NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Suara peluit panjang dan nyaring terdengar memecah keriuhan di lapangan basket, menandakan bahwa waktu pertandingan telah berakhir. Suasana yang tadinya riuh dengan teriakan dan sorakan kini meledak menjadi kegembiraan yang luar biasa. Angka di papan skor menunjukkan keunggulan selisih delapan poin untuk tim yang diperkuat Elio dan teman‑temannya. Para pemain langsung berlarian saling merangkul, menepuk bahu satu sama lain, dan melompat‑lompat kecil tanda kemenangan yang membanggakan.

Di tengah keramaian itu, Elio berdiri tegak sambil mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju. Wajahnya terlihat lelah namun berseri‑seri, matanya langsung mencari satu sosok yang paling ia harapkan melihat kemenangan ini. Begitu pandangannya bertemu dengan Alena yang melambaikan tangan antusias dari pinggir lapangan, senyum lebar dan penuh kebanggaan langsung terukir di bibirnya.

“Kita menang!” teriak Elio sambil melambaikan tangan balas, lalu segera berjalan mendekati meja panitia yang sudah menyiapkan piala dan hadiah untuk tim pemenang.

Hadiah yang disediakan kali ini tidak berupa piala besar atau uang tunai, melainkan seperangkat perlengkapan olahraga berkualitas, sekotak cokelat istimewa, dan sebuah buket bunga segar yang cantik. Saat ketua panitia menyerahkan semuanya kepada Elio dan menepuk pundaknya dengan pujian, Elio hanya mengangguk sopan sambil tersenyum. Namun, alih‑alih membawanya kembali ke ruang ganti atau menyimpannya sendiri, ia langsung berbalik arah dan berjalan menuju tempat Alena berdiri dengan langkah yang santai namun percaya diri.

Semua mata tertuju padanya, termasuk Jena yang masih berdiri tidak jauh dari situ dengan wajah yang mulai terlihat suram. Jantung Alena berdegup kencang, tidak mengerti sepenuhnya apa yang akan dilakukan Elio berikutnya.

Begitu sampai tepat di hadapan Alena, Elio tidak berkata apa‑apa terlebih dahulu. Ia hanya menunduk sedikit, lalu menyerahkan buket bunga itu dan sekotak cokelat yang indah ke dalam genggaman tangan gadis itu, sementara perlengkapan olahraganya digendong santai di bahu yang lain.

“Ini untukmu,” ucapnya dengan suara lantang namun lembut, cukup terdengar oleh orang‑orang di sekitar mereka. “Semua hasil dari pertandingan ini adalah milikmu. Kalau tidak ada semangat dan sorakanmu yang paling keras tadi, aku mungkin tidak akan bisa bermain sebaik ini.”

Alena tertegun sejenak, matanya terbelalak kaget namun segera digantikan oleh rasa haru yang menyelimuti dadanya. Jari‑jemarinya menyentuh kelopak bunga yang masih segar dan wangi, lalu menatap wajah Elena dengan pandangan yang bercampur malu dan bahagia. “Tapi… ini hadiah kemenanganmu, Elio. Kamu yang berjuang keras di lapangan, bukan aku.”

Elio tertawa kecil, lalu mengusap lembut pipi Alena yang mulai memerah terkena tatapan banyak orang. “Memang aku yang berlari dan melempar bola, tapi kamu yang memberi tenaga tambahan. Jadi, pemilik sah hadiah ini tetaplah kamu. Terima saja, jangan ditolak.”

Mendengar penjelasan itu, Alena tidak bisa menahan senyum lebar yang merekah di wajahnya. Ia mengangguk pelan, lalu memeluk bunga dan kotak cokelat itu di dadanya dengan hati‑hati seolah memegang benda paling berharga di dunia. “Baiklah… terima kasih, Elio. Aku akan menjaganya dengan baik.”

Di sisi lain, Jena yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggenggam tangannya erat‑erat. Rasa kecewa dan iri kembali menyelimuti hatinya. Ia sadar, betapapun ia berusaha mendekat atau menarik perhatian, posisi Alena di hati Elio tidak akan pernah tergantikan sedikit pun. Dengan perasaan yang hancur, ia memutuskan untuk berbalik dan pergi meninggalkan lapangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Setelah beristirahat sejenak dan mengucapkan selamat kepada teman‑teman satu timnya, Elio segera berpamitan untuk pulang. Ia berjalan berdampingan dengan Alena menuju tempat parkir, sesekali menoleh untuk memastikan gadis itu tidak kelelahan membawa bunga dan cokelatnya.

“Kamu tidak keberatan kan kalau aku berikan semuanya padamu? Rasanya lebih pas jika kamu yang menyimpannya daripada dibiarkan menumpuk di kamarku,” goda Elio sambil membukakan pintu mobil untuk Alena.

“Tentu saja tidak keberatan. Justru aku merasa sangat senang dan terhormat,” jawab Alena sambil duduk nyaman, lalu meletakkan buket bunga itu di pangkuannya agar tetap terjaga keindahannya.

Perjalanan pulang dimulai dengan suasana yang sangat menyenangkan. Langit sore mulai berubah warna menjadi jingga keemasan, menciptakan pemandangan yang indah di sepanjang jalan raya. Angin sepoi‑sepoi masuk lewat celah jendela yang terbuka, membawa udara segar yang menyejukkan tubuh setelah kegiatan yang cukup melelahkan.

Namun, baru beberapa menit kendaraan melaju, Elio tiba‑tiba mengerem pelan dan membelokkan setir ke pinggir jalan yang cukup aman. Ia berhenti tepat di depan sebuah gerobak dan kios kecil yang menjual berbagai macam es krim dengan banyak varian rasa.

Alena menoleh dengan bingung, “Kenapa berhenti di sini? Apakah ada barang yang tertinggal?”

Elio mematikan mesin, lalu menoleh sambil tersenyum nakal. “Tadi kan baru dapat hadiah kemenangan, tapi rasanya belum lengkap kalau belum ada yang manis untuk dimakan bersama. Lihat saja, matahari sudah mulai terbenam, suasananya pas sekali untuk menikmati es krim.”

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Elio turun dari mobil dan berjalan mendekati penjualnya. Ia melihat daftar rasa yang tersedia, lalu menoleh ke arah jendela mobil untuk bertanya, “Kamu mau rasa apa? Cokelat, stroberi, vanila, atau yang ada campuran kacangnya?”

Alena tersenyum melihat sikap Elio yang selalu memikirkan hal‑hal kecil yang menyenangkan. “Aku mau rasa cokelat dan stroberi saja, ya. Yang ukurannya sedang saja, jangan terlalu banyak nanti perut terasa begah.”

“Siap, pesanan diterima!” jawab Elio dengan nada riang, lalu memesan dua buah es krim sesuai permintaan.

Tak lama kemudian, ia kembali masuk ke dalam mobil dengan memegang dua buah es krim yang masih dingin dan berembun. Ia menyerahkan satu kepada Alena, lalu memegang satu lagi untuk dirinya sendiri. Bau manis dan segar langsung tercium, membuat air liur terasa ingin segera mencicipinya.

“Wah, rasanya pasti enak sekali,” kata Alena sambil menjilat sedikit bagian atas es krim itu, matanya terpejam sejenak menikmati rasa dingin yang menyebar di lidahnya.

Elio menatapnya sambil tersenyum geli, lalu mengikuti juga menikmati es krimnya. “Enak kan? Tempat ini langgananku sejak masih kecil. Rasanya tidak pernah berubah, tetap sama manis dan segarnya.”

Mereka berdua duduk santai di dalam mobil yang diparkir di pinggir jalan, menikmati suasana senja sambil mengobrol ringan. Elio menceritakan momen‑momen seru di lapangan, bagaimana ia harus berusaha keras melewati lawan yang cukup tangguh, dan bagaimana ia merasa makin percaya diri begitu mendengar suara Alena berteriak menyemangatinya. Alena pun tidak kalah antusias menceritakan bagaimana ia merasa bersaing dengan Jena dalam hal dukungan, membuat Elio tertawa terbahak‑bahak mendengarnya.

“Jadi kamu merasa terpacu hanya karena dia berteriak? Kalau begitu lain kali aku akan mengundang lebih banyak gadis lagi untuk menyemangatiku, supaya semangatmu makin meledak,” goda Elio sambil menyikut lengan Alena pelan.

Mendengar itu, Alena langsung menyodok lengan Elio dengan sedikit kesal namun tetap tersenyum. “Jangan berani! Kalau begitu aku tidak akan datang lagi untuk menontonmu bermain. Biarkan saja kamu didukung oleh orang lain.”

“Bercanda, bercanda saja!” Elio segera mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, lalu mendekatkan wajahnya sedikit lebih dekat. “Bagiku, satu suara saja darimu sudah cukup mengalahkan seribu suara orang lain. Jadi jangan khawatir, aku tidak butuh pendukung lain selain kamu.”

Kata‑kata itu membuat pipi Alena kembali merona merah, namun rasa manis yang ia rasakan di mulut terasa makin bertambah. Ia melanjutkan menjilat es krimnya yang mulai sedikit meleleh terkena suhu udara sore yang makin hangat.

Namun, sialnya, saat Alena sedikit membuka mulut untuk berbicara, setetes es krim cair itu tidak sengaja menetes dan jatuh tepat di sudut bibirnya, lalu merembes turun sedikit ke bagian dagunya. Alena baru sadar setelah melihat Elio menatapnya dengan pandangan yang terlihat lucu sekaligus terpesona.

“Kenapa menatapku begitu? Ada apa?” tanya Alena bingung sambil mengusap mulutnya dengan punggung tangan, namun tidak berhasil menghapusnya dengan sempurna.

Elio tidak menjawab dengan kata‑kata. Ia hanya tersenyum tipis, lalu tanpa ragu mengangkat jari telunjuknya, menyentuh sudut bibir Alena yang terkena es krim itu, lalu mengusapnya perlahan dan lembut. Setelahnya, ia bahkan tanpa sadar menjilat ujung jarinya sendiri yang masih terasa manis itu, sambil menatap mata Alena dalam‑dalam.

“Manis…” bisiknya pelan, membuat napas Alena tertahan seketika dan wajahnya terasa semakin panas.

“Kamu ini benar‑benar tidak ada habisnya tingkah lakunya!” seru Alena sambil memukul pelan bahu Elio, namun tidak berusaha menjauh sama sekali. Hatinya justru berdebar kencang, menikmati setiap sentuhan dan perhatian kecil yang diberikan pria itu.

Setelah es krim habis dinikmati dan sisa‑sisa cairannya dibersihkan dengan tisu, Elio kembali menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan pulang. Jalanan mulai sepi, hanya tersisa kendaraan sesekali yang lewat. Suasana di dalam mobil terasa sangat hangat dan akrab, ditemani musik lembut yang mengalun pelan dari radio.

Alena menyandarkan kepalanya sedikit ke sandaran kursi, sesekali melirik ke arah Elio yang fokus mengemudi. Ia melihat garis wajah pria itu yang terlihat tegas namun lembut, rambutnya yang sedikit berantakan karena angin, dan senyum tipis yang tidak pernah hilang dari bibirnya. Dalam hatinya, ia bersyukur sekali bisa menjalani hari‑hari yang penuh warna ini bersama Elio—mulai dari hal sepele, candaan, persaingan kecil, hingga momen kemenangan yang dibagikan bersama.

“Elio…” panggil Alena pelan setelah beberapa saat hening.

Elio menoleh sekilas sambil tetap memegang kemudi. “Ya, sayang?”

“Terima kasih ya… untuk hadiahnya, untuk es krimnya, dan untuk hari yang menyenangkan ini. Rasanya hari ini menjadi salah satu hari yang paling indah dalam hidupku,” ucap Alena dengan tulus, matanya bersinar lembut.

Mendengar ucapan itu, Elio tersenyum lebar, lalu mengulurkan satu tangannya untuk menggenggam tangan Alena yang tergeletak di pangkuan. Ia mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya perlahan.

“Terima kasih juga padamu, Alena. Karena kehadiranmu, hal‑hal sederhana seperti ini terasa menjadi sangat istimewa. Setiap hari bersamamu selalu terasa lebih baik dari hari sebelumnya. Dan percayalah, ini baru permulaan saja. Masih banyak hari‑hari indah yang akan kita lalui bersama ke depannya.”

Kata‑kata itu terasa seperti janji yang hangat dan menenangkan. Alena membalas genggaman tangan Elio dengan erat, menyandarkan kepalanya sedikit menyentuh lengan pria itu, menikmati kedamaian dan kebahagiaan yang melingkupi mereka berdua.

Matahari akhirnya benar‑benar terbenam, meninggalkan langit yang berwarna ungu gelap dan bintang‑bintang mulai bermunculan satu per satu. Kendaraan Elio terus melaju dengan tenang menuju rumah, membawa serta kenangan manis, rasa manis es krim yang masih terasa di lidah, dan janji kasih sayang yang terus tumbuh semakin kuat di antara dua hati yang sudah ditakdirkan untuk bersatu.

1
Tri Wahyuni
Semngat terus ya.
Tri Wahyuni
DONE ya kak🤭👍
Yuri: thanks kak 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!