Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Pelajaran dan Praktek
Keesokan paginya, ketenangan di kamar Menara Awan berganti dengan kesibukan kelas teori.
Hologram raksasa di tengah ruangan mendadak bergetar hebat.
Proyeksi itu menampilkan ledakan energi kosmik berwarna ungu pekat yang membelah visualisasi hutan menjadi dua warna kontras.
Satu sisi berkilau emas terang. Sisi lainnya tampak merah berdarah.
Profesor Li Yingpei mondar-mandir di depan kelas.
Ia mengetuk tongkat gioknya ke lantai dengan pelan.
"Dua ratus tahun lalu, Gelombang Spiritual membelah nasib botani kita," ujar Li Yingpei. Suaranya menggema tajam di ruangan.
"Yang menyerap esensi murni menjadi Tanaman Spiritual, sumber daya kita."
Li Yingpei menunjuk sisi merah di hologram.
"Sedangkan yang menyerap gangguan alam bermutasi menjadi Tanaman Siluman, predator tak berotak yang memburu hewan spiritual dan kultivator."
Yang Chan bersandar santai sambil menopang dagunya di meja kayu.
Di sebelahnya, Zhao Biyu mencatat penjelasan itu dengan kecepatan luar biasa.
Pena bulu milik gadis itu bahkan nyaris mengeluarkan asap saking cepatnya digerakkan.
Yang Chan mencondongkan badan, lalu berbisik pelan pada teman di sebelahnya.
"Intinya, yang satu kita panen untuk bertahan hidup, yang satu lagi memanen kita kalau kita lengah," bisik Yang Chan.
Mata Zhao Biyu tetap fokus pada catatannya tanpa menoleh sedikit pun.
Proyeksi di depan mereka mendadak berubah menampilkan taring tajam dari seekor Tanaman Siluman.
Gambar mengerikan itu seolah ingin melahap seisi kelas.
Bunyi benturan logam tajam yang menghantam tanah keras terdengar nyaring.
Yang Chan berdiri di kebun percobaan Sektor Timur di bawah terik matahari siang.
Dua tangannya yang berbalut sarung kulit usang meremas sebuah bola logam hitam.
Dalam sekejap mata, bola logam tersebut memanjang.
Benda itu berekspansi menjadi cangkul besi standar dengan gagang kayu yang panjang.
Yang Chan mulai mengayunkan cangkul tersebut dengan ritme yang stabil.
Ayunannya terasa sangat presisi dan tenang.
Mata cangkul itu membelah tanah kering persis lima sentimeter dari akar Tanaman Spiritual yang rapuh.
Ia melakukannya tanpa melukai tanaman itu sedikit pun.
Dari teras rumah kaca yang teduh, Li Yingpei diam-diam memperhatikan pemuda itu.
Ia memicingkan matanya di balik kacamata tebalnya.
Cangkir teh di tangannya bahkan sampai berhenti di udara.
Ia menyadari tidak ada satu pun energi yang terbuang sia-sia dari gerakan mencangkul itu.
'Presisi tebasannya... itu bukan ayunan cangkul sembarangan,' batin Li Yingpei sambil mengerutkan dahi.
'Bocah ini memanipulasi Qi murni di mata cangkul untuk memotong lapisan tanah terdalam.'
Sementara itu, Yang Chan mengusap peluh dingin di dahinya.
Ia bergumam lembut pada tanaman kecil di hadapannya.
"Betapa senangnya diriku bisa bertani di akademi~" bisiknya.
Tanah di sekelilingnya yang semula berantakan kini telah berubah menjadi sangat gembur.
Semua itu ia selesaikan hanya dalam hitungan jam saja.
Cangkul besi di genggamannya berdenting pelan saat kembali menyusut menjadi bola hitam kecil.
Yang Chan menangkap bola itu di udara dengan cekatan.
Ia lalu menyimpannya dengan aman di balik baju.
Di dekat tong air, ia membasuh wajahnya untuk membersihkan sisa-sisa lumpur yang menempel.
Zhao Biyu tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan membawa setumpuk gulungan bambu baru.
Ia mendorong kacamata tebalnya ke atas hidung.
Sebuah perkamen dengan stempel resmi akademi yang masih basah disodorkan kepada Yang Chan.
"Profesor Li baru saja menempelkan pengumuman baru di papan utama," kata Zhao Biyu.
Suaranya terdengar sedikit khawatir saat menunjuk baris tulisan di perkamen itu.
"Eksplorasi Hutan Buatan bulan depan."
Yang Chan mengambil perkamen tersebut dan membacanya dengan saksama.
"Kita, Jurusan Pendukung, diwajibkan ikut sebagai tim pencari sumber daya," lanjut Zhao Biyu.
Ia mendekatkan wajahnya dengan cemas.
"Dan kita berisiko bertemu dengan Tanaman Siluman di sana."
Mendengar hal itu, sepasang mata Yang Chan justru berbinar terang.
Ia mengelap sisa air di wajahnya menggunakan handuk kasar yang tergantung di pundak.
"Hutan Buatan? Berarti banyak lahan liar gratis yang bebas untuk dipanen," sahut Yang Chan.
Sebuah senyum tipis yang penuh antisipasi mengembang di sudut bibirnya.
"Panen banyak kalau gitu," kekehnya sepelan mungkin.
Sayup-sayup dari arah perbukitan belakang kompleks akademi, terdengar suara auman buas yang mengerikan.
Suara itu memecah keheningan sore dengan sangat tajam.