Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32. Hutang dosa
"Sayang, lampu hijaunya sudah menyala. Kok nggak jalan?" tegur Larasati dengan suara manja, melirik suaminya yang mendadak kaku seperti patung.
"A-Ah, iya... bentar," sahut Axel terbata-bata, suaranya mendadak serak. Ia menginjak pedal gas dengan kaku, membiarkan mobilnya berjalan pelan sejajar dengan motor RX-King Ubay yang mulai melaju di sisi kiri jalan.
Pergulatan batin yang luar biasa hebat langsung berkecamuk dan menghancurkan isi kepala Axel. Matanya terus mencuri pandang lewat kaca jendela mobil, menatap perut buncit Nadia yang kini memeluk pinggang pria gondrong berjaket jeans belel di depannya.
Otak Axel berputar liar, dihantam oleh kebingungan dan ketakutan yang mencekam.
“Nadia... hamil? Perutnya sudah sebesar itu?” batin Axel menjerit panik.
Seketika, kilasan malam jahanam beberapa bulan lalu di kamarnya berkelebat hebat. Axel menghitung mundur waktu di dalam kepalanya. Sial! Secara hitungan bulan, usia kandungan itu sangat pas dengan malam di mana ia membohongi orang tuanya dan menyeret Nadia ke kamarnya.
“Apa... apa itu anakku? Apa janin di dalam perut itu adalah darah dagingku yang tumbuh karena perbuatan bejatku malam itu?” Pikiran itu membuat sekujur tubuh Axel mendadak panas dingin. Rasa bersalah, ketakutan akan karma, dan bayangan jika rahasia menjijikkan ini terbongkar di depan keluarga Larasati membuat Axel nyaris gila di atas jok kemudinya.
Namun, di tengah kepanikannya, Axel melirik sosok pria gondrong yang membonceng Nadia. Pria itu tampak begitu protektif, berkendara dengan sangat hati-hati demi menjaga Nadia, dan Nadia sendiri tampak bersandar dengan begitu tenang di punggung tegap sang preman pasar.
Logika pengecut Axel mulai mencari celah untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari rasa bersalah.
“Nggak... nggak mungkin itu anakku! Sialan, jangan-jangan mamah bener waktu itu! Perempuan itu memang murahan!” Axel mencengkeram setir makin erat, rahangnya mengeras karena ego. “Gadis pembantu itu pasti langsung tidur sama preman gondrong itu setelah diusir dari rumah! Iya, itu pasti anak si gondrong itu! Mereka bebas melakukan apa saja, toh Nadia tidak punya siapa-siapa lagi yang akan memarahinya!”
Axel berusaha keras meyakinkan hatinya bahwa anak itu bukan anaknya, melainkan hasil hubungan Nadia dengan pria jalanan tersebut. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, denyutan aneh di kepalanya, sakit kepala misterius dan rasa mual yang kerap menyerangnya setiap pagi dari beberapa bulan lalu sampai saat ini seolah menjadi alarm gaib yang berbunyi nyaring, menolak kebohongan yang coba dibangun Axel.
"Beb, kamu kenapa sih? Mukanya kok pucat banget begitu? Sakit kepalamu kumat lagi ya?" tanya Larasati cemas, menyentuh kening Axel yang sudah dibanjiri keringat dingin.
"Aku nggak apa-apa, Laras. Cuma... cuma agak pusing aja," jawab Axel berbohong, matanya menatap nanar ke arah motor Ubay yang perlahan-lahan melesat menjauh, membawa Nadia dan rahim sucinya pergi, meninggalkan Axel yang kini mulai tenggelam dalam penjara ketakutan akan hukum alam yang mulai berjalan menagih hutang dosanya.
**
Motor RX-King hitam milik Ubay tidak berbelok ke arah jalan pulang menuju rumah tua. Siang itu, Ubay justru mengarahkan kemudinya ke kawasan niaga, berhenti tepat di depan sebuah toko grosir perlengkapan bayi yang sangat besar dan ramai.
Nadia sempat terkejut saat Ubay membantunya turun. "Lho, Mas Ubay... kita kok ke sini?"
"Bulan depan lu udah mau lahiran. Masa baju sepotong pun belum punya? Duit hasil narik pasar kemarin sengaja gue simpan buat hari ini. Udah, ayo masuk," jawab Ubay santai, walau sebenarnya jantungnya sendiri sudah berdegup kencang sejak tadi karena ini pertama kalinya ia menapakkan kaki ke toko bayi.
Di dalam toko, pemandangan kontras itu langsung menarik perhatian. Ubay, dengan jaket jeans belel, celana jeans robek di lutut, dan rambut gondrong yang diikat asal, berjalan kaku di antara rak-rak bernuansa pastel merah muda dan biru muda. Namun, ketangguhan sang preman pasar runtuh seketika saat ia mulai ikut memilih barang.
"Nad, ini apa namanya? Kok kecil bener kayak bungkus tempe?" tanya Ubay bingung, mengangkat sepasang sarung tangan bayi bermotif jerapah dengan dua jarinya yang kekar penuh kapalan.
Nadia tertawa kecil, matanya menyipit jenaka. "Itu sarung tangan bayi, Mas Ubay. Biar nanti tangan dedeknya nggak mencakar mukanya sendiri kalau kukunya panjang."
"Oh... kirain kaus kaki kucing," gerutu Ubay polos. Ia lalu berbalik dan mengambil sebuah gurita bayi bermotif dot-dot warna-warni. "Kalau yang ini lucu nih, ada gambar gajahnya. Kulit bayinya kan masih tipis, yang ini bahannya lembut, gue raba tadi adem."
Melihat Ubay yang begitu serius membolak-balik baju bayi, meraba kelembutan kainnya dengan tangan kasarnya, dan bahkan berdebat kecil memilih warna handuk, dada Nadia seketika menghangat. Rasa terharu yang teramat sangat menyeruak, membuat matanya mendadak berkaca-kaca. Pria ini bukan ayah kandung dari anak di rahimnya, tapi perhatian dan ketulusannya melebihi siapa pun di dunia ini.
"Kenapa lu? Kok malah mau nangis?" tegur Ubay panik saat melihat mata Nadia berkaca-kaca.
"Nggak apa-apa, Mas," sahut Nadia cepat sambil menghapus sudut matanya, lalu terkekeh. "Mas Ubay lucu banget kalau lagi milih baju bayi. Nggak cocok sama tampangnya yang…."
Ubay mendengkus, tapi sudut bibirnya ikut terangkat, memamerkan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan. Keduanya pun berakhir tertawa bersama di tengah lorong toko, saling melempar candaan tentang bagaimana bingungnya mereka nanti saat harus memakaikan popok kain yang tali-temalinya serumit itu.
Setelah hampir satu jam berkeliling memilih kasur bayi, bak mandi, dan tumpukan baju, tubuh Nadia mulai mengirimkan sinyal kelelahan. Kakinya yang membengkak mendadak terasa lemas, dan pandangannya sedikit berkunang-kunang karena terlalu lama berdiri.
Saat mereka hendak berjalan menuju kasir, kaki Nadia mendadak tersandung pinggiran rak display yang rendah. Tubuhnya limbung, kehilangan keseimbangan, dan langsung miring jatuh ke arah samping.
"Mas Ubay!" jerit Nadia tertahan.
"Nadia!"
Refleks seorang preman jalanan yang terbiasa bertarung di kerasnya pasar bekerja dalam hitungan milidetik. Ubay tidak berpikir dua kali. Dengan satu gerakan cepat dan bertenaga, ia melangkah maju, menjatuhkan semua belanjaan di tangannya, lalu menyergap tubuh Nadia sebelum menyentuh lantai.
Sret!
Seperti adegan dramatis dalam film-film Bollywood, lengan kekar Ubay yang kokoh melingkar sempurna di pinggang belakang Nadia, menahan bobot tubuh gadis itu dengan satu dekapan mantap. Tubuh Nadia melengkung pasrah di atas lengan Ubay, wajahnya mendongak tepat di depan dada bidang pria itu.
Jarak wajah mereka tersisa tidak sampai sepuluh sentimeter.
Detik itu juga, seluruh keriuhan toko grosir bayi seolah senyap seketika. Waktu seperti berhenti berputar. Udara di sekitar mereka mendadak terasa tipis dan sarat akan ketegangan yang manis.
Nadia terpaku dengan napas yang memburu di tenggorokan, kedua tangannya refleks mencengkeram erat pundak jaket jeans yang Ubay kenakan. Matanya yang bulat melebar, menatap langsung ke dalam manik mata elang Ubay yang kini menatapnya dengan tatapan yang teramat dalam, penuh rasa khawatir yang bercampur dengan rasa takjub yang intens.
Ubay bisa merasakan deru napas hangat Nadia menerpa lehernya. Dari jarak seintim ini, aroma minyak telon yang menenangkan dari tubuh Nadia berpadu dengan wangi tubuh wanita itu sendiri, merasuki indra penciuman Ubay dan langsung mengacaukan seluruh sistem logikanya. Mata Ubay turun sedikit, menatap bibir Nadia yang sedikit terbuka karena terkejut, sebelum kembali mengunci tatapan matanya pada sepasang manik mata teduh milik istrinya.
DEG! DEG! DEG!
Debar jantung keduanya berdentum sangat keras, berkejaran dengan ritme yang semakin menggila hingga rasanya dada mereka bisa meledak kapan saja. Ada getaran baper yang luar biasa dahsyat yang menyengat sekujur tubuh mereka. Rasa cinta, sayang, dan keinginan untuk saling memiliki yang selama ini mereka kekang rapat-rapat di bawah atap rumah tua, siang itu mendadak tumpah ruah tanpa bisa disembunyikan lagi lewat tatapan mata yang saling mengunci.
Ubay mencengkeram pinggang Nadia sedikit lebih erat, seolah enggan melepaskan momen itu, sementara Nadia hanya bisa terbuai dalam rengkuhan hangat sang suami, membiarkan hatinya jatuh sedalam-dalamnya pada pria yang kini sedang memeluknya di tengah toko bayi.
***
untuk Axel aku tunggu karna untuk keluargamu