Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sinar matahari pagi yang hangat perlahan menyusup masuk melalui celah gorden ruang VVIP, menyapu lembut wajah Liana.
Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sempurna.
Hal pertama yang menyapa pandangannya di pagi hari itu adalah wajah tampan suaminya.
Kenzo ternyata sudah bangun, duduk dengan
santai di kursi samping ranjang sambil menatapnya dengan senyum tipis yang memabukkan.
"Kenzo..." panggil Liana lirih, suaranya masih terdengar serak dan lemas khas bangun tidur.
Senyum di bibir Kenzo sedikit melebar. Jemarinya yang besar dan hangat terulur, merapikan anak rambut yang menutupi dahi Liana.
"Sudah enakan?" tanya Kenzo lembut, sebelum nada suaranya berubah menjadi godaan penuh sindiran.
"Atau,mau makan sate kambing lagi pagi ini?"
Mendengar kata 'sate kambing', perut Liana seolah mengingat kembali penderitaan semalaman.
Dengan cepat dan ngeri, wanita itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, kapok sepenuhnya.
Melihat reaksi istrinya, Kenzo menghela napas panjang.
Pria itu menyandarkan dagunya di tepi ranjang, menatap Liana dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.
"Dasar kamu, ya," rajuk Kenzo, nada suaranya yang biasa berat dan berwibawa kini terdengar begitu memelas.
"Seharusnya malam pertama kita itu dihabiskan berdua di kamar mansion yang empuk, tapi malah berakhir di bangsal rumah sakit gara-gara satu tusuk sate."
Liana terdiam, mengerjapkan matanya menatap pria di hadapannya ini.
Pimpinan geng motor Black Cobra yang terkenal kejam dan paling ditakuti seantero kota, sekaligus dokter spesialis yang sangat dihormati di rumah sakit ini, sekarang sedang merengek di tepi ranjangnya persis seperti anak kecil yang kehilangan jam bermainnya.
Pemandangan kontras itu membuat Liana tidak bisa menahan senyum tipis di bibirnya yang masih pucat.
"Maafkan aku, Kenzo..." cicit Liana memelas, menatap suaminya dengan mata bulatnya yang penuh penyesalan.
Kenzo langsung menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada dengan raut wajah yang mendadak dipasang seangkuh mungkin, meski binar matanya tidak bisa menyembunyikan rasa gemas.
"Aku tidak akan memaafkanmu yang sudah membahayakan anakku," sahut Kenzo dengan nada suara yang sengaja dibuat dingin dan tegas.
Ia lalu condong ke depan, berbisik tepat di dekat telinga Liana dengan seringai nakal, "Jadi... setelah kamu sembuh nanti, kamu harus melayaniku sepuasnya tanpa bantahan. Anggap itu hukuman atas kenakalanmu."
Bulu kuduk Liana langsung meremang. Pipinya yang semula pucat mendadak merona merah akibat ucapan blak-blakan suaminya.
"Mengerikan..." gumam Liana lirih sambil memalingkan wajah, menyembunyikan senyum malunya.
Tok! Tok!
Ketukan pintu menyelamatkan Liana dari kepanikan.
Seorang perawat masuk dengan senyum ramah, membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur ayam rumah sakit yang masih mengepul hangat, lengkap dengan segelas air putih dan obat-obatan.
"Selamat pagi, Dokter Kenzo, Ibu Liana. Ini sarapannya sudah siap. Dihabiskan ya, Bu, supaya tenaganya cepat pulih dan obatnya bisa segera diminum," ujar perawat itu dengan sopan sembari meletakkan nampan di atas meja dorong.
"Terima kasih, Sus," ujar Kenzo dengan nada berwibawa khas seorang dokter pemilik rumah sakit.
Begitu perawat tersebut pamit keluar, Kenzo langsung mengambil alih mangkuk bubur.
Ia mengaduknya perlahan agar uap panasnya berkurang, lalu menyendokkan sedikit bubur dan mengarahkannya ke depan mulut Liana.
"Sekarang ayo makan. Buka mulutmu, habiskan bubur ini agar staminamu cepat kembali dan kamu bisa pulang secepatnya. Aku tidak betah berlama-lama tidur di kursi ini," titah Kenzo.
Liana menghela napas pasrah, menatap mangkuk bubur hambar khas rumah sakit itu dengan enggan.
Namun, demi bisa segera bebas dari jeratan 'hukuman' Kenzo di tempat ini, ia akhirnya membuka mulutnya.
"Iya, iya, Dokter Kenzo yang terhormat," sahut Liana patuh sebelum menerima suapan pertama dari suaminya.
Liana berhasil menghabiskan buburnya—meski sepanjang suapan ia terus cemberut karena rasanya yang teramat hambar—dan meminum seluruh obatnya di bawah pengawasan ketat Kenzo.
Pria itu tidak melepaskan pandangannya barang sedetik pun sampai memastikan pil terakhir benar-benar tertelan.
"Pintar," puji Kenzo sambil mengusap sudut bibir Liana dengan tisu.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar VVIP tiba-tiba diketuk dengan tidak sabaran.
Tak berselang lama, pintu terbuka lebar dan memunculkan tiga sosok familiar. Mario, Bunga, dan Willy masuk beriringan.
Lucunya, mereka datang membawa buah-buahan yang sangat banyak.
Mulai dari dua keranjang besar berisi apel dan anggur, hingga Willy yang kesusahan mendekap tiga buah semangka utuh di dadanya.
Sebuah pemandangan khas anak geng yang sama sekali tidak tahu ukuran jika sedang menjenguk orang sakit.
"Pagi, Bos! Pagi, Nyonya Besar!" sapa Willy heboh sambil meletakkan semangka-semangka itu di atas meja sampai menimbulkan bunyi dentuman yang cukup keras.
Kenzo langsung mendelik tajam. "Kalian mau menjenguk atau mau buka toko buah di kamarku?"
Bunga menyikut lengan Willy gemas lalu maju mendekati ranjang Liana.
"Aduh, Liana... gimana kondisinya? Maaf ya, kemarin aku fokus ngurusin paman di luar, nggak tahu kalau kamu malah tumbang gara-gara..."
Bunga menggantung kalimatnya, melirik takut-takut ke arah Kenzo.
Di saat yang sama, Mario melangkah maju dengan wajah yang dipasang seformal mungkin, seolah-olah sedang melaporkan misi yang gagal di medan perang.
Dengan polosnya, ia membungkuk dalam-dalam ke hadapan Kenzo.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Bos. Ini salah saya. Saya mengaku kurang ketat menjaga Nyonya dari godaan sate kambing semalam," ucap Mario dengan nada bersalah yang teramat serius.
Mendengar penuturan tangan kanannya, mata Kenzo seketika melotot sempurna. Rahangnya mengeras menahan geram.
"Mario, tugasmu itu menjaga mansion dari musuh, bukan menjadi satpam sate!"
Liana yang melihat ekspresi horor Kenzo dan wajah tanpa dosa Mario langsung menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha setengah mati menahan tawa agar perutnya tidak kembali melilit.
Di tengah kegaduhan kecil itu, pintu kamar kembali terbuka.
Dokter Sinta masuk dengan jas putihnya yang rapi, membawa papan klip rekam medis untuk melakukan pemeriksaan terakhir. Ia tersenyum melihat kamar VVIP yang mendadak ramai oleh anggota geng Black Cobra.
"Wah, ramai sekali ya pagi ini," ujar Dokter Sinta ramah.
Ia segera menghampiri Liana, memeriksa denyut nadi, tekanan darah, serta melakukan palpasi ringan pada perut Liana.
Setelah memastikan semuanya aman, Dokter Sinta mencatat sesuatu di berkasnya dan menoleh ke arah Kenzo.
"Kondisi Liana sudah jauh membaik secara signifikan, Dokter Kenzo. Hidrasinya sudah kembali normal dan tidak ada tanda-tanda kontraksi atau flek susulan."
Kenzo mengembuskan napas lega. "Jadi, dia sudah bisa pulang?"
"Kondisi Liana dinyatakan membaik dan diizinkan pulang ke mansion besok pagi," jawab Dokter Sinta, namun nadanya langsung berubah tegas,
"tapi tentu dengan syarat yang sangat ketat. Istirahat total di rumah, tidak boleh stres, makanan harus dijaga ketat, dan yang paling penting... jauhkan dulu dari segala jenis daging kambing dan makanan pedas. Paham, Dokter Kenzo?"
Kenzo menyunggingkan senyum penuh arti ke arah istrinya yang langsung menciut di atas ranjang.
"Tentu, Dokter Sinta. Aku sendiri yang akan memastikan syarat-syarat itu terpenuhi tanpa celah."
Sementara itu di belahan kota yang lain, matahari pagi yang menyengat menembus celah gorden sebuah kamar apartemen yang berantakan.
Kania mengerang kesakitan, memegangi kepalanya yang terasa pening luar biasa.
Bau alkohol masih menyengat dari pakaian yang dikenakannya sejak semalam.
Kania duduk di tepi ranjang, ingatan tentang pernikahan Kenzo dan Liana kemarin mendadak berputar kembali di otaknya, membakar dada dengan rasa panas yang menyiksa.
"Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus menyingkirkan wanita itu!" desis Kania dengan mata yang memancarkan kebencian mendalam.
Dengan langkah terhuyung-huyung, ia berjalan ke kamar mandi. Kania mencuci mukanya dengan air dingin, berusaha mengusir sisa mabuk dan memulihkan kesadarannya sepenuhnya.
Setelah berganti pakaian, ia langsung menyambar tasnya dan pergi menuju ke markas geng musuh bebuyutan Kenzo.
Setelah menempuh perjalanan melintasi pinggiran kota, Kania tiba di sebuah gedung tua yang menjadi markas tersembunyi geng Red Skull.
Ia melangkah tanpa rasa takut mendekati ruang utama.
Tok... tok... tok...
Pintu kayu jati yang besar diketuk dari luar. Seorang anak buah berbadan kekar membuka sedikit pintu, lalu menoleh ke arah pria yang duduk di kursi kebesarannya.
"Bos, ada tamu," ucap anak buah Roy.
"Bawa masuk," sahut sebuah suara berat dan serak dari dalam.
Kania melangkah masuk dengan angkuh. Di ujung ruangan, ia melihat Roy, pimpinan geng Red Skull, yang sedang duduk santai sambil mengisap cerutunya dalam-dalam. Asap pekat mengepul di udara.
Roy menurunkan cerutunya, menatap tajam wanita yang baru saja masuk.
"Wah, wah... Kania. Ada apa ini? Kenapa wanita Kenzo ada di sini?" tanya Roy dengan seringai meremehkan.
Seluruh bawahannya tahu bahwa Kania adalah wanita yang selama ini mengejar-ngejar Kenzo.
Kania tidak memedulikan sindiran itu. Ia melangkah mendekati meja Roy dan menggebraknya pelan.
"Aku mau kamu membantuku menyingkirkan wanita ini."
Dengan tangan bergetar karena emosi, Kania mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Liana yang sedang tersenyum.
Roy condong ke depan, mengamati layar ponsel tersebut dengan saksama.
"Dia?"
"Iya, dia istri Kenzo. Mereka baru saja menikah kemarin," jawab Kania, giginya gemertak menahan geram.
Roy langsung tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggema di ruangan yang remang-remang itu.
"Ternyata ada angin cemburu," ucap Roy sinis.
Ia menyandarkan tubuhnya kembali, menatap Kania dengan tatapan menilai.
"Menyerang Kenzo dan wanitanya bukan urusan mudah, Kania. Apa untungnya bagiku?"
"Aku akan memberikan apa yang kamu inginkan," ucap Kania tanpa ragu, matanya menatap Roy dengan penuh ambisi gelap.
Mendengar tawaran itu, seringai di wajah Roy semakin melebar dan berubah menjadi tatapan penuh nafsu.
"Kamu yakin?"
Roy memberi isyarat dengan tangan kanannya.
"Kalian semua, keluar." Anak buah Roy segera mengangguk patuh dan melangkah keluar, menutup pintu rapat-rapat.
Roy berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Kania lalu mencengkeram dagu wanita itu dengan kasar.
Ia mengajak Kania berjalan menuju kamar pribadinya yang berada di balik ruang kerja tersebut.
Begitu pintu kamar tertutup, Roy menatap Kania dengan pandangan merendahkan.
"Layani aku, Jalang. Dan aku akan melakukan apa yang kamu minta. Aku akan melenyapkan wanita Kenzo untukmu."
Kania mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih.
Rasa hina dan muak bergejolak di dadanya, namun rasa dendam dan kebenciannya pada Liana jauh lebih besar dari apa pun.
Pikiran bahwa Kenzo telah menjadi milik wanita lain membuatnya kehilangan akal sehat.
Dengan tatapan mata yang menggelap, Kania yang sudah dibutakan oleh dendam akhirnya menyetujui syarat tersebut dan melakukannya, berasalkan Liana bisa lenyap dari muka bumi ini untuk selamanya.
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak