Realita Menikah
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
...
Prolog
Suara hujan malam itu terdengar begitu jelas di balkon apartemen mewah milik mereka. Lampu kota berkilauan di balik kaca besar ruang tamu, tetapi suasana di dalam rumah justru terasa dingin dan sunyi.
Elvara Naomi Wijaya duduk diam di sofa sambil memandangi jam dinding yang hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Makanan di meja makan sudah dingin sejak satu jam lalu, namun sosok yang ia tunggu belum juga pulang.
Tangannya menggenggam ponsel erat. Tidak ada pesan, Tidak ada kabar. Padahal dulu, Arsen Rafael Mahardika adalah pria yang selalu membuatnya merasa menjadi wanita paling berharga di dunia.
Dulu.
Sebelum cincin pernikahan melingkar di jari mereka.
Pintu apartemen akhirnya terbuka. Suara langkah kaki berat terdengar memasuki ruangan. Arsen datang dengan jas hitam yang masih rapi, wajah tampan yang tetap dingin, dan tatapan lelah yang seolah tidak memiliki tenaga untuk sekadar tersenyum.
"Kamu belum tidur?" tanyanya singkat sambil melonggarkan dasi.
Elvara tersenyum kecil, meski hatinya terasa sesak. "Aku nunggu kamu makan malam."
Arsen melirik meja makan sekilas sebelum berjalan melewatinya begitu saja. "Aku sudah makan di luar." Kalimat sederhana itu terasa seperti sesuatu yang menusuk tepat ke dada Elvara.
Lagi.
Selalu seperti ini.
Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada bentakan. Namun sikap dingin Arsen perlahan membuat rumah tangga mereka terasa lebih menyakitkan daripada perang mana pun.
Elvara menunduk pelan, menahan matanya yang mulai terasa panas. Ia lelah, Sangat lelah. Menjadi istri ternyata tidak semudah yang dulu ia bayangkan.
Tidak semua cinta berubah menjadi kebahagiaan setelah menikah. Karena terkadang, pernikahan justru memperlihatkan sisi asli seseorang—dan kenyataan itu jauh lebih menyakitkan daripada patah hati biasa. Malam itu, untuk pertama kalinya, Elvara mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Apakah Arsen benar-benar mencintainya… atau hanya sekadar tidak ingin kehilangannya?
...****************...
Bab 01 (Ada yg berubah)
Pagi hari di apartemen penthouse milik keluarga Mahardika selalu terlihat sempurna. Langit cerah, aroma kopi hangat memenuhi dapur, dan meja makan telah tertata rapi oleh Elvara Naomi Wijaya sejak setengah jam lalu. Wanita itu bahkan memasak sendiri sarapan untuk suaminya, meskipun di rumah mereka ada beberapa asisten rumah tangga.
Namun semua usaha itu terasa sia-sia ketika Arsen Rafael Mahardika hanya duduk selama lima menit di meja makan sebelum kembali sibuk dengan tablet di tangannya.
Tatapan pria itu fokus membaca laporan perusahaan, seolah dunia di sekitarnya tidak ada.
“El… meeting pagi ini jangan lupa datang sama Mama,” ucap Arsen datar tanpa mengalihkan pandangan.
Elvara tersenyum kecil. “Kamu pulang cepat malam ini?”
“Hm, lihat nanti.”
Jawaban singkat. Lagi— Elvara menunduk pelan sambil menggenggam sendoknya erat. Ia sebenarnya sudah terbiasa dengan sikap dingin Arsen selama beberapa bulan terakhir. Namun, entah kenapa, semakin lama semakin terasa menyakitkan.
Padahal dulu Arsen bukan pria seperti ini.
Dulu, pria itu rela menjemputnya tengah malam hanya karena Elvara bilang ingin makan martabak. Dulu Arsen selalu menggenggam tangannya ke mana pun mereka pergi. Bahkan pria itu pernah berkata. Aku bakal bikin kamu jadi wanita paling bahagia setelah kita menikah.
Lucunya, justru setelah menikah semuanya berubah.
“Kamu sakit?”
Suara Arsen membuat Elvara tersadar dari lamunannya.
“Hah?”
“Kamu kelihatan pucat.”
Elvara buru-buru menggeleng sambil tersenyum. “Nggak apa-apa.”
Arsen akhirnya menatapnya beberapa detik. Tatapan tajam namun sulit ditebak itu selalu membuat Elvara gugup meski mereka sudah menjadi suami istri selama satu tahun.
“Ada yang mau kamu omongin?” tanya Arsen.
Ada— Banyak sekali.
Tentang kenapa pria itu semakin jarang pulang. Tentang kenapa mereka mulai seperti orang asing yang tinggal serumah. Tentang kenapa Elvara merasa dirinya sendirian di dalam pernikahan ini— Namun pada akhirnya, Elvara hanya menggeleng pelan.
“Nggak ada.”
Arsen mengangguk singkat lalu berdiri dari kursinya. “Aku berangkat.”
Sebelum pergi, pria itu mengecup singkat kening Elvara. Gerakan sederhana yang seharusnya terasa manis, tetapi kini justru terasa seperti formalitas semata, Pintu apartemen tertutup.
Dan lagi-lagi, rumah besar itu kembali sunyi.
Elvara menatap kursi kosong di depannya cukup lama sebelum menghela napas perlahan.
Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas.
Atau mungkin… ia sebenarnya tahu alasannya.
Ia hanya takut mengakuinya.
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi: Nama “Mama Arsen” muncul di layar, Elvara segera mengangkat panggilan itu.
“Elvara, kamu jadi datang ke acara makan malam keluarga malam ini, kan?” suara lembut sang mama mertua terdengar dari seberang sana.
“Iya, Ma.”
“Bagus. Sekalian ada pembicaraan penting soal perusahaan keluarga.”
Elvara sedikit bingung. “Perusahaan?”
“Iya. Mama dengar Arsen akhir-akhir ini makin sibuk karena seseorang kembali ke Indonesia.”
Entah kenapa, jantung Elvara tiba-tiba berdegup aneh.
“Seseorang?” tanyanya pelan.
Namun sebelum mama mertuanya menjawab, panggilan itu tiba-tiba terputus, Elvara menatap layar ponselnya dalam diam.
Perasaan tidak nyaman mendadak memenuhi pikirannya.
Dan tanpa ia sadari, hari itu menjadi awal dari retaknya rumah tangga yang selama ini berusaha ia pertahankan mati-matian.
Sejak panggilan telepon itu terputus, perasaan Elvara tidak tenang sepanjang hari, Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan membantu menyiapkan dokumen acara keluarga malam nanti, tetapi ucapan mama mertuanya terus terngiang di kepala.
“Arsen makin sibuk karena seseorang kembali ke Indonesia.”
Siapa?
Dan kenapa hanya mendengar itu saja sudah membuat dadanya terasa sesak?
Malam harinya, Elvara datang ke kediaman utama keluarga Mahardika bersama Arsen. Sepanjang perjalanan, suasana mobil begitu sunyi. Arsen sibuk membalas pesan di ponselnya tanpa berbicara sedikit pun, Elvara melirik layar ponsel suaminya sekilas.
Nama perempuan— Namun sebelum ia sempat membaca lebih jelas, Arsen langsung mematikan layar ponselnya.
“El?”
“Hm?”
“Kamu kenapa diam terus?”
Elvara memaksakan senyum kecil. “Capek aja.”
Arsen menatapnya beberapa detik, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya memilih diam.
Mobil berhenti di halaman mansion keluarga Mahardika yang megah dan penuh cahaya. Para pelayan segera menyambut mereka saat turun dari mobil, Begitu memasuki ruang makan utama, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul.
“Arsen! Elvara!” sambut Olivia Prasetyo, mama Arsen, dengan senyum hangat.
Elvara membungkuk sopan sebelum duduk di kursinya, Makan malam dimulai cukup tenang sampai salah satu tante Arsen tiba-tiba membuka pembicaraan yang membuat suasana berubah.
“Ngomong-ngomong, Vivian balik ke Indonesia, ya?” Sendok di tangan Elvara berhenti bergerak.
Arsen yang duduk di sebelahnya terlihat tetap tenang, Namun entah kenapa, Elvara merasa jantungnya berdetak jauh lebih cepat.
Vivian, Nama itu tidak asing. Karena dulu, sebelum Arsen menikah dengannya… Vivian adalah wanita yang paling dicintai Arsen Rafael Mahardika.
“Dia sekarang kerja sama perusahaan luar negeri, kan?” lanjut tantenya lagi.
“Iya,” jawab Arsen singkat.
“Hah? Kalian masih berhubungan?”
“Dia partner bisnis.”
Jawaban cepat dan dingin itu justru membuat Elvara semakin tidak nyaman. Mama Arsen langsung menatap tajam ke arah saudara perempuannya itu, memberi kode agar menghentikan pembicaraan. Namun semuanya sudah terlambat.
Malam yang tadinya biasa saja mendadak terasa menyesakkan bagi Elvara, Ia berusaha tetap tersenyum dan bersikap tenang sampai acara selesai.
Namun begitu mereka kembali ke apartemen, semua emosi yang ia tahan sejak tadi akhirnya pecah.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau Vivian balik?”
Arsen yang baru melepas jasnya menoleh pelan. “Karena itu nggak penting.”
“Nggak penting buat siapa?”
“Elvara—”
“Aku istri kamu, Arsen.” Suara Elvara mulai bergetar. “Tapi aku selalu jadi orang terakhir yang tahu semuanya.”
Arsen menghela napas kasar sambil memijat pelipisnya.
“Aku capek. Jangan mulai ribut malam-malam.”
Kalimat itu membuat hati Elvara terasa makin sakit. “Jadi sekarang perasaanku itu gangguan buat kamu?”
“Jangan dibesar-besarkan.”
Elvara tertawa kecil, namun matanya mulai berkaca-kaca.
Lucu.
Dulu Arsen selalu bilang ia takut kehilangan Elvara.
Tapi sekarang, pria itu bahkan terlalu lelah untuk sekadar menjelaskan sesuatu padanya.
“Apa kamu masih mencintai Vivian?” Pertanyaan itu akhirnya keluar begitu saja.
Ruangan mendadak sunyi. Arsen menatap Elvara tanpa ekspresi selama beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan. “Aku menikah sama kamu, kan?”
Jawaban itu seharusnya menenangkan.
Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah… Elvara merasa dirinya kalah.
Bersambung…..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments
Amelia
iya Thor gak papa, semangat trus update ya💪😍
2026-05-26
0
mba mawar34
semangat thir💪😍
2026-06-02
0
cynth
Everyone biggest nightmare.
2026-06-01
0