutnya masih basah oleh keringat. Wajahnya keras, seperti dipahat dari batu yang tak pernah tersentuh matahari. Sebuah tongkat penyangga tersandar di dekat kaki kanannya, tetapi ia berdiri tanpa menggunakannya.

Tatapan gelapnya turun dari wajah Arum ke tas kusam yang diikat selendang.

"Siapa?"

"Sekar Arum Wijaya, Pak Mayor." Arum menahan tasnya dengan kedua tangan. "Kapten Hartono mengirim saya. Mulai hari ini saya ditugaskan membantu mengurus rumah dan merawat luka Mayor."

"Aku tidak meminta pengurus rumah."

"Saya tahu."

Alis lelaki itu terangkat sedikit. "Kalau tahu, kenapa masih berdiri di sini?"

Arum menelan ludah. Di belakang punggungnya, senja makin gelap. Nasi bungkus dari Bu Inah sudah mulai dingin di tangannya. Ia tak punya rumah lain untuk kembali.

"Karena ini perintah satuan, Pak. Gaji saya juga dari koperasi. Kalau Mayor tidak berkenan, saya akan menunggu sampai ada surat pembatalan tugas."

Untuk pertama kalinya, tatapan lelaki itu berhenti lebih lama di wajah Arum. Mungkin ia tidak menyangka gadis dengan tas nyaris putus berani menyebut aturan kepadanya.

"Masuk," katanya akhirnya.

Satu kata itu tidak terdengar seperti sambutan. Lebih mirip izin untuk melewati pos pemeriksaan.

Arum melangkah masuk. Ruang tengah gelap meskipun hari belum benar-benar malam. Semua tirai tertutup. Tak ada hiasan, foto keluarga, atau barang pribadi selain peta yang tergulung di atas meja. Udara dipenuhi bau antiseptik, minyak gosok, dan obat luka.

Sebuah baskom berisi air kemerahan terletak di lantai kamar.

Bara berjalan kembali ke ranjang dengan langkah timpang. Baru dua langkah, rahangnya mengeras. Tangan kirinya mencengkeram tepi lemari untuk menahan beban di kaki kanan.

"Mayor terluka lagi?"

"Bukan urusanmu."

Ia duduk membelakangi pintu. Saat itulah Arum melihat punggungnya.

Napasnya tertahan.

Tubuh lelaki itu penuh luka. Ada bekas sayatan panjang di dekat bahu, cekungan kecil bekas peluru, dan guratan pucat yang saling memotong. Di antara luka lama itu, perban baru melintang dari rusuk ke punggung. Ujungnya terlepas dan basah oleh darah.

Bara mencoba menarik perban dengan satu tangan. Jangkauannya tak sampai.

"Kotak obat ada di meja," ucapnya dingin. "Taruh di sini lalu keluar."

Arum meletakkan tas dan nasi bungkus di sudut. Ia mengambil kotak obat, lalu berdiri di belakangnya.

"Saya bantu mengganti perbannya."

"Tidak perlu."

"Lukanya terbuka."

"Aku bilang tidak perlu."

Arum memandang noda merah yang terus melebar. Ia teringat ayahnya dalam bayangan yang sudah kabur, pulang mengenakan seragam dan membiarkan Arum kecil menyentuh lencana di dadanya. Ia tak ingat banyak, tetapi ia ingat satu hal. Ayahnya selalu berkata luka prajurit bukan alasan untuk membiarkannya membusuk.

"Kalau infeksi, Mayor bisa kembali ke rumah sakit," katanya. "Saya hanya mengganti perban. Setelah itu saya pergi ke dapur."

Bara menoleh. Sorot matanya membuat udara kamar terasa lebih dingin.

Arum hampir mundur, tetapi darah di perban menahan kakinya.

Beberapa detik berlalu sebelum Bara menghadap ke depan lagi. "Cepat."

Arum mencuci tangan, mengenakan sarung tangan dari kotak obat, lalu melepas simpul perban dengan hati-hati. Kulit di sekitar luka terasa panas. Ketika kapas berantiseptik menyentuh tepinya, otot punggung Bara menegang keras.

"Sakit?"

"Lanjutkan."

Arum mendekat agar bisa melihat luka di bawah cahaya lampu meja. Rambut yang lepas dari ikatannya menyentuh bahu. Wangi melati yang lembut ikut terbawa bersama napasnya.

Punggung Bara mendadak kaku.

Jari Arum berhenti. "Saya terlalu keras?"

"Jangan mendekat."

"Saya tidak bisa menjangkau kalau terlalu jauh."

"Kamu selalu membantah atasan?"

"Kalau atasannya meminta saya membiarkan lukanya terbuka, mungkin iya."

Sunyi jatuh di antara mereka.

Arum baru sadar apa yang ia katakan. Pipinya memanas. Namun, lelaki itu tidak mengusirnya. Bahunya justru turun sedikit, seolah untuk pertama kali sejak pulang dari operasi ia menyerahkan beban tubuhnya kepada orang lain.

Arum membersihkan luka, mengoleskan salep tipis, lalu melilitkan perban baru. Ketika tangannya melewati sisi tubuh Bara, wangi melati kembali menguar.

Jari lelaki itu mencengkeram seprai.

"Sudah," kata Arum cepat.

Bara segera mengenakan kaus longgar. "Kamarmu di belakang dapur. Siang hari kamu bekerja di sini. Malam, kalau tugas selesai, pulanglah ke Bu Inah atau rumah keluarga Persit yang ditunjuk."

Arum mengangguk. Rupanya aturan itu telah dibicarakan satuan agar ia tidak menetap berdua dengan seorang lelaki yang bukan mahramnya.

"Baik, Pak Mayor."

"Dan jangan menyentuh barang di ruang kerjaku."

"Baik."

"Jangan membuka tirai kamar."

"Baik."

"Jangan memasak terlalu banyak."

Arum menatap nasi bungkus di sudut, lalu dapur yang kosong. "Mayor sudah makan?"

Bara diam.

Jawaban itu cukup.

Di dapur, Arum menemukan beras, garam, dan sebungkus kaldu. Tak banyak, tetapi cukup untuk membuat bubur. Ia menyimpan setengah nasi bungkus Bu Inah untuk sarapan, lalu memasukkan ayamnya ke dalam bubur agar lebih bergizi.

Sementara bubur mendidih, ia melipat dua bajunya di kamar kecil. Selendang ibunya diletakkan di bawah bantal. Kaleng uang receh disimpan di sudut lemari.

Tak ada satu pun barang di sana yang benar-benar miliknya selain benda-benda itu.

Arum membawa semangkuk bubur ke kamar Bara. Lelaki itu sedang memeriksa map, seolah luka di punggungnya tak pernah terbuka.

"Saya sudah bilang jangan memasak banyak."

"Hanya satu mangkuk."

"Aku tidak lapar."

"Obatnya diminum setelah makan."

Bara mengangkat kepala perlahan. "Kamu datang satu jam lalu dan sudah mengaturku?"

"Saya menjalankan tugas."

Arum membungkuk untuk meletakkan mangkuk di meja samping ranjang. Pada saat itu, terdengar bunyi kecil.

Kancing baju lamanya terlepas.

Kain di bagian dada terbuka lebih lebar daripada seharusnya. Arum tersentak, segera menutupinya dengan satu tangan. Mangkuk di tangan lain hampir jatuh.

Bara menangkap mangkuk itu lebih dulu.

Jarak mereka mendadak sangat dekat.

Aroma bubur hangat bercampur dengan wangi melati dari kulit Arum. Tatapan Bara jatuh tanpa sengaja ke kerah yang terbuka, lalu beralih tajam ke wajahnya. Ujung telinganya memerah, kontras dengan ekspresinya yang makin dingin.

"Pakai baju yang benar," katanya, suaranya lebih berat. "Jangan cari perkara di depanku."

Wajah Arum terbakar malu. "Saya tidak sengaja. Kancingnya memang longgar."

"Keluar."

"Tapi buburnya..."

"Keluar, Arum."

Itu pertama kalinya namanya keluar dari mulut Sang Macan. Bukan sebagai sapaan, melainkan seperti perintah yang sengaja dibuat tajam untuk menutupi sesuatu.

Arum mundur ke luar kamar sambil menahan kerahnya. Pintu ditutup di depan wajahnya.

Ia berdiri di lorong, memeluk dirinya sendiri, dengan pipi dan telinga sama merahnya.

Di balik pintu, tak ada suara mangkuk diletakkan.

Yang terdengar justru tarikan napas Bara, kasar dan tidak setenang sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!