NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Arga dan Nara merunduk rendah, bersembunyi di balik bongkahan batu besar di puncak bukit. Dari posisi ketinggian itu, mereka bisa melihat antrean di gerbang utama Kota Sungai Giok masih mengular padat.

Setiap orang yang melintas diperiksa dengan sangat teliti. Bahkan, beberapa kultivator pengembara yang membawa senjata besar pun tidak luput dari interogasi ketat para pemburu bayaran.

Nara mengembuskan napas panjang, wajahnya ditekuk lesu. "Jika pengawasannya seketat itu, bagaimana cara kita bisa menyelinap masuk?"

Arga memeras otaknya, memikirkan segala kemungkinan. Mereka sangat membutuhkan tambahan perbekalan logistik, informasi akurat mengenai situasi terkini di Pegunungan Naga Hitam, serta petunjuk tambahan mengenai Ujian Tujuh Sekte. Berputar arah dan menghindari kota ini jelas bukan pilihan yang bijak.

Di dalam liontin, Guru Tian tiba-tiba tertawa kecil, memecah ketegangan. "Muridku, terkadang manusia terlalu sibuk memandangi detail sebuah wajah hingga mereka melupakan hal-hal sederhana di sekitar mereka."

Arga mengernyitkan dahi di balik batu. "Maksud Senior?"

Guru Tian mengarahkan pandangan batinnya ke jalur setapak sepi di bawah kaki bukit. Di sana, tampak seorang pedagang tua sedang bersusah payah mendorong gerobak dagangannya yang penuh dengan berbagai macam barang kerajinan. Ada topi bambu lebar, jubah katun kasar, dan... tumpukan topeng kayu.

Sepasang mata Arga langsung berbinar cerah menangkap maksud sang guru.

Satu jam kemudian, dua sosok asing tampak berjalan dengan santai membaur di jalur utama menuju gerbang Kota Sungai Giok.

Sosok pertama adalah seorang pemuda misterius berjubah abu-abu longgar yang mengenakan topi bambu lebar dan sebuah topeng kayu sederhana. Di sebelahnya, berjalan seorang gadis berpakaian hijau ringkas yang menyamarkan wajahnya menggunakan selembar kain penutup tipis.

"Kau yakin penyamaran sekonyol ini benar-benar akan berhasil?" bisik Nara dari balik kain penutup wajahnya.

"Semoga saja dewi keberuntungan sedang berpihak pada kita," sahut Arga lirih.

Mereka berdua segera mengambil posisi, ikut mengantre di barisan warga biasa. Semakin dekat langkah mereka dengan ambang pintu gerbang, detak jantung Arga terasa berdegup semakin kencang.

Kini, giliran mereka yang berada tepat di depan meja pemeriksaan. Seorang penjaga bertubuh kekar menatap Arga dengan pandangan menyelidik. "Nama?"

Arga sempat tertegun selama sepersekian detik di balik topengnya, sebelum akhirnya menyahut pelan. "Aga."

Nara yang berdiri di sampingnya hampir saja tersedak air liurnya sendiri mendengar jawaban itu.

Penjaga itu mengernyitkan alisnya dalam-dalam, merasa asing. "Aga?"

"Benar, Tuan," jawab Arga mantap, berusaha menstabilkan suaranya.

Penjaga itu membuka gulungan perkamen buronan, melirik sketsa wajah Arga yang tertera di sana, lalu kembali menatap pemuda bertopeng di depannya. Beruntung bagi Arga, kombinasi topeng kayu dan bayangan dari topi bambu lebarnya berhasil menyembunyikan kontur wajahnya secara total.

Penjaga itu mendengus lalu mengangkat bahunya malas. "Masuk."

Begitu langkah kaki mereka berhasil melewati lorong gerbang yang gelap dan resmi menginjakkan kaki di dalam kota, Nara langsung membekap mulutnya, menahan tawa yang nyaris meledak. "Aga? Yang benar saja?!"

Arga hanya bisa menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Aku mendadak panik tadi, tidak sempat memikirkan nama alias yang bagus."

Guru Tian bahkan tidak sanggup menahan diri untuk tidak ikut menertawakan kecerobohan muridnya. "Sepanjang sepuluh ribu tahun sisa kesadaranku mengembara di dunia ini... baru kali ini aku menyaksikan ada seorang buronan yang menyamar hanya dengan cara menghilangkan satu huruf depan dari nama aslinya."

Kota Sungai Giok ternyata memiliki skala yang jauh lebih besar dan megah jika dibandingkan dengan Kota Awan Biru. Jalan-jalan utamanya dilapisi batu hitam yang lebar, diapit oleh deretan bangunan bertingkat yang berdiri kokoh di mana-mana.

Para pedagang kaki lima tampak riuh menjajakan berbagai macam pil obat rahasia, senjata tajam, tanaman herbal, hingga berbagai komoditas supranatural yang aneh. Berbagai macam kultivator juga terlihat hilir mudik dengan bebas; ada yang menggendong pedang raksasa di punggung mereka, membawa tombak panjang berpendar, bahkan ada yang dengan angkuh menunggangi binatang roh jinak berukuran besar.

Nara menoleh ke segala arah dengan mata yang berbinar-binar penuh ketakutan sekaligus kekaguman. "Luar biasa... Dunia di luar Desa Pinus ternyata seluas dan seramai ini."

Arga pun merasakan gejolak emosi yang sama di dalam dadanya. Tirai dunia kultivasi yang sesungguhnya kini perlahan-lahan mulai tersingkap lebar di hadapan matanya.

Tiba-tiba, suara Guru Tian mengalun memotong lamunan Arga. "Arga, beloklah ke arah lorong kiri di depanmu."

"Ada apa, Senior? Kenapa kita harus memisahkan diri dari jalan utama?"

"Ikuti saja jalurnya. Indra jiwaku mendeteksi adanya fluktuasi energi kuno yang sangat familier dari arah sana."

Arga segera memberi isyarat pada Nara, lalu melangkah mengikuti petunjuk sang guru. Mereka memasuki sebuah lorong jalan yang jauh lebih sempit dan sepi. Di ujung jalan buntu lorong tersebut, berdiri sebuah toko tua bergaya kuno yang hampir tidak memiliki satu pun pengunjung. Papan nama kayunya sudah tampak lapuk dan usang dimakan cuaca, menyisakan sebaris guratan tulisan: Balai Seratus Harta.

Saat kaki Arga melangkah melewati ambang pintu toko yang remang-remang, denting suara lonceng kecil di atas pintu berbunyi nyaring.

Di balik meja konter, seorang pria tua yang semula tampak tertidur pulas perlahan membuka sebelah kelopak matanya. Namun, gerakan malas pria tua itu mendadak terkunci. Sepasang matanya langsung menatap tajam ke arah potongan batu giok peninggalan Tetua Desa yang kini tergantung bebas di sabuk pinggang Arga.

Raut wajah lesu pria tua itu seketika berubah drastis, menyiratkan keterkejutan yang amat mendalam.

"Anak muda..." suara pria tua itu terdengar berat, bergetar menahan sesuatu yang besar. "Dari mana kau bisa mendapatkan batu giok kuno itu?"

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!